NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Satu malam, Seumur Hidup

Lampu-lampu SCBD memantul di aspal basah ketika gedung Dragonfly berdiri angkuh di hadapannya. Dari luar, fasad klub itu tampak seperti kotak hitam berkilau—minimalis, eksklusif, dan seolah menyembunyikan rahasia siapa pun yang masuk ke dalamnya. Dentuman bass sudah terasa bahkan sebelum pintu dibuka, bergetar pelan di dada, mengundang sekaligus mengancam.

Di depan pintu, deretan mobil mewah berhenti silih berganti. Asap rokok bercampur parfum mahal memenuhi udara, sementara petugas keamanan berdiri tegap, menilai setiap tamu dengan tatapan datar namun tajam. Begitu pintu terbuka, cahaya neon ungu dan biru menyembur keluar, menelan siapa pun yang melangkah masuk.

Di dalam, dunia seolah berubah. Lampu strobo menari liar di langit-langit, memantul di gelas-gelas kristal dan lantai yang berkilau. Musik elektronik menghantam tanpa ampun, membuat logika perlahan larut dalam irama. Tubuh-tubuh bergerak rapat, tawa bercampur teriakan, dan aroma alkohol menggantung pekat di udara.

Bar memanjang di sisi ruangan, diterangi cahaya redup, dipenuhi botol-botol minuman yang berkilau seperti godaan. Di sudut-sudut gelap, percakapan berlangsung terlalu dekat, terlalu cepat, terlalu berani. Malam itu tidak meminta janji—hanya kehadiran, dan penyerahan diri pada apa pun yang mungkin terjadi setelahnya.

Di antara kerumunan itu, seorang gadis melangkah masuk dengan percaya diri yang setengah dipaksakan. Tubuhnya berisi, berlekuk lembut, dibalut gaun ketat berwarna gelap yang memeluknya tanpa ampun. Cahaya lampu strobo sesekali menyinggahi kulitnya, membuatnya tampak berkilau di tengah hiruk-pikuk malam. Rambutnya tergerai, riasan wajahnya rapi namun berani—seolah ia datang dengan satu tujuan: melupakan, atau mungkin mencari pelarian.

Di kanan kirinya, dua sahabatnya berjalan beriringan. Tawa mereka ringan, terlalu nyaring untuk sekadar obrolan biasa. Ada rasa haus yang tak diucapkan, kegelisahan yang disamarkan oleh gelas-gelas minuman dan dentuman musik. Malam itu, mereka tidak mencari cinta—hanya perhatian, pengakuan, dan kehangatan sesaat dari sosok asing yang mau menatap lebih lama.

Pandangan mata saling beradu di antara kerumunan. Senyum-senyum singkat dilemparkan, bahu-bahu bersenggolan, dan batas-batas perlahan mengabur. Klub itu menjadi ruang tanpa masa depan, tempat keinginan dipersilakan berjalan lebih dulu daripada logika.

Ia bernama Bela, wajahnya cantik dengan mata yang menyimpan lelah berkepanjangan. Senyumnya ada, tapi rapuh, seperti dipinjam hanya untuk malam itu. Ia sedang stres, tenggelam dalam tekanan hidup yang tak sempat ia ceritakan pada siapa pun. Klub ini bukan tempat yang biasa ia datangi, namun malam itu ia hanya ingin lari sejenak—dari pikirannya sendiri, dari kenyataan yang terus menuntut tanpa jeda.

Di sebelahnya melangkah Luna. Bibirnya selalu melengkung dalam senyum licik, matanya tajam dan penuh perhitungan. Ia tipe perempuan yang tahu persis bagaimana membaca kelemahan orang lain—dan memanfaatkannya. Bela tidak sepenuhnya bodoh; ia tahu Luna pernah menipunya, bahkan lebih dari sekali. Tapi entah mengapa, malam ini ia tetap ikut. Mungkin karena Luna pandai membungkus racun dengan tawa.

Dan yang terakhir adalah Cika, energi berjalan yang tak pernah kehabisan napas. Tawanya meledak-ledak, langkahnya ringan, matanya selalu bergerak, mengamati, menilai. Ia tipe yang tak suka berlama-lama pada satu rasa. Baginya, hidup adalah tentang mencoba: satu minuman ke minuman lain, satu senyum ke senyum berikutnya. Ia tidak memikirkan akibat, hanya sensasi.

