Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Hari yang Mengubah Sesuatu
Kamar rawat inap di lantai tujuh rumah sakit itu terasa sunyi pada pagi hari. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar yang menghadap ke arah kota, menyinari ruangan putih yang dipenuhi aroma antiseptik lembut. Mesin monitor di samping tempat tidur Alya mengeluarkan bunyi ritmis yang stabil, menandakan kondisi tubuhnya perlahan kembali normal setelah reaksi alergi hebat semalam.
Selang oksigen masih terpasang di hidungnya, sementara infus menetes pelan melalui pembuluh darah di tangannya. Wajahnya tampak pucat, tetapi garis tegang di dahinya sudah jauh berkurang dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Di kursi samping tempat tidur, Adrian duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan, kedua tangannya bertumpu di lutut sambil memperhatikan Alya yang masih tertidur.
Ia tidak pulang malam itu.
Bahkan ketika dokter mengatakan bahwa kondisi Alya sudah stabil, Adrian tetap memilih tinggal di rumah sakit. Jasnya masih sama seperti semalam, hanya kemejanya yang sedikit kusut karena sempat digunakan sebagai bantal ketika ia tertidur sebentar di kursi tunggu.
Namun setiap kali Alya bergerak sedikit di tempat tidur, matanya langsung terbuka, seolah tubuhnya sudah terbiasa siaga tanpa ia sadari.
Sekitar pukul sembilan pagi, pintu kamar terbuka pelan dan seorang dokter wanita masuk sambil membawa tablet medis. Ia memeriksa grafik monitor lalu melirik Adrian yang masih duduk di tempat yang sama sejak malam.
“Direktur Mahendra,” katanya ramah. “Anda belum pulang?”
Adrian menggeleng kecil. “Bagaimana kondisinya?”
Dokter itu memeriksa hasil pemeriksaan darah di layar tablet sebelum menjawab dengan tenang. “Reaksi alerginya cukup berat. Untung Anda membawanya ke rumah sakit dengan sangat cepat, kalau terlambat sedikit saja pembengkakan di tenggorokannya bisa menutup saluran napas sepenuhnya.”
Adrian mengangguk perlahan, tetapi rahangnya terlihat sedikit menegang ketika ia mengingat kejadian di restoran tadi malam. Dokter itu lalu menjelaskan lebih lanjut sambil menunjuk beberapa catatan medis.
“Alya memiliki riwayat alergi anafilaksis yang cukup sensitif, terutama terhadap protein tertentu dalam seafood. Dari pemeriksaan awal kami, kemungkinan besar makanan yang ia makan tadi mengandung ekstrak kerang atau udang fermentasi yang cukup pekat.”
Adrian mengingat kembali hidangan kecil yang diberikan Daniel malam itu. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi matanya terlihat lebih gelap beberapa detik.
Dokter melanjutkan dengan nada profesional. “Selain itu, golongan darahnya juga berperan. Alya memiliki golongan darah B positif, yang dalam beberapa kasus memang memiliki kecenderungan sistem imun lebih reaktif terhadap protein laut tertentu, terutama kerang, udang, dan beberapa jenis rumput laut yang difermentasi.”
Adrian mengangkat pandangan. “Jadi dia tidak boleh makan seafood?”
“Tidak semuanya,” jawab dokter. “Ikan tertentu masih aman, tetapi makanan seperti kerang, udang, kepiting, lobster, dan produk yang mengandung ekstrak seafood harus dihindari. Bahkan kontak kulit dengan bahan mentahnya bisa memicu reaksi ringan pada beberapa orang.”
Adrian mengangguk pelan sambil menyerap informasi itu dengan serius.
“Selain itu,” lanjut dokter lagi, “Alya juga sebaiknya menghindari makanan dengan kadar histamin tinggi seperti saus fermentasi, beberapa jenis keju tua, dan makanan laut yang tidak segar. Reaksi alerginya bisa berkembang sangat cepat seperti yang Anda lihat semalam.”
Ia menutup tablet lalu tersenyum tipis. “Untuk berjaga-jaga kami akan menahan Alya di rumah sakit selama dua hari.”
Adrian menatap gadis yang masih tertidur itu sebelum menjawab singkat, “Baik.”
Beberapa jam kemudian Alya akhirnya terbangun dengan kesadaran penuh. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan yang terang. Tenggorokannya masih terasa sedikit kering, tetapi rasa sesak yang menakutkan semalam sudah hilang.
