Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
***
"Hamil."
"Ya pak . " Papi Wibowo memijit kepala nya yang terasa pening tiba tiba.
"Alana." Suara mami Marina bergetar menatap Alana yang termenung.
"Terima kasih dokter, saya akan transfer nanti. Dan tolong rahasiakan hal ini. Hanya kau yang tahu. Dan jika sampai menyebar kau tahu konsekuensi nya. " Ucap Papi Wibowo serius.
"Baik Pak. "
"Mi antar dokter Raisa. " Mami Marina mengangguk kepala.
Hening.
Tak lama suara isakan terdengar dari mulut Alana. Wanita muda itu bahkan sudah duduk dari posisinya. Ia menatap sang papi yang diam membisu namun ia tahu papi nya sedang menekan amarah nya yang akan meledak.
Arumi segera turun dari atas kasur dan memberanikan diri mendekati sang papi.
"Maaf pi. " Lirih Alana bersamanya pintu ruang tamu yang terbuka. Sang mami masuk dan kembali menutup pintu.
Plak
Tamparan keras mendarat sempurna di pipi Alana sampai telapak tangan itu membekas di pipi mulus nya
"Papi! " Pekik mami Marina yang tak menyangka dengan aksi suaminya.
Papi Wibowo menatap Alana dengan kilat amarah bercampur rasa kecewa. Dunia nya seakan hancur mengetahui putrinya yang hamil di luar nikah.
Tubuh Alana tersungkur di lantai yang dingin. Rasa sakit yang di terima nya saat ini, tidak ada apa apanya di banding perasaan hancur dan kecewa papi dan mami nya.
Inilah konsekuensi atas apa yang dia lakukan. Dan Alana terima, sekalipun dia di usir kedepannya.
"Papi, mami mohon jangan sakitin putri kita." Mohon mami Marina dan langsung memeluk suaminya dengan memelas. Tubuh wanita itu bahkan sampai bergetar hebat. Untuk pertama kalinya sang suami melakukan kekerasan pada putri mereka. Dan itu sangat melukai nya. "Kalau papi lakukan itu lagi, lakukan juga sama mami." Seorang ibu tentu tidak terima anak nya di kasarin, meskipun itu suaminya sendiri. Wanita itu melepaskan diri.
Nafas pak Wibowo naik turun. Dia lantas mengusap wajahnya karena frustasi. Seumur hidupnya membesarkan putrinya baru ini dia memukul Alana.
Ia merasa gagal sebagai seorang ayah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu berkata jujur saat ini." Kata Wibowo dengan penuh penekanan tiap perkataannya.
Alana langsung bersujud di kaki papinya. Dia menggelengkan kepala cepat.
"Ini salah Alana pi, bukan salah pria itu."
"Katakan makanya, jelaskan sama papi kenapa semua ini bisa terjadi. Papi dan mami tidak pernah mendidik kamu seperti ini Alana. Kenapa kamu liar sekali, astaga. " Papi Wibowo sampai memijat batang lehernya yang terasa berat. Kepalanya berdenyut. Masih tidak menyangka putrinya bisa melakukan hal ini bahkan sampai mengandung.
Seketika dia merasa dirinya tak mampu mendidik putrinya dengan baik. Lagi lagi kembali menyalahkan dirinya sendiri.
"Maaf pi, mi." Isak Alana memegang kaki papinya. Mami Marina hanya bisa menangis memeluk suaminya dari belakang. Ia tak tega melihat putrinya saat ini, meski kekecewaan itu begitu sangat terasa.
"Berhenti minta maaf dan katakan." Tegas papi Wibowo. Dada nya naik turun tak beraturan.
"Tapi Alana mohon pi, setelah Alana ceritakan semuanya sama papi mami, janji tidak akan menemuinya untuk minta pertanggungjawaban atas kehamilan ku. " Pinta Alana membuat Wibowo dan Marina kian tak habis pikir sekali.
"Astaga, lalu apa yang kamu inginkan Alana. Bahkan kamu dan pria itu melakukannya tanpa beban. Kenapa kamu hanya ingin membebani dirimu sendiri." Sela Wibowo kian marah.
