NovelToon NovelToon
Bu CEO Korban Makcomblang

Bu CEO Korban Makcomblang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Berondong / Cinta Beda Dunia / Wanita Karir / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.

Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.

Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.

Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.

Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.

Cover Ilustrasi by ig pixysoul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

"Mas serius, Mbak Arcila langsung ngasih 100 juta tanpa basa-basi? Di transfer gitu aja, terus sekarang uangnya ada di rekening Mas?!" Diva bertanya heboh setelah mendengar tawaran dari Arcila untuk kakak semata wayangnya.

Perempuan yang baru sampai di rumah tepat pukul sembilan itu menutup mulut. Kepalanya geleng-geleng waktu Dafsa nunjukin isi rekeningnya.

"Allahu akbar! Dia emang beneran kaya, Mas!" Diva makin heboh. Reaksinya yang sampai loncat-loncat di sebelah ranjang bikin Dafsa makin pusing.

Kalau ditanya gimana perasannya. Oke, Dafsa seneng dapet uang seratus juta tanpa perlu kerja keras. Tapi kata Arcila, dia harus siapin mental buat acara makan malam nanti. Udah pernah Dafsa bilang, sebelumnya dia nggak pernah ketemu langsung sama konglomerat. Mentok-mentok Dafsa cuma pernah ketemu Gubernur, itu pun kalau ada acara penting di kecamatan.

"Kamu diem, Div, nanti Ibu bangun," kata Dafsa tidak punya tenaga memelototi adiknya.

Diva langsung diam. Dia duduk di sebelah Dafsa, ngambil alih ponsel kakaknya. Angka tiga dikit di rekening Dafsa beneran ada. Semuanya nyata. Dan orang yang bikin Diva kegirangan kayak sekarang adalah Arcila Astoria.

"Gampang banget buat dia ngasih uang segini banyaknya. Aku jadi penasaran, dia sekaya apa, sih?"

"Kata kamu, dia super duper kaya?" Dafsa hanya menoleh sebentar, mengambil ponselnya dan melempar pelan ke tengah ranjang. "Menurut kamu, Mas harus gimana?" tanyanya bingung.

"Kok masih nanya sih, Mas? Ambil tawaran itu, ini kesempatan langka. Kalau Mas berhasil bikin keluarga Mbak Arcila terkagum-kagum, Mas bakalan dapet seratus juta lagi. Totalnya jadi dua ratus juta. Udah, besoknya kita bisa langsung daftar umroh," tutur Diva panjang lebar, berharap Dafsa nggak buang-buang kesempatan emas ini.

Diva inget banget cita-cita ibunya satu, pergi ke Mekah. Katanya, Sri pengen doain anak-anaknya langsung ke pusat. Doain Dafsa biar cepet dapet jodoh, terus doain Diva supaya kuliahnya lancar dan nanti bisa jadi dokter yang amanah.

Diva juga membatin. Kapan lagi mereka bisa jadi orang kaya dadakan, kalau bukan lewat Arcila? Maksudnya lewat kerja sama, bukan cuma manfaatin uangnya doang.

"Mas nggak tau apa-apa, Div," keluh Dafsa. Itulah yang bikin dia nggak semangat. Sejak Arcila pergi dari kios, perempuan itu nggak ngasih tahu apa-apa. Waktu ditanya lewat WhatsApp pun, Arcila nggak ngasih balesan. Kayaknya perempuan itu emang super sibuk.

"Nggak usah galau begitu, Mas. Di sini ada aku," ucap Diva jumawa, tapi dia beneran jago, kok.

Diva keluar dari kamar Dafsa, jinjit-jinjit masuk ke kamarnya. Pertama, Diva bakalan bersih-bersih dulu, terus makan. Habis itu dia balik lagi ke kamar Dafsa. Kakaknya masih diem di tempat semula, dengan posisi yang sama persis kayak tadi. Diva cuma bisa geleng-geleng. Dafsa ini emang pinter, tapi kalau lagi bingung begini, dia pasti bakalan lola, alias loading lama. Jadi, Diva yang harus gerak cepet.

"Soal Mbak Arcila yang anak tunggal, Mas udah tau, kan?"

"Iya, soal itu Mas udah tau."

Diva ngangguk pelan, fokus ke laptopnya. Dia harus bikin presentasi singkat supaya Dafsa cepet paham. Cuma setengah jam, habis itu Diva berdiri di depan Dafsa, nyalain proyektor yang dia bawa dari kamarnya sendiri.

"Oke, Mas lihat aku, ya, perhatiin semua penjelasan dari aku." Diva siap dengan penjelasan singkat tapi padat.

Presentasi itu di mulai. Di slide pertama, Diva bikin pohon keluarga Astoria. Dafsa bengong, terus dia nanya, "dari mana kamu tau semuanya akurat atau nggak?"

