Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
BAB 16
EMBUN DI SUDUT NETRA
Kantor pusat Aratama Group biasanya menjadi tempat di mana emosi ditekan hingga ke titik nol. Di sini, air mata dianggap sebagai tanda inefisiensi, dan keraguan adalah virus yang harus segera dikarantina. Namun, pagi ini, atmosfer di lantai 47 terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah beban beton dari proyek Green Oasis telah berpindah ke dalam ruangan kedap suara itu.
Adrian Aratama baru saja keluar dari rapat dewan direksi yang sangat melelahkan. Tekanan dari ibunya dan ancaman sabotase susulan dari pihak luar telah membuat suasana hatinya berada di titik nadir. Ia melonggarkan dasinya, berniat masuk ke ruang kerja Aisha untuk membahas revisi terakhir sistem struktur.
Namun, ia terpaku di depan pintu kaca yang sedikit terbuka.
Di dalam sana, Aisha sedang duduk di depan meja kerjanya. Punggungnya tidak setegak biasanya. Kepalanya sedikit tertunduk, dan bahunya bergetar sangat halus—getaran yang hanya bisa ditangkap oleh mata yang sudah terbiasa memperhatikannya secara obsesif seperti Adrian.
Aisha tidak terisak kencang. Ia adalah wanita yang didik untuk menelan badainya sendiri. Namun, saat ia mendongak sedikit untuk menyeka sudut matanya dengan saputangan kecil, Adrian melihatnya.
Hanya itu. Hanya sepasang mata yang biasanya jernih dan tajam, kini memerah dan digenangi air yang berkilauan. Mata yang selama ini menjadi satu-satunya jendela komunikasi bagi Adrian itu kini tampak begitu rapuh, seolah-olah seluruh duniaku yang ia bangun dengan logika sedang runtuh di hadapan kesedihan wanita itu.
Detik itu juga, Adrian merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kehilangan kontrak ratusan miliar. Ia merasakan hatinya sendiri seperti diremas oleh tangan raksasa. Ada rasa remuk yang menjalar dari dada hingga ke ujung jemarinya—sebuah rasa sakit yang tidak memiliki penjelasan medis, namun terasa sangat nyata.
Adrian mendorong pintu perlahan. Bunyi engsel yang halus membuat Aisha tersentak. Dengan kecepatan luar biasa, Aisha memperbaiki posisinya, menyeka matanya, dan kembali memasang dinding profesionalismenya.
"Pak Adrian," suara Aisha terdengar parau, meski ia berusaha menstabilkannya. "Mohon maaf, saya tidak mendengar Anda masuk. Revisi struktur beton sektor B sudah hampir selesai."
Adrian tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, melewati meja rapat, dan berhenti tepat di depan meja Aisha. Ia mengabaikan semua tumpukan dokumen. Ia hanya menatap mata itu—mata yang masih basah, meski cadarnya menutupi sisa kesedihan di wajahnya.
"Siapa?" suara Adrian rendah dan berbahaya.
Aisha mengerutkan kening, mencoba berpura-pura tidak mengerti. "Maksud Anda, Pak?"
"Siapa yang membuatmu seperti ini?" Adrian mencondongkan tubuhnya ke meja, kedua tangannya bertumpu pada permukaan kayu eboni. "Apakah itu ibuku? Apakah itu Bianca? Atau... apakah ini karena pria yang ayahmu pilih itu?"
Aisha menundukkan pandangannya. "Ini hanya kelelahan, Pak. Tekanan kerja minggu ini memang cukup tinggi."
"Jangan berbohong padaku, Aisha!" Adrian tanpa sadar menaikkan suaranya satu oktav. Ia segera menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya yang meluap. "Aku mengenalmu. Kau bisa menangani tekanan kerja paling berat sekalipun tanpa berkedip. Kau adalah orang yang paling tenang saat sistem kita disabotase. Ini bukan soal pekerjaan."
Aisha tetap diam, jemarinya meremas saputangan di bawah meja.
Melihat diamnya Aisha, rasa remuk di hati Adrian berubah menjadi amarah yang bercampur putus asa. Ia merasa tidak berdaya. Sebagai CEO, ia bisa memecat siapa pun, ia bisa membeli perusahaan apa pun, tapi ia tidak bisa membeli kebahagiaan untuk wanita di depannya ini.
"Kau tahu..." Adrian berbisik, suaranya kini bergetar karena emosi yang tidak terukur. "Aku lebih suka kau mendebatku dengan argumen religiusmu yang keras kepala itu. Aku lebih suka kau mengabaikan tanganku saat aku ingin membantumu. Tapi melihatmu menangis seperti ini... itu membuatku merasa seperti gagal total sebagai seorang pria."
Aisha mendongak, matanya kembali bertemu dengan mata Adrian. "Pak Adrian, Anda tidak gagal dalam hal apa pun. Anda adalah atasan yang sangat mendukung."
