NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakak Penjaga

​Luka di kepala Nina ternyata membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama dari perkiraan. Dokter menyarankan agar bocah tujuh tahun itu beristirahat total di rumah selama satu minggu penuh untuk memastikan jahitan di kulit kepalanya tidak terbuka atau terinfeksi. Bagi Nina yang terbiasa aktif berlarian dan menari, hukuman "mendekam" di dalam rumah terasa seperti berada di dalam penjara bawah tanah yang sangat membosankan.

​Namun, kejutan datang di hari pertama Nina bolos sekolah.

​Sekitar pukul dua siang, saat matahari mulai mengintip malu-malu di balik sisa awan mendung, suara rantai sepeda yang berderit terdengar di depan pagar rumah nomor 12. Hamdan sedang bertugas di kantor staf, sementara Fatimah sedang menjahit di ruang tengah.

​"Permisi... Tante?" sebuah suara remaja yang agak berat memanggil dari teras.

​Fatimah membuka pintu dan mendapati Arya berdiri di sana. Remaja itu masih mengenakan seragam SMA—celana abu-abu dan kemeja putih yang sedikit lembap oleh keringat. Di tangannya, ia menjinjing sebuah kantong plastik dari toko roti terkenal di kota.

​"Eh, Mas Arya. Masuk, Mas," sambut Fatimah ramah.

​Arya tampak canggung. "Enggak usah, Tante. Saya cuma mau antar ini... roti cokelat kesukaan adik-adik saya. Kata Arista, anak kecil biasanya suka. Gimana keadaan Nina, Tante?"

​"Masih rewel karena nggak boleh main keluar, Mas. Masuk saja, temani Nina sebentar. Tante mau ke dapur sebentar," ajak Fatimah.

​Arya akhirnya melangkah masuk. Ia mendapati Nina sedang duduk bersandar di bantal besar di depan televisi, kepalanya masih dibalut perban yang membuat gadis kecil itu tampak seperti memakai topi aneh. Begitu melihat Arya, mata Nina langsung berbinar.

​"Kak Arya!" serunya girang.

​"Hai, Penari Kecil. Masih pusing?" tanya Arya sambil duduk di kursi kayu di samping sofa. Ia mengeluarkan roti cokelat yang masih hangat dan memberikannya pada Nina.

​"Sedikit. Tapi lebih pusing karena nggak boleh sekolah. Teman-teman pasti lagi belajar menyanyi sekarang," keluh Nina sambil menggigit rotinya.

​Arya terkekeh. "Sekolah itu membosankan, tahu. Kamu mending di sini, bisa makan roti enak sambil nonton kartun."

​"Tapi Nina mau latihan menari, Kak. Minggu depan ada acara di kantor Ayah, Nina mau tampil," ucapnya dengan nada sungguh-sungguh.

​Mendengar itu, Arya terdiam sejenak. Ia memperhatikan Nina. Tubuh gadis itu mungil, jarinya lentik saat memegang roti, dan ada binar tekad yang tidak biasa di matanya. "Nina sesuka itu sama menari?"

​Nina mengangguk mantap. "Nina mau jadi penari hebat, Kak. Bukan cuma tari India, tapi tari tradisional, tari balet, semuanya! Nina mau keliling dunia lewat menari. Supaya orang-orang tahu kalau anak asrama juga bisa hebat!"

​Arya terpaku. Di usianya yang lima belas tahun, ia bahkan belum tahu pasti ingin jadi apa selain mengikuti jejak ayahnya karena tuntutan tradisi keluarga. Sementara anak tujuh tahun di depannya sudah memiliki peta masa depan yang begitu jelas dan berwarna.

​"Hebat ya kamu. Kecil-kecil sudah punya mimpi setinggi langit," puji Arya tulus. Ia mengacak rambut Nina pelan, berhati-hati agar tidak menyentuh bagian yang diperban. "Ya sudah, biar cepat sembuh dan bisa latihan lagi, kamu harus nurut sama Ibu. Jangan banyak gerak dulu."

​*

​Kunjungan hari itu bukan yang terakhir. Seolah menjadi penebusan dosa yang tak berkesudahan, Arya rutin datang setiap pulang sekolah selama Nina dalam masa pemulihan. Kadang ia membawa camilan, kadang ia membawa buku mewarnai, atau terkadang ia hanya duduk di sana mendengarkan Nina berceloteh tentang koreografi yang ia ciptakan di dalam kepalanya.

​Bagi Nina, kehadiran Arya adalah anugerah. Sebagai anak tunggal yang sering ditinggal ayahnya bertugas lapangan dan ibunya yang sibuk dengan urusan Persit (Persatuan Istri Tentara), Nina sering merasa kesepian. Teman-sebaya di asrama memang banyak, tapi tidak ada yang memperlakukannya dengan kesabaran seperti Arya.

​Arya menjadi sosok "Kakak" yang tidak pernah Nina miliki. Ia yang membantu Nina mengerjakan PR matematika saat Nina sudah kembali sekolah. Ia yang menjitak kepala anak-anak nakal di lapangan asrama yang berani mengejek perban Nina. Dan ia pula yang menjadi penonton setia pertama setiap kali Nina memamerkan gerakan tari baru di teras rumah.

