Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Deru mesin yacht mewah itu perlahan mereda saat lambungnya merapat ke dermaga kayu ulin yang kokoh.
Anya berdiri di dek atas, angin laut yang hangat dan beraroma garam menerpa wajahnya, membuat rambut wolf-cut-nya berantakan ke segala arah. Matanya terbelalak lebar, nyaris copot melihat pemandangan di hadapannya.
Air laut di bawahnya berwarna gradasi biru toska dan zamrud yang sangat jernih, hingga ia bisa melihat terumbu karang dan ikan-ikan kecil berenang. Hamparan pasir putih bersih melengkung memeluk teluk, dan di tengah rimbunnya pohon kelapa, berdiri sebuah vila modern berlantai dua dengan dominasi kaca dan kayu tropis yang luar biasa megah.
"Kaelan..." gumam Anya tanpa menoleh, tangannya mencengkeram pagar pembatas yacht. "Kalau tahu pulau pribadimu sehebat ini, aku akan memintamu menaikkan bayaran kontrakku jadi dua miliar."
Kaelan yang berdiri di belakangnya, mengenakan kacamata hitam aviator dan kemeja linen putih berlengan panjang yang digulung sebatas siku, hanya mendengus pelan. Ketegangan dan wajah pucatnya semalam telah menghilang, digantikan oleh ketenangan khas seorang bos mafia yang kembali memegang kendali.
"Turunlah. Jangan sampai lalat masuk lagi ke mulutmu," sindir Kaelan, meraih tas kecil milik Anya dan berjalan mendahuluinya menuruni tangga yacht.
Beberapa pelayan berseragam rapi sudah menunggu di dermaga, membungkuk hormat menyambut kedatangan sang majikan dan "istrinya".
Begitu menginjakkan kaki di dalam vila, Anya langsung berlarian ke sana kemari seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk ke taman hiburan. Ia mengecek sofa empuk di ruang tengah, mengintip dapur luar ruangan yang menghadap langsung ke laut, dan melongo melihat kolam renang infinity yang airnya seolah menyatu dengan samudra.
"Gila! Kamar mandinya lebih besar dari ukuran kos-kosanku!" seru Anya dari lantai dua, suaranya menggema ke lantai bawah. "Dan ada bathtub sebesar kapal selam di sini!"
Kaelan, yang sedang menuangkan air mineral dingin di dapur, mengukir senyum tipis—sangat tipis—mendengar teriakan heboh gadis itu. Ia menyadari satu hal: di balik sikap kasarnya, Anya adalah gadis yang sangat sederhana. Kemewahan tidak membuatnya menjadi sombong atau angkuh seperti wanita-wanita sosialita yang sering Kaelan temui; kemewahan justru membuatnya kagum dengan cara yang sangat jujur dan transparan.
Setengah jam kemudian, Anya turun kembali ke ruang tengah. Ia sudah mengganti pakaiannya. Karena semalam ia mengemas barang asal-asalan dalam keadaan panik, ia kini mengenakan kaus oblong putih kebesaran bergambar band rock usang dan celana pendek selutut bermotif bunga-bunga hawaii yang sangat mencolok.
Kaelan, yang sedang duduk di sofa sambil membaca sesuatu di tabletnya, langsung memijat pangkal hidungnya.
"Tolong katakan padaku kau tidak berniat memakai celana itu selama kita di sini," ucap Kaelan datar.
Anya berkacak pinggang, menatap celananya sendiri. "Kenapa? Ini celana paling nyaman sedunia. Beli di pasar malam cuma lima belas ribu, lho! Lagi pula, di sini kan tidak ada Paman Arthur atau si nenek sihir Isabella. Hanya ada pelayan, kau, dan aku."
Kata-kata 'hanya ada kau dan aku' entah kenapa membuat Kaelan terdiam sejenak. Ia meletakkan tabletnya di atas meja kaca.
"Terserah kau saja," Kaelan menghela napas pasrah. "Di sini tidak ada jadwal latihan bela diri atau membaca buku sejarah klan. Nikmati saja waktumu. Pelayan akan menyiapkan apa pun yang kau mau."
Mata Anya berbinar. "Artinya aku bebas liburan?!"
"Ya."
"Bagus! Kalau begitu, ayo ke pantai!" Anya melangkah maju, meraih pergelangan tangan Kaelan dan menariknya berdiri.
Kaelan terkesiap, tubuhnya yang besar dan berotot sebenarnya tidak akan goyah hanya dengan tarikan kecil itu, tapi entah mengapa kakinya menurut begitu saja saat tangan mungil Anya menariknya.
"Aku? Ke pantai? Aku sedang memeriksa keamanan periferal pulau—"
"Bos Es, lihat dirimu," Anya menunjuk Kaelan dari atas ke bawah. Pria itu masih memakai celana panjang bahan yang rapi, kemeja linen mahal, dan sepatu loafers. "Kau sedang di pulau tropis, bukan di ruang rapat! Kau mau mati kepanasan? Lepas sepatumu, atau aku yang akan melepasnya secara paksa dan membuangnya ke laut."
Kaelan menatap Anya dengan alis terangkat. "Kau mengancamku?"
"Mengancam suamiku sendiri di masa liburan? Tentu saja," Anya menyeringai tengil. "Ayo cepat! Aku tidak sabar mau bikin istana pasir."
Kaelan akhirnya menyerah. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, Ketua Klan Obsidian itu melepas sepatunya, menggulung celana panjangnya hingga ke bawah lutut, dan membiarkan tiga kancing teratas kemeja linennya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang sedikit berkeringat.
Mereka berdua berjalan menuju pantai berpasir putih. Anya berlari mendahului, tertawa lepas saat ombak kecil menyapu kaki telanjangnya. Suara tawanya renyah, bercampur dengan suara deburan ombak dan kicauan burung camar.
Kaelan berjalan perlahan di belakangnya, membiarkan angin laut menerpa wajahnya. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, matanya tak pernah lepas dari sosok Anya.
Gadis tomboy dengan celana bunga-bunga norak itu sedang melompat-lompat menghindari kepiting kecil. Ia sangat hidup. Sangat ceria. Berbanding terbalik dengan dunia Kaelan yang gelap, penuh intrik, dan bau anyir darah.
Semalam, Kaelan nyaris kehilangan kewarasannya saat membayangkan peluru itu menembus tubuh Anya. Namun di bawah terik matahari surga tropis ini, melihat Anya tertawa tanpa beban, Kaelan merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Sesuatu yang lebih dari sekadar rasa tanggung jawab atas kontrak satu miliar mereka.
Anya tiba-tiba berbalik, melambai ke arah Kaelan sambil tersenyum sangat lebar hingga mata gadis itu menyipit.
"Kaelan! Cepat ke sini! Airnya segar banget!" teriaknya riang.
Kaelan menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat. Di tengah keindahan pulau pribadinya yang tak ternilai harganya, Kaelan baru menyadari bahwa pemandangan terindah yang pernah ia lihat dalam hidupnya... kini sedang berdiri di hadapannya, melambai memanggil namanya.
Sial. Sang bos mafia yang kejam itu akhirnya harus mengakui satu fakta yang selama ini ia sangkal.
Ia telah jatuh cinta pada preman pasarnya.