persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Tentang Kelas yang Terasa Luas dan Suara Hujan di Jendela
Saya masuk ke kelas dengan seragam yang beratnya bertambah berkilo-kilo karena air hujan. Sepatu saya mengeluarkan bunyi "cekos-cekos" yang sangat menyedihkan di lantai ubin yang dingin. Di dalam kelas baru ada beberapa orang, dan syukurlah Arkan maupun Kayla belum muncul. Saya langsung menuju pojok belakang, tempat Bangka biasanya duduk, dan menjatuhkan diri di sana.
Kepala saya rasanya seperti dihantam godam. Panas, tapi di saat yang sama saya menggigil. Saya menyandarkan dahi ke permukaan meja kayu yang kasar.
"Jangan mati di sini, Bumi. Nanti saya susah cari pengganti buat bahas teori string," sebuah suara datar terdengar dari samping.
Saya mendongak. Dara sudah duduk di sana, menatap saya dengan tatapan yang—untuk ukuran dia—terlihat sedikit khawatir. Dia tidak bertanya apa yang terjadi di parkiran, mungkin dia sudah melihatnya dari jendela lantai dua atau sekadar merasakannya lewat getaran udara.
Dara mengeluarkan sebuah handuk kecil dari tasnya dan melemparkannya ke kepala saya. "Keringkan. Kamu itu Bumi, bukan ubur-ubur. Jangan biarkan dirimu mencair cuma gara-gara satu pertengkaran norak."
"Terima kasih, Dara," gumam saya sambil menggosok rambut saya yang lepek.
"Senja sedang ke UKS cari minyak kayu putih buat kamu. Dia lihat kamu tadi di parkiran," lanjut Dara sambil kembali membuka buku tebalnya.
Tak lama kemudian, Senja masuk dengan wajah yang sangat cemas. Dia membawa botol minyak kayu putih dan segelas teh hangat yang asapnya masih mengepul. Dia duduk di depan saya, tangannya sedikit gemetar saat menyodorkan teh itu.
"Minum dulu, Bumi. Kamu pucat sekali," bisik Senja.
Saya menerima teh itu. Kehangatannya merambat dari telapak tangan ke seluruh tubuh saya, tapi bagian di dalam dada saya tetap terasa beku. "Maaf ya, Senja. Kamu jadi harus repot terus gara-gara saya."
Senja menggeleng cepat. "Saya yang harusnya minta maaf karena tidak bisa bantu apa-apa tadi di parkiran. Arkan... dia menakutkan kalau sedang marah."
"Orang yang menakutkan itu sebenarnya adalah orang yang paling takut, Senja. Dia cuma menutupi ketakutannya dengan suara keras," kata saya setelah menyeruput teh.
Saat itulah, pintu kelas terbuka. Kayla masuk dengan langkah gontai, diikuti Arkan di belakangnya. Arkan sudah berganti seragam dengan kaos olahraga, wajahnya masih tampak sangat gusar. Kayla melihat ke arah saya—ke arah meja belakang tempat saya duduk bersama Dara dan Senja.
Mata kami bertemu sekejap. Di mata Kayla, saya melihat kehancuran yang sangat dalam. Dia ingin melangkah mendekat, tapi Arkan menarik lengannya, menyuruhnya duduk di barisan depan.
Kelas dimulai dengan suasana yang sangat kaku. Pak Danu menjelaskan tentang fungsi kuadrat, tapi papan tulis itu bagi saya hanyalah hamparan putih yang kosong. Saya tidak lagi duduk di depan. Saya tidak lagi menjadi bagian dari orbit Kayla.
Saya melihat ke luar jendela. Hujan masih turun, membilas debu-debu di kaca kelas. Saya menyadari bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi "Bumi dan Kayla". Yang ada hanyalah Bumi yang harus belajar berdiri di atas kakinya sendiri, dan Kayla yang harus menanggung pilihannya sendiri.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa keheningan di dalam kelas setelah sebuah ledakan adalah suara yang paling bising yang pernah saya dengar. Saya punya teh hangat dari Senja dan handuk dari Dara, tapi saya tahu, perjalanan untuk benar-benar kering dari kenangan Kayla masih akan sangat panjang.