“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRIDGE - CH 11 : NGANTUK
Jam dinding di lantai satu Bara’s Kitchen menunjukkan pukul 10.15 pagi. Di luar, matahari Kota X sedang terik-teriknya, memanggang aspal jalanan depan ruko. Tapi di dalam, suasananya lebih mirip bangsal rumah sakit pasca-kiamat zombi.
Suara rolling door ditarik turun terdengar memekakkan telinga.
BRAAAKKK!
Bara menggembok pintu besi itu dari dalam. Begitu bunyi klik terdengar, sisa-sisa tenaga di tubuhnya langsung menguap. Kemeja flanelnya yang tadinya kotak-kotak merah hitam, sekarang motifnya berubah jadi abstrak karena campuran krim putih yang mulai mengeras, noda ganache cokelat leleh, dan cipratan debu aspal. Bau badannya adalah perpaduan tragis antara aroma rhum kue, keringat jantan, dan asap knalpot Espass.
Bara berbalik menatap lantai satu rukonya.
Layout tempat ini sebenarnya cukup efisien. Lantai satu difungsikan sebagai area terima tamu, kasir, dan kantor kecil dengan satu meja kerja berantakan. Di bagian belakang, tepat di atas lorong menuju kamar mandi, Bara mendesain sebuah mezzanine alias lantai split-level semi-terbuka berbahan kayu dan baja ringan. Di situlah kasur lantai dan lemari bajunya berada tempat dimana pelarian pribadinya. Sementara lantai dua di atas mereka full dipakai untuk zona perang: dapur utama.
"Gue... butuh... oksigen..." rintih Lintang.
Gadis berambut pink itu langsung menjatuhkan diri ke atas karpet bulu sintetis murahan di depan meja kasir. Tas perkakas baking ia jadikan bantal darurat. Matanya setengah terpejam, tapi jari-jarinya masih secara refleks membuka aplikasi TikTok.
Di sudut lain, Mang Ojak bahkan tidak repot-repot mengeluh. Pria paruh baya itu berjalan gontai menuju sofa kulit imitasi di ruang tunggu tamu yang busanya sudah kempes di bagian tengah. Begitu tubuhnya menyentuh sofa, terdengar helaan napas panjang. Lima detik kemudian, suara dengkuran halus mulai mengalun. Mang Ojak sudah login ke alam mimpi.
Bara berjalan terseok-seok menuju meja kerjanya. Lututnya terasa seperti jeli, dan punggungnya minta di-ruqyah setelah menahan beban Black Forest tiga tingkat di tanjakan vertikal.
Tapi Bara adalah Bara. Mau kiamat sekalipun, kalau urusan cuan, matanya langsung segar.
Dia menarik laci meja, mengeluarkan sebuah kalkulator Casio berukuran besar yang tombol-tombolnya sudah pudar. Ritual suci pun dimulai.
"Oke, mari kita bedah mayat delapan juta ini," gumam Bara, suaranya parau tapi penuh semangat kapitalis. Jari telunjuknya mulai menari di atas tuts kalkulator. Cetrak. Cetrek. Cetrak.
Lintang yang tadinya sudah hampir pingsan di karpet, mendadak melek sebelah mata. Kata "delapan juta" punya efek setara dengan disuntik kafein dosis tinggi. Dia memiringkan kepalanya, menatap Bara dari lantai.
"Tiga juta itu pelunasan sisa tagihan kue. Lima juta itu uang tutup mulut dari si Adrian buaya darat," Bara berbicara sendiri layaknya mad scientist. Dia menekan tombol minus. "Potong modal bahan Black Forest jumbo, listrik oven, gas LPG, kardus... taruhlah sejuta."
Cetrek.
"Potong kas ruko buat bayar tagihan air sama listrik bulan ini... sejuta."
Cetrek.
"Mang Ojak!" Bara memanggil tanpa menoleh.
"Zzzzz... kampas kopling... zzzzz..." Mang Ojak mengigau pelan dari sofa.
"Bagus, masih responsif," Bara mengangguk puas. "Mang Ojak dapet satu setengah juta. Buat ganti kampas kopling Si Putih yang udah bau gosong, plus bonus pijet urut ke tukang pijet langganannya di pasar. Gue transfer ke rekening istrinya aja biar aman."
Cetrek. Sisa uang sekarang di angka Rp 4.500.000.
Bara melirik ke bawah, ke arah Lintang yang masih rebahan dengan mata berbinar-binar menatapnya dari balik karpet.
"Mas, spill dong share saham buat asisten kesayangan lo ini," rayu Lintang dengan suara serak. "Gue tadi nahan mual di dalem mobil, bantuin lo bedah huruf M jadi S pake krim, sampe hampir kena lemparan piring terbang dari ajudan Jenderal. Trauma healing itu mahal lho, Mas."