"Aku tidak ingin menjadi sekadar 'atasan', Aisha!" Adrian memukul meja dengan pelan namun penuh tekanan. "Hati saya... hati saya terasa hancur melihat Anda seperti ini. Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa saya mungkin salah satu alasan mengapa Anda merasa tertekan."
Aisha tertegun. Ini adalah pertama kalinya Adrian menggunakan kata "hati" dengan begitu telanjang, tanpa embel-embel sarkasme atau logika bisnis.
"Ayah saya..." Aisha akhirnya membuka suara, setetes air mata yang tersisa meluncur jatuh ke kain cadarnya, meninggalkan noda gelap yang kecil. "Beliau bilang, jika saya tidak menerima khitbah Ustadz Salman minggu depan, maka saya tidak lagi dianggap sebagai putrinya. Beliau menganggap pekerjaan saya di sini, di dekat Anda, telah meracuni pikiran saya."
Adrian memejamkan matanya rapat-rapat. Ia merasa seperti baru saja dipukul di ulu hati. Logika ateisnya ingin berteriak bahwa itu adalah pemerasan emosional yang kejam, namun ia tahu bagi Aisha, itu adalah kiamat kecil.
"Dan kau?" tanya Adrian, suaranya hampir hilang. "Apa kau akan menyerah?"
Aisha menatap ke jendela, ke arah langit Jakarta yang abu-abu. "Saya mencintai Ayah saya. Tapi saya juga merasa... saya merasa ada sesuatu yang belum selesai di sini. Bukan hanya proyek ini, Pak Adrian. Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam."
Adrian berjalan mengitari meja, berdiri di samping kursi Aisha. Ia sangat ingin meraih tangan wanita itu, menariknya ke dalam pelukannya, dan menjanjikan dunia yang bebas dari tekanan apa pun. Namun, ia tetap berhenti sepuluh sentimeter dari batas fisik Aisha. Ia menghormati batasan itu, meski rasanya seperti menyiksa diri sendiri.
"Dengarkan aku," ucap Adrian dengan intensitas yang meluluhkan. "Jika kau memilih untuk bertahan, aku akan menjadi perisaimu. Aku akan bicara pada ayahmu. Aku akan belajar apa pun yang perlu kupelajari untuk membuktikan bahwa aku tidak 'meracunimu'. Tapi tolong... jangan menangis lagi karena merasa sendirian. Kau tidak sendirian."
Aisha menoleh ke arah Adrian. Dalam jarak sedekat ini, Adrian bisa melihat pantulan dirinya di mata Aisha yang basah. Di sana, ia tidak melihat seorang CEO angkuh, ia melihat seorang pria yang hatinya baru saja hancur dan sedang berusaha menyatukan kepingannya demi wanita yang ia cintai.
"Kenapa, Pak Adrian?" tanya Aisha pelan. "Kenapa Anda mau melakukan sejauh itu untuk saya? Saya hanya seorang karyawan dengan banyak aturan yang merepotkan Anda."
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan. "Karena kau adalah satu-satunya orang yang membuatku ingin menjadi manusia yang lebih baik, Aisha. Kau adalah arsitek yang merenovasi jiwaku tanpa aku sadari. Dan melihat arsitekku menangis... itu adalah kegagalan struktural terbesar dalam hidupku."
Suasana ruangan itu mendadak terasa sangat sakral. Suara bising dari luar seolah lenyap. Aisha merasakan sebuah kekuatan baru merayap di hatinya. Rasa sakit karena ancaman ayahnya masih ada, namun kehadiran Adrian yang begitu rapuh sekaligus kuat di sampingnya memberikan sebuah harapan yang tak terduga.
"Terima kasih," bisik Aisha. "Terima kasih karena telah melihat air mata saya sebagai sesuatu yang penting."
Adrian mengangguk perlahan. Ia mengambil satu langkah mundur, mencoba mengendalikan debar jantungnya. "Sekarang, ambil waktu sisa hari ini untuk pulang. Istirahatlah. Jangan kerjakan apa pun. Itu perintah CEO."
Aisha mulai merapikan barang-barangnya. Saat ia berdiri untuk pergi, ia berhenti sejenak di depan Adrian.
"Pak Adrian?"
"Ya?"
"Hati yang remuk bisa dibangun kembali," ucap Aisha lembut. "Sama seperti gedung kita. Terkadang kita harus melihat kerusakannya dulu untuk tahu di mana kita harus memperkuat fondasinya."
Aisha berjalan keluar ruangan dengan langkah yang lebih stabil. Adrian tetap berdiri di sana, menatap kursinya yang kosong. Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang masih kacau. Hatinya mungkin memang remuk hari ini, tapi ia menyadari bahwa reruntuhan itu justru membuka jalan bagi sesuatu yang lebih besar dari sekadar logika: sebuah iman yang mulai tumbuh lewat rasa cinta.
Ia mengambil ponselnya dan membatalkan semua jadwal rapatnya sore itu. Ia tidak butuh bicara dengan investor. Ia butuh duduk diam di sana, di tempat Aisha baru saja menangis, untuk merasakan sisa-sisa kehadiran wanita yang telah mengubah dunianya selamanya.