"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan tersebut, suasana menjadi tegang. Meskipun Seana berdiri tegak dan bersikap penuh hormat, jantungnya terasa seperti sedang berdebar kencang.
Tatapan berbahaya Sanzio tertuju pada wajah was-was Seana. "Apa maksud kamu dengan 'mungkin'?." Tanya pria itu.
Seana menggigit bibir bawahnya, semua terasa sudah berakhir baginya. Sanzio membenci jawaban yang penuh dengan ketidakpastian.
Seana menundukkan kepalanya. "Setelah kemarin malam saya mengantar bapak kembali ke kamar, tidak ada orang lain yang masuk," jawabnya dengan nada lirih sembari menggenggam tangannya dengan erat. Seana memastikan suaranya terdengar sangat yakin dan tidak menyisakan ruang untuk keraguan Sanzio.
Keheningan kembali menyelimuti selama beberapa saat. Seakan Sanzio sedang mencoba mengingat-ngingat yang sebenarnya terjadi. Sementara Seana tak kuasa menahan diri untuk tidak meratapi betapa lamanya setiap detik yang berlalu bersama atasannya yang menakutkan. Meskipun begitu, Seana harus bertahan. Jika sampai Sanzio mengetahui bahwa ia berbohong, bukan hanya masa depannya sendiri yang hancur, tetapi Velia-- sahabatnya juga akan ikut terseret ke dalam masalah ini.
Seana sudah merasa nyaman tinggal dikota ini. Jika keadaan tidak berjalan baik baginya disini, hidupnya selamanya sudah pasti akan sengsara, mengingat betapa berkuasanya atasannya itu.
Keringat membasahi punggung Seana seiring berjalannya waktu. Hingga tiba-tiba Sanzio buka suara. "Baiklah, saya mengerti."
Seana memejamkan matanya dan menarik napasnya dalam-dalam. "Apa ini artinya aku terbebas dari masalah?" Pikirnya dalam hati.
"Dapatkan proposal penawaran dari PT. Cahaya untuk saya," perintah Sanzio selanjutnya.
Mendapati atasannya kembali fokus pada pekerjaannya, membuat perasaan Seana menjadi lebih tenang. Wanita muda itu tersenyum dan mengangguk penuh semangat. "Baik, Pak. Akan saya kerjakan."
Setelah pulang dari perjalanan bisnis dihotel itu dan setelah kejadian menegangkan yang pernah Seana alami saat itu, ia sengaja menghindari kontak dekat dengan Sanzio. Mereka kembali bekerja di kantor kota Bredwood setelah menghabiskan waktu sebulan bekerja di luar negeri.
Biasanya mereka akan mengambil liburan dua hari setelah melakukan perjalanan bisnis yang panjang, tetapi kali ini, Sanzio harus menghadiri rapat yang mendesak di perusahan.
Setelah rapat selesai, Mike menghampiri Sanzio. "Pak," sapanya dengan sopan.
Dan saat melihat Mike, Sanzio secara refleks mengernyitkan dahinya. "Dimana Seana, kalian selalu bekerja bersama, kan?."
"Mungkin bapak lupa, Seana selalu mengambil cuti untuk beberapa hari setelah pulang dari perjalanan bisnis yang panjang. Kemarin dia sudah mengikuti bapak selama sebulan, jadi mungkin hari ini dia mau menemui pacarnya." jawab Mike.
Raut wajah tak suka dan dingin sesaat terpancar dari Sanzio, tetapi dia dengan cepat kembali terlihat tenang. Sementara Mike bisa merasakan ketegangan yang aneh dan merasa agak bingung.
...
Di apartemen milik perusahan, Velia mendekatkan wajahnya ke te telinga Seana. "Kemarin setelah lo bilang gitu, apa Pak Zio ngelakuin sesuatu sama lo?."
Seana terkejut ketika Velia tiba-tiba membahas hal itu. Insiden dari beberapa hari yang lalu, Seana dengan cepat melirik kearah pintu dan dua ruangan lain yang terlihat tertutup.
"Ck, lo ngga perlu khawatir. Semua karyawan udah berangkat kerja. Kita di sini, mungkin cuma berdua selain staf apartemen," kata Velia.
Seana kemudian menghela napas lega. Ia ingat nyaris gagal menipu Sanzio hari itu. Meskipun sudah beberapa hari yang lalu, ia tetap merasa jantungnya berdebar kencang karena takut ketika Velia kembali mengingatkan apa yang pernah di laluinya.
Mengingat ekspresi tajam yang ditunjukkan Sanzio dihari itu, Seana berpikir, "Mungkin Pak Zio berharap dia ngga tidur sama cewek mana pun malam itu."
