NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Panggung Sandiwara

Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu berpijar begitu terang, seolah-olah sedang menertawakan kegelapan yang dibawa Sekar di balik gaun satin berwarna emerald-nya.

Jakarta malam ini terasa mencekik. Meski pendingin ruangan bekerja maksimal, Sekar merasa oksigen di sekitarnya menipis setiap kali nama "Wijaya" disebut oleh pembawa acara lewat pelantang suara.

Sekar berdiri di sudut ruangan yang paling remang, jemarinya melingkar erat pada gelas champagne yang bahkan belum ia cicipi setetes pun.

Matanya yang biasanya tajam saat menatap monitor ruang bedah, kini menelisik sekeliling dengan kegelisahan yang susah payah ia sembunyikan.

Sudah tiga hari ia menginjakkan kaki kembali di Jakarta, dan selama itu pula ia merasa seperti hantu di rumahnya sendiri. Rahman tidak ada di sana saat ia tiba.

Pelayan rumah bilang Rahman sedang sibuk mengurus persiapan pertunangan dan proyek besar di luar kota. Namun, Sekar tahu itu hanya alasan.

Rahman sedang menghindarinya, atau mungkin, Rahman memang sudah benar-benar menghapus keberadaannya dari daftar prioritas hidupnya.

"Megah sekali, bukan?" Suara Ibu Wijaya mengejutkannya. Wanita paruh baya itu menghampiri Sekar dengan anggun, kebaya sutranya bertabur payet yang berkilauan setiap kali ia bergerak. Nyonya Wijaya adalah definisi sempurna dari martabat dan kontrol.

"Iya, Ma. Sangat mewah," jawab Sekar lembut.

Nyonya Wijaya menepuk lengan Sekar, sebuah gestur yang tampak penuh kasih bagi mata asing, namun terasa seperti peringatan bagi Sekar. "Ini adalah hari besar Rahman. Hari besar keluarga kita. Kamu harus tersenyum, Sekar. Jangan biarkan wajah Berlin-mu yang dingin itu merusak suasana."

Sekar hanya mengangguk kecil. Ia terbiasa dengan instruksi itu. Di keluarga ini, perasaan adalah nomor sekian; citra adalah segalanya.

Tiba-tiba, musik orkestra berubah menjadi lebih megah. Lampu sorot memusat ke arah tangga besar di tengah ruangan. Jantung Sekar berhenti berdetak sejenak. Di sana, muncul seorang pria dengan setelan jas hitam custom-made yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya.

Rahman Hakim Wijaya. Wajahnya tetap datar, kaku, namun memancarkan otoritas yang membuat seluruh ruangan mendadak sunyi karena segan.

Di lengannya, bergantung seorang wanita cantik dengan gaun couture berwarna putih gading. Viona. Senyumnya cerah, tangannya merangkul lengan Rahman dengan kepemilikan mutlak. Mereka tampak seperti pasangan yang keluar dari sampul majalah bisnis kelas atas.

Sempurna.

Tanpa cela. Sekar merasa dadanya dihantam gada besar.

Sepuluh tahun ia mencoba mematikan rasa itu dengan tumpukan buku kedokteran dan ribuan jam di ruang operasi, namun hanya dengan satu tatapan dari kejauhan, pertahanannya retak.

Rahman belum melihatnya. Pria itu sibuk menyalami para kolega bisnis ayahnya di atas panggung.

"Hadirin sekalian," suara moderator bergema setelah prosesi tukar cincin yang singkat namun sakral itu selesai.

"Malam ini bukan hanya tentang kebahagiaan Tuan Rahman dan Nona Viona. Keluarga Wijaya juga kedatangan kembali anggota keluarga kebanggaan mereka, yang baru saja menyelesaikan pengabdian medisnya di Jerman." Sekar tersentak. Ia punya firasat buruk.

"Kami persilakan, Dr. Sekar Sp.B, adik tercinta dari Tuan Rahman, serta putri kebanggaan Tuan dan nyonya Wijaya untuk naik ke atas panggung."

Nyonya Wijaya memberikan dorongan kecil di punggung Sekar. "Naiklah. Biar mereka tahu siapa kamu. Biar mereka tahu keluarga kita tidak hanya melahirkan pengusaha, tapi juga jenius medis."

Dengan kaki yang terasa berat, Sekar melangkah membelah kerumunan. Ratusan pasang mata menatapnya, membisikkan kekaguman tentang kecantikannya yang eksotis dan prestasinya yang mentereng di luar negeri. Namun, bagi Sekar, hanya ada satu pasang mata yang ia rasakan: mata Rahman.

