NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Tubuh manusia ternyata memiliki caranya sendiri untuk mengingat setiap jengkal beban yang kita paksakan kepadanya, bahkan sebelum otak kita benar-benar terjaga. Arlo merasakannya tepat saat ia mencoba menggerakkan bahu kirinya. Rasa nyeri itu datang bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai hantaman pelan yang berdenyut dari pangkal leher hingga ke ujung jari. Ia tetap memejamkan mata, membiarkan aroma kayu lapuk dari kasur jerami dan bau sup kubis basi dari lantai bawah menusuk hidungnya. Tidak ada lagi wangi lavender dari seprai sutra yang setiap pagi diganti oleh pelayan. Yang tersisa hanya rasa sakit yang jujur, sesuatu yang ia peroleh dari tiga keping koin perunggu kemarin.

Arlo menarik napas panjang, lalu perlahan membuka mata. Cahaya matahari belum benar-benar masuk, hanya warna kelabu yang merayap di langit-langit kamar penginapan yang retak. Ia menoleh ke samping. Dipan Kalea sudah kosong, hanya menyisakan lipatan selimut yang tidak terlalu rapi. Di sudut ruangan, Pak Elara masih tertidur dengan suara napas yang sedikit lebih tenang, meskipun sesekali masih terdengar bunyi ngik tipis dari paru-parunya.

Arlo mencoba duduk. Setiap ruas tulang belakangnya berderit, memprotes gerakan yang ia lakukan. Ia menatap telapak tangannya. Perban yang dipasang Kalea semalam sudah sedikit bergeser, memperlihatkan kulit yang memerah dan bengkak. Ia mengepalkan tangan perlahan. Perih. Namun, saat ia melihat tiga koin perunggu di atas meja kayu yang miring, rasa perih itu seolah memiliki tujuan.

"Kau membuang waktu lima menit hanya untuk menatapi tanganmu, Arlo."

Suara Kalea terdengar dari arah pintu yang terbuka sedikit. Gadis itu masuk membawa ember kayu kecil berisi air bersih. Rambutnya sudah diikat tinggi dengan tali kain biru, memperlihatkan lehernya yang ramping namun tampak kokoh. Ia meletakkan ember itu di lantai, lalu melemparkan sepotong kain lap ke arah Arlo.

"Basuh wajahmu. Kita harus berangkat sebelum antrean di galangan kapal memanjang," ucap Kalea tanpa menoleh, ia sibuk membetulkan letak bantal ayahnya.

Arlo menangkap kain itu dengan tangan kanannya yang kaku. "Jam berapa sekarang?"

"Cukup pagi untuk membuat orang malas tetap tidur, dan cukup siang untuk membuat orang miskin kehilangan pekerjaan," jawab Kalea pendek. Ia berdiri, menatap Arlo yang masih duduk di tepi dipan dengan kemeja katun yang kusut. "Kenapa? Kau ingin mengeluh soal ototmu yang kaku?"

Arlo menggeleng, lalu berdiri dengan satu sentakan yang dipaksakan. Ia tidak ingin menunjukkan rasa sakitnya di depan Kalea. "Aku hanya sedang menyesuaikan ritme. Berikan aku satu menit."

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin yang seolah menampar kesadarannya. Rasa dingin itu merambat ke tengkorak kepalanya, mengusir sisa-sisa keinginan untuk kembali berbaring. Arlo merapikan kemejanya, menyisir rambut dengan jari, lalu mengambil kepingan logam nomor 84 yang ia dapatkan kemarin.

Jalanan Solandis pagi ini terasa lebih dingin. Kabut laut masih menggantung rendah di antara gang-gang sempit, bercampur dengan asap dari tungku-tungku roti yang baru dinyalakan. Arlo berjalan di samping Kalea, mencoba mengimbangi langkah gadis itu yang cepat dan efisien. Sepatu kainnya sesekali menginjak kubangan air payau, namun ia tidak lagi merasa risih. Di Aethelgard, noda di sepatu adalah bencana. Di sini, noda adalah bukti kau sedang bergerak.

"Aku akan ke bengkel kursi lagi," Kalea bersuara saat mereka sampai di persimpangan pasar tengah. "Pemiliknya bilang ada kiriman kayu jati dari selatan yang harus segera diampelas. Kalau kau selesai lebih cepat di galangan, jangan menungguku. Cek kondisi Ayah dulu."

Arlo berhenti sejenak, menatap mata cokelat Kalea yang tampak tegas di balik temaram fajar. "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menyelesaikan bagianku."

