Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 08 — Melawan Mereka
“Mau langsung atau pemanasan dulu?” tanya Elizabeth santai.
Tawa mereka pecah bersamaan. Mereka menganggap pertanyaan Elizabeth itu sebagai candaan semata.
“Sudahlah, jangan terlalu banyak bicara. Serahkan uangmu seperti biasanya,” kata salah seorang dari mereka. Pria itu tak memiliki rambut di kepalanya, di tangannya ada tato berbentuk naga.
“Memangnya kalian siapa berani mengambil uangku?” tanya Elizabeth santai sambil memainkan jarinya. Sudah lama rasanya ia tidak menghajar seseorang.
Detik berikutnya, tanpa aba-aba, pria terdekat menerjang dengan pukulan lurus. Gerakannya kasar dan lambat, terlalu mudah dibaca. Elizabeth memiringkan tubuh, menghindar tipis, lalu menghantamkan siku ke rahangnya. Tubuh pria itu langsung ambruk sebelum sempat mengerti apa yang terjadi.
“Hampir saja kena,” ejek Elizabeth, menatap para pria itu dengan tatapan dingin yang menusuk. Lalu, tangannya memberi isyarat agar mereka semua maju satu persatu.
Namun, ketiganya langsung menyerang secara bersamaan, dua diantaranya bahkan membawa senjata tajam dan tak ragu-ragu menghunusnya tepat ke hadapan Elizabeth.
Dengan gerakan gesit, Elizabeth menghindar dan memberi mereka balasan telak tepat di beberapa bagian vital. Mereka terjatuh dan langsung menyerang lagi begitu ada kesempatan.
Gang yang sempit membuat ruang gerak Elizabeth terbatas, apalagi dengan tubuh kurus Elijah, baru sebentar saja ia sudah merasa kewalahan. Apalagi ia hanya seorang diri dan melawan lima pria dewasa dengan tubuh kekar.
Lalu, tanpa diduga olehnya, sebuah tinju menghantam bahunya keras. Nyeri menjalar sampai ke tulangnya. Tubuh Elijah yang lebih kecil jelas kalah kuat dibanding tubuh lamanya.
“Ah! Sialan.” Elizabeth terhuyung setengah langkah, napasnya terengah. Ia berpikir keras dan yakin bahwa ia tidak bisa melawan 5 pria itu dengan kekuatan tubuh Elijah, ia pasti akan kalah.
Selama beberapa detik yang singkat, Elizabeth menarik napas panjang dan memfokuskan pikirannya.
Pria kedua mencoba mencengkeramnya. Elizabeth memutar pergelangan tangannya tajam hingga sendinya terkunci. “Rasakan ini, Bedebah sialan!”
Jeritan pria itu pecah bersamaan dengan tendangan keras ke bagian bawah perutnya. Ia jatuh sambil mengaduh pelan.
Yang lain menyerangnya dari belakang. Elizabeth menghentakkan kepala ke belakang tanpa ragu. Bunyi retakan terdengar ketika hidung pria itu patah. Darah hangat langsung menyiprat ke lehernya.
Napas Elijah mulai terasa putus-putus, Tubuh Elijah jelas tak bisa ia ajak berkelahi. Keringat menuruni pelipisnya dan pandangannya terasa kabur. “Sssh, bertahanlah. Kumohon bertahanlah sebentar lagi,” monolognya.
Ketika ia lengah sepersekian detik, ketua preman menghantam pipinya. Pandangannya langsung berkunang-kunang. Rasa darah memenuhi mulutnya.
Pria itu tertawa puas. “Berani sekali kau, Elijah. Rasakan ini!”
Satu tamparan keras kembali Elizabeth rasakan, rasa nyeri dan panas menjalar begitu cepat ke pipinya yang putih.
Elizabeth mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya yang dingin langsung menyorot mata pria itu. Tatapan matanya itu seolah menunjukkan bahwa ia tidak akan memberikan pengampunan atas apa yang sudah pria itu lakukan padanya.
Tatapannya itu membuat tawa pria itu terhenti sendiri. “H-hei! Kenapa kau menatapku begitu? Hentikan! Jangan menatapku begitu!” katanya menunjuk wajah Elijah dengan tangan gemetar.
Sesuatu dalam diri Elizabeth bangkit, insting lama yang sudah menemaninya bertahun-tahun. Insting seorang pembunuh. Ia berjalan perlahan sambil meludah ke samping.