Saat ia menapakkan kaki di anak tangga panggung terakhir, pandangan mereka bertemu.

Rahman mematung. Tatapannya yang tadi profesional dan dingin, mendadak berubah menjadi gelap dan intens. Ada sesuatu yang bergejolak di sana—kemarahan, kerinduan, atau mungkin rasa bersalah yang terkubur dalam. Rahman tidak bergerak, ia bahkan tidak menyapa saat Sekar berdiri hanya dua meter darinya.

"Selamat, Mas," bisik Sekar hampir tak terdengar.

Rahman hanya mengangguk sangat tipis, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya terlihat jelas. Tangannya yang bebas mengepal di samping tubuh, sementara tangan satunya masih digenggam erat oleh Viona.

"Oh, jadi ini Sekar?" Viona menyela dengan suara yang manis namun memiliki nada menyelidik.

Ia melangkah maju, melepaskan lengan Rahman sejenak untuk menyentuh tangan Sekar. "Rahman sering bercerita... ah, tidak, maksudku Tante yang sering bercerita tentang 'adik angkat' Rahman yang hebat di Jerman. Senang akhirnya bertemu denganmu, Dokter."

Kata 'adik angkat' ditekankan dengan cara yang halus, seolah Viona tengah menandai wilayahnya.

Viona menatap Sekar dari ujung rambut hingga ujung kaki, mencoba mencari celah, namun yang ia temukan hanyalah keanggunan seorang wanita yang terbiasa menghadapi situasi hidup dan mati.

Nyonya Wijaya menyusul ke atas panggung, mengambil mikrofon dengan senyum kemenangan. "Sekar adalah kebanggaan kami. Dia bekerja di Charité Berlin, salah satu yang terbaik di dunia. Kepulangannya ke Jakarta bukan hanya untuk merayakan kakaknya, tapi juga untuk membawa ilmu medisnya ke rumah sakit keluarga kami."

Tepuk tangan bergemuruh. Di depan kamera wartawan yang mulai memotret, mereka tampak seperti keluarga ideal.

Rahman di tengah, diapit oleh calon istrinya dan adik angkatnya yang jenius. Namun, di balik lampu flash yang menyilaukan, ada perang batin yang berkecamuk.

"Kamu pucat, Sekar," suara rendah Rahman akhirnya terdengar di telinga Sekar, tepat saat mereka dipaksa berdiri berdampingan untuk sesi foto keluarga.

Suaranya masih sama—berat, berwibawa, dan memiliki efek yang menggetarkan syaraf-syaraf Sekar. "Jakarta terlalu panas untukmu?"

Sekar tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke arah kamera dengan senyum palsu yang paling sempurna. "Jakarta tidak pernah panas, Mas. Hanya orang-orang di dalamnya yang terkadang membuat gerah."

Rahman terkekeh sinis, suara yang hanya bisa didengar oleh Sekar. "Sepuluh tahun tidak mengubah mulut tajammu, Dokter."

"Dan sepuluh tahun tidak mengubah caramu membohongi dunia, Mas," balas Sekar telak.

Pertemuan itu terasa seperti operasi tanpa anestesi. Menyakitkan dan berdarah di dalam. Viona, yang menyadari adanya ketegangan aneh di antara mereka, segera merangkul pinggang Rahman lebih posesif. "Sayang, tamu-tamu dari kementerian sudah menunggu di meja utama. Ayo."

Rahman melirik Sekar untuk terakhir kalinya—sebuah tatapan yang seolah menjanjikan bahwa pembicaraan mereka belum usai—sebelum ia berbalik mengikuti Viona.

Sekar berdiri terpaku di panggung yang kini mulai ditinggalkan. Ia merasa seperti pajangan yang baru saja dipamerkan lalu dilupakan. Namun, di tengah riuh rendah pesta, ia menangkap sosok asing di kejauhan, seorang pria yang memperhatikannya dengan tatapan yang berbeda.

Pria itu memegang sebuah amplop cokelat di tangannya.

Sekar tidak tahu bahwa malam ini, di tengah kemewahan yang diagungkan keluarga Wijaya, sebuah kabar lama telah siap untuk diledakkan. Kabar yang akan mengubah panggung sandiwara ini menjadi medan pertempuran yang sesungguhnya.

Cinta yang ia kira sudah ia tinggalkan di Berlin, ternyata masih bernapas di sini, di bawah atap yang sama dengan pria yang baru saja mengumumkan pertunangannya. Dan Sekar tahu, ini hanyalah permulaan dari kehancuran yang manis.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!