NovelToon NovelToon
MISIDENTIFIED

MISIDENTIFIED

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Dark Romance / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: aiyuki

Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.

Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perburuan

Tap tap tap tap!

Srak srak srak!

Cabang-cabang rendah pepohonan menggores kulit. Akar-akar besar memaksa kaki melompat tanpa ritme. Serra menarik tangan Ethan tanpa menoleh, napasnya teratur dengan langkah pasti. Seolah tubuhnya sudah hafal bagaimana caranya melarikan diri dari kematian.

Namun tidak dengan Ethan, yang beberapa kali sempat tersandung. Dadanya masih terasa sesak, mengingat kejadian kelam yang baru saja ia saksikan. Tangan mereka saling menggenggam erat, berlari menyusuri gelap dan dinginnya hutan Ashwood malam itu.

...----------------...

Suara teriakan terdengar di belakang. Senter menyala-nyala di antara celah pepohonan.

"Berpencar!," suara Riven menggema.

Serra menarik lebih keras tangan Ethan, memasuki sebuah rumah kayu yang sudah lama tak berpenghuni. Ya benar, itu adalah rumah milik warga desa yang ditinggal pergi begitu saja karena wabah. Rumah kayu tersebut layaknya rumah hantu. Banyak tanaman rambat yang menutupi sebagian atapnya. Tak hanya itu, jendela kacanya pun banyak yang pecah.

"Ssst..tenang," bisik Serra menggiring Ethan untuk masuk kedalam rumah tersebut.

"Hahh.. hahhh!"

Mereka menempel ke dinding secara bersamaan. Napas Ethan terdengar terlalu keras, membuat Serra refleks menutup mulut pemuda itu dengan tangan.

Tap tap tap!

Terdengar suara langkah kaki dari luar rumah, cahaya senter mulai menyapu setiap jendela rumah kosong tersebut, hingga hampir menerangi wajah Ethan, jika Serra tidak cepat tanggap menekan tubuh pemuda itu agar menunduk. Hingga beberapa saat kemudian, cahaya itu bergerak pergi.

Serra menunggu timing yang tepat untuk mereka kabur. Tentunya tidak dengan kondisi mental Ethan yang mulai kacau. Ia berusaha menenangkan Ethan dengan membantunya mengatur napas, seraya memberi instruksi.

"Kita sedang terdesak, disini hanya ada beberapa butir peluru," bisik Serra memperlihatkan pistol milik Riven yang sempat ia ambil sebelum ledakan terjadi.

Ethan yang mulai sedikit tenang, membuka tas kecil miliknya, lalu memperlihatkan sebuah pisau lipat pada Serra. Mereka saling tatap sejenak. Serra mengambil pisau tersebut, menukarnya dengan pistol.

"Tarik pelatuknya saat mereka benar-benar dekat,"

Serra kembali berbisik sembari menunjukkan cara menembak. Ethan menggeleng, ia merasa tak sanggup melakukannya. Serra tak banyak berpikir, ia kembali mengantongi pistol tersebut. "Tetap di dekatku," bisik nya kembali.

Beberapa menit kemudian, setelah mengecek situasi dan dirasa cukup aman. Mereka kembali kabur melalui pintu belakang rumah. Keduanya kembali berlari. Dan berhenti di setiap rumah kosong untuk beristirahat sejenak.

Pengejaran tak kunjung dihentikan. Riven tahu jika wilayah ini bukanlah medan asing. Anggota nya bergerak cepat dan memotong jalur, membuat Serra dan Ethan terus berpindah dari rumah ke rumah.

Sampai di rumah kosong kelima, yang tanpa pintu, seorang anggota mengendap masuk kedalam. Secara refleks, Serra menyergap dari arah belakang, lalu menggorok lehernya dengan cepat. Tubuh pria tersebut terjatuh lemas, tanpa sempat mengeluarkan suara. Darahnya muncrat mengenai pakaian Ethan.

Ethan membeku, tubuhnya sulit digerakkan. Ia menatap darah yang sebagian mengenai pakaiannya. Tak hanya sampai disitu, beberapa anggota lain yang berjumlah dua orang mulai menyadari keberadaan mereka. Dengan cepat Serra menarik tangan Ethan, untuk berpindah tempat.

Namun situasi semakin menyulitkan ketika sebuah tembakan hampir mengenai Serra. Menandakan jika dua orang anggota tersebut semakin mendekat.

Duak!

Serra melempar batu ke wajah salah satu anggota, lalu melompat menerjang anggota satunya membuat tubuh mereka bertabrakan, jatuh ke tanah. Serra meraih satu batu besar dan menghantamkannya sekali. Benar, hanya sekali. Darah kembali muncrat membasahi tanah.

Tak sampai disitu, satu anggota lainnya yang masih sadar kembali bangkit. Dengan reflek cepat, Serra melemparkan pisau lipat, yang tepat menancap pada bola mata si anggota.

Ethan memalingkan wajah, rasa mual mulai naik ke tenggorokan. Ia bisa mengobati luka dan bisa menghentikan pendarahan. Namun baru pertama kali dalam seumur hidupnya, pemuda itu melihat pembunuhan secara langsung. Walaupun ia pernah mendengar cerita dari Serra mengenai pekerjaannya. Akan lebih baik jika itu hanyalah karangan semata.