Lalu, tangannya terulur, mengambil sebuah batangan kayu. Tanpa aba-aba, ia langsung menghantam pria berkepala botak dengan keras tepat di belakang lehernya. Pria itu langsung jatuh pingsan di depan kaki Elizabeth.
“Giliran kalian,” kata Elizabeth pelan. Namun belum sempat Elizabeth melangkah, para preman itu langsung berlari pergi meninggalkan salah seorang temannya di sana.
Elizabeth menarik napas lega begitu para pria itu pergi. Ia melemparkan batangan kayu itu secara sembarangan dan berjalan mendekati Kael yang berjongkok dengan menutup telinganya di antara tumpukan kardus.
“Kael,” panggilnya pelan seraya menyentuh bahu Kael yang bergetar ketakutan. “Buka matamu, semuanya sudah selesai.”
Kael menoleh dan membuka matanya dengan takut. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah sang kakak yang tampak berantakan, ada cairan merah di ujung bibir Elijah.
“Kakak … kau terluka.” Anak laki-laki itu mengambil sapu tangan yang selalu dibawanya dan menyeka sisa darah di ujung bibir Elizabeth dengan lembut.
Elizabeth tersentuh dengan perhatian kecil itu, selama beberapa detik, ia membiarkan Kael menyeka darah di ujung bibirnya.
“Kakak, seharusnya tadi kita langsung pergi saja. Kau jadi terluka seperti ini,” katanya merasa sedih.
Elizabeth tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, ini hanyalah luka kecil, jangan khawatir.”
“Tapi kau terluka, Kak. Kita harus membeli obat,” kata Kael khawatir. “Tapi, tunggu dulu. Apakah kau masih punya uang? Para preman itu pasti sudah mengambil semuanya seperti biasanya, kan?”
Elizabeth tersenyum tipis. “Tidak, Kael. Semua uangnya masih ada di sini.”
“Benarkah? Para preman itu tidak mengambil uangmu? Apa kau melawan mereka semua?” tanya Kael dengan polosnya.
Elizabeth mengangguk sebagai jawaban, ia merasa Kael terlalu membesarkan masalah sepele, padahal luka seperti itu hanyalah luka biasa. Ia seringkali pergi ke tempat berbahaya dan melawan orang-orang yang jauh lebih hebat lalu pulang dengan keadaan berdarah-darah. Sisa darah di ujung bibirnya bukanlah apa-apa.
Ia meraih tangan Kael dan mengajaknya untuk segera pergi dari sana. “Ayo, kita pulang.”
Kael melihat dengan mata kepalanya sendiri, pria botak yang tergeletak pingsan lalu menatap kakaknya dengan tak percaya. “Kau benar-benar melawan mereka?” tanya Kael lagi seolah tak percaya.
Elizabeth tak menjawab, ia hanya menggumam pelan sebagai jawaban.
“Benarkah? Wah! Kau hebat sekali, Kak. Apa kau baru saja mendapatkan kekuatan? Bagaimana kau bisa melawan mereka?”
Elizabeth berdecak pelan, mulai merasa pusing dengan ocehan Kael yang terus menanyakan banyak hal padanya.
“Ck! Anak ini ternyata cerewet sekali,” gumam Elizabeth seraya terus berjalan di samping anak laki-laki itu.
Kael terus bertanya dan mengoceh meski mereka sudah sampai di kamarnya yang sempit dan pengap. Ia duduk di bawah dan mengeluarkan salep yang tadi sempat ia beli saat perjalanan pulang.
“Kakak, biarkan aku membantumu,” pinta Kael meraih salep dari tangan Elizabeth.
Elizabeth tak banyak bicara, ia membiarkan Kael melakukan apapun yang diinginkannya meski ia tak terbiasa dengan bantuan dari orang lain seperti sekarang. Ia terbiasa melakukan apapun seorang diri, begitu ada yang bersedia membantunya meski hanya sebatas mengoleskan obat, hal itu berhasil membuat hatinya sedikit menghangat.
“Kael,” panggilnya pelan. “Bagaimana jika kita pindah ke rumah yang lebih layak?”
Kael terhenti, menatap sang kakak dengan tak percaya. “Apa? Pindah rumah? Tapi kenapa? Jika Bibi tahu, dia mungkin tidak akan membiarkan kita atau mungkin akan menghukum kita,” tanyanya berbisik-bisik.
Elizabeth menatap kamarnya sendiri. “Karena kau berhak mendapatkan tempat yang layak, Kael.”
Kael memandangnya dengan heran. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada kakaknya.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