"Karena hanya Alana yang mencintainya pi. Dia nggak akan pernah bisa mencintai Alana. Dan lagi kami melakukan itu saat dia sedang mabuk sementara aku sadar sepenuhnya."
"Ya Tuhan. " Papi Wibowo rasanya ingin kembali murka mendengar ucapan sang putri barusan.
Sungguh dia tidak menyangka dengan apa yang di katakan putrinya. Bisa bisanya putri nya yang dia percayai dan sayangi mengecewakan nya sampai sejauh ini.
"Siapa pria itu? " Tanya papi Wibowo
"Papi janji jangan salahin dia, ini salah Alana sepenuhnya. Dan lagi Alana tidak ingin keluarga kita terpecah jika ada yang tahu."
"Apa maksud mu." Hardik Wibowo. Putrinya bicara semakin kesana kemari .Sementara mami Marina langsung melepas pelukan dari suaminya. Dia menggeleng kepala menghalau satu nama yang ada di kepala nya saat ini, terlebih mendengar ucapan putrinya barusan.
"Janji dulu." Mohon Alana mendongak menatap papinya penuh harap.
"Ya." Mau tak mau Wibowo mengiyakan saja. Dia akan pikirkan nanti.
"Alana yakin papi nggak akan ingkar janji."
"Katakanlah." Titah Wibowo tak sabaran.
"Kak Bian. " Lirih Alana yang masih dapat di dengar oleh kedua orang tua nya.
Duaaarrrrrrrrr
Kembali kedua orang tua Alanaterkejut. Bahkan kini keduanya langsung ambruk. Keduanya sampai tak dapat berkata kata. Mami Marina sudah kembali menangis. Sementara papi Wibowo matanya sudah memerah. Kepala nya rasanya ingin pecah saat ini juga.
Sungguh apa yang terjadi pagi ini sangat membuat keduanya syok berat. Sudah kehamilan Alana, lalu di tambah janin yang ada di perut putrinya adalah anak keponakannya sendiri.
"Mami salah pi, mami di sini yang harus di salahkan." Isak mami Marina dengan pilu. Membuat dada Alana nyeri melihat itu. Apa yang sudah di lakukannya benar benar membuat kedua orang tuanya menyalahkan diri mereka.
"Maaf mi, ini bukan salah mami. Tapi salah Alana sendiri." Sela Alana dengan tangisnya. Dia bahkan langsung memeluk mami Marina. Membuat tangis wanita itu semakin pecah.
Mami Marina menyesal mempercayakan Alana yang sering dekat dengan Bian saat sang putri sudah tumbuh dewasa. Tidak menyangka jika putrinya mencintai anak saudaranya itu. Meskipun mama Marina sangat tahu jika keduanya tidak sedarah. Tapi tetap saja. Banyak hal yang harus di pertimbangkan, dan itu tak sesederhana yang terlihat.
Cinta putrinya benar benar salah. Bahkan sampai rela memberikan aset yang paling berharga miliknya sekalipun . Bahkan kini, putrinya mengandung calon anak dari Bian.
Sementara papi Wibowo sudah tak sanggup berkata kata. Pria itu terdiam membisu.
***
Bian menatap setiap penjuru. Suasana begitu sepi senyap. Biasanya Alana ada, kala dirinya pulang kerja atau setelah dia sudah berada di apartemen. Wanita muda itu akan mengganggu ketenangannya, namun Bian sama sekali tidak keberatan selama ini. Karena Bian sangat menyayangi Alana karena adiknya.
Bian menghela nafas berat. Dia tahu Alana sudah menjaga jarak padanya. Memijit keningnya yang sedikit berdenyut. Bian tiba tiba menatap pintu kala mendengar suara bel.
Tanpa berlama lama Bian langsung melangkah ke arah pintu itu.
Cklek!
"Om." Kaget Bian kala di hadapan nya saat ini adalah om Wibowo. Papi dari Alana.