​Hubungan ini pun direstui oleh kedua belah pihak keluarga. Hamdan dan Fatimah sangat bersyukur. Mereka melihat Arya sebagai pelindung bagi putri mereka. Meskipun Arya adalah putra seorang Jenderal, remaja itu tidak pernah menunjukkan keangkuhan. Ia justru terlihat lebih "hidup" saat berada di rumah sederhana nomor 12 daripada di rumah dinasnya yang besar namun kaku dan penuh aturan protokoler.

​Tahun demi tahun berlalu. Asrama TNI AD itu menjadi saksi bisu pertumbuhan mereka.

​Nina tumbuh menjadi gadis sepuluh tahun yang cantik, dengan rambut panjang yang selalu dikuncir kuda. Kemampuan menarinya semakin terasah, ia mulai sering menjuarai perlombaan tingkat kota. Sementara itu, Arya bertransformasi menjadi remaja tujuh belas tahun yang tegap, atletis, dan memiliki sorot mata yang tajam namun tetap hangat jika menatap Nina.

​Kebersamaan mereka sudah menjadi pemandangan biasa di asrama. Orang-orang sering melihat mereka berjalan bersama menuju koperasi, atau Arya yang membonceng Nina dengan sepeda motornya—kali ini dengan kecepatan yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian.

​***

​Musim kemarau di tahun itu terasa lebih menyengat. Bagi Arya, panasnya udara terasa sejalan dengan tekanan yang ia rasakan. Sebagai putra seorang Jenderal Sudrajat, hanya ada satu jalan baginya setelah lulus SMA: Akademi Militer (Akmil) di Magelang.

​Pengumuman kelulusan sudah keluar, dan Arya dinyatakan lolos seleksi tahap akhir. Ia akan berangkat dalam dua hari ke depan untuk menjalani pendidikan pertama sebagai calon perwira.

​Sore itu, Nina sedang duduk di ayunan ban bekas di bawah pohon beringin dekat lapangan asrama. Wajahnya murung. Ia sudah tahu kabar keberangkatan Arya.

​"Kenapa mukanya ditekuk begitu? Kayak cucian belum dijemur," canda Arya yang tiba-tiba muncul dan duduk di akar pohon yang mencuat.

​Nina tidak tertawa. Ia menatap ujung sepatunya yang kotor. "Kak Arya beneran mau pergi?"

​"Iya, Cil. Kan mau jadi tentara hebat kayak Ayah kamu," jawab Arya lembut.

​"Tapi nanti nggak ada yang temani Nina makan es krim. Nggak ada yang marahin kalau Nina malas latihan tari. Nggak ada yang bantuin PR matematika yang susah itu," suara Nina mulai bergetar. Bagi anak sepuluh tahun, kehilangan sosok kakak adalah sebuah bencana emosional.

​Arya mendesah pelan. Ia bangkit dan berdiri di depan Nina, memegang kedua rantai ayunan itu agar Nina menatapnya.

​"Dengar, Nina. Kakak pergi cuma buat sekolah. Biar nanti kalau Kakak balik, Kakak sudah pakai seragam yang keren. Biar Kakak bisa jaga Nina lebih baik lagi."

​"Janji?" Nina menyodorkan jari kelingkingnya yang mungil.

​Arya menautkan kelingkingnya yang jauh lebih besar. "Janji. Selama Kakak di sana, kamu harus janji satu hal juga."

​"Apa?"

​"Teruslah menari. Jangan berhenti sampai kamu jadi bintang. Kakak mau pas Kakak pulang nanti, Kakak bisa lihat Nina menari di panggung yang lebih besar dari aula asrama ini."

​Nina mengangguk mantap, menghapus setetes air mata yang jatuh ke pipinya.

​Malam sebelum keberangkatan, keluarga Arya mengadakan syukuran kecil. Namun, di sela-sela kemewahan rumah sang Jenderal, Arya menyelinap keluar untuk memberikan sebuah bungkusan kecil kepada Nina yang berdiri di balik pagar pembatas rumah mereka.

​"Ini apa, Kak?" tanya Nina melihat kotak beludru merah.

​"Buka saja nanti kalau Kakak sudah di bus," bisik Arya. "Itu penyemangat buat calon penari internasional."

​Saat bus yang membawa para calon taruna itu bergerak meninggalkan asrama keesokan paginya, Nina berdiri di pinggir jalan bersama orang tuanya. Ia melambai sekuat tenaga ke arah jendela bus tempat Arya duduk.

​Di dalam bus, Arya menatap keluar dengan dada sesak. Ia melihat gadis kecil itu mengecil di kejauhan. Di tangannya, Nina menggenggam kado dari Arya—sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sepatu balet mungil.

​Mereka berdua tidak menyadari bahwa perpisahan ini bukan sekadar perpisahan sekolah. Ini adalah akhir dari masa kecil yang lugu. Mereka dipisahkan oleh gerbang pendidikan militer yang keras dan dunia seni yang penuh dinamika.

​Garis takdir yang bermula dari sebuah kecelakaan di bawah hujan, kini mulai merentang jauh melintasi provinsi. Nina tetap menjadi adik bagi Arya, dan Arya tetap menjadi pelindung bagi Nina. Namun, waktu memiliki caranya sendiri untuk mengubah rasa sayang menjadi sesuatu yang lebih rumit saat kedewasaan nanti menyapa mereka.

​Sore itu di asrama, angin bertiup kencang, menggugurkan daun-daun beringin, seolah ikut mengantar keberangkatan sang calon perwira dan menyimpan rahasia masa depan mereka rapat-rapat dalam heningnya asrama.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!