Mungkin pertanyaan-pertanyaan lanjutan itu hanya agar Sanzio bisa memastikan. Dan kemungkinan besar dia tidak peduli dengan masalah itu. Dengan pemikiran seperti itu, ketegangan Seana akhirnya mereda.
Velia mengangguk. "Kalau kayak gini, gue semakin tau. Cewek mana pun yang berani coba-coba deketin Pak Zio selama bertahun-tahun yang lalu, hidupnya sekarang pasti benar-benar sengsara banget. Lo aja yang cuma tidur satu malam sama dia, di bikin kena mental sampe berhari-hari,"
"Ah, udahlah. Jangan bahas itu lagi. Aku harus pergi ambil hp dan tf ke Rico." Seana tidak ingin memikirkan apa yang telah terjadi.
Begitu mendengar itu, Velia langsung merasa kasihan padanya. "Bukannya adik lo udah kerja magang? Masa iya dia masih minta uang jajan dari lo?,"
Seana sudah beranjak dan mengambil tasnya, lalu kembali duduk sembari mengenakan sepatunya. "Katanya belum nemu pekerjaan yang cocok. Kemarin sebelum hp aku bawa ke tempat servis, dia sempet telfon aku beberapa kali, setelah keluar dari pesawat aku angkat dan katanya mau minta uang," kata Seana menjelaskan.
Ayah Seana meninggal dunia ketika Seana masih berusia enam tahun. Dia anak kedua dari tiga bersaudara, memiliki seorang kakak perempuan dan seorang adik laki-laki.
Kakak perempuannya sudah menikah dan sudah mendirikan bisnisnya sendiri. Sementara itu adik laki-lakinya sedang menjadi semester magang di perguruan tinggi dan tinggal setengah tahun lagi sebelum lulus. Setelah dia lulus, Seana dan Kakaknha akhirnya bisa merasa tenang.
Ketika Velia mengetahui bahwa adik Seana telah menganggu Seana dengan terus menghubunginya, Velia terlihat kesal. "Jujur nih ya, menurut gue nyokap lo itu terlalu manjain si Rico. Dia bahkan ngga bantu lo bayar uang sekolah pas lo juga masih sekolah. Rico udah tiga bulan jalanin semester magang, tapi dia belum dapat pekerjaan juga? Apa mungkin dia bercita-cita lebih tinggi dari pada yang mampu dia capai?"
Setiap kali ibunya dibicarakan, tatapan dingin terpancar dimata Seana. Dia tidak ingin membicarakan wanita tua itu lagi. Enggan menjawab perkataan Velia, Seana menoleh kearah Velia. "Kamu mau ikut aku ke tukang ke servis nggak?,"
"Ngga deh, tapi nanti bawain makanan ya," jawab Velia.
Seana mengangguk setuju. "Oke." Setelah itu, Seana berjalan keluar dari apartemennya.
...
"Bang, gimana hp saya udah dibenerin belum?," tanya Seana begitu sampai di tempat servis.
Kemarin, setelah turun dari taksi online, hp-nya tidak sengaja jatuh dan layarnya retak, meskipun itu bukan masalah yang besar, tetapi Seana merasa terganggu dengan retakan dilayar ponselnya.
"Udah selesai di benerin nih, mbak. Dari kemarin malahan, tapi mbak Seana-nya malah buru-buru pulang. Ada banyak panggilan tak terjawab loh, mbak." Kata tukang servis itu memberitahu, sembari membuka laci untuk mengambil ponsel Seana.
Seana hanya tersenyum, ia sudah menduga hal itu. Makanya kemarin dengan sengaja, Seana membiarkan ponselnya menginap di tempat servis, itu karena Seana begitu lelah bekerja dan tidak ingin adeknya mengganggu waktu istirahatnya.
"Ini, Mbak"
"Jadinya berapa ya, Bang?."
"Lima puluh ribu aja, mbak."
"Oke, ini uangnya, bang."
Tak lama, setelah ponsel ada ditangan Seana, benda pipih itu kembali bergetar. Wanita itu muda itu dengan terpaksa memeriksanya dan benar, itu panggilan telepon dari adiknya. Seana menolak panggilan itu, merasa kesal.
Tetapi begitu Seana menolak panggilan itu, ponselnya berdering lagi.
Tak punya pilihan, Seana terpaksa menjawab dan langsung membentak adiknya. "Kok bisa ya, kamu punya banyak waktu buat gangguin Kakak? Kalau kamu punya banyak waktu luang, seharusnya kamu pergi ke tempat wawancara atau cari brosur atau info lowongan pekerjaan! Jangan malah gangguin kakak terus-terusan kayak gini."