Pengejaran berlanjut sampai pada rumah kosong ke sembilan. Lagi-lagi tiga orang dari anggota Riven berhasil mencium keberadaan Serra dan Ethan. Aksi tembak menembak pun tak lagi dapat dihindari.

Dor!

Dor!

Dor!

Suara tembakan pistol saling bersahutan, tentunya dengan aksi saling menyelinap dibalik dinding kayu rumah kosong tersebut. Kali ini Serra tak kehabisan peluru, karena sempat mengambil dari anggota lain yang telah ia tumbangkan sebelumnya.

Dor dor!

Satu anggota terkena tembakan tepat mengenai kaki, sedangkan satunya terkena di daerah dada. Namun masih ada satu orang anggota lain yang belum berhasil Serra lumpuhkan.

Cklek cklek!

Serra kembali memasang magazine terakhir pada pistolnya, berharap tembakan selanjutnya mengenai anggota yang tersisa. Serra mulai mengendap-endap, sambil salah satu tangannya mengaitkan pisau lipat yang masih berlumuran darah ke tangan Ethan. Mata pemuda itu melebar, sambil menggeleng, namun Serra memaksa.

Ngikkk!

Situasi semakin menegang saat Ethan tak sengaja menggeser kaki meja dalam ruangan rumah kosong itu.

Dor dor dor!

Suara tembakan kembali terdengar, kali ini Serra mendekat, namun pria dihadapannya tak kunjung tumbang karena memakai rompi anti peluru. Ck.. sial! peluruku habis, kesalnya dalam hati.

Dengan cepat ia menerjang pria dihadapannya hingga jatuh bersamaan. Serra mencoba mengambil pistol milik si pria, namun posisinya tidak menguntungkan karena si pria menyikut keras bagian perut Serra, membuat gadis itu mengerang kesakitan.

"Haha.. ada kata-kata terakhir?," ujar si pria menatapnya remeh, ujung pistol sudah menekan tepat di dahi serra.

Crattt!

Namun, belum sempat si pria menarik pelatuk, tiba-tiba tubuhnya tumbang perlahan. Bukan karena kelelahan, melainkan tusukan pisau lipat yang tepat mengenai urat lehernya.

"Ethan?," Serra sungguh tak percaya jika Ethan bisa melakukannya.

Sejenak suasana menjadi hening, hanya terdengar suara hembusan napas yang saling bersahutan. Serra mulai beranjak, menahan rasa sakit pada bagian perutnya. Sedangkan Ethan menyeret dirinya agak menjauh dari si pria yang telah ia bunuh.

Kali ini rasa mual sudah tak lagi dapat ia tahan, terlebih setelah melihat kedua tangannya penuh dengan lumuran darah.

"Huek~!."

Akhirnya Ethan memuntahkan sebagian isi makanan dalam perutnya. Seluruh tubuh pemuda itu gemetar, napas pun terasa sesak, tak sanggup menanggung lonjakan adrenalin yang meluap secara tiba-tiba dalam dirinya.

Serra mulai mendekat, mengusap punggung Ethan yang tampak bergetar itu, sambil tetap waspada mengawasi situasi. Ethan mengangkat wajahnya dengan susah payah, lalu terduduk lemas di lantai dengan punggung menyentuh dinding. Hampir di setiap bagian tubuh serta pakaiannya banyak cipratan dan lumuran darah.

Kondisi Serra pun tidak lebih baik darinya. Sekujur tubuhnya terasa sakit karena hampir semalaman ini, terus bergerak tanpa henti. Mereka berdua benar-benar berantakan.

Ethan tertawa kecil namun histeris "Haha..ini gila."

Serra memejamkan mata sejenak "Maaf," ucapnya lirih, hampir tak terdengar.

Ethan hanya menoleh, ia menatap wajah Serra dengan lesu, lalu menyandarkan kepalanya kembali kedinding. Ia tak lagi bisa berpikir, sekujur tubuhnya terasa sangat lelah, namun harus tetap bergerak, jika tidak ingin tertangkap.

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
semoga itu Adrian Vale bukan Ethan berharap salah aja pokoke dah🤭
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
apakah kira kira Ethan ini adalah Adrian Vale atau hanya mirip 🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Serra Lune padahal kau mengkhawatirkan Ethan makanya balik lagi kerumahnya iya kan wkwkwkkw🤭
Aiyuki: 🤭🤭 sepertinya bgcu
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
sepertinya Ethan senang hati karena peralatan yang dia buat dipakai latihan sama Serra 🤭
Aiyuki: 🤭 sepertinya bgcu
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
masih meraba raba Serra Lune kenapa bisa terluka parah karena apa dan siapa yang melukainya hingga hampir game over 🤔
Aiyuki: siapa hayoo🤭
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
singgah dimari kiteee 🤭🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
Aiyuki: mari2 silahkan, enjoy ya✌
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
weihhh... akhirnya dirimu aktif kembali setelah sekian purnama menyembunyikan diri. selamat atas rilis karya baru nya. semoga sukses💪💪💪
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: sama2. 💪💪💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!