NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 12

Debu di gudang bawah tanah itu tampak menari-nari saat disorot lampu senter, seolah-olah arwah masa lalu ikut terbangun. Mira dan Romano berhenti di depan sebuah lemari besi yang lebih kecil, tersembunyi di balik tumpukan palet kayu tua. Berbeda dengan lemari lainnya, yang satu ini memiliki segel lilin merah dengan inisial ayah Romano.

Mira memasukkan kunci kuningan itu ke lubangnya. Bunyi klik yang dihasilkan terasa seperti dentum vonis. Di dalam lemari itu, tidak ada tumpukan dokumen tebal. Hanya ada sebuah buku agenda kulit kecil yang sudah berjamur dan sebuah amplop cokelat berisi kaset rekaman lama.

"Ayahku tidak pernah membuang bukti," bisik Romano, suaranya terdengar hampa. "Dia menyimpannya bukan karena merasa bersalah, tapi sebagai pengingat akan kekuasaannya."

Mira membuka amplop itu, tangannya sedikit gemetar. Di dalamnya ada secarik laporan kepolisian yang asli—yang tidak pernah masuk ke arsip publik. Laporan itu mencatat bahwa rem mobil ibu Mira tidak blong karena aus, melainkan sengaja dipotong. Namun, yang membuat jantung Mira seolah berhenti berdetak adalah sebuah nama yang tercantum sebagai saksi mata yang 'diatur' untuk bungkam.

"Pak RT..." desis Mira. "Pria yang tadi duduk di ruang rapat bersamaku... dia ada di sana malam itu?"

Mira teringat bagaimana pria tua yang ia percayai sebagai mentor di Sektor Tujuh itu selalu mendukungnya dengan sangat vokal. Apakah dukungan itu adalah bentuk penebusan dosa, atau justru cara untuk tetap berada di dekat Mira agar rahasia ini tetap terkubur?

Romano mengambil kaset itu dan memasukkannya ke sebuah pemutar portabel tua yang ia temukan di meja arsip. Suara kresek-kresek statis memenuhi ruangan, disusul suara berat ayah Romano.

"...Kau sudah membereskannya, Hasan? Pastikan anak itu—Mira—tetap hidup. Jika dia mati, Rahayu akan menjadi martir. Biarkan dia tumbuh dalam kemiskinan agar dia tidak punya kekuatan untuk menuntut apa pun."

Suara kedua terdengar gemetar, namun Mira mengenalinya dengan sangat baik. Itu suara Pak RT saat masih muda. "Sudah, Tuan. Remnya sudah saya pastikan tidak berfungsi. Tapi... bagaimana dengan kompensasi saya? Tanah di pojok Sektor Tujuh itu harus jadi milik saya."

Mira jatuh terduduk di lantai gudang yang dingin. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah tanpa suara. Dunia yang ia bangun dengan susah payah—aliansi yang ia bentuk dengan warga—ternyata berakar pada pengkhianatan orang yang ia anggap paling tulus.

Romano berlutut di sampingnya, namun ia tidak berani menyentuh Mira. Ia tahu betapa hancurnya perasaan wanita itu saat menyadari bahwa 'pahlawan rakyat' yang ia bawa ke dewan direksi adalah orang yang ikut membunuh ibunya.

"Mira..."

"Jangan katakan apa-apa, Romano," potong Mira, suaranya parau namun penuh amarah yang terkendali. Ia berdiri, menghapus air matanya dengan kasar, dan mengambil kaset itu. "Aku membawa ular ke dalam rumahku sendiri."

"Apa yang akan kau lakukan?"

Mira menatap pintu gudang yang terbuka. "Aku tidak akan menghancurkan semangat warga dengan memberitahu mereka bahwa pemimpin mereka adalah seorang pembunuh. Itu akan menghancurkan kepercayaan yang baru saja kita bangun."

Mira menoleh pada Romano, matanya berkilat dengan kecerdasan yang mematikan. "Aku akan menggunakan ini untuk menjepit Hasan. Dia akan tetap berada di dewan komisaris, tapi dia akan menjadi bonekaku. Dia akan menandatangani setiap kebijakan yang menguntungkan warga tanpa berani mengambil satu persen pun keuntungan untuk dirinya sendiri. Dia akan menghabiskan sisa hidupnya dalam ketakutan, melayani orang-orang yang dia khianati."

Romano berdiri, menatap Mira dengan ngeri sekaligus kagum. "Kau baru saja belajar cara menggunakan rasa takut sebagai alat kontrol, Mira. Kau mulai terdengar seperti seorang Kusuma."

"Bukan," balas Mira tajam. "Aku adalah Rahayu. Dan Rahayu selalu menagih hutangnya hingga lunas."

Mira melangkah keluar dari gudang, meninggalkan kegelapan masa lalu di belakangnya. Di luar, fajar mulai menyingsing di atas Jakarta. Ia tahu, mulai hari ini, senyum tulusnya pada warga akan menjadi topeng yang paling sempurna. Ia telah memenangkan perusahaan, ia telah memenangkan tanahnya, tapi ia baru saja kehilangan kepolosannya selamanya.

