NovelToon NovelToon
Kilat Di Atas Arrinra

Kilat Di Atas Arrinra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: Anton Firmansyah

Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: DIPLOMASI DI MEJA MAKAN

Matahari mulai terbenam di balik cakrawala Ibukota Arrinra, menyisakan semburat warna oranye yang memantul di jendela-jendela tinggi Istana Ser. Di dalam ruang makan pribadi yang jauh lebih sederhana dibandingkan aula perjamuan resmi, aroma sambal terasi dan ikan asin goreng menyeruak, mengalahkan wangi dupa cendana yang biasanya mendominasi atmosfer istana.

Serena Arrinra duduk di kepala meja, namun mahkotanya sudah ia letakkan di atas lemari kecil di sudut ruangan. Di hadapannya, Anton Firmansyah sedang sibuk menyendokkan nasi ke piring anak-anak mereka. Lima pasang mata kecil menatap lapar ke arah hidangan yang tersedia.

"Ayah, kenapa kita tidak makan daging rusa seperti di pesta kemarin?" tanya Arya, si sulung yang kini mulai menunjukkan kewibawaan pangeran, meski tangannya masih belepotan kecap.

Anton tersenyum, lalu melirik Serena. "Arya, daging rusa itu enak, tapi ikan asin dan sayur lodeh ini adalah apa yang dimakan oleh paman-paman kuli di luar sana. Jika kau hanya tahu rasa daging rusa, suatu saat kau tidak akan mengerti kenapa rakyatmu menangis saat harga garam naik."

Serena mengangguk pelan, menyesap air putihnya. "Ayahmu benar, Arya. Seorang pemimpin harus memiliki lidah yang bisa mengecap penderitaan, bukan hanya kemewahan."

Perdebatan Anggaran dan Realitas Lapangan

Setelah anak-anak selesai makan dan dibawa oleh para pengasuh ke kamar masing-masing, suasana meja makan berubah menjadi lebih serius. Serena mengeluarkan beberapa gulungan perkamen yang berisi draf kebijakan ekonomi untuk tahun mendatang.

"Anton, para menteri keuangan mengusulkan kenaikan pajak perdagangan di pelabuhan selatan sebesar 5\%. Mereka bilang kita butuh dana untuk memperkuat benteng pertahanan di perbatasan Utara menyusul laporan Paman Bram soal pengkhianat Karsa," ujar Serena, dahinya berkerut.

Anton mengambil sepotong kerupuk, mengunyahnya pelan sambil berpikir. "Lima persen terdengar kecil di telinga bangsawan, Serena. Tapi bagi pedagang kecil yang membawa hasil bumi dari desa ke pelabuhan, itu artinya mereka harus memotong biaya makan harian mereka."

"Tapi pertahanan negara juga penting, bukan? Jika benteng itu runtuh, rakyat juga yang akan menderita," balas Serena.

"Masalahnya bukan pada pertahanan, tapi dari mana uangnya diambil," sahut Anton tegas. Ia memajukan kursinya, menatap mata perak istrinya dengan kejujuran yang selalu menjadi kekuatannya. "Tadi pagi, aku menyamar ke pasar loak di pinggiran kota. Kau tahu apa yang dibicarakan para kuli angkut? Mereka mengeluh tentang biaya retribusi jalan yang masuk ke kantong para pengawas proyek. Uang itu ada, Serena. Masalahnya, uang itu tersangkut di 'kerongkongan' birokrasi yang gemuk."

Serena menghela napas panjang. "Maksudmu, daripada menaikkan pajak, aku harus memotong tunjangan para pejabat?"

"Tepat. Kenapa kita harus membangun benteng dari emas jika rakyat di bawahnya kelaparan? Potong biaya perjamuan para adipati. Hapuskan dana renovasi taman istana musim panas. Gunakan uang itu untuk benteng, dan gunakan sisa pajaknya untuk subsidi pupuk bagi petani di wilayah 2.001.103 Km^2 ini."

Kehadiran Tamu yang Tidak Diundang

Percakapan mereka terhenti saat seorang pelayan mengetuk pintu dengan ragu. "Ampun, Yang Mulia. Menteri Keuangan Adipati Wijaya memohon audiensi darurat. Beliau bersikeras bahwa ini masalah hidup dan mati kekaisaran."

Serena melirik Anton. Anton hanya mengangkat bahu. "Suruh dia masuk. Kita selesaikan di sini, di meja makan ini."

Adipati Wijaya masuk dengan tergesa-gesa. Ia tampak terkejut melihat sang Kaisar sedang duduk di depan piring ikan asin bersama seorang mantan kuli. Bau terasi membuatnya sedikit mengernyitkan hidung, namun ia segera membungkuk hormat.

"Yang Mulia, saya baru saja menerima draf revisi anggaran Anda. Mengapa Anda mencoret dana pembangunan paviliun delegasi asing? Itu adalah wajah kekaisaran kita di mata dunia!" seru Wijaya tanpa basa-basi.

