Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Mata mereka masih bersitatap dengan intens. Emily yang pertama kali memutuskan tatapannya pada Jeon. Mereka tidak sengaja bertemu di resto saat jam makan siang.Gadis itu hanya mengaduk spaghetti kesukaannya. Selera makannya pergi entah kemana, hatinya begitu sakit saat melihat kebersamaan Jeon dengan anak dan istrinya. Sedangkan dia makan sendirian dengan rasa sepi yang memuncak.
Sedangkan di sebrang sana Jeon masih menatapnya dengan canggung. Ada rasa sesak di dada saat dia melihat raut kecewa di wajah kekasihnya. Tidak ini bukan keinginan nya untuk makan bersama Nami dan putranya. Dia hanya ingin mengganti rasa bersalahnya pada Namira. Jeon tak menyangka akan bertemu gadis yang begitu dia rindukan tapi dengan suasana menyesakkan.
Emily segera bangkit dari duduknya untuk secepatnya keluar dari ruangan yang membuatnya ingin menangis. Jeon yang masih mencuri pandang padanya melihat gadis itu sudah berjalan keluar dengan langkah cepat.
Jeon berpamitan pada Namira berbohong untuk menerima panggilan dari kolega. Nami mengangguk dengan cepat karena dia tau Jeon sangat sibuk. Langkah pria itu begitu lebar supaya tidak kehilangan sosok pujaan hatinya.
"Sayang..tunggu"bisiknya saat langkah mereka sudah sejajar.
Emily terkejut saat melihat Jeon berjalan di sampingnya. Dia tidak menyadari pria itu mengejar dirinya karena berbagai pikiran buruknya.
"Tak usah mengejarku brengsek,aku tak butuh pria sepertimu"
Jeon sedikit terkejut dan tanpa sadar menggenggam tangan Emily.
"Ikut..kita ke mobilku"
Emily tidak bisa melawan karena genggaman pria itu sangat kuat.Jeon tidak perduli dengan tatapan dari orang lain, sungguh hatinya terasa nyeri saat Emily mengatakan tak butuh dia lagi. Apa-apaan pikirnya.
Jeon membuka pintu mobilnya dengan kasar. Sedikit mendorong Emily untuk segera masuk kedalam. Emily hanya mendengus tanpa mengatakan apapun.
Pria itu segera memutari mobil dan masuk ke mobilnya dengan cepat. Dia memutar anak kunci dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Emily tau pria itu sangat emosi, terlihat sekali dari kedua tangannya yang mencengkram kemudi dengan erat.
"Turunkan aku.. cepat "ucap Emily kesal.
"Diam..aku mohon diamlah sayang"
"Sayang... hahahaha,siapa yang kamu panggil sayang..?mabuk,...?" ujarnya kelewat kesal.
Jeon hanya melirik sekilas gadis pujaan hatinya. Dia tau tak mudah untuk meluluhkan hati Emily, sebelah tangannya mencoba untuk mengambil tangan Emily yang berada di atas paha. Gadis itu menepis tangan Jeon dengan kasar.
Setelah hampir tiga puluh menit berkendara akhirnya mereka sampai di rumah yang Jeon beli untuk Emily. Deringan ponsel tak berhenti terdengar di saku celana milik Jeon.
"Terimakasih sudah mengantarku"ucap Emily ingin segera keluar dari mobil. Dia memutar bola matanya malas, ternyata pintu mobil masih terkunci dan sang empu seperti tidak akan segera membuka kuncinya.
Jeon hanya menatap wajah kekasihnya, matanya memerah menahan amarahnya. Deringan ponsel kembali terdengar, karena kesal Jeon melemparkan ponsel itu ke kursi belakang setelah mematikan daya.
"Buka pintunya...aku tidak ingin mendengar apapun"
Jeon meraih kedua tangan Emily setelah membuka seatbelt dengan satu tangannya. Emily menepis berkali-kali tapi Jeon begitu gigih menarik tangan berjari lentik itu.
"Sayang... kumohon jangan begini "ujarnya menghiba.
"Aku sangat merindukanmu, rasanya seperti akan mati. Aku tidak bisa pulang karena menginap dirumah besar Jeon"ujarnya lagi.
Emily memalingkan wajahnya,air mata menetes di kedua pipinya. Jeon melihat pemandangan itu ingin segera memeluk tubuh mungil Emily. Dengan cepat Jeon membuka pintu dan sedikit berlari untuk membawa Emily keluar.