"Sumbernya jelas, Mas, dari orang yang pernah kerja di rumah Mbak Arcila."

"Lho, kamu kenal di mana?"

"Aku langganan di ruko jusnya beliau."

Dafsa masih nggak paham. Tapi ketika Diva jelasin, kalau dulu tukang jus di deket kampusnya adalah sepasang suami istri yang pernah kerja di rumah keluarga Astoria. Dari mana Diva tahu? Dari logo Hotel Astoria yang ada di depan ruko. Dia iseng nanya, tapi si pemilik ruko malah cerita panjang lebar. Kalau kata Gen Z mah, itu si pemilik ruko hobi oversharing. Segalanya diceritain.

Dari sana Diva tahu, kalau ternyata kakeknya Arcila, yang namanya Pak Suseno, punya tiga anak. Dua laki-laki, satu perempuan. Tapi sayangnya, dua anaknya meninggal. Yang pertama waktu kecil karena sakit, yang bungsu perempuan karena kecelakaan 20 tahun lalu. Waktu itu almarhumah meninggal dalam kondisi lajang. Jadilah yang sekarang mewarisi semua kekayaan Pak Suseno, ya cuma Rama Astoria, yang dulunya adalah anak tengah, alias ayah Arcila Astoria.

"Pak Suseno punya tiga adik. Tapi mereka nggak ada yang terjun mengelola hotel. Dua adiknya cuma kebagian jatah ngelola penginapan di puncak, semacam glamping atau apalah itu, aku kurang paham. Nah, yang satunya punya restoran."

"Apa nggak ada iri hati di antara mereka?" tanya Dafsa serius. Kebanyakan orang kaya di sekitar Dafsa sering rebutan warisan, maunya jadi yang paling berkuasa.

"Menurut cerita tukang jus nggak ada, Mas. Soalnya, dulu Hotel Astoria itu nggak sebesar ini, katanya cuma penginapan kecil, mirip hotel bintang dua."

Dafsa mengangguk. Diva cerita lagi. "Dulu sebelum nikah, Pak Suseno udah terima warisan dari orang tuanya, tapi belum bisa dikelola karena dia nggak punya modal. Terus Pak Suseno nekat merantau ke China, terus ke Jepang. Ke Jerman juga pernah. Katanya beliau selalu kerja di hotel. Pulang-pulang ke Indonesia, dia udah punya satu anak, soalnya nikah sama sesama TKI di Jerman. Katanya, dari sana semuanya dimulai."

Muncul sebongkah rasa kagum di hati Dafsa. Suseno pastilah seorang pekerja keras yang nggak gampang nyerah. Buktinya sekarang, semua yang diusahakan waktu dia muda, akhirnya membuahkan hasil. Dafsa tahu cabang hotel Astoria nggak cuma ada di Jakarta, tapi juga di beberapa kota besar lainnya. Maka wajar bagi Arcila ngasih seratus juta tanpa banyak pikir, karena perempuan itu udah punya ratusan kali lipatnya.

Penjelasan Diva berhenti sampai sana. Terakhir, Diva bilang, "aku nggak dapet informasi soal mantan pacar Mbak Arcila."

***

Hari yang sebetulnya tidak dinanti Dafsa akhirnya tiba juga. Tadi pagi, ia mendapatkan pesan singkat dari Arcila.

[Pagi, Mas, jangan lupa standby jam setengah tujuh malam. Pake seragamnya.]

Awalnya Dafsa nggak tahu seragam apa yang dimaksud Arcila. Waktu dia tanya seragam kerjanya. Iya, seragam ASN. Dafsa sampai baca berulang kali pesan itu.

"Bener, kok, tapi ... ini konyol." Dafsa ketawa garing. Sebelumnya dia nggak pernah tahu, ada acara makan malam yang mengharuskannya pake seragam ASN. Dafsa takut Arcila cuma bercanda.

Akan tetapi, waktu perempuan itu datang sendiri ke Blok M dengan mobil Lamborghini-nya, turun dari sana dan menunggu Dafsa tanpa tertawa sedikit pun, barulah Dafsa percaya.

"Ibu yakin saya tidak salah kostum?" tanya Dafsa masih tidak percaya diri.

"Yakin. Keluarga saya suka sama lelaki yang punya pekerjaan tetap," jawab Arcila meminta Dafsa segera naik.

Dafsa udah mau masuk, tapi tiba-tiba Arcila narik tangannya. "Senyum, Mas!"

Dafsa nggak paham sama perintah itu, tapi dia nurut aja. Arcila ngangkat ponselnya, senyum lebar ke arah kamera. Satu foto diambil, dengan posisi yang cukup dekat. Arcila mengerutkan kening. Dirasa kurang, dia meminta Dafsa berpose lagi.