Serena menunjuk kursi kosong di sebelah Anton. "Duduklah, Adipati. Sudah makan malam? Anton, ambilkan piring untuknya."

"Ah, tidak perlu, Yang Mulia... saya..."

"Makanlah, Adipati," suara Serena mendingin, aura petirnya sedikit berdesis di udara. "Ini adalah ikan asin terbaik dari nelayan kita. Nelayan yang hampir bangkrut karena biaya solar dan pajak yang kalian susun."

Dengan tangan gemetar, sang Adipati duduk. Anton menyendokkan nasi dan sayur lodeh ke piring porselen mahal milik sang menteri. "Cicipi ini, Tuan Adipati. Ini adalah rasa asli dari Arrinra yang sebenarnya."

Diplomasi di Balik Rasa Lodeh

Adipati Wijaya menyuap nasi itu dengan ragu. Matanya membelalak. "Ini... ini sangat pedas."

"Itu adalah rasa pedas yang dirasakan petani saat mereka melihat lumbung mereka kosong karena gagal panen, sementara kalian meminta anggaran untuk paviliun mewah," ujar Anton sambil bersandar. "Tuan Adipati, Anda bilang paviliun itu adalah 'wajah' kekaisaran. Tapi menurutku, wajah kekaisaran yang sesungguhnya adalah perut rakyatnya. Jika perut rakyat kosong, wajah secantik apa pun akan terlihat seperti mayat."

"Tapi Tuan Konsorsium, stabilitas ekonomi membutuhkan investasi asing! Kita butuh tempat yang layak untuk menjamu para pangeran dari Kekaisaran Utara!" Wijaya membela diri.

Serena mengetukkan jarinya ke meja. "Investasi asing tidak akan datang jika mereka melihat jalanan kita dipenuhi pengemis. Mereka akan takut berinvestasi di negara yang rapuh. Anton benar, Wijaya. Aku ingin anggaran itu dialihkan untuk pembangunan lumbung desa di setiap distrik. Jika rakyat kenyang, mereka akan bekerja keras. Jika mereka bekerja keras, ekonomi akan stabil secara alami."

"Dan soal benteng Utara?" tanya Wijaya.

"Gunakan dana dari penghematan biaya operasional kementerianmu," Serena tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Wijaya merinding. "Aku sudah memeriksa laporanmu. Biaya perjalanan dinas para stafmu bisa digunakan untuk membangun dua menara pengawas. Pilih: kau potong biaya jalan-jalanmu, atau aku yang akan memotong jabatanmu?"

Adipati Wijaya menelan ludah. Ia menatap Anton, menyadari bahwa pengaruh sang mantan kuli ini jauh lebih berbahaya daripada pedang ninja Serena. "Saya... saya mengerti, Yang Mulia. Saya akan merevisi drafnya malam ini juga."

Sisi Domestik yang Hangat

Setelah Wijaya pergi dengan wajah lesu, Serena tertawa kecil. "Kau benar-benar tidak punya ampun, Anton. Memberinya sayur lodeh pedas di saat dia ingin bicara soal jutaan koin emas."

"Orang seperti dia butuh kejutan sensorik agar otaknya bekerja, Serena," Anton tertawa. Ia mulai membantu membereskan piring. "Tapi serius, kau melakukannya dengan baik. Kekaisaran ini terlalu besar untuk dikelola hanya dengan logika istana. Kau butuh logika jalanan."

Serena berdiri dan memeluk suaminya dari belakang. "Kadang aku merasa bersalah. Kau seharusnya hidup tenang sebagai mandor atau arsitek jembatan, tapi sekarang kau harus berurusan dengan ular-ular politik setiap hari."

Anton membalikkan badan, memegang tangan Serena. "Aku tidak pernah menyesal. Setiap kali aku melihat rakyat di pasar tersenyum karena harga beras turun, aku tahu bahwa posisiku di sampingmu adalah tugas suci. Aku adalah jangkar bagi petirmu, Serena. Tanpaku, kau mungkin akan menghanguskan semuanya karena kemarahanmu pada ketidakadilan. Bersamaku, petirmu menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi mereka yang tersesat."

Investigasi di Pemukiman Kumuh

Keesokan harinya, Serena memutuskan untuk menindaklanjuti masukan Anton secara langsung. Ia mengenakan penyamaran 'Rara' lagi, sementara Anton mengenakan pakaian kuli lamanya. Mereka pergi ke sebuah pemukiman kumuh di pinggiran ibukota yang sedang dalam proses renovasi—proyek yang seharusnya didanai oleh anggaran tahun lalu.

"Lihat itu, Serena," Anton menunjuk ke arah pondasi bangunan yang tampak rapuh. "Semennya terlalu banyak campuran pasir. Ini korupsi bahan bangunan lagi. Siapa kontraktornya?"

