Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Meninggalkan Pesan
Pendopo pesanggrahan masih ditempati dua pangeran ketika Sawitri keluar dari kamarnya saat fajar.
Mereka masih di sana.
Cakrawirya duduk bersila dengan lontar di pangkuannya. Matanya sedikit sembab, tanda tidak tidur semalaman.
Jatmiko bersandar di tiang, keris kecil masih di tangan. Ia menguap, lalu tersenyum melihat Sawitri.
“Selamat pagi, Sawitri. Tidur nyenyak?”
Sawitri mengabaikan pertanyaan itu. Matanya beralih ke Cakrawirya.
“Kau masih di sini?”
“Menjaga,” jawab Cakrawirya singkat.
“Dari apa?”
“Dari gangguan.”
Jatmiko tertawa. “Kakang, kau benar-benar tidak lucu.”
Sawitri menghela napas. Ia melangkah ke dapur, mengambil segelas air.
Dari balik pintu, Ndari berbisik, “Ndara, mereka semalaman duduk di sana. Tidak tidur.”
“Aku tahu.”
“Mereka saling diam-diaman. Tapi kadang Raden Jatmiko melirik Raden Cakrawirya, kadang sebaliknya.”
“Observasi yang baik, Ndari. Tapi tidak relevan.”
Sawitri kembali ke pendopo dengan segelas air. Ia duduk di kursi kayu, menyesapnya pelan.
Kedua pangeran masih di sana.
“Kalian mau sarapan?” tanya Sawitri datar.
Jatmiko langsung bangkit. “Mau! Aku lapar sekali.”
Cakrawirya hanya mengangkat bahu. “Kulo ikut.”
Ndari yang mendengar dari dapur langsung panik. “Ndara, persediaan makanan kita terbatas...”
“Masak saja apa adanya. Mereka bukan tamu istimewa.”
---
Sarapan berlangsung dalam keheningan canggung.
Jatmiko makan dengan lahap, sesekali memuji masakan Ndari. Cakrawirya makan pelan, matanya sesekali melirik Jatmiko.
Sawitri mengamati keduanya dengan tatapan analitis.
Cakrawirya: pola makan teratur, tidak tergesa. Tanda prajurit terlatih yang terbiasa makan dalam situasi apa pun.
Jatmiko: lahap tapi tetap menjaga etika. Tanda bangsawan yang terbiasa dengan jamuan, tapi tidak rewel.
Keduanya menarik. Tapi tidak relevan dengan kasus Wartinah.
Tiba-tiba, dari luar terdengar suara kereta kuda berhenti.
Ndari berlari ke luar, lalu kembali dengan wajah tegang.
“Ndara... ada Ki Lurah Wirapati. Beliau bawa seseorang. Seorang batur tua.”
Sawitri meletakkan sendoknya. “Suruh masuk.”
Wirapati melangkah masuk dengan seorang pria tua berpakaian lusuh. Pria itu berjalan tertatih, matanya sayu.
“Ndara Tabib, maaf mengganggu sarapan.” Wirapati menunduk. “Ini Mbah Karto. Dia bekas batur dapur di kediaman Danurejo sepuluh tahun lalu.”
Sawitri langsung berdiri.
Matanya mengunci pria tua itu.
Mbah Karto menunduk dalam. Tangannya gemetar.
“Mbah Karto,” panggil Sawitri pelan. “Kau kenal aku?”
Pria tua itu mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca.
“Ndara Ayu... Ndara Sawitri... wajah Ndara persis seperti mendiang Raden Ayu Kinanti.”
Udara di pendopo terasa berubah.
Cakrawirya dan Jatmiko ikut berdiri, diam-diam mendekat.
“Kau bekerja di dapur saat ibuku sakit?” tanya Sawitri.
Mbah Karto mengangguk. Napasnya berat.
“Nggih, Ndara. Kulo yang menyiapkan jamu untuk Raden Ayu setiap hari.”
“Ada yang tidak biasa saat itu?”
Pria tua itu diam sejenak. Tangannya meremas ujung kain lusuhnya.
“Wonten... Ndara. Kulo melihat... Nyai Selir Sukmawati sering datang ke dapur. Beliau bilang ingin memastikan jamu Raden Ayu diracik dengan benar.”
Sawitri menatapnya tajam. “Lanjutkan.”
“Suatu sore... sehari sebelum Raden Ayu mangkat... Kulo melihat Nyai Sukmawati menuangkan sesuatu ke dalam jamu. Beliau kira kulo tidak melihat. Tapi kulo melihat dari balik pintu.”
Mbah Karto berhenti. Air matanya jatuh.
“Kulo tidak berani bilang siapa-siapa. Kulo hanya batur rendahan. Esok harinya Raden Ayu jatuh sakit dan... dan...”
Ia terisak.
Sawitri tidak bergerak. Wajahnya tetap datar.
Tapi di dalam dadanya, sesuatu bergetar.
“Apa yang dia tuangkan? Bentuknya?”