Kalea hanya mengangguk kecil, lalu berbalik dan hilang di antara kerumunan orang yang mulai memenuhi pasar. Arlo melanjutkan langkahnya menuju dermaga barat. Kali ini, ia tidak lagi merasa asing. Ia tahu ke mana harus berjalan, ia tahu bau amis yang akan menyambutnya, dan ia tahu wajah garang Mandor Silas yang sudah menunggu di depan pos kayu.

"Nomor 84!" teriak Silas saat melihat Arlo mendekat. "Kau telat dua menit. Pergi ke bagian pemotongan kayu di galangan dalam. Tim pembersih lambung sudah penuh."

Arlo tertegun. Pemotongan kayu? Itu berarti ia harus berhadapan dengan balok-balok kayu raksasa yang harus dipindahkan secara manual. "Siap, Mandor."

Galangan dalam jauh lebih berisik dan berdebu daripada dermaga luar. Suara gergaji besar yang ditarik oleh dua orang pria menciptakan suara melengking yang memekakkan telinga. Debu kayu berterbangan seperti salju cokelat, menempel di bulu mata dan masuk ke kerongkongan. Arlo ditugaskan bersama tiga orang pria lain untuk memindahkan balok kayu jati yang baru saja dibelah dari area gergaji menuju area pengeringan.

Satu balok kayu itu memiliki panjang sekitar empat meter dan berat yang sanggup meremukkan bahu jika tidak hati-hati. Arlo mengambil posisi di bagian belakang. Ia menarik napas dalam, memantapkan kuda-kuda kakinya, lalu mengangkat balok itu bersama rekan-rekannya.

Brukk!

Bahu kirinya langsung terasa seperti dihantam palu raksasa saat beban kayu itu menumpu sepenuhnya. Arlo menggertakkan gigi, otot lehernya menegang hingga urat-uratnya terlihat jelas. Ia bisa merasakan tekstur kayu yang kasar dan lembap menekan tulang belikatnya. Setiap langkah yang ia ambil di atas tanah yang tidak rata adalah perjuangan untuk tidak jatuh.

"Terus jalan! Jangan berhenti di tengah jalur!" teriak salah satu pekerja di depannya.

Arlo memaksakan kakinya bergerak. Satu langkah, dua langkah. Keringat mulai bercucuran, membasahi kemejanya dalam hitungan menit. Perban di tangannya mulai terasa basah oleh keringat dan gesekan kayu, namun ia terus mencengkeram permukaan jati itu dengan kuku-kukunya. Pikirannya melayang pada kancing perak yang ia tukarkan semalam. Ia tidak boleh gagal. Ia tidak boleh kembali ke penginapan dengan tangan kosong.

Saat jam istirahat tiba, Arlo menjatuhkan dirinya di atas tumpukan serbuk kayu. Dada dan perutnya naik turun dengan cepat, mencoba memasok oksigen ke otot-ototnya yang sudah gemetar hebat. Ia menatap tangannya. Darah mulai merembes dari balik perban di telapak tangan kanannya. Noda merah itu bercampur dengan debu kayu, menciptakan warna cokelat tua yang aneh.

"Masih hidup, Nak?"

Jono, pria tua yang kemarin memberinya ubi, duduk di sampingnya sambil membawa botol air dari kulit binatang. Ia menyerahkan botol itu pada Arlo.

Arlo menerimanya dengan tangan gemetar, meminum isinya dengan rakus hingga air itu tumpah ke dagu dan dadanya. "Hanya... mencoba untuk tidak mati di hari kedua, Jono."

Jono tertawa kecil, suara tawanya kering. "Kayu jati itu lebih berat daripada dosa raja-rajamu, Arlo. Dia tidak peduli kau punya niat baik atau tidak. Kalau kau tidak kuat, dia akan mematahkanmu."

Jono mengambil tangan Arlo, melihat perban yang berdarah itu. Ia mengeluarkan sebotol kecil cairan bening dari sakunya—minyak kayu putih yang baunya sangat tajam. "Lepas perbanmu. Oleskan ini. Memang perih, tapi ini akan mengeraskan kulitmu. Kau tidak bisa terus-menerus memakai perban seperti bayi di tempat ini."

Arlo ragu sejenak, namun ia akhirnya melepas perbannya. Kulit telapak tangannya tampak hancur; ada beberapa lapisan kulit yang terkelupas dan memperlihatkan daging merah di bawahnya. Jono meneteskan minyak itu tepat di atas luka Arlo.