Serena memeriksa catatan kecil di tangannya. "Perusahaan milik kerabat Menteri Laksmana. Lagi-lagi dia."

"Mereka pikir karena tempat ini jauh dari istana, kau tidak akan melihatnya," desis Anton.

Tiba-tiba, sekelompok preman bersenjata mendekat. Mereka tampaknya adalah 'penjaga' proyek yang bertugas menakut-nakuti rakyat yang mengeluh.

"Hei! Apa yang kalian lihat-lihat? Mau cari kerja atau mau cari mati?" teriak salah satu preman yang memiliki bekas luka di wajahnya.

Serena hendak menarik belati tersembunyinya, namun Anton menahannya. "Biar aku yang bicara. Ini wilayahku."

Anton maju dengan tenang. "Kami hanya melihat pondasi ini. Sepertinya tidak kuat untuk menahan beban lantai dua. Kasihan rakyat yang tinggal di sini nanti jika bangunannya roboh."

"Heh, kuli bau kencur! Jangan sok tahu!" si preman mengayunkan parangnya.

Dalam sekejap mata, Serena bergerak. Bukan dengan petir yang mencolok, tapi dengan kecepatan ninja yang murni. Ia menangkis parang itu dengan tangan kosong—sebuah teknik pengalihan energi—dan memukul titik saraf di leher si preman hingga pingsan.

Teman-teman preman itu ternganga. "Siapa kalian sebenarnya?"

Anton tersenyum lebar, ia mengambil linggis yang tergeletak di tanah. "Kami? Kami hanyalah rakyat yang bosan melihat kalian mencuri jatah makan kami."

Pertempuran kecil terjadi di gang sempit itu. Anton bertarung dengan kekuatan fisik murni yang luar biasa, sementara Serena bergerak seperti bayangan, melumpuhkan musuh tanpa mengeluarkan setetes darah pun. Rakyat sekitar yang melihat kejadian itu mulai keluar dari rumah-rumah mereka, memberikan dukungan.

Konsekuensi di Ruang Sidang

Malamnya, Serena kembali ke istana dengan laporan investigasi lengkap. Keesokan paginya, ia memanggil seluruh dewan menteri. Kali ini, ia tidak duduk di meja makan, melainkan di takhta kebesaran.

"Menteri Laksmana," suara Serena menggelegar di Aula Agung. "Aku baru saja kembali dari pemukiman kumuh di Distrik Barat. Aku menemukan semen yang berubah menjadi debu, dan preman yang mengenakan lencana keluargamu."

Laksmana memucat. "Yang Mulia, itu pasti fitnah! Saya tidak tahu-menahu tentang operasional di lapangan!"

"Kau mungkin tidak tahu, tapi aku tahu," Serena berdiri. "Mulai hari ini, seluruh proyek pembangunan nasional akan diawasi langsung oleh Konsorsium Anton. Setiap koin yang keluar harus memiliki bukti material yang nyata. Jika ditemukan kecurangan satu persen saja, bukan hanya hartamu yang disita, tapi gelarmu akan dicabut dan kau akan dikirim untuk bekerja sebagai kuli di tambang batu selama sisa hidupmu."

Guncangan terjadi di aula. Para menteri berbisik ketakutan. Mereka menyadari bahwa era di mana mereka bisa memanipulasi Kaisar telah berakhir. Serena bukan lagi hanya seorang ninja dengan kekuatan petir; dia sekarang memiliki 'mata' di jalanan melalui suaminya.

Visi Masa Depan

Kembali ke ruang makan pribadi di malam hari, Serena dan Anton tampak lelah namun puas. Mereka makan malam dengan menu yang sama lagi: ikan asin dan sayur.

"Kau tahu, Anton," ujar Serena sambil menatap bintang-bintang dari jendela. "Diplomasi di meja makan ini jauh lebih efektif daripada ancaman petirku. Kau mengajariku bahwa untuk mengubah sistem yang besar, kita harus menyentuh hal-hal kecil yang mendasar."

"Itu karena perut yang kenyang tidak akan mudah diprovokasi untuk memberontak, Serena," jawab Anton. "Tugas kita adalah memastikan 2.001.103 Km^2 wilayah ini menjadi meja makan raksasa bagi semua orang. Tidak boleh ada yang kelaparan sementara kita tidur di kasur empuk."

Serena menggenggam tangan Anton. "Terima kasih telah menjadi nuraniku."

Anton mengecup kening Serena. "Dan terima kasih telah menjadi kekuatanku."

Bab 14 ditutup dengan pemandangan sederhana namun kuat: seorang Kaisar dan seorang mantan kuli, bekerja bersama untuk merancang masa depan demokrasi dan kesejahteraan di atas sisa-sisa nasi dan ikan asin. Mereka sadar, tantangan berikutnya akan lebih besar—pemberontakan para bangsawan yang merasa terancam—namun selama mereka memiliki satu sama lain dan dukungan dari rakyat jelata, langit Arrinra akan tetap cerah.

1
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!