1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAKHTA YANG BERKARAT
Ibukota Valdoria kini menyerupai kota hantu. Gerbang emas yang dulunya dijaga ketat oleh ksatria elit kini terbuka lebar, namun tak ada satu pun prajurit Veyris yang berani masuk tanpa perintah. Suasana sunyi itu justru lebih menakutkan daripada gemuruh perang.
Count Aldric memimpin barisan di depan, namun matanya terus melirik ke arah putranya. Kaelan berjalan dengan santai di sampingnya, tangan kecilnya dimasukkan ke dalam saku jubah hitam. Di belakang mereka, Nox dan Mira berjalan seperti bayangan yang menyatu dengan aspal jalanan.
"Papa, jangan tegang," ucap Kaelan memecah keheningan. "Raja sudah menunggumu. Dia punya banyak hal untuk diceritakan."
"Kaelan... apa kau tahu sesuatu yang tidak Papa ketahui?" tanya Aldric dengan nada skeptis.
Kaelan hanya tersenyum tipis. "Aku hanya tahu bahwa pengkhianat yang sebenarnya bukan hanya mereka yang menyerang dari luar, tapi mereka yang berbagi darah dengan kita."
Mereka sampai di Aula Singgasana. Pintu raksasa itu terbanting terbuka oleh lambaian tangan Mira yang memanipulasi ruang. Di dalam, Raja Valdoria duduk sendirian. Tidak ada pengawal, tidak ada pelayan. Hanya ada seorang pria tua yang tampak hancur, memegang sebuah botol kristal kecil berisi cairan hitam pekat—cairan yang sama dengan racun yang hampir membunuh Aldric.
"Kau akhirnya datang, Aldric," suara Raja parau, bergema di aula yang kosong.
"Kenapa, Yang Mulia?" Aldric menghunuskan pedang esnya. "Aku setia padamu selama dua puluh tahun! Aku menjaga perbatasan dari Drakmor dengan nyawa rakyatku! Kenapa kau mencoba membunuhku dengan racun hina ini?"
Raja tertawa, sebuah tawa kering yang diakhiri dengan batuk darah. "Setia? Kau pikir aku peduli dengan kesetiaanmu? Aku takut padamu, Aldric! Garis darah Veyris... kalian bukan manusia biasa. Kalian adalah keturunan dari Penjaga Segel."
Aldric tertegun. "Penjaga Segel apa?"
"Segel yang menahan Dewa Kuno Aetherion di bawah tanah Veyris!" Raja berdiri dengan gemetar. "Kekaisaran Suci Solaris memberitahuku... jika seorang Veyris mencapai Level 8, segel itu akan retak. Dunia akan hancur. Mereka memberiku racun itu untuk memastikan kau tetap lemah. Mereka menjanjikanku keabadian jika aku melenyapkan garis darahmu!"
Mata Aldric membelalak. Ia menoleh ke arah Kaelan, mencari jawaban.
Kaelan melangkah maju, melewati ayahnya. Ia menatap Raja dengan tatapan yang sangat dingin. "Jadi, kau menjual ksatria terbaikmu hanya karena dongeng dari Kekaisaran Suci? Kau benar-benar raja yang menyedihkan."
"Dongeng?!" teriak Raja. "Lihat dirimu, bocah! Kau bukan manusia! Kau adalah bukti bahwa segel itu sudah mulai bocor! Kekuatanmu... itu bukan sihir, itu adalah esensi dari Dewa Kuno!"
Kaelan berhenti tepat di depan anak tangga singgasana. "Kekaisaran Suci berbohong padamu, Raja Tua. Mereka tidak takut pada Dewa Kuno. Mereka takut pada kami. Mereka takut pada keluarga Veyris yang bisa mengendalikan energi Aetherion tanpa bantuan gereja mereka."
Kaelan menjentikkan jarinya. Botol racun di tangan Raja mendadak meledak, cairannya membeku di udara.
"Papa diracuni bukan untuk mencegah kiamat, tapi untuk memastikan Veyris tetap menjadi budak yang bisa dikendalikan," lanjut Kaelan. "Dan sekarang, kontrak itu berakhir."
Raja Valdoria mencoba menerjang Kaelan dengan belati tersembunyi, namun sebelum ia bisa bergerak, Nox sudah berada di belakangnya. Belati hitam Nox menempel di leher sang Raja.
"Jangan kotori tangan Tuan Muda," bisik Nox.
"Tunggu, Nox," sela Kaelan. Ia menatap ayahnya. "Papa, takhta ini milikmu sekarang. Valdoria sudah mati. Veyris adalah pusat yang baru."
Aldric menatap singgasana emas itu dengan rasa muak. "Aku tidak menginginkan takhta yang berlumuran darah pengkhianatan ini, Kaelan."
"Maka hancurkan saja," jawab Kaelan polos.
Kaelan mengangkat tangan kanannya. Seluruh Aula Singgasana mulai bergetar hebat. Bakat EX-nya beresonansi dengan fondasi bangunan itu.
"Nox Astra: World Reset."
KRAAAK!
Singgasana emas itu hancur berkeping-keping, meleleh menjadi logam cair di bawah kaki Raja. Seluruh simbol kerajaan Valdoria di ruangan itu luntur, digantikan oleh pola bintang perak yang merayap di dinding marmer—simbol dari Kekaisaran Nox Astra.
Raja Valdoria jatuh terduduk, jiwanya hancur melihat kerajaannya musnah dalam hitungan detik. Ia tidak dibunuh, namun dibiarkan hidup sebagai saksi sejarah bahwa kekuasaan manusia tidak ada artinya di depan kehendak Kaelan.
Di luar istana, rakyat Ibukota melihat bendera naga jatuh dan digantikan oleh bendera bintang perak Veyris. Tidak ada pembantaian rakyat sipil. Sebaliknya, Mira menggunakan sihir ruangnya untuk mendistribusikan gandum dan emas dari gudang para bangsawan korup kepada rakyat yang kelaparan.
"Mulai hari ini," suara Kaelan bergema di seluruh Ibukota melalui transmisi mana, "tidak ada lagi raja yang bersembunyi di balik tembok. Hanya ada satu hukum: Kekuatan untuk melindungi, bukan untuk menindas. Selamat datang di era Nox Astra."
Aldric berdiri di samping putranya, menatap lautan manusia di bawah. Ia menyadari satu hal: dunianya yang lama sudah berakhir. Putranya telah menyeretnya ke dalam takdir yang jauh lebih besar dari sekadar seorang Count perbatasan.
Kaelan menatap ke arah ufuk timur, ke arah Kekaisaran Suci Solaris yang kini pasti sedang mempersiapkan armada penuh mereka.
"Satu pion jatuh," gumam Kaelan. "Sekarang, mari kita buru rajanya."