"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: DARAH DI ATAS PENGAMPUNAN
Kilatan petir menyambar di luar, menerangi wajah Reno yang tampak mengerikan di celah ventilasi. Matanya merah, dipenuhi kegilaan pria yang telah kehilangan segalanya. Di tangannya, sebuah pistol hitam terarah lurus ke dahi Gwen.
"Turunkan senjatamu, Gwen! Kamu pikir kamu bisa menembakku? Kamu bahkan gemetar memegang benda itu!" teriak Reno, suaranya parau karena amarah.
Gwen memang gemetar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Namun, saat ia melihat moncong senjata itu, ingatan tentang Reno yang bercumbu dengan Siska di samping ranjang "buta"-nya mendadak berputar kembali. Rasa takut itu seketika menguap, berganti dengan kebencian yang mendidih.
"Aku mungkin gemetar, Reno. Tapi bukan karena takut," ucap Gwen, suaranya mendadak stabil. "Aku gemetar karena aku tidak sabar melihatmu membusuk di neraka."
"Sialan!"
Reno melompat turun dari ventilasi, mencoba menerjang Gwen. Namun, sebelum kakinya menyentuh lantai, sebuah bayangan bergerak lebih cepat.
BRAK!
Elang muncul dari kegelapan seperti badai. Tendangan berputar yang sangat kuat menghantam dada Reno, membuat pria itu terpental ke dinding beton dan menjatuhkan senjatanya. Reno mengerang kesakitan, mencoba meraih kembali pistolnya, namun sepatu bot Elang sudah lebih dulu menginjak punggung tangannya hingga terdengar bunyi tulang yang retak.
"AAARGH!" teriakan Reno menggema di dalam bunker yang kedap suara itu.
"Tuan Reno, Anda terlalu berisik untuk seorang penyusup," bisik Elang. Dia menekan injakannya lebih keras, matanya berkilat dingin di bawah sisa cahaya monitor yang berkedip.
Elang mengambil pistol Reno, lalu menarik pria itu berdiri dengan mencengkeram kerah bajunya. Dia menghempaskan Reno ke kursi di tengah ruangan. Elang kemudian menoleh ke arah Gwen yang masih berdiri mematung dengan pistol di tangan.
"Nona, dia milikmu sekarang," ucap Elang. Dia mundur beberapa langkah, memberikan panggung sepenuhnya kepada Gwen.
Gwen melangkah maju. Cahaya lampu darurat yang berwarna merah redup memberikan kesan dramatis pada wajahnya yang cantik namun dingin. Dia berdiri tepat di depan suaminya—pria yang dulu ia puja, pria yang telah menghancurkan hidupnya.
"Gwen... Sayang... maafkan aku," Reno merintih, mencoba mengubah taktik menjadi memelas. "Aku dipaksa oleh Paman Pratama. Dia yang merencanakan semuanya! Aku hanya pion, Gwen. Aku mencintaimu!"
"Mencintaiku?" Gwen tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat pedih. "Cinta macam apa yang membuatmu tidur dengan sahabatku saat aku sedang menderita? Cinta macam apa yang membuatmu menyabotase rem mobilku?"
Gwen mengarahkan pistolnya ke lutut Reno.
"Paman Pratama akan menyusulmu segera, Reno. Tapi untuk sekarang, aku ingin kamu merasakan sedikit dari rasa sakit yang kurasakan selama enam bulan aku harus berpura-pura menjadi mayat hidup di rumahku sendiri."
"Jangan, Gwen! Tolong!"
DOR!
Suara tembakan itu memecah keheningan. Reno menjerit histeris, memegangi kakinya yang kini bersimbah darah. Dia tersungkur ke lantai, merintih seperti binatang yang sekarat.
Gwen menatap tangannya yang memegang pistol. Ada sedikit getaran, tapi wajahnya tetap datar. Dia menatap Elang, mencari validasi atau mungkin kekuatan.
Elang berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Gwen. Dia melingkarkan tangannya di bahu Gwen, seolah memberikan pelukan pelindung. "Jangan berhenti sekarang jika hatimu belum puas, Gwen. Di dunia ini, hanya ada pemangsa atau mangsa."
Namun, di tengah momen itu, ponsel Reno yang tergeletak di lantai berdering. Sebuah pesan masuk muncul di layar yang retak.