Arlo tersentak hebat, kepalanya mendongak ke arah langit-langit galangan, dan ia hampir saja berteriak. Rasa sakitnya seperti disiram cairan timah panas. Ia meremas serbuk kayu di sampingnya sampai jemarinya terkubur. Napasnya memburu, matanya memerah menahan air mata yang hampir jatuh.

"Tahan... tahan..." bisik Jono. "Rasa sakit ini yang akan membuatmu ingat bahwa kau masih bernapas."

Setelah beberapa menit yang menyiksa, rasa perih itu perlahan berubah menjadi rasa hangat yang kebas. Arlo menatap telapak tangannya. Lukanya tidak lagi mengeluarkan darah, seolah-olah sudah "dimasak" oleh minyak itu. Ia mengepalkan tangannya. Rasanya kaku, namun ia merasa lebih siap.

Sore harinya, intensitas pekerjaan tidak berkurang. Silas meminta mereka mempercepat pemindahan karena ada pesanan kapal patroli dari Solandis yang harus segera diselesaikan. Arlo tidak lagi banyak bicara. Ia bekerja seperti mesin. Ia memanggul, meletakkan, kembali lagi, dan memanggul lagi. Pakaiannya kini sudah berubah warna sepenuhnya karena debu kayu dan keringat.

Tiba-tiba, suara riuh rendah terdengar dari arah gerbang galangan. Sekelompok pria berpakaian rapi—terlihat seperti pejabat pelabuhan—berjalan melintas bersama beberapa pengawal berseragam biru gelap. Arlo secara refleks menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan kayu yang sedang ia bawa. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut itu adalah utusan dari Aethelgard yang mencarinya.

"Hanya inspeksi rutin dari Dewan Solandis," bisik Jono yang melihat kegelisahan Arlo. "Jangan khawatir. Di sini, pejabat lebih takut pada tumpukan kayu daripada pada orang asing."

Arlo menghela napas lega, namun ia tetap waspada. Ia menyadari bahwa meskipun ia sudah di Solandis, bayang-bayang masa lalunya akan selalu mengintai dari celah-celah terkecil. Keamanan yang ia miliki sekarang hanyalah pinjaman dari kesunyian kota ini.

Peluit panjang akhirnya berbunyi saat matahari mulai tenggelam di balik hutan tiang layar. Arlo berjalan menuju meja Silas dengan tubuh yang terasa remuk. Setiap sendi di tubuhnya seolah-olah sedang berteriak meminta istirahat. Ia berdiri di antrean, melihat para pekerja lain yang juga tampak kelelahan.

"Nomor 84," Silas menyebutkan nomornya. Pria itu menatap Arlo sejenak, melihat kondisi kemeja Arlo yang robek di bagian bahu karena gesekan kayu. "Kau bekerja keras hari ini. Ini empat koin perunggu. Tambahan satu koin karena kau membantu memindahkan jati tanpa banyak bicara."

Empat koin perunggu.

Arlo menerima koin itu. Ia merasakannya dengan ujung jarinya. Koin-koin itu terasa kasar, dingin, namun baginya, itu adalah berat dari martabatnya hari ini. Ia tidak perlu membungkuk pada siapa pun untuk mendapatkan koin ini. Ia mendapatkannya karena ia sanggup memikul beban yang bahkan orang lain menyerah di tengah jalan.

Ia berjalan meninggalkan galangan kapal. Langkah kakinya lambat, ia harus berhenti beberapa kali hanya untuk sekadar mengatur napas. Solandis di waktu senja tampak sangat indah—warna langitnya berubah menjadi ungu tua dengan semburat jingga di garis laut. Ia melihat anak-anak kecil yang bermain di dermaga, mengejar burung-burung camar yang mencari sisa ikan. Tidak ada kemegahan di sini, namun ada kehidupan yang jujur.

Sesampainya di penginapan, Arlo harus memegang pegangan tangga dengan kuat untuk bisa naik ke lantai atas. Pintu kamar terbuka sedikit. Ia masuk dan menemukan Kalea sedang duduk di samping ayahnya, menyuapkan bubur gandum yang masih hangat.

Kalea menoleh. Ia menatap Arlo cukup lama—melihat kemejanya yang robek, debu kayu yang menempel di rambutnya, dan noda minyak di wajahnya. Ada kilatan kekhawatiran di mata Kalea, namun ia segera menutupinya dengan wajah datar seperti biasa.

"Kau berbau jati dan keringat kuda," ucap Kalea sambil meletakkan mangkuk bubur.

Arlo tersenyum, senyum yang sangat lelah namun tulus. Ia duduk di lantai, bersandar pada kaki dipan, lalu meletakkan empat koin perunggu di atas meja kayu. "Empat koin, Kalea. Mandor Silas bilang aku bekerja cukup baik."

Kalea terdiam, ia menatap koin-koin itu. Ia kemudian berdiri, mengambil sebuah wadah berisi air hangat dan sepotong kain bersih. Ia duduk di lantai di depan Arlo, menarik tangan pria itu ke arahnya. Kalea melihat telapak tangan Arlo yang kaku dan sudah tidak diperban lagi.

"Siapa yang mengajarimu memakai minyak kayu putih langsung ke luka?" tanya Kalea, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya.

"Jono. Katanya ini akan mengeraskan kulitku," jawab Arlo. Ia membiarkan Kalea menyeka tangannya dengan air hangat. Sentuhan kain basah itu terasa sangat menyejukkan.

"Dia benar. Tapi itu sangat perih, kan?" Kalea menatap mata Arlo.

"Sakitnya membuatku sadar kalau aku belum mati, Kalea. Sama seperti yang kau bilang di atas perahu semalam," Arlo menatap wajah Kalea yang sangat dekat dengannya. Ia bisa melihat noda cat biru yang masih sedikit tersisa di dekat telinganya.

Kalea tidak membalas ucapan itu. Ia kembali fokus membersihkan tangan Arlo. Setelah selesai, ia mengoleskan sedikit lemak hewan pada luka Arlo agar kulitnya tidak pecah-pecah saat kering. Gerakannya sangat teliti, jemarinya yang kasar bergerak dengan keanggunan yang tidak pernah ditemukan Arlo pada wanita-wanita bangsawan mana pun.

"Ayah bilang dia ingin mencoba berjalan ke jendela besok," bisik Kalea. "Kondisinya membaik. Obat dari Solandis ini benar-benar ajaib."

"Itu berita bagus," Arlo menyandarkan kepalanya ke dinding, memejamkan mata sejenak. "Setidaknya perihnya tanganku hari ini terbayar dengan napasnya yang lebih lega."

Kalea berhenti mengoleskan lemak. Ia menatap Arlo yang tampak sangat rapuh namun sangat kuat secara bersamaan. Ia perlahan mengulurkan tangannya, menyentuh lebam di pipi Arlo yang mulai memudar. "Kau melakukan hal yang mustahil, Arlo. Kau menukar mahkota dengan pekerjaan memanggul kayu jati. Apa kau tidak menyesal?"

Arlo membuka matanya perlahan, menatap tepat ke dalam manik mata cokelat Kalea. "Satu-satunya hal yang kusesali adalah kenapa aku baru melakukannya sekarang, Kalea. Di sini, aku bukan lagi bayangan ayahku. Aku adalah Arlo yang sanggup menghasilkan empat koin perunggu. Dan bagiku, itu jauh lebih agung daripada menjadi raja di Aethelgard."

Kalea tersenyum—kali ini senyum yang lebar dan tulus, memperlihatkan sedikit barisan giginya yang rapi. Ia menarik tangan Arlo dan mencium punggung tangan yang kotor itu dengan sangat lembut. Sebuah tindakan yang membuat jantung Arlo berdegup kencang, menghapus rasa lelahnya seketika.

"Makanlah supmu. Aku menyisakan bagian yang paling banyak dagingnya untukmu," ucap Kalea sambil bangkit berdiri.

Malam itu, di kamar penginapan yang sempit dan berbau kayu jati, Arlo tidur dengan perasaan yang sangat penuh. Ia tahu besok tantangannya akan lebih berat. Ia tahu tubuhnya mungkin akan semakin sakit. Namun ia juga tahu, setiap tetes keringatnya kini memiliki nilai.

Ia tidak lagi memikirkan altar katedral yang dingin atau senyum Helena yang berbisa. Ia hanya memikirkan hari esok—tentang kayu jati yang harus dipindahkan, tentang suara tawa Pak Elara yang mulai pulih, dan tentang tatapan mata Kalea yang kini tidak lagi menyimpan kebencian.

Retakan itu kini telah menjadi fondasi yang kokoh bagi hidupnya yang baru. Dan Arlo Valerius, sang pria tanpa mahkota, akhirnya benar-benar belajar apa artinya menjadi manusia yang bebas di atas tanah yang merdeka.

Di luar jendela, Solandis tetap berisik dengan nyanyian pelaut dan suara deburan ombak, seolah-olah sedang ikut merayakan kemenangan kecil seorang pangeran yang baru saja menemukan jati dirinya di tengah tumpukan kayu jati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!