Emily tak bisa melawan karena sungguh dia juga sangat merindukan kekasihnya. Pria itu mendekap Emily dengan kencang sampai Emily menepuk punggungnya.
"Aku sesak"ujarnya masih kesal.
Jeon menggiring Emily untuk masuk kedalam rumah mewah mereka. Dia sungguh sudah tak tahan ingin menciumi seluruh wajah gadis itu.
Mereka berciuman setelah pintu tertutup,tangan Jeon menangkup wajah kekasihnya. Mereka bercumbu menyalurkan kerinduan yang mendalam. Jeon menggigit kecil bibir bawah Emily, hingga mulut gadis itu terbuka. Jeon segera melesakkan lidahnya dan mengabsen seluruh gigi Emily.
"Ehmmm..."erang Emily.
Jeon menyudahi ciuman panas mereka karena Emily sudah terengah kehabisan oksigen. Pria itu menempelkan dahi mereka sembari memeluk erat tubuh Emily.
"Aku bisa gila sayang...aku bisa gila ketika mendengar kamu tidak membutuhkan aku lagi"
Jeon menggendong koala tubuh Emily. Gadis itu melingkarkan kedua kakinya dengan erat sembari mengalungkan tangannya ke leher kekasihnya.
Mereka berdua memasuki kamar dan berakhir dengan desahan dan lenguhan Emily yang terdengar di setiap penjuru kamar megah istana mereka.
Peluh membasahi keduanya, entah berapa lama mereka saling memadu kasih. Jeon membelai wajah Emily sembari tersenyum karena gadis itu masih bersamanya. Emily membuka matanya,mata coklatnya menatap mata hitam milik pria Jeon.
"Aku membencimu"ucapnya memalingkan wajah.
"Aku juga mencintaimu sayang.."sahut Jeon Respati.
Emily mendengus kesal, dia bingung harus kesal pada siapa. Pada pria Jeon yang selalu menyudahi pertengkaran mereka dengan bercinta atau pada dirinya yang mau saja di sentuh pria sialan itu.
"Mau mendengar penjelasanku?" tanya Jeon sembari mengelus rambut panjang milik Emily. Gadis itu diam tak menjawab,Pria berhidung mancung itu tersenyum sambil menarik tubuh Emily merapatkan pelukannya.
"Aku sungguh merindukanmu sayang...Selama seminggu ini aku ingin pulang dan menghabiskan waktu dengan kekasih cantikku ini tapi aku tidak bisa karena kami sedang berada di rumah besar Jeon. Pergerakan ku terbatas, sungguh ini bukan sekedar alasan saja"ucapnya panjang lebar.
"Kamu tidak lupa pakai pengaman saat bersama istrimu?"
Jeon Respati tertawa terbahak, dia menciumi punggung mulus Emily. Tangan Emily menyikut kekasihnya yang berada di belakang tubuhnya.
"Apa...aku tidak mau mendengar perempuan itu hamil kembali dan semakin membuatmu jauh dariku"
"Aku tidak menyentuhnya sama sekali"
Emily membalikkan tubuhnya dengan cepat. Satu tangannya menyangga kepala menghadap Jeon.
"Sungguh..."
"Iya sayangg...aku ga bohong, aku ga merasakan apapun saat bersamanya"
Tangan Emily kembali menelusuri perut berotot Jeon. Pria itu tersenyum sambil mengusap punggung Emily. Dia tau kemarahan gadis itu pasti sudah menghilang karena sedari tadi saat mereka bercinta hanya Jeon yang berinisiatif untuk melakukan segalanya.
"Kamu janji tidak akan menyentuhnya kan,janji sampai kapanpun tak akan menyentuh istrimu"
"Iya sayangg iyaaa.. aku janji hanya kamu perempuan yang akan ku masuki adikku ini"ucapnya sembari membawa tangan Emily untuk mengelus kejantanannya.
"Tapi berjanjilah untuk tidak mengatakan sesuatu yang membuatku terasa ingin mati"ucapnya lagi.
Emily tidak menjawab ucapan pria itu karena sekarang dia sibuk melahap kejantanan Jeon dengan tempo cepat.
"ehmmm...iya begitu sayang...ohhh"Jeon sangat menyukai hangatnya mulut Emily. Geramannya semakin terdengar saat Emily sengaja menggigit pelan ujung kejantanan nya.
"Sayang kamu yang terbaik..."