Tiga perempuan, tiga niat berbeda, disatukan oleh malam yang sama. Musik menggelegar menelan percakapan mereka, lampu-lampu menipu mata. Mereka duduk di sofa sambil memamerkan tubuh indah bak maha karya sempurna, siapapun melirik pasti akan terpesona. Wangi tubuhnya pun memabukkan pria manapun, meski hanya dari kejauhan.

Sebelum tiba di klub, Cika sebenarnya sudah membuat janji dengan seorang teman prianya. Mereka memang sering bekerja sama dan saling mengenalkan teman untuk kesenangan sesaat. Tidak ada perasaan, tidak ada komitmen. Hanya kebutuhan yang sama dan kesepakatan diam-diam. Luna langsung tertarik ketika mendengar rencana itu. Uang selalu menjadi pemicunya. Selama ada imbalan, ia tidak peduli siapa yang harus dikorbankan. Ia tahu kondisi Bela sedang rapuh, dan itu membuat segalanya terasa lebih mudah.

Bela tidak tahu apa-apa. Ia mengira malam itu hanya ajang melepas penat bersama teman. Padahal, sejak awal, Cika dan Luna sudah sepakat bekerja sama. Mereka pelan-pelan mengarahkan situasi, menjauhkan Bela dari kendali dirinya sendiri. Saat mereka masuk ke klub, permainan sudah dimulai. Bela hanya belum sadar bahwa dirinya adalah sasaran.

Kepala Bela tiba-tiba terasa berat. Pandangannya berputar, suara musik terdengar jauh.

“Gue pusing,” katanya sambil menutup mata sebentar. “Duh! Kayaknya karena kebanyakan minum nih.”

Cika menoleh cepat. “Lo nggak apa-apa, bel?”

“Nggak enak badan… mau balik aja gue,” jawab Bela pelan.

Luna mendekat. “Pulang ke rumah lo?”

Bela menggeleng. “Jangan ke rumah gue lah. Pada ribut semua. Nggak sanggup gue.”

“Ke rumah gue aja,” kata Cika tanpa ragu. “Lebih tenang.”

“Ya atur dah,” sambung Luna. “Daripada si Bela makin drop.”

Bela mengangguk. Ia tidak curiga. Kepalanya semakin berat saat mereka berjalan keluar klub.

Begitu duduk di dalam mobil, Bela bersandar ke jok. Lampu jalan lewat satu per satu di balik kelopak matanya. Napasnya melambat. Ia pingsan sebelum mobil keluar dari area parkir.

Cika melirik ke kursi belakang. “Dia udah nggak sadar.”

Luna menjawab singkat, “Gas aja.”

Mobil melaju, tetapi bukan ke rumah Cika.

Beberapa waktu kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang asing. Lampu teras menyala. Seorang pria membuka pintu dari dalam.

“Masuk,” katanya.

Cika dan Luna mengangkat tubuh Bela yang tak sadarkan diri. Mereka membawanya ke dalam rumah itu, ke sebuah kamar yang tidak pernah Bela kenal. Dan malam itu, tanpa pernah memilih, Bela kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Ketika semuanya sudah sunyi, ada senyuman pahit dari seorang pria pada bilik kamar itu. Tatapan mengancam nan penuh emosi jatuh pada Bela yang mulai tersadar perlahan.

'Ting' Suara notifikasi dari ponsel diatas meja. Pria tersebut melirik sekilas, membaca isi pesan chat yang singkat.

'Jangan lupa pengaman ye Raka bangs*t'

Pria itu menyeringai, kemudian jatuh. Yah! Dia jatuh ke atas kasur, karena Bela baru saja menarik baju kaos yang dikenakan oleh pria yang diketahui bernama Raka itu.

"Ahh... Shit! Udah gak sabar yah lo gue pake!" Tangan kekarnya menampar pelan wajah mulus Bela, lalu mengecupnya pelan.

Bela tertawa, dia tengah berada di atas awan yang sebenarnya gelap dan sangat dingin. Matanya mulai terbuka sempurna, memperlihatkan seorang pria yang sebenarnya tipenya sekali.

"Ini gue mimpi apa gimana ya? Kok ada cowo ganteng banget, bikin gue basah ajah," celutuknya dengan tatapan nafsu. Dia dikuasai alkohol dan sedikit obat perangsang yang sudah diramu dengan baik oleh Cika sebelumnya.

Pria itu membelai lembut bibir Bela, sampai pada lehernya. Dia melihat terdapat bekas jaitan kecil di sana, sambil berpikir apa yang sudah dilalui wanita yang berada di bawah kendalinya saat ini.

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!