Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Daftar yang Bertambah
Langit-langit gudang itu berlapis jelaga. Huang Shen memandanginya dengan mata setengah terbuka, menghitung retakan di antara papan kayu untuk memastikan pikirannya masih bekerja dengan benar. Hampir lima jam pingsan, kata wanita itu. Cukup lama untuk membuat tubuh pulih, cukup singkat untuk membuatnya waspada.
Lampu minyak di sudut ruangan melemparkan cahaya jingga ke dinding-dinding penuh rak botol. Sementara wanita bernama Mu Qingxue itu duduk di bangku kayu dekat pintu, punggungnya tegak, tapi jari-jarinya yang menggenggam cangkir teh menunjukkan ketegangannya.
“Kau sadar sadar,” cetusnya, antara lega dan waspada. “Sudah lima jam.”
“Di mana ini?” Huang Shen duduk, mengabaikan pusing ringan yang tersisa.
“Gudang belakang tokoku. Tidak ada tempat lain yang bisa kupilih malam itu.”
Huang Shen lantas bangkit. Kakinya sudah bisa diandalkan. Dia meraih jubahnya yang terlipat di sudut dan berjalan ke arah pintu.
“Tunggu.” Mu Qingxue berdiri. Suaranya lebih keras dari yang dia niatkan, lalu turun kembali. “Bao Cheng telah mati. Aku mendengar beritanya tadi pagi.” Dia menatap Huang Shen. “Kau yang melakukannya?”
Huang Shen berbalik, menatapnya sebentar. “Kau kenal Wang Teng?”
Mu Qingxue malah terdiam.
Adapun nama itu rupanya punya efek tersendiri padanya. Bahunya sedikit turun, dan sesuatu di belakang matanya yang tadinya waspada berubah menjadi kepedihan yang cepat-cepat dia sembunyikan.
“Suamiku meninggal saat berduel dengannya tiga bulan lalu,” tuturnya, datar seperti orang yang sudah terlalu sering mengulang cerita ini dalam kepalanya sendiri. “Wang Teng menantang duel berkedok bisnis. Kontrak dagang yang tidak adil. Ketika suamiku menolak, dia menyebutnya penghinaan dan menuntut penyelesaian dengan pedang.”
“Suamimu kalah.”
“Suamiku memang bukan kultivator.” Mata Mu Qingxue mengeras sebentar. “Dia pedagang biasa yang hanya mempunyai bisnis kecil. Sedangkan Wang Teng adalah Jiwa Baru tingkat akhir. Duel itu bukan duel seimbang, itu adalah pembantaian yang diberi nama.”
Huang Shen mencatat nama itu dalam kepala. Jiwa Baru tingkat akhir. Tentu saja masih jauh. Tapi bukan tidak mungkin.
“Setelah suamiku mati, Bao Cheng muncul dengan kontrak hutang yang mengklaim suamiku pernah berutang pil senilai dua ratus keping emas. Aku tahu kontrak itu cacat, tapi aku tidak punya cukup bukti atau kekuatan untuk melawan.” Mu Qingxue menghembuskan napas. “Bao Cheng sudah mati sekarang. Tapi kontraknya ada di tangan Pedagang Li, partnernya. Dan selama Li masih hidup, hutang itu masih berlaku secara hukum Asosiasi Pedagang.”
“Siapa lagi yang terlibat?”
Mu Qingxue menatapnya curiga. “Kenapa kau tanya?”
“Aku ingin tahu.”
Dia menatap Huang Shen lama, seolah mencoba membaca sesuatu di wajah yang dingin itu. Akhirnya dia menyebutkan dua nama lagi. Preman berkepala botak bernama Goro yang biasa memalak pedagang di Distrik Timur atas nama Wang Teng. Dan seorang pengawal pribadi Wang Teng bernama Hei yang sering keluyuran di warung arak dekat Pasar Barat, menagih setoran dari lapak-lapak kecil.
“Kau jangan cari mereka,” gerutu Mu Qingxue. “Mereka punya Wang Teng. Kau akan—”
“Aku sudah tahu,” tukas Huang Shen. Dia melangkah ke pintu. “Istirahatlah.”
Pintu gudang menutup di belakangnya.
Sementara Mu Qingxue menatap pintu yang kosong itu, cangkir tehnya sudah dingin di tangannya. Tentu saja dia tidak mengharapkan pemuda itu bergerak seperti ini.
Pasar malam Distrik Timur ramai sampai tengah malam.
Goro mudah ditemukan. Pria berkepala botak dengan bekas luka berbentuk huruf X di pipi kanannya, berjalan dari lapak ke lapak dengan gaya orang yang sudah terbiasa ditakuti. Di belakangnya, seorang anak buah mencatat setoran di buku kecil.
Huang Shen mengikutinya dari kejauhan, menunggu sampai Goro memasuki gang sempit menuju warung arak langganannya.
Manakala gang itu cukup sepi, Huang Shen bergerak.
Goro bahkan tidak sempat berbalik. Cakar Iblis, teknik yang muncul secara naluriah sejak Gerbang terbuka, menghantam punggung lehernya. Qi merah merobek titik vital yang membuat Goro jatuh tanpa suara.
Darahnya mengalir ke dalam Gerbang.
Sementara anak buah Goro yang tadi mencatat setoran berlari setelah melihat tuannya roboh. Huang Shen tidak mengejarnya. Saksi tidak masalah, karena tidak ada yang akan percaya cerita dari seorang anak buah preman.
Adapun malam itu Toko Pedagang Li sudah tutup, tapi cahaya lampu masih terlihat dari celah jendela.
Huang Shen masuk lewat jendela belakang yang kuncinya sudah berkarat. Li sedang duduk di meja kerjanya, menghitung koin dengan ekspresi orang yang sedang membayangkan keuntungan masa depan, sama seperti kebiasaan Bao Cheng. Saat pintu dalam terbuka, dia mendongak.