Mbah Karto mengusap matanya. “Cairan bening, Ndara. Dalam botol kaca kecil. Beliau bawa dari balik kebayanya.”
“Bau?”
“Mboten, Ndara. Tidak berbau. Saat itu kulo kira, niku hanya air biasa.”
Sawitri mengangguk pelan.
Arsenik tidak berbau. Tidak berasa. Sempurna untuk racun.
“Kenapa baru sekarang kau bicara?”
Mbah Karto menunduk. “Kulo takut, Ndara. Nyai Sukmawati... dia kejam. Kulo lihat sendiri bagaimana dia memperlakukan batur yang membantah.”
“Tapi kau di sini sekarang.”
“Kulo sudah tua, Ndara. Kulo tidak punya keluarga. Kulo tidak ingin mati membawa dosa diam.”
Sawitri diam sejenak. Lalu berkata, “Kau mau bersaksi di depan Adipati?”
Mbah Karto mengangguk ragu. “Nggih, Ndara. Demi keadilan untuk Raden Ayu.”
Wirapati menghela napas. “Ndara, ini bukti kuat. Kita bisa, ”
“Belum.”
Sawitri memotong. “Kesaksian lisan bisa dibantah. Kita butuh bukti fisik.”
Ia menatap Mbah Karto. “Kau ingat di mana Nyai Sukmawati menyimpan botol-botol racikannya?”
Mbah Karto mengerutkan kening. “Dulu beliau punya lemari kecil di kamarnya. Tapi setelah Raden Ayu meninggal, lemari itu dipindah. Kulo tidak tahu dipindah ke mana.”
Cakrawirya angkat bicara. “Aku bisa mencari tahu. Anak buahku bisa menyusup ke kediaman Danurejo.”
Jatmiko tersenyum. “Kakang, kau punya anak buah di mana-mana? Aku iri.”
Cakrawirya tidak menanggapi.
Sawitri menatap Mbah Karto. “Mbah, kau akan tinggal di sini sementara. Demi keamananmu.”
Mbah Karto mengangguk. “Matur nuwun, Ndara.”
---
Malam harinya, Mbah Karto diberi tempat di belakang pesanggrahan.
Sawitri duduk di pendopo, menulis catatan. Cakrawirya di sampingnya. Jatmiko di seberang.
“Kau tidak pulang?” tanya Sawitri pada Jatmiko.
“Aku masih ingin menemanimu. Lagipula, ceritanya mulai menarik.”
Cakrawirya mendengus. “Ini bukan tontonan, Jatmiko.”
“Aku tahu. Ini keadilan.” Jatmiko tersenyum. “Dan aku suka keadilan.”
Sawitri mengabaikan mereka. Pikirannya pada Mbah Karto.
“Besok kita cari lemari itu,” gumamnya.
Cakrawirya mengangguk. “Aku sudah perintahkan anak buahku menyelidiki.”
---
Pagi harinya, Sawitri bangun lebih awal.
Ia melangkah ke belakang pesanggrahan, tempat Mbah Karto tidur.
Pintu bilik bambu itu terbuka.
Sawitri mengerutkan kening. Ia masuk.
Tempat tidur kosong. Selimut masih terlipat rapi.
“Mbah Karto?”
Tidak ada jawaban.
Sawitri keluar. Matanya menyapu sekitar.
Di tanah, dekat pintu, ada jejak kaki. Banyak. Tidak beraturan.
Ia berjongkok. Jejak kaki pria dewasa, besar, dalam. Tanda terburu-buru.
Dan di sela-sela jejak itu, ada bercak merah.
Darah.
Sawitri menyentuhnya dengan ujung jari. Masih basah.
“Cakrawirya!”
Pemuda itu muncul dari pendopo dalam hitungan detik.
“Ada apa?”
“Mbah Karto hilang. Ini darah.”
Cakrawirya langsung siaga. Ia memeriksa jejak.
“Mereka menyeretnya ke arah hutan.”
Jatmiko muncul di belakang. “Aku ikut.”
Tanpa berkata apa-apa, mereka bertiga berlari ke arah hutan.
Jejak darah terputus di tengah jalan.
Tapi di balik semak, mereka menemukan sesuatu.
Sandals usang. Milik Mbah Karto.
Dan di sampingnya, sehelai sobekan kain sutra merah. Sudut sobekan kain tidak beraturan, ditarik paksa.
Warna dan jenisnya sama persis dengan benang yang ditemukan di TKP Wartinah.
Sawitri mengambil kain itu. Matanya menyipit.
“Sukmawati.”
Cakrawirya mengepalkan tangan. “Dia bergerak cepat.”
Jatmiko diam, tapi matanya gelap.
Sawitri berdiri. Menatap ke arah hutan yang sunyi.
Mbah Karto mungkin sudah tidak bernyawa.
Tapi ia meninggalkan pesan.
Kain merah itu.
Sukmawati tidak hanya membunuh ibunya.
Dia juga membunuh saksi.
Dan sekarang...
Sawitri mengepalkan kain itu erat-erat.
“Dia menyatakan perang.”