"Bu—"

"Bukan saya yang mau, tapi saya butuh foto kita berdua lebih banyak. Masa ada orang pacaran nggak pernah foto bareng. Itu aneh, kan?"

Iya, juga. Dafsa nurut lagi. Arcila cuma ngambil tiga foto.

"Oke, ini udah cukup. Nanti bisa saya edit pake baju lain."

"Maksudnya, Bu?" Dafsa tidak paham. Mereka sudah masuk ke mobil Arcila.

Arcila malas menjelaskan, jadi dia diem aja. Fokus ke jalanan.

Dafsa harus jujur kalau sekarang dia ngerasa keren. Naik Lamborghini adalah pengalaman pertamanya. Tapi Dafsa nggak bisa eksplor terlalu banyak, dia di sini buat kerja, bukan buat main-main.

"Di rumah saya cuma ada Mama dan Papa, yang lain belum datang. Mereka datang jam tujuh," kata Arcila memberi tahu. "Mas Dafsa tenang aja, Mama dan Papa saya bukan orang jahat. Mereka baik, fleksibel, nggak pernah nuntut banyak asalkan saya tetap mempertahankan standar yang bagus," tambahnya tanpa menoleh.

"Apa nanti saya harus jujur soal diri saya?"

"Iya, sebaiknya begitu. Jangan ada yang ditutup-tutupi, karena orang tua saya bisa nyari tau sampai ke akar. Bahaya kalau ketahuan bohong. Jadi diri sendiri aja, tapi jangan terlalu kaku."

Dafsa mengangguk paham. Arcila tidak menuntut apa-apa. Dia hanya ingin Dafsa datang dan berkenalan dengan keluarga besarnya, kemudian makan malam. Katanya cukup sampai sana, nanti Arcila yang bakal cari alasan supaya Dafsa bisa pulang duluan.

Lamborghini warna merah itu berbelok ke kawasan perumahan elit. Dafsa makin gugup. Di kanan kirinya berderet rumah-rumah megah dengan pagar menjulang tinggi. Dafsa jadi mikir, kalau dibandingkan sama rumahnya, mungkin bisa 20 sampai 30 kali lipat luasnya.

"Kita sudah sampai." Arcila menekan pelan klakson mobil. Pagar kokoh berwarna hitam pekat terbuka. Tidak didorong, melainkan terbuka otomatis.

Mobil masuk ke halaman rumah, yang lagi-lagi luasnya nggak bisa Dafsa hitung. Bisa jadi tiga kali lipat dari luasnya lapangan sepak bola di dekat rumahnya.

Mereka keluar. Dafsa nggak bisa nahan kepalanya buat nggak noleh. Dia memperhatikan keadaan sekitar. Lima meter dari selasar rumah, terdapat kolam ikan. Dafsa nggak berani nanya berapa harga per ekor tiap ikan yang akan di dalam sana, karena sudah pasti harganya sangat mahal.

"Ayo, Mas," ajak Arcila. Ia tidak mengajak Dafsa masuk ke rumah, melainkan pergi ke taman samping yang luasnya lagi-lagi bikin kepala geleng-geleng. Di sana masih sepi, cuma ada perempuan paruh baya seumuran ibunya Dafsa.

"Ma, aku bawa Mas Dafsa." Arcila memberikan isyarat agar Dafsa menggandeng tangannya. Lagi dan lagi, Dafsa nurut.

"Oh, gini rasanya gandeng tangan cewek," batin Dafsa ketawa getir.

Perempuan bernama Hani, yang bentuk bibir dan hidungnya sangat mirip dengan Arcila, seketika menoleh pada Dafsa. Pandangannya jatuh pada dua tangan yang saling bertaut. Saat itulah Dafsa ngerasa jantungnya mau copot.

"Jadi ini?" tanya Hani mendekat, mengulurkan tangan lebih dulu. Senyum tulus keibuannya sedikit meredakan rasa gugup.

"Selamat sore, Tante. Perkenalkan, saya Dafsa." Dafsa menyambut uluran tangan itu.

"Selamat sore juga, Nak Dafsa. Nama Tante Hani."

Perkenalan itu terbilang singkat, tapi sangat berkesan untuk Hani. "Papa!" panggilnya sedikit berteriak.

Tak lama seorang lelaki paruh baya muncul dari dalam rumah. Ada sedikit uban tumbuh di rambutnya, tapi perawakannya masih sangat gagah. Dafsa gugup lagi. Tapi yang bikin dia nggak nyangka, Rama langsung nepuk-nepuk bahunya.

"Ini dia yang kita tunggu-tunggu selama ini!" sambut Rama kegirangan. Melihat putrinya membawa seorang lelaki muda, tampan, gagah, dan berwibawa, jelas membuat Rama senang bukan main. Selera Arcila emang nggak pernah salah.

