Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Laci Kantor
Makan siang yang penuh tawa itu akhirnya berakhir saat Widya dan Tante Sarah berpamitan untuk mengunjungi kerabat lain di Jakarta. Ruang CEO yang luas itu mendadak terasa jauh lebih sunyi setelah pintu tertutup rapat. Aroma masakan rumah perlahan memudar, digantikan kembali oleh wangi ruangan yang steril dan profesional.
Nara masih berdiri di dekat meja rapat, membantu merapikan sisa rantang yang akan dibawa pulang nanti sore. Arga sudah kembali ke kursi kebesarannya, namun ia tidak langsung membuka laptop. Ia hanya duduk bersandar, memperhatikan gerakan Nara dalam diam.
"Nara," panggil Arga pelan.
Nara menoleh, sedikit terkejut karena kini hanya ada mereka berdua, namun Arga tetap memanggil namanya tanpa gelar. "Ya?"
"Terima kasih sudah ikut bersandiwara dengan baik tadi," Arga memajukan tubuhnya, jemarinya bertaut di atas meja. "Ibu terlihat sangat bahagia. Itu... berarti banyak bagi saya."
Nara tersenyum tipis, kali ini senyumnya terasa lebih tulus. "Nggak apa-apa, Arga. Ibu memang sosok yang menyenangkan. Rasanya nggak sulit untuk pura-pura bahagia di depan beliau."
"Pura-pura?" Arga mengulang kata itu dengan nada yang sedikit aneh, namun ia segera mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, ada sesuatu yang harus kamu lihat. Ini berhubungan dengan detail interior untuk ruang istirahat pribadi saya di belakang kantor ini."
Arga berdiri, berjalan menuju meja kerjanya yang besar. Ia membuka laci paling atas, laci yang biasanya selalu terkunci rapat dan hanya boleh disentuh olehnya sendiri. Ia mencari sesuatu di dalam sana, namun saat ia menarik sebuah map, sebuah benda lain ikut terseret dan jatuh ke lantai, tepat di depan kaki Nara yang kebetulan mendekat.
Nara membungkuk untuk mengambilnya. Benda itu adalah sebuah bingkai foto kecil yang posisinya tertelungkup.
"Jangan—" Arga hendak mencegah, namun terlambat.
Nara sudah membalikkan bingkai itu. Matanya membulat saat melihat isinya. Itu bukan foto keluarga, bukan pula foto Arga saat wisuda. Itu adalah sebuah sketsa tangan yang sangat familiar. Sketsa sebuah taman dengan gazebo kayu dan lampu-lampu gantung yang hangat—desain pertama yang pernah Nara ajukan pada Arga bulan lalu, desain yang saat itu ditolak mentah-mentah oleh Arga karena dianggap "terlalu sentimental dan tidak efisien".
Di sudut sketsa itu, ada catatan kecil dengan tulisan tangan Arga yang rapi namun tajam: "Menarik. Tapi belum saatnya."
Nara menatap sketsa itu, lalu beralih menatap Arga yang kini tampak sangat salah tingkah. Wajah pria yang biasanya datar itu kini dihiasi rona merah tipis di sekitar telinganya.
"Kamu... kamu menyimpan ini?" suara Nara terdengar tidak percaya. "Katanya ini desain yang buruk? Katanya ini tidak masuk akal untuk kantormu?"
Arga berdeham, mencoba merebut kembali bingkai itu dari tangan Nara, namun Nara menjauhkannya. "Saya hanya... menyimpannya sebagai referensi kegagalan," jawab Arga, meskipun alasannya terdengar sangat lemah bahkan di telinganya sendiri.
"Referensi kegagalan nggak ditaruh di bingkai dan disimpan di laci pribadi, Arga," Nara tertawa kecil, sebuah tawa yang hangat dan sedikit menggoda. "Kamu menyukainya, kan? Kamu menyukai sentuhan hangat yang aku tawarkan sejak awal."
Arga terdiam, tak bisa lagi bersembunyi di balik topeng profesionalitasnya. Di dalam laci kantor itu, tersimpan sebuah rahasia kecil yang membuktikan bahwa dinding es di hati Arga sebenarnya sudah mulai retak jauh sebelum sandiwara ini dimulai.
"Mungkin," jawab Arga akhirnya, suaranya sangat rendah. Ia menatap Nara dengan intensitas yang membuat tawa Nara perlahan mereda. "Mungkin karena sejak awal, desain itu mengingatkan saya pada sesuatu yang sudah lama saya lupakan."
"Apa itu?" bisik Nara.
"Perasaan memiliki sebuah rumah," jawab Arga jujur.
Suasana di ruangan itu mendadak berubah. Rahasia di laci kantor itu telah membuka pintu yang selama ini dikunci rapat oleh Arga. Di satu sisi ada kontrak dan logika, namun di sisi lain—di dalam laci itu—ada pengakuan yang tak terucap bahwa kehadiran Nara telah mulai mengubah dunia Arga, satu sketsa pada satu waktu.
---
Nara masih terpaku menatap sketsa tersebut. Detail arsiran tangannya sendiri yang dulu ia buat dengan penuh keraguan, kini tampak begitu berharga di bawah pencahayaan ruang kerja Arga. Ia tidak menyangka bahwa di balik sikap dingin dan penolakan Arga yang tajam, pria itu justru memberikan tempat istimewa bagi idenya di laci yang paling privasi.
"Kenapa diletakkan di bingkai, Arga?" tanya Nara lagi, suaranya kini lebih lembut. "Kalau ini referensi kegagalan, harusnya sudah ada di mesin penghancur kertas."
Arga menghela napas panjang, menyadari bahwa tidak ada gunanya lagi bersilat lidah. Ia bersandar di tepi mejanya, menatap lantai sejenak sebelum kembali menatap Nara. "Kadang, sesuatu yang tidak masuk akal secara bisnis justru menjadi sesuatu yang paling ingin saya lihat di akhir hari yang melelahkan. Sketsa itu... memberikan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh angka-angka di laporan keuangan saya."
Nara merasa dadanya berdesir. Ia perlahan meletakkan bingkai itu kembali ke atas meja, namun tangannya tak sengaja menyentuh sebuah kotak kecil berbahan beludru biru tua yang terselip di balik tumpukan map dalam laci yang masih terbuka.
Arga secara refleks menutup laci itu, namun jari Nara sempat menahan pinggirannya. "Apa itu?"
"Bukan apa-apa. Hanya barang inventaris," jawab Arga cepat.
"Inventaris kantor nggak pakai kotak beludru, Arga," Nara menatapnya dengan curiga yang bercampur rasa penasaran. "Kamu menyimpan rahasia lain di sini?"
Arga tampak ragu sejenak. Ia melihat mata Nara yang jernih, lalu perlahan ia membuka kembali laci itu. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengambil kotak beludru tersebut dan membukanya di depan Nara.
Di dalamnya, terdapat sebuah cincin dengan desain yang sangat minimalis namun elegan, dengan satu permata kecil yang berkilau lembut.
Nara menahan napas. "Cincin? Untuk siapa?"
"Untukmu," jawab Arga singkat. "Ibu sempat bertanya kenapa kamu tidak memakai cincin pernikahan yang layak saat sarapan tadi pagi. Saya baru ingat kalau selama ini kita hanya menggunakan cincin properti yang sangat standar. Saya membelinya kemarin sore, sebelum kita pulang."
Nara menyentuh pinggiran kotak itu. "Kemarin sore? Saat kita masih berdebat soal revisi lobi?"
"Ya. Saat saya sedang marah karena ide-idemu yang terlalu personal, tapi di saat yang sama, saya sadar bahwa saya tidak ingin sandiwara ini gagal hanya karena detail kecil seperti cincin," Arga mengambil cincin itu dari kotaknya. "Dan saya ingin cincin ini setidaknya memiliki selera yang sama dengan desainmu. Minimalis, tapi hangat."
Arga meraih tangan kiri Nara. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan deru halus AC. Dengan gerakan perlahan, ia melingkarkan cincin itu di jari manis Nara. Ukurannya pas, seolah Arga sudah mengukurnya dengan presisi yang biasa ia gunakan untuk membangun gedung.
"Sekarang, tidak akan ada lagi pertanyaan dari Ibu atau siapa pun," gumam Arga, namun ia tidak segera melepaskan tangan Nara. Ia menatap cincin itu di jari manis Nara, lalu beralih menatap wajah perempuan di depannya.
Rahasia di laci kantor itu kini terungkap sepenuhnya. Bukan hanya soal sketsa lama, tapi soal bagaimana Arga mulai memikirkan kenyamanan Nara lebih dari sekadar mitra kontrak. Bau parfum Arga yang menenangkan kembali memenuhi indra penciuman Nara, dan kali ini, ia merasa cincin itu jauh lebih berat daripada bobot fisiknya—seolah ada janji tak terucap yang mulai mengikat mereka berdua di tengah ruangan yang kaku ini.
---
Nara menatap cincin itu, lalu kembali menatap Arga. Kilauan permata kecil di jarinya seolah mengejek logika yang selama ini ia agungkan. "Ini terlalu indah untuk sekadar 'detail teknis', Arga."
Arga tidak membantah. Ia masih memegang jemari Nara, merasakan kehalusan kulit yang kontras dengan telapak tangannya yang keras. "Anggap saja ini investasi untuk kredibilitas kita. Saya tidak suka melakukan sesuatu setengah-setengah."
"Investasi?" Nara tertawa getir, meski ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. "Kamu selalu punya istilah bisnis untuk setiap perasaan, ya?"
Arga melepaskan tangan Nara perlahan, seolah baru menyadari bahwa ia telah memegangnya terlalu lama. "Perasaan adalah variabel yang tidak stabil, Nara. Saya lebih suka menggunakan istilah yang bisa saya kendalikan."
Ia kembali ke balik mejanya, mencoba mendapatkan kembali ketenangannya yang sempat goyah. Namun, matanya tak bisa berhenti melirik ke arah laci yang kini sudah tertutup. Sketsa di dalam bingkai dan cincin di jari Nara adalah dua hal yang seharusnya tidak berada dalam satu ruangan dengan kontrak bisnis mereka.
"Pak Arga? Maaf, ini ada dokumen yang harus segera ditandatangani."
Suara ketukan pintu dan munculnya Bayu, asisten Arga, membuat Nara refleks menyembunyikan tangannya di balik punggung. Namun, Arga justru bersikap sebaliknya. Ia berdiri tegak, membiarkan Bayu masuk.
"Letakkan di sana, Bayu," ujar Arga dengan nada otoriter yang kembali pulih.
Bayu melangkah masuk, namun langkahnya terhenti sejenak saat matanya menangkap sesuatu yang berkilau di tangan Nara yang kini sedang merapikan beberapa kertas di meja rapat. Sebagai asisten yang teliti, Bayu tahu betul bahwa kemarin cincin itu tidak ada di sana.
"Ada lagi?" tanya Arga, menyadari arah pandang asistennya.
"Ah, tidak, Pak. Saya hanya... saya baru menyadari desain lobi yang Mbak Nara buat memang luar biasa. Sangat serasi dengan... konsep baru perusahaan," ujar Bayu dengan pilihan kata yang sangat hati-hati, sambil melirik sekilas ke arah cincin tersebut.
Nara hanya bisa tersenyum kaku, sementara Arga mengangguk singkat. Setelah Bayu keluar, Nara segera menoleh pada Arga. "Dia melihatnya. Pasti sebentar lagi seluruh kantor tahu."
"Memang itu tujuannya, bukan?" Arga mengambil pulpennya, bersiap kembali bekerja. "Semakin banyak orang yang percaya, semakin aman posisi kita di depan keluarga."
Nara terdiam. Ia menatap cincin itu sekali lagi. Arga mungkin menyebutnya investasi, Bayu mungkin melihatnya sebagai simbol keserasian, tapi bagi Nara, cincin ini terasa seperti tanda peringatan. Rahasia di laci kantor itu bukan hanya tentang barang-barang yang disimpan Arga, tapi tentang bagaimana pria ini perlahan-lahan menyusup ke dalam hidupnya, mengisi celah-celah yang bahkan tidak Nara sadari ada di sana.
"Aku harus kembali ke ruanganku," ujar Nara pelan.
"Nara," panggil Arga tepat saat Nara menyentuh handle pintu.
Nara menoleh.
"Jangan dilepas. Bahkan saat kamu sedang sendirian," ucap Arga tanpa menatapnya, fokus pada dokumen di depannya.
Nara tidak menjawab. Ia keluar dari ruangan itu dengan jantung yang berdebar kencang. Di koridor kantor yang dingin, ia merasa cincin itu seolah memancarkan panas. Rahasia itu kini bukan lagi milik laci Arga; rahasia itu kini melingkar di jarinya, dibawa ke mana pun ia pergi, menjadi pengingat bahwa di antara satu atap dan dua dunia mereka, kini ada sebuah ikatan yang tak lagi bisa disebut sekadar sandiwara.
---
Nara melangkah menyusuri koridor dengan langkah yang sengaja ia buat cepat. Ia merasa seolah-olah permata kecil di jarinya itu adalah sebuah lampu suar yang berkedip-kedip, menarik perhatian setiap pasang mata yang ia lewati. Di kepalanya, suara Arga terus menggema: Jangan dilepas.
Begitu ia sampai di ruang kerjanya, ia menemukan Rio sedang berdiri di depan papan *moodboard*, tampak sedang membandingkan beberapa sampel warna. Begitu pintu tertutup, Rio menoleh dan seketika pandangannya jatuh pada tangan kiri Nara yang sedang memegang gagang tas.
Keheningan di ruangan itu terasa sangat tajam.
"Mbak Nara," Rio memulai, suaranya tidak lagi seceria biasanya. Ada nada skeptis yang sangat kental. "Itu... barang baru ya?"
Nara berusaha tetap tenang. Ia meletakkan tasnya di atas meja, sengaja membiarkan cincin itu terlihat jelas daripada terus-menerus menyembunyikannya—karena ia tahu, semakin ia sembunyi, semakin Rio akan mengejar. "Arga membelikannya kemarin. Katanya yang lama terlalu sederhana."
"Arga?" Rio mengulangi nama itu dengan tawa hambar. "Wah, progresnya cepat sekali ya. Dari 'Pak CEO' jadi 'Arga', lalu sekarang ada cincin berlian di jari manis. Mbak, kita sudah kerja bareng dua tahun. Saya tahu Mbak Nara itu orang yang sangat menjunjung tinggi profesionalitas."
Rio melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Nara. "Apa ini masih bagian dari 'pelayanan vendor' untuk klien besar? Atau Mbak Nara benar-benar sudah terseret ke dalam dunianya?"
Nara merasakan tenggorokannya mengering. "Ini masalah pribadi, Rio. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kita."
"Masalahnya, Mbak, semua yang ada di laci kantor Pak Arga itu selalu punya tujuan bisnis," Rio menunjuk ke arah pintu ruangan CEO di lantai atas dengan dagunya. "Pria seperti dia tidak memberikan perhiasan hanya karena ingin romantis. Ada sesuatu yang dia inginkan dari Mbak, dan saya harap itu bukan sekadar desain interior."
Nara terdiam. Ucapan Rio barusan menyentil rahasia yang tadi ia temukan di laci Arga—sketsa yang disimpan dalam bingkai. Ia ingin membela Arga, ingin mengatakan bahwa pria itu punya sisi lembut yang tidak diketahui orang lain, namun ia sadar bahwa ia sendiri pun belum sepenuhnya yakin.
"Terima kasih atas kekhawatiranmu, Rio. Tapi aku tahu apa yang aku lakukan," jawab Nara tegas, meski hatinya bergetar.
Rio hanya mengedikkan bahu, lalu kembali ke sampel marmernya. "Oke. Tapi ingat satu hal, Mbak. Di kantor ini, rahasia di laci tidak pernah selamanya terkunci. Suatu saat, orang-orang akan tahu apakah itu cincin cinta atau cincin kontrak."
Nara tidak membalas. Ia duduk di kursinya, jemarinya mengusap permukaan dingin cincin itu. Ia teringat tatapan Arga saat memasangkan cincin ini—tatapan yang tidak terasa seperti seorang pebisnis yang sedang menghitung laba rugi.
Sore itu, Nara bekerja dalam diam, namun pikirannya terus melayang ke rahasia di laci kantor Arga. Ia menyadari bahwa rahasia terbesar bukanlah sketsa atau cincin itu, melainkan bagaimana Arga perlahan-lahan mulai memanggil namanya dengan nada yang membuat Nara lupa bahwa semua ini berawal dari sebuah kebohongan yang direncanakan dengan sangat rapi.
Di satu atap mereka mulai berbagi perasaan, dan di dalam laci itu, mereka mulai menyimpan harapan yang tidak berani mereka akui dengan kata-kata.