Bara mendengus. "Nih. Satu juta buat lo. Bersih. Dipotong pajak penghasilan dari ruko nol persen."
Lintang langsung bangkit duduk, wajahnya cerah seolah baru saja mendapat skincare gratis setruk. "SERIUS MAS?! SEJUTA?! Wah, gila! Ini mah gue bisa checkout serum retinol, moisturizer, sama beli tiket nonton konser indie! Thank you, Bosque! Lo emang bos paling pelit tapi paling lovable!"
"Jangan banyak bacot. Gue transfer sekarang," Bara menekan tombol-tombol di HP-nya dengan cepat. "Dan sisa tiga setengah juta... masuk ke rekening darurat ruko. Alias asuransi jiwa gue."
Ting. HP Lintang berbunyi. Gadis itu memeluk HP-nya erat-erat, seolah itu adalah benda pusaka.
Bara meletakkan kalkulatornya. Ritual selesai. Adrenalinnya langsung turun drastis ke titik nol. Kantuk yang tadi tertahan oleh euforia uang delapan juta kini menghantamnya seperti truk tronton. Matanya terasa berat, berpasir.
Dia menengok ke atas, menatap anak tangga kayu menuju kamar mezzanine-nya. Jaraknya cuma sepuluh anak tangga. Di atas sana, ada kasur kapuk yang empuk, bantal yang dingin, dan kipas angin mungil. Surga.
Bara mencoba berdiri dari kursi kantornya. Satu detik. Dua detik. Kakinya menolak komando dari otak. Otot betisnya kram parah.
"Ah, persetan," rutuk Bara.
Alih-alih naik ke kamarnya di mezzanine, Bara memutar kursi kerjanya ke belakang, menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Dia menarik sebuah jaket hoodie kumal dari laci paling bawah dan menutupkannya ke wajah untuk menghalangi cahaya matahari yang masuk dari celah rolling door.
"Tang..." suara Bara teredam dari balik hoodie. "Gue tidur sini aja. Jangan bangunin gue kecuali ruko kita kebakaran atau ada pesenan di atas lima juta."
Lintang tidak menjawab. Gadis itu kembali tengkurap di atas karpet. Tangannya bergerak dengan kecepatan abnormal memotong dan menyambung klip video di HP-nya.
"Gue... harus... upload... ini dulu..." gumam Lintang dengan mata yang tinggal lima watt.
Di layar HP-nya, terpampang video kekacauan di rumah Jenderal tadi. Lintang dengan cerdik men-sensor wajah Bara, wajah Bapak Jenderal, dan wajah Sarah menggunakan stiker emotikon pisang dan stroberi. Tapi adegan Bara meluncur menangkap kue Black Forest di udara terekam dengan sangat epic.
Lintang mengetikkan caption dengan jari yang typo-typo karena ngantuk berat: “POV: Kurir kue nganter pesenan ke acara lamaran, eh yang mesen malah typo nulis nama mantan (selingkuhan). Berakhir jadi Perang Dunia ke-3. 😭🎂💥 #BaraKitchen #DramaLamaran #KurirTangguh #KueTerbang”
Lintang memilih soundtrack lagu jedag-jedug yang sedang trending, menekan tombol Post, lalu melempar HP-nya begitu saja ke atas lantai.
Plak.
"Tugas negara... selesai..." bisik Lintang.
Tiga detik kemudian, kepalanya terkulai di atas tas perkakas. Napasnya teratur. Dia menyusul Mang Ojak dan Bara masuk ke alam bawah sadar.
Di dalam ruko lantai satu itu, pemandangannya sungguh mengenaskan namun damai. Mang Ojak mendengkur di sofa dengan mulut setengah terbuka. Lintang tertidur tengkurap di lantai karpet dengan posisi kaki membentuk huruf 'P'. Bara tertidur di kursi kantor dengan kaki terangkat di meja dan kepala tertutup jaket, kemejanya masih bau cokelat basi.
Mereka bertiga resmi tepar massal.
Di pintu kaca depan ruko, terdapat sebuah papan karton bekas bungkus terigu yang tadi sempat ditulis Bara dengan spidol hitam sebelum dia menggembok pintu:
"TUTUP. KOKI DAN KRU SEDANG DALAM MASA PEMULIHAN MENTAL (DAN FISIK). BUKA LAGI BESOK. MUNGKIN."
Di luar, matahari makin terik, tapi Bara's Kitchen sedang hibernasi panjang. Mereka tidak tahu, bahwa video yang baru saja Lintang upload sedang merangkak naik masuk ke FYP jutaan orang, dan besok pagi, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.