Mira melangkah masuk ke kantor Yayasan Rahayu Berdikari dengan langkah yang sangat tenang—ketenangan yang mematikan. Di sana, Pak RT—atau Hasan—sedang duduk menyeruput kopi di balkon, memandangi kemajuan konstruksi pasar dengan senyum kebapakan yang selama ini menjadi sumber kekuatan bagi Mira.

"Mira! Kau sudah datang," sambut Hasan, wajahnya yang keriput tampak berseri-seri. "Dewan komisaris sudah menunggu laporanmu. Siapa sangka, anak kecil yang dulu sering menangis di pangkuan saya sekarang menjadi penguasa gedung ini."

Mira tidak membalas senyuman itu. Ia menutup pintu kaca balkon dan menguncinya. Ia meletakkan pemutar kaset tua itu di atas meja kayu, tepat di samping cangkir kopi Hasan.

"Pak Hasan, saya baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga di bawah tanah Nusantara Group," ucap Mira, suaranya sedingin es. "Sebuah rekaman tentang seorang pria muda yang menjual rem mobil ibuku demi sepetak tanah di pojok Sektor Tujuh."

Wajah Hasan membeku. Cangkir di tangannya bergetar hingga air kopinya tumpah ke lantai marmer yang bersih. Ia mencoba tertawa, namun suaranya tercekat. "Mira... apa yang kau bicarakan? Rekaman apa? Itu pasti tipuan Romano untuk memecah kita!"

Mira menekan tombol play.

Suara Hasan muda yang gemetar menagih kompensasi atas sabotase rem itu memenuhi ruangan. Setiap kata yang keluar dari kaset itu terasa seperti paku yang menghujam jantung Hasan. Pria tua itu jatuh terduduk, napasnya memburu, matanya tidak berani menatap Mira.

"Kenapa, Mira? Kenapa kau membuka luka itu sekarang?" bisik Hasan, air mata penyesalan—atau mungkin ketakutan—mulai mengalir. "Aku melakukannya karena aku tidak punya pilihan! Ayah Romano mengancam akan meratakan seluruh kampung ini jika aku tidak membantu!"

Mira berjalan mendekat, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan pria yang sudah ia anggap sebagai kakeknya sendiri. "Pilihanmu membunuh ibuku, Hasan. Dan selama dua puluh tahun, kau berakting sebagai malaikat pelindungku sambil berdiri di atas tanah hasil darah ibuku."

Mira mengambil dokumen pengalihan aset yang sudah ia siapkan. "Kau tidak akan dipenjara. Belum. Jika kau masuk penjara sekarang, warga akan kehilangan harapan karena pahlawan mereka ternyata seorang pengecut. Dan aku tidak akan membiarkan proyek ini hancur karena dosamu."

Ia menyodorkan pena. "Tanda tangani ini. Kau menyerahkan seluruh aset pribadimu ke yayasan. Kau tetap menjadi komisaris, tapi kau tidak punya hak suara. Tugasmu hanya satu: menjadi pionku. Kau akan bicara atas namaku, kau akan meyakinkan warga atas setiap instruksiku, dan kau akan hidup setiap hari dengan mengetahui bahwa aku bisa menghancurkanmu hanya dengan satu panggilan telepon."

Hasan menatap pena itu dengan tangan gemetar. "Kau... kau benar-benar sudah berubah, Mira. Kau bukan lagi anak yang dulu saya kenal."

"Anak itu mati di dalam mobil yang kau sabotase," balas Mira tanpa emosi.

Setelah Hasan menandatangani dokumen itu dengan tangan yang lemas, Mira mengambil kembali kasetnya. Ia berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak. "Oh, satu lagi. Jangan pernah mencoba lari. Romano sudah menempatkan orang untuk mengawasimu setiap detik. Dia sangat ingin membunuhmu karena kau membuat ayahnya menjadi pembunuh, tapi aku melarangnya. Jangan buat aku berubah pikiran."

Mira keluar dari ruangan itu dengan dada yang terasa sesak namun kepala yang tegak. Di koridor, ia berpapasan dengan Romano yang sedang bersandar di dinding, menunggunya.

"Sudah selesai?" tanya Romano pendek.

"Sudah. Dia sudah dalam kendaliku," Mira berjalan terus tanpa menoleh.

Romano mengikutinya masuk ke dalam lift. "Kau tahu, Mira... menggunakan seseorang yang membenci dirinya sendiri adalah taktik yang sangat efektif. Tapi itu juga akan mengikis jiwamu. Kau yakin bisa menanggung beban ini sendirian?"

Mira menatap bayangan dirinya di pintu lift. Ia melihat seorang wanita dengan mata yang kini tidak lagi hanya berisi api, tapi juga kegelapan yang dalam. "Aku tidak sendirian, Romano. Aku punya kau untuk mengingatkanku betapa kejamnya dunia ini, bukan?"

Lift berdenting terbuka di lantai lobi yang riuh dengan suara warga yang sedang merayakan keberhasilan mereka. Mira melangkah keluar dengan senyum yang terpasang sempurna di wajahnya—senyum yang akan menjadi senjata barunya di dunia yang kini ia kuasai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!