Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertengkar dengan Kak Sultan
Pagi itu, udara sejuk menyapa Aluna, tetapi panas di hatinya jauh lebih mendominasi. Rasa perih karena melihat pergelangan tangan Ibu yang kosong masih menusuk, memperparah rasa lelahnya setelah malam yang panjang. Setelah berdebat dengan ibunya tadi, ia bergegas meninggalkan rumah, niat awal hendak ke rumah Friska menenangkan diri sekalian disana ia akan berangkat kerja. Namun, langkahnya terhenti.
Ia butuh kejelasan dan hari Sabtu ini adalah satu-satunya kesempatan emas. Sultan, Kakak laki-lakinya, pasti ada di rumah. Aluna membelokkan motornya menuju rumah Kakaknya, sebuah rumah yang terlihat jauh lebih terawat dibanding rumah peninggalan Ayah yang ia tinggali.
**
Jalanan di kompleks perumahan Kakaknya sepi. Ia memarkir motornya tepat di depan gerbang kayu kecil. Dari teras, samar-samar ia mendengar suara tawa riang dari dalam. Pintu depan rumah Sultan tidak tertutup rapat, menyajikan pemandangan yang seketika membuat darah Aluna mendidih.
Di ruang tamu yang rapi, Iparnya, Annisa, sedang duduk bersila di karpet, dikelilingi gunungan barang belanjaan baru. Ada beberapa paper bag dari boutique terkenal; gamis dan kerudung baru tampak menyembul. Di sebelahnya, kedua keponakan Aluna, Bryan dan Alifah, sedang memeluk mainan baru. Sementara Sultan, Kakaknya, duduk santai di sofa, mata fokus pada layar ponsel.
“Mas… ini bagus kan di aku?” tanya Annisa, mencoba selembar kerudung syar’i berwarna dusty pink di depan cermin, tampak belum menyadari kehadiran Aluna.
Sultan hanya melirik sekilas tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Bagus, Sayang. Semuanya bagus di badan kamu.” Puji Sultan, nadanya datar namun terkesan memanjakan.
“Boleh aku buka mainannya, Bu?” tanya Bryan, suaranya penuh kegembiraan.
“Buka aja, Sayang.” balas Annisa.
“Besok kita jalan-jalan ke mal lagi, ya, Mas. Semalam belum sempat beli emas, kan?” tanya Annisa lagi, merapikan tumpukan belanjaan.
“Iya, iya…” jawab Sultan singkat.
Mendengar percakapan itu, kepalan tangan Aluna mengencang. Utang? Bukankah kemarin Kakaknya datang mengemis dua puluh juta juta karena terdesak utang jatuh tempo? Utang yang diklaim harus dibayar sampai mengorbankan gelang peninggalan Ayah? Tetapi mengapa sekarang mereka malah menghambur-hamburkan uang dan berencana membeli emas?
“Kak Sultan.” panggil Aluna, suaranya sedikit meninggi.
Dua keponakannya sontak terlonjak kaget. Annisa terdiam, menole dan melihat wajah sang adik ipar yang merah padam menahan amarah. Seketika itu juga, ia menyuruh kedua anaknya masuk kamar.
“A… Aluna… Tumben kamu ke rumah Kakak…” kata Sultan, terkejut hingga ponselnya hampir jatuh. Ia buru-buru melirik istrinya, memberi isyarat agar merapikan barang-barang itu.
“Tidak usah diberesin.” potong Aluna dingin. “Aku sudah terlanjur lihat kalau itu semua barang baru.”
Annisa menghentikan gerakan tangannya dan berjalan mendekat ke arah suaminya, seolah mencari perlindungan.
“Bukannya Kakak punya utang? Tapi kenapa Kakak malah menghambur-hamburkan uang seperti ini?” cecar Aluna, tatapannya menuntut penjelasan.
“Kami enggak hambur-hamburin uang, ya, Lun. Ini semua adalah kebutuhan Mbak dan keponakan kamu,." balas Annisa tak terima, nadanya defensif.
“Kebutuhan atau keinginan, Mbak? Bukannya harus dahulukan bayar utang dulu, ya, baru bisa beli yang lain terutama untuk memenuhi gaya hidup?” sindir Aluna tajam.
“Aluna, tidak usah sok menggurui Kakak.” bentak Sultan, wajahnya menegang.
“Aku enggak menggurui, Kak. Hanya mengingatkan. Terserah Kakak terima atau tidak.” Aluna membalas tatapan tajamnya, tak gentar.
“Jadi, mau apa kamu datang ke sini?” tanya Annisa, suaranya penuh ketidaksukaan.
Aluna menengadahkan tangannya lurus ke depan, menghadap Sultan. “Aku mau minta gelang Ibu dibalikin. Toh kalian ternyata banyak duit sampai besok mau beli emas, kan.”
Sultan membuang pandangan. “Gelang Ibu udah aku jual untuk bayar utang.”
“Mas, jangan bohong, ya. Mas bisa belanja sebanyak ini. Cepat balikin! Itu peninggalan Ayah satu-satunya.” desak Aluna.