“Siapa… bagaimana kau masuk?!”
“Kontrak Nyonya Mu,” kata Huang Shen. “Di mana kau simpan?”
Tentu saja Li tampak pucat. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Pergilah sebelum aku—”
Huang Shen sudah ada di depannya sebelum kalimat selesai, tangan kiri mengangkat Li dari kursinya dengan mudah. Lelaki itu meronta, lalu melihat mata Huang Shen yang mulai menyala merah dan langsung berhenti.
“Laci ketiga dari kiri,” erang Li, suaranya keluar tanpa dia berniat mengucapkannya.
Huang Shen pun melemparnya ke lantai, membuka laci, dan menemukan tumpukan kontrak. Dia cari nama Mu Qingxue dan menemukannya, lalu merobek kertas itu menjadi empat bagian.
Sementara Li merangkak mundur. “Tolong, aku punya keluarga, aku bisa bayar… .”
“Berapa keping emas yang sudah kau ambil dari orang yang tidak mampu membela diri?”
Tidak ada jawaban yang benar untuk pertanyaan itu, dan Tinju Darah Penghancur Batu lantas mengakhiri percakapan mereka.
Hei, pengawal Wang Teng, mati di gang belakang warung arak dekat Pasar Barat tepat saat lonceng kota berdentang dua belas kali. Eksekusi terbersih malam itu. Lelaki itu bahkan sempat tersenyum mengira Huang Shen adalah pelanggan yang mau melewatinya, sebelum Cakar Iblis menyentuh dadanya.
Singkatnya, tiga target dalam satu malam.
Alhasil, ketika Huang Shen kembali ke tempat persembunyiannya di atap gudang tua, Gerbang di dadanya bersinar lebih stabil dari sebelumnya.
Pemurnian Qi: Tingkat Tujuh.
Dua tingkat dalam semalam. Darahnya lebih bersih dari Bao Cheng, peredaran Qi lebih lancar. Tubuhnya beradaptasi lebih cepat.
Keesokan paginya, Huang Shen melewati lorong dekat Paviliun Qingxue dan mendengar suara Mu Qingxue dari dalam toko.
Jelas bukan suara yang tenang.
Dia berdiri di ambang pintu yang terbuka, menatap Mu Qingxue yang sedang membaca selembar kertas dengan wajah yang sulit dibaca. Wanita itu mendongak, dan di matanya ada sesuatu antara ketakutan dan pertanyaan yang tidak berani dia ucapkan.
“Tiga orang mati semalam,” desisnya terbata-bata. “Goro, Li, dan Hei.”
Sedangkan Huang Shen tidak menjawab.
“Kau yang melakukannya.” Lagi-lagi bukan pertanyaan. “Mereka memang jahat. Tapi kalau pengawas kota mulai menyelidiki… .”
“Biarkan saja.”
“Kau tidak bisa membunuh semua orang!” hardik Mu Qingxue, suaranya akhirnya pecah dari ketenangan yang dipaksakan. “Ini Kota Qingyun, bukan hutan! Ada aturan, ada—”
“Aturan itu dibuat oleh orang yang sudah terlindungi,” tukas Huang Shen begitu datarnya. “Bukan untuk orang seperti aku.”
Dia meletakkan selembar kertas di dekat pintu. Robekan kontrak hutang Mu Qingxue, empat bagian yang sudah tidak bisa dibaca lagi sebagai dokumen resmi.
Mu Qingxue lantas menatap kertas itu, lalu menatap Huang Shen yang sudah berbalik pergi.
Dia tidak sempat berterima kasih. Dia tidak mengucapkan apa-apa. Huang Shen juga tidak menunggu. Kendati demikian, malam itu ada yang berbeda.
Suara di Gerbang muncul lebih awal dari biasanya, tatkala Huang Shen sedang menatap langit dari atap persembunyiannya.
“Wang Teng, Jiwa Baru tingkat akhir,” kata suara itu tanpa pembukaan. “Dengan Pemurnian Qi tingkat tujuh, kau akan mati dalam tiga serangan pertamanya. Mungkin dua.”
“Maka kau harus lebih pintar, bukan lebih cepat.” Suara itu mengalun lebih dalam. “Gerbang punya lebih dari satu fungsi, Tuanku. Sejauh ini kau hanya menggunakan penyerapan darah. Tapi ada yang namanya Resonansi Gerbang. Kemampuan untuk menyerap bukan hanya darah, tapi juga Qi langsung dari udara, dari tumbuhan, dari benda-benda berenergi. Lambat, tapi bersih. Dan tidak ada efek samping dari darah kotor.”
Huang Shen mengerutkan dahi. “Kenapa lagi-lagi baru sekarang kau memberitahuku?”
“Karena kau baru cukup stabil untuk menerimanya. Sebelum ini, Gerbangmu masih baru terbuka.”
Di dadanya, tanda Gerbang mulai bersinar dengan warna yang berbeda. Bukan merah pekat seperti biasanya, tapi merah dengan lapisan tipis keemasan di tepinya.
Resonansi Gerbang: aktif.
“Ada cara lain untuk mempercepat?” tanya Huang Shen.
“Tentu,” balas suara itu. “Tapi kau harus siap membayar harganya.”
Huang Shen menutup matanya, merasakan aliran baru yang perlahan mengisi tulangnya dari udara malam di sekitarnya.
Di kejauhan, lampu-lampu Distrik Utara masih menyala. Di situlah kediaman Wang Teng berada, di balik tembok tinggi yang dikawal kultivator Pembentukan Dasar.
Andaikata jalan ke sana masih panjang, tidak masalah.
Dia baru saja mulai.