Hal pertama yang ia lihat adalah Adrian yang duduk di kursi sambil membaca dokumen di tablet.
“Direktur Es Batu…”
Suara Alya masih sedikit serak, tetapi cukup membuat Adrian langsung menoleh. Wajahnya yang biasanya tenang terlihat sedikit lebih hidup ketika melihat Alya benar-benar sadar.
“Kamu bangun.”
Alya mengerjap lagi sambil melihat ruangan sekelilingnya. “Alya masih hidup?”
Adrian menghela napas pelan, seperti baru saja menahan sesuatu sejak lama. “Kalau kamu masih bisa bercanda, berarti kondisimu sudah jauh lebih baik.”
Alya menelan ludah lalu memegang tenggorokannya dengan hati-hati. “Serius, tadi rasanya seperti ada batu besar nyangkut di sini. Alya pikir napas Alya bakal berhenti.”
Adrian menatapnya beberapa detik sebelum berkata dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya.
“Makanya lain kali jangan sembarang makan sesuatu tanpa memastikan dulu.”
Alya memutar mata lemah. “Ya mana Alya tahu kalau makanan itu punya niat jahat.”
Beberapa jam kemudian Daniel datang dengan wajah yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Ia membawa sekeranjang buah dan bunga yang terlihat terlalu banyak untuk satu orang pasien.
Begitu melihat Alya sudah sadar, ia langsung berdiri tegak di dekat tempat tidur.
“Miss Alya, saya benar-benar minta maaf.”
Nada suaranya tulus dan penuh rasa bersalah. Alya bahkan sempat terkejut melihat pria yang biasanya terlihat sangat percaya diri itu kini seperti murid yang sedang dimarahi guru.
“Saya tidak tahu kalau Anda memiliki alergi seperti itu,” lanjut Daniel lagi. “Kalau saya tahu, saya tidak akan pernah menyuruh Anda mencobanya.”
Alya memandangnya beberapa detik sebelum tertawa kecil meskipun suaranya masih lemah.
“Pak Daniel, Alya masih hidup. Jadi santai saja.”
Namun Daniel tetap menggeleng dengan serius.
“Tetap saja ini kesalahan saya. Direktur Mahendra bahkan tidak pulang semalaman karena menunggu di sini.”
Alya langsung menoleh ke arah Adrian.
“Kamu tidak pulang?”
Adrian menjawab santai, “Tidak.”
“Astaga, kamu benar-benar serius menungguin Alya?”
Adrian hanya mengangkat bahu ringan seolah itu hal biasa.
Hari itu juga kedua keluarga akhirnya datang menjenguk. Ayah dan Bunda Alya masuk terlebih dahulu dengan wajah yang jelas menunjukkan kekhawatiran besar. Lestari bahkan langsung memeluk putrinya begitu melihatnya sudah duduk di tempat tidur.
“Ya Tuhan, Alya! Bunda hampir pingsan waktu Adrian menelepon semalam.”
Alya mengusap punggung ibunya dengan canggung. “Bunda, Alya cuma alergi sedikit.”
“Sedikit?” Bima yang berdiri di samping tempat tidur langsung mengangkat alis tinggi. “Kamu sampai masuk ICU hampir satu jam.”
Alya langsung meringis kecil.
Beberapa menit kemudian Mama dan Papa Adrian juga datang. Mama Adrian berjalan mendekati tempat tidur dengan ekspresi lembut lalu memegang tangan Alya dengan penuh perhatian.
“Syukurlah kamu sudah sadar.”
Alya tersenyum kecil. “Maaf bikin semua orang panik.”
Papa Adrian menghela napas panjang sebelum berkata dengan nada serius, “Mulai sekarang semua orang harus tahu soal alergimu.”
Ruangan itu menjadi sedikit ramai oleh percakapan keluarga yang saling memastikan kondisi Alya. Namun di tengah semua itu, Alya beberapa kali menangkap Adrian berdiri sedikit menjauh sambil memperhatikan semuanya dengan tenang.
Tatapannya tidak lagi dingin seperti biasanya.
Ada sesuatu yang lain di sana.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Alya mulai menyadari satu hal kecil yang membuat dadanya terasa sedikit aneh.
Direktur Es Batu itu ternyata tidak sedingin yang ia kira.