Tumben itu lah yang ada di dalam isi kepala Bian
"Hm." Bian langsung mempersilahkan sang om masuk. Meskipun ada rasa tak tenang saat ini. Karena tak pernah sang om mengunjunginya di apartemen langsung. Kalau pun ingin bertemu pasti om Wibowo akan menghubungi nya lebih dulu.
Wibowo langsung masuk ke dalam. Namun saat pintu tertutup Wibowo langsung membogem wajah Bian, membuat pria itu tersungkur ke lantai karena aksi tiba tiba papi Alana itu.
Meski sudah tak muda, namun Wibowo masih sangat kuat.
Cairan kental berwarna merah langsung mengalir dari lubang hidung Bian.
"Mulai sekarang jangan pernah dekat dengan Alana lagi, apalagi menghubungi nya." Usai berkata seperti itu Wibowo langsung melengos. Namun langkahnya terhenti kala Bian buka suara.
"Om tahu? " Tanya nya pelan sedikit ragu . Wibowo mengepalkan kedua tangannya. Dan langsung membalikan tubuhnya menatap Bian yang masih di lantai. Pria itu mengusap hidungnya sekilas , sambil menatap dirinya.
Sementara Bian sangat yakin jika saat ini Wibowo mengetahui apa yang terjadi antara dia dan Alana. Karena diam nya pria itu sudah menjawab semuanya.
"Maaf om, Bian salah di sini."
"Sudahlah kata maaf tak akan bisa mengembalikan ke tempat semula. Yang perlu kamu lakukan, jangan pernah lagi menghubungi Alana. " Potong Wibowo cepat.
"Andaikan, andaikan saja Alana melakukan dengan pria lain, tentu saat ini juga saya akan minta pria itu menikahinya. Masa depannya sudah hancur. Tapi mengingat kamu ,"tunjuk papi Wibowo ke arah Bian." Kamu adalah keponakan istri saya, itu semua tidak bisa saya lakukan. Jadi mulai sekarang jangan pernah mengusik Alana lagi. Meskipun dia menghubungi mu, abaikan saja dia. " Kata papi Wibowo memperingati Bian dengan dada yang begitu sangat sesak. Pria itu rapuh, namun tetap telihat tenang.
Masa depan putrinya sudah hancur, entah apa ada laki laki yang akan menerimanya kelak.
Bahkan Wibowo tadi memberikan penawaran pada Alana. Gu9urkan k4ndu -ngan atau Alana di ungsikan di tempat lain. Namun putrinya memilih di ungsikan, karena putrinya itu tak ingin membunuh makluk hidup yang ada di perutnya.
Bahkan papi Wibowo tertampar oleh kata kata Alana 'Alana berbuatnya saja sudah berdosa, apa lagi kembali melenyapkan janinnya'. Begitulah kata putrinya tadi, membuat papi Wibowo akhirnya mengikuti apa mau anaknya. Dan juga sekaligus merasa bersalah memiliki keinginan melenyapkan calon cucunya.
Konsekuensi nya benar benar Alana tanggung sendiri. Dia inging bertanggung jawab dengan perbuatan nya sendiri.
Bian mengepalkan kedua tangannya dengan menunduk. Dia sungguh malu saat ini dengan sang om.
"Maafkan saya om." Lirih Bian, dia sendiri frustasi setelah kejadian itu. Dan tidak tahu harus melakukan apa.
Bingung sekali.
Papi Wibowo tak merespons karena sepenuhnya tidak salah Bian. Posisinya Alana secara sadar penuh yang di liputi dengan rasa cinta nya. Kalau Alana tidak mau meskipun Bian memaksa sekalipun , semua tidak akan terjadi. Karena Alana pasti akan melindungi dirinya. Ini putrinya yang benar benar menyerahkan diri karena sebuah cinta yang benar benar membutakan segalanya.
"Lakukan saja apa yang saya katakan, biar keluarga yang lain tidak perlu mengetahui hal ini. " Usai mengatakan seperti itu Wibowo langsung melangkah keluar dari apartemen Bian.
Keputusan ini sudah ia ambil dengan kesepakatan nya bersama istri dan Alana.
Bian menatap nanar pintu yang perlahan tertutup dengan tatapan kosong.