"Kamu ASN, ya?"

"Betul, Om, saya bertugas di kecamatan."

"Sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial?" tebak Rama dengan senyum lebar. Waktu Dafsa ngangguk, Rama kelihatan bangga. "Tugas kamu mulia sekali. Ayo kita duduk sebentar, Om mau bertanya banyak."

Dafsa noleh ke arah Arcila yang juga ngekor di belakang. Tangannya terulur, nggak ada maksud buat gandeng tangan Arcila, tapi cewek di belakangnya ini kelewat peka. Tangan mereka bertaut lagi.

Rama memperhatikan. Ada senyum tipis di bibirnya. Pikir Rama, sepasang kekasih emang selalu mau deketan, termasuk saat mereka duduk di gazebo. Baru kali ini Rama lihat Arcila duduk rapat di sebelah cowok.

"Awalnya Om pikir Arcila bohongan soal dia yang katanya udah punya pacar."

"Alhamdulillah betulan, Om," balas Dafsa. "Tapi hubungan kami baru berjalan."

"Kedatangan kamu ke sini bikin kami lega. Karena sepanjang hidupnya, Arcila nggak pernah pacaran." Hani melirik putri semata wayangnya. Arcila membuang napas pendek, sadar kalau dia akan jadi bahan pembicaraan.

"Lho, bukannya pernah, Tante? Waktu SMA?" tanya Dafsa inget sesi interview di Kios Makcomblang Dafsa, waktu pertama kali dia sama Arcila ketemu.

"Ah, kata siapa? Dari lahir, Arcila nggak pernah deket sama siapa-siapa. Terakhir putus, ya sama tali pusarnya waktu bayi," celetuk Hani sambil ketawa geli.

Oh, Dafsa dapetin lagi hal baru dari Arcila. Ternyata perempuan itu jomlo dari lahir. Dia pengennya ketawa, kalau Arcila nggak melotot diam-diam ke arahnya.

"Eh, Tania!" teriak Arcila, memanggil sepupu jauhnya yang baru saja tiba. Untuk pertama kalinya, dia senang nyambut Tania yang sebenarnya sangat-sangat menyebalkan. Arcila sampai turun dari gazebo, menarik Tania yang terheran-heran.

"Kenapa deh, tumben ramah banget?" Tania bertanya dengan raut curiga. Tapi ia tidak akan memperdulikan Arcila, karena sekarang harus bersalaman dengan Rama dan Hani. Namun, saat mau mengulurkan tangan, Tania salah fokus sama laki-laki berseragam coklat di samping Rama.

"Lho, Mas Biro? Ada di sini juga?!" Tania kelihatan bersemangat. Dia sampai tepuk tangan melihat keberadaan Dafsa.

Arcila dan Dafsa saling pandang. Kenalnya Tania sama Dafsa beneran nggak terduga. Pasangan gadungan itu makin ketar-ketir, waktu keluarga besar yang lain mendekat ke gazebo.

1
yuma
ngakak bangettt anjirr, lgian cuci motor cma pke kolorrr mna wrna kuning🤣🤣
yuma
udahlah daf, klau itu udh jd keputusan arcila. toh gak ada ruginya bagi km
Wulandaey
aihh cila walaupun kesel masi belain kang mas dafsa
Wulandaey
yeu andra suka ikut campur deh🤣 dah nyingkir lah cila sukanya ama mas dafsaa
Nurani Putri
mungkin ini alasan dy di cerai sma istri nya trdahulu kali ya rempong
Nurani Putri
ayoo daf tinggal blg maaf susah btul
ainnuriyati
hahahaa maluu nya sampe ke kolor kolor tu🤣
ainnuriyati
cila bgitu jg krn kepepet daf aslinya ma bener itu
brilliani
ah, tipe cowo rempongg ama sok ngatur ya
brilliani
🤣🤣 dafsa mulai jilat ludah sendiri
Hardy Greez
dicariin cilaa 🤭 papa mertua jg nanyanya ke dafsa yaa
yuma
kasian udah pedeee bgtt🤣🤣
yuma
akhirnya ada hilal cemburu wkwkw
yuma
awass nyesel dafsa🤭
yuma
njrr trnyta udh di jodohin dri orokkkk, cma bda nasib aja
yuma
njrrr smpe di kirain teronggg, aduhhh pusing jga dgn arcilaaa
Caramel
tapii dafsa udh mulai pedulii Ihkk, kecarian jga dia gaada arcila
Caramel
gak espekk bgtt dudanya msh muda, tapi gacor bgtt udh pnya anak 5
Caramel
hmmm yukkk dafsa buka hati, Terima aja cegil itu
Caramel
gak bisa berkata-kata lgi dengan kelakuan gila arcila😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!