“Apa-apaan sih, Lun.” Sultan berbalik kesal. “Kakak kan udah bilang, gelang itu udah dijual untuk bayar utang Kakak di Pak Karto. Dan barang yang kamu lihat ini adalah sisa uang dari penjualan gelang itu!”
“Kamu ini kenapa jadi hitung-hitungan gini sih sama Kakakmu sendiri, Lun? Itu kan juga gelang Ibu, bukan punya kamu. Ibu aja enggak masalah.” timpal Annisa, menatap Aluna seolah ia pengganggu.
“Kakak dan Mbak benar-benar keterlaluan, ya. Aku sampai enggak habis pikir di mana otak kalian.” suara Aluna tercekat menahan tangis.
“Kamu kalau ngomong yang sopan, Lun.” Sultan membentak lagi, marah karena merasa disudutkan.
“Ahh, bullshit!!!” Aluna tak peduli lagi. “Sekarang aku minta sisa uang penjualan gelang Ibu. Aku mau pakai buat beli obat dan kirimin Alika uang."
Annisa langsung memegang erat lengan suaminya, memberi tatapan peringatan. Sultan menoleh pada Annisa, lalu berbalik pada Aluna dengan wajah datar.
“Uangnya sudah habis juga.” kata Sultan berbohong.
“Apa? Habis? Bukannya Mbak Nisa tadi bilang besok mau beli emas? Udah Kak jangan bohong. Uang itu lebih Ibu butuhkan.”
“Itu kan uang Mbak.” serobot Annisa cepat. “Lagian kami juga minjam kok gelang Ibu dan bakal diganti oleh Mas Sultan. Jadi, kamu enggak ada hak untuk meminta hasil penjualan gelang Ibu.”
“Minjam? Selalu itu bahasa Mbak Nisa dan Kak Sultan. Tapi enggak pernah diganti. Utang-utang yang lalu juga mana pernah kalian ingat untuk bayar. Padahal aku dan Ibu sangat butuh uang itu juga. Aku datang nagih sampai ngemis uang sendiri, kalian malah marah-marah dan maki aku. Sekarang cepat kasih aku sisa hasil penjualan gelang Ibu. Obat Ibu dikit lagi habis, belum lagi Ibu harus kontrol minggu depan.” desak Aluna, air matanya mulai menggenang.
Sultan menghela napas, mencoba mengeluarkan alasan terakhir yang paling menyakitkan. “Pakai uang kamu dulu, lah, Lun. Kakak punya banyak kebutuhan. Kamu kan belum berkeluarga, jadi pasti tidak banyak yang harus dibayar. Lagian kamu juga harus berbakti sama Ibu sebelum menikah, kan.”
Kata 'berbakti' itu seperti tamparan keras. Wajah Aluna memerah karena luapan emosi dan kesedihan yang tak tertahankan.
“Apa Kak? Apa aku enggak salah dengar? Berbakti?” Suaranya bergetar hebat. “Ya benar, memang aku adalah anak yang berbakti. Selama ini aku yang menanggung semua tanpa bantuan dari kalian. Aku yang menanggung beban itu semua. Aku… aku yang merawat dan membiayai Ibu. Aku memenuhi kebutuhan rumah, listrik, air, makanan. Bahkan saat kami tidak ada beras sama sekali, Kak Sultan tidak peduli. Aku yang membiayai pendidikan Alika, aku juga yang membantu biaya keseharian Mas, kan? Tanpa kalian memikirkan bagaimana susahnya jadi aku. Bagaimana susahnya aku jadi tulang punggung. Hiks… Apa Kak Sultan pernah bertanya seberat apa bebanku selama Ayah tidak ada? Hiks… Sangat berat, Kak… di mana rasanya setiap hari aku ingin mati saja. Kalau saja aku enggak ingat Ibu dan Alika yang bertopang padaku, sudah lama aku bunuh diri.”
Aluna menangis pilu. Semua yang ia pendam, semua kepedihan, keluar begitu saja tanpa disaring.
Mata Sultan turut berkaca-kaca mendengar penuturan adiknya. Ya, memang selama ini dia tidak pernah bertanya dan membantu Aluna sama sekali, malah terus menambah beban utang. Annisa menggenggam tangan suaminya erat, pandangannya pada Aluna tidak bisa ditebak, entah terkejut atau semakin tidak suka.
“Aluna…” kata Sultan, suaranya tercekat di tenggorokan.
Aluna menghapus air matanya dengan kasar. Ia merasa sedikit lega, tetapi rasa sakitnya tak hilang. Wajahnya kembali datar, penuh tekad. “Aku harap Kak Sultan segera mengganti atau menebus gelang Ibu dan Kak Sultan mulai mencicil bayar utang kepadaku. Setiap awal bulan, aku akan datang menagih.”
“Apa? Mencicil tiap bulan? Ah, enggak… enggak… aku enggak setuju, ya, Mas. Nanti kita juga akan bayar kok, Lun, kalau uangnya udah ada. Kita bakal bayar sekaligus, kamu jangan khawatir. Uang nggak seberapa juga” sela Annisa cepat, melindungi sumber uang suaminya.