Paman Pratama: "Reno, habisi dia sekarang. Aku sudah mengirim tim pembersih. Jika Gwen mati malam ini, semua aset otomatis jatuh ke tangan kita sebelum Elang bisa melakukan apa pun. Jangan gagal!"
Gwen membaca pesan itu. Matanya menyipit. "Tim pembersih?"
Elang segera memeriksa monitor CCTV. Wajahnya yang tenang mendadak berubah menjadi sangat serius. Di luar, terlihat dua truk besar mendekat, dan beberapa pria keluar dengan membawa pelontar gas air mata dan senjata otomatis yang lebih berat.
"Mereka tidak main-main. Pratama ingin meratakan tempat ini bersamamu, Reno, dan aku di dalamnya," ucap Elang. Dia segera menarik Gwen. "Kita harus pergi lewat terowongan bawah tanah. Sekarang!"
"Lalu bagaimana dengan dia?" Gwen menunjuk Reno yang masih merangkak di lantai.
Elang menatap Reno dengan dingin. "Biarkan dia menyambut 'tim pembersih' miliknya sendiri. Bukankah itu adil?"
"Gwen! Jangan tinggalkan aku! Mereka akan membunuhku juga untuk menghilangkan jejak!" teriak Reno panik.
Gwen menatap Reno untuk terakhir kalinya. Tidak ada lagi cinta, bahkan tidak ada lagi benci. Hanya ada kehampaan. "Kamu yang memilih jalan ini, Reno. Selamat tinggal."
Elang menarik Gwen menuju sebuah pintu besi tersembunyi di balik lemari senjata. Mereka berlari menuruni tangga yang sempit tepat saat suara ledakan besar terdengar dari arah pintu depan bunker. Seluruh bangunan bergetar hebat. Debu-debu berjatuhan dari langit-langit.
Mereka keluar dari sebuah celah gua kecil yang terhubung dengan hutan di belakang properti itu. Hujan masih turun, membasahi tubuh mereka yang penuh debu. Di kejauhan, bunker milik Elang terlihat mulai terbakar.
Gwen jatuh terduduk di atas tanah yang becek. Dia menangis. Bukan karena menyesali Reno, tapi karena beban yang selama ini ia pikul terasa meledak seketika.
Elang berjongkok di hadapannya. Dia melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Gwen. Dia tidak berkata apa-apa, hanya membiarkan Gwen meluapkan emosinya.
Setelah beberapa saat, Gwen mendongak. "Kenapa kamu menyelamatkanku, Elang? Padahal kamu bisa saja membiarkanku mati di sana dan mengambil dokumen ayahku dari reruntuhan itu."
Elang terdiam sebentar. Dia menyentuh wajah Gwen yang kotor karena tanah dan air mata. Matanya yang biasanya sedingin es, kini tampak sedikit melunak.
"Karena dendamku pada ayahmu sudah lunas saat aku melihatmu menarik pelatuk itu," bisik Elang. "Kamu bukan lagi putri Adiguna yang manja. Kamu adalah wanita yang lahir kembali dari api. Dan aku... aku ingin melihat seberapa jauh wanita ini bisa memerintah duniaku."
Gwen menatap Elang dengan perasaan yang berkecamuk. Di tengah badai dan kehancuran, pria yang seharusnya menjadi musuhnya ini justru menjadi satu-satunya tempatnya berpijak.
"Elang... Paman Pratama masih di luar sana. Dia tidak akan berhenti sampai aku mati," ucap Gwen.
Elang berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Gwen. "Kalau begitu, kita tidak akan lagi hanya bertahan. Besok pagi, seluruh dunia akan tahu bahwa Gwen Adiguna masih hidup, dan dia datang untuk mengambil kembali takhtanya."
Gwen meraih tangan Elang, berdiri dengan tegak. Cahaya dari kebakaran di kejauhan memantul di matanya, memberikan kesan pemandangan yang sangat kuat.
"Bawa aku ke kantor pusat besok pagi," ucap Gwen dengan nada memerintah. "Aku akan mengakhiri ini semua."
Elang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini tidak lagi terasa mengancam, melainkan penuh kekaguman. "Sesuai perintahmu, Ratuku."
Namun, di balik kegelapan hutan, sepasang mata tetap mengawasi mereka melalui teropong jarak jauh. Sebuah radio panggil berbunyi.
"Target masih hidup. Mereka menuju arah selatan. Siapkan penyergapan di jalan raya."
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia