Indira berprofesi sebagai pengacara, ia dijuluki pendekar ulung karena selalu memenangkan kasus yang dia tangani. karena kesibukannya dia lupa akan statusnya sebagai kaum jomblo sejati hingga membuat mamanya turun tangan untuk mencarikannya jodoh. hingga akhirnya dia dijodohkan dengan anak temannya yang bernama Gibran (pemilik PT Murni alam) yang berstatus duda anak 3. setelah menikah Indira dihadapkan dengan konflik keluarga hingga akhirnya dia menemukan titik kebahagian nya dengan suaminya Gibran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daisy Puppy 1412, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengacara Indira, istri baru papaku
...Sesampainya di jalan Juwangi dia berhenti di tepi jalan dekat jembatan layang yang di bawahnya ada sungai, “dari informasi yang didapat mobil Adina menabrak jembatan sampai masuk sungai, dari pihak polisi menyatakan adanya masalah pada mobil tersebut yaitu rem blong”....
...Indira meragukan semuanya hingga dia menanyakan hal tersebut pada asisten Gibran melalui telepon, “halo ted, saya mau tanya? Ada bapak gak disitu kalau ada bisa menjauh sebentar jangan sampai bapak dengar”...
...“Tidak, bapak sekarang ada di ruang rapat bersama dengan manajer serta bagian staff lainnya, ada apa Bu?”....
...“Kamu tahu mobil yang dikendarai oleh istrinya bapak saat kecelakaan itu?”...
...“Tahu Bu, itu kan sebenarnya mobil bapak karena mobil ibu Adina sedang rusak makanya beliau meminjam mobil bapak”...
...“Terus kamu tahu bengkel yang biasa buat langganan bapak dimana?”...
...“Tahu dong kan yang biasanya ngantar mobil ke bengkel kan saya, bengkel salju teknik Bu. Memang ada apa ya Bu kok ibu tanya mengenai istri bapak?” Tanya Teddy penasaran....
...“Gak apa apa cuma tanya aja, oiya kamu jangan bilang ke bapak kalau saya tanya soal kecelakaan ini ya”...
...“Baik Bu”...
...Indira langsung mematikan telponnya....
...Di Dalam mobil saat Indira menyetir ada telpon dari Maya yang memberitahu bahwa tamunya sudah datang dan sudah menunggu selama setengah jam, karena tidak enak Indira balik arah ke kantor menemui tamunya “Besok aja aku kesana” bergumam dalam hati....
...Sesampainya di kantor Indira membuka pintu yang mendapati Sinta sudah menunggu diruangannya ditemani secangkir teh yang dibuat oleh sekretaris nya “maaf menunggu lama” ucap Indira sambil berjabat tangan dengan Sinta....
...“Pantes aja Gibran menikah denganmu selain cantik, pintar, berkarir kamu juga wanita berkharisma Bu Indira” ucap Sinta memuji....
...“Biasa aja kok kak Sinta” ucap Indira merendah....
...“Jangan panggil kak panggil Sinta aja karena seperti nya kita seumuran”....
...“Oke”...
...“Aku kesini atas rekomendasi Sandra, Sandra sahabat kamu kan Bu Indira”...
...“Jangan panggil Bu dong kayaknya aku tua banget” nyengir Indira didepan Sinta....
...Sinta tersenyum lalu memanggil pengacara tersebut dengan namanya saja “Indira”. Sinta teman bermain Sandra waktu kecil lebih tepatnya orang tua Sinta bertetangga dengan orang tua Sandra, Sinta juga menceritakan pertemanan nya dengan Sandra kepada Indira hingga dari percakapan mereka berdua menjadikan keakraban diantara mereka, tak disangka dari percakapan mereka membuat hati Sinta senang senyum sumringah terpancar di wajahnya....
...“Ndi aku datang kesini mau mengajukan cerai dan aku mau kamu jadi pengacara aku, aku tahu sifat mas Radit seperti apa makanya aku minta tolong sama kamu”...
...“Kenapa kamu melayangkan status cerai kepadanya? Oh apa karena kejadian kemarin itu saat dikantor polisi”....
...“Tidak hanya itu saja ndi” ucap Sinta dengan nada terbata-bata yang mulai menetes kan air mata. Sinta membuka bajunya yang berlengan panjang yang didalamnya masih terbalut kaos tanktop, disekujur tubuhnya ada bekas pukulan hingga tak lagi terlihat kulitnya yang putih cerah yang ada hanya lebam membiru. Indira terkejut melihat punggung Sinta ada berbagai banyak luka, tangan Indira meraba punggung Sinta yang terdapat luka goresan sampai kulitnya terbuka “itu luka cambukan yang mas Radit kasih ke aku hanya karena aku salah membuatkan minuman untuknya, setiap kesalahan akan dibalas dengan pukulan. Dia melakukan itu setelah aku melahirkan Farhan, aku seperti burung yang tak bisa pergi selalu didalam sangkar namun tak diberi kasih sayang” ucap Sinta menangis terisak-isak....
...“Aku pikir menikah dengannya adalah kebahagiaan buatku tapi ternyata menikah dengannya sama saja aku masuk kedalam jurang neraka yang tidak aku kehendaki” Sinta memeluk Indira....
...“Pakai baju kamu, kita kerumah sakit”...
...“Untuk apa?”...
...“Kamu mau luka itu menjadi infeksi karena gak kamu obati”, Indira menggandeng tangan Sinta untuk pergi ke rumah sakit....