Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik Cerdas Rania
Malam itu kota masih ramai ketika lampu lampu gedung perkantoran mulai menyala satu per satu seperti bintang yang jatuh ke bumi. Namun di lantai tertinggi kantor Adrian Group suasana justru jauh lebih sunyi. Adrian berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, ponsel masih ada di tangannya, layar yang tadi menampilkan pesan kepada Rania kini sudah gelap.
Ia sudah mengirim pesan itu hampir dua jam lalu.
Tidak ada balasan.
Adrian tidak marah. Ia juga tidak terlihat kecewa. Namun ada sesuatu yang perlahan mulai ia sadari tentang cara Rania bermain sekarang.
Wanita itu tidak lagi bereaksi.
Ia mengendalikan tempo.
Pintu ruang kerja diketuk sebelum sekretarisnya masuk dengan beberapa berkas di tangan.
"Tuan Adrian, laporan pasar malam ini."
Adrian mengambil map itu tanpa berkata banyak.
Sekretarisnya masih berdiri seolah ragu meninggalkan ruangan.
"Ada lagi."
Sekretaris itu akhirnya berkata.
"Saham Hartono Energy naik lagi dua persen setelah pengumuman investor baru dari Singapura."
Adrian membuka halaman pertama laporan itu.
Di sana tertulis dengan jelas bahwa dua perusahaan investasi besar Asia baru saja bergabung dalam proyek energi yang dipimpin Hartono Group.
Ia menutup map itu perlahan.
"Lanjutkan pemantauan."
Sekretaris itu mengangguk lalu keluar dari ruangan.
Adrian kembali berdiri di depan jendela.
Beberapa detik kemudian ia tertawa kecil.
"Jadi begini caramu."
Sementara itu di sisi lain kota Rania duduk di teras rumahnya dengan secangkir teh hangat di tangan. Rumah itu jauh lebih tenang dibandingkan gedung kantornya yang sibuk sejak pagi. Angin malam berhembus pelan membawa aroma hujan yang mungkin akan turun sebentar lagi.
Arsen duduk di kursi seberangnya sambil memainkan ponselnya.
"Aku baru melihat sesuatu yang lucu."
Rania menatapnya sekilas.
"Apa."
Arsen mengangkat layar ponselnya.
"Adrian mengirim pesan lagi."
Rania tidak terlihat tertarik.
"Biarkan saja."
Arsen tertawa pelan.
"Kau benar benar membuatnya gila."
Rania menyesap tehnya perlahan.
"Aku hanya membuatnya menunggu."
Arsen menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kau tahu ini semakin personal."
Rania menatap halaman rumah yang mulai gelap.
"Itu memang selalu personal."
Arsen diam beberapa detik sebelum berkata pelan.
"Aku tidak pernah bertanya satu hal kepadamu."
Rania menoleh.
"Apa."
Arsen berkata dengan nada yang lebih serius.
"Jika suatu saat Adrian benar benar jatuh karena semua ini."
Ia berhenti sebentar.
"Apa itu akan cukup."
Rania tidak langsung menjawab.
Ia menatap cangkir teh di tangannya beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan suara yang sangat tenang.
"Aku tidak mencoba menjatuhkannya."
Arsen mengangkat alis.
"Lalu."
Rania berkata pelan.
"Aku hanya ingin dia merasakan sesuatu yang dulu tidak pernah ia pahami."
Arsen memandangnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Kehilangan."
Rania tidak membantah.
Beberapa menit kemudian hujan benar benar turun perlahan membasahi halaman rumah.
Di tempat lain seseorang sedang mengamati semua perkembangan ini dengan perhatian yang tidak kalah serius.
Di ruang kerja besar rumah keluarga Adrian, ibunya duduk di depan meja kayu besar dengan beberapa laporan bisnis yang baru saja ia terima.
Seorang asistennya berdiri di depan meja.
"Pasar mulai berpihak pada Hartono Group."
Wanita itu membaca laporan itu tanpa ekspresi.
"Itu hanya sementara."
Asisten itu berkata lagi.
"Tapi langkah Rania cukup agresif."
Wanita itu akhirnya menutup laporan itu.
"Agresif bukan berarti cerdas."
Ia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar ruangan itu.
Hujan terlihat turun di luar sana.
Ia berkata pelan.
"Namun aku harus mengakui satu hal."
Asistennya menunggu.
Wanita itu melanjutkan.
"Dia berani."
Beberapa detik ruangan itu sunyi sebelum ia berkata lagi dengan suara yang jauh lebih dingin.
"Dan orang berani kadang perlu diingatkan batasnya."
Sementara itu di kantor Adrian Group Adrian masih berada di ruang kerjanya ketika ponselnya akhirnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Ia langsung membuka layar itu.
Pesan itu hanya satu kalimat.
Maaf, aku sedang sibuk.
Rania.
Adrian membaca pesan itu beberapa detik sebelum tertawa pelan.
Itu bukan jawaban.
Itu ejekan.
Ia mengetik balasan singkat.
Aku akan menunggu.
Namun sebelum ia menekan kirim ponselnya kembali bergetar.
Pesan kedua dari Rania masuk lebih dulu.
Jika kau ingin bicara tentang proyek, bicara dengan timku.
Adrian berhenti membaca di situ.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Ia menyadari sesuatu yang sejak kemarin semakin jelas.
Rania tidak hanya menyerang bisnisnya.
Ia juga menyerang egonya.
Dan untuk pertama kalinya Adrian benar benar merasa bahwa wanita yang dulu ia pikir sudah ia pahami ternyata jauh lebih sulit dibaca sekarang.
Ia menatap kota yang basah oleh hujan dari balik jendela besar ruang kerjanya.
Permainan ini semakin menarik.
Namun jauh di dalam pikirannya ada satu kesadaran yang mulai muncul perlahan.
Jika Rania terus melangkah seperti ini, bukan hanya bisnis yang akan hancur.
Seseorang pada akhirnya juga akan benar benar terluka.