Menceritakan Kayla Eleody Seorang gadis kaya raya dengan kehidupan glamour sempurna, gadis pemberani ini tiba tiba saja bertukar jiwa dengan Zara seorang gadis miskin yang menjadi korban bully di sekolah, mampukan Kayla hidup dalam raga Zara dengan segala kesulitannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Terbongkar oleh orang tua
"Kami menemukan sejumlah luka bakar pada tubuh mimi, sepertinya luka nya belum lama dan belum sepenuhnya mengering, saya khawatir jika ada sesuatu yang tidak benar, maka kami akan melakukan otopsi pada korban, tetapi saya harus meminta persetujuan dari pihak keluarga dulu pak" Katanya.
Harris mengangguk mengerti, "Saya mengerti, terimakasih pak"
Petugas kepolisian tersebut mengangguk dan mengundurkan diri setelahnya.
"Selamat siang pak?"
Harris mengangguk singkat membalas sapaan kepala sekolahnya.
"Apa yang terjadi pada anak itu? kenapa dia melakukan Bunuh diri di sekolah, ini mungkin ada keanehan, dia ingin menunjukkan sesuatu" Kata Harris.
"Saya sudah bertanya pada beberapa rekan nya tapi mereka mengaku tidak ada keanehan yang terjadi pada korban sebelum kejadian ini, jadi Saya mengklaim mungkin korban sedang depresi" Katanya.
"Saya tau, depresi karena apa?"
"Begini pak, Saya tau latar belakang keluarga korban, jadi saudari mimi ini adalah seorang piatu yang memiliki seorang ayah dan bekerja di bengkel kecil di rumahnya, jadi Saya rasa mungkin dia ada perselisihan batin dengan ayahnya" Ungkapnya.
"Apa anda sudah menghubungi ayah mimi?"
"Sudah pak, beliau sedang datang kemari, kita tunggu beberapa menit lagi pak"
"Hartono?" Panggil Harris pada pria yang berstatus sebagai seorang kepala sekolah tersebut.
"Ya pak?"
"Saya tidak ingin mendengar ada hal buruk yang terjadi di sekolah Saya, Saya ingin semuanya terjadi dengan adil, Saya tidak suka kecurangan" Katanya.
"Ya pak Saya mengerti"
...****************...
Michele menatap bayangan dirinya pada cermin, hatinya terasa risau dan tidak tenang, jiwanya melayang entah kemana, kematian mimi seolah sedang menghantui dirinya.
Ia mulai membuka ponselnya dan memutar sebuah video di galeri ponsel, video tentang bagaimana ia menyiksa mimi menggunakan sebuah catokan rambut.
"A-ampun kak panas!"
"Sebelah sini sini!" suara michele terdengar.
"Win lo yang bener dong" Ruri menimpal.
"Panas kak ampun kak" isak mimi.
"Siapa suruh lo cepu rasain lo mampus!" maki michele.
"Kak udah kak"
Brak
Michele menjatuhkan ponselnya dengan tangan yang bergetar, ia seolah memastikan bahwa kematian mimi bukan lah karena dirinya.
"Apa ini michele?" Widya memungut ponsel michele dan membuat gadis itu kaget, sejak kapan ibunya di sana.
"Mama?" Panggilnya gugup.
"Kamu habis muter video apa?" Tanyanya dingin.
Michele menggeleng ribut dan berusaha merebut ponsel miliknya, namun widya dengan gesit menyembunyikan ponsel tersebut di balik badan nya.
"Apa ini? kamu ngebully anak lagi?" Tanyanya dingin.
Michele tak berkedip menatap takut sang ibu, bibirnya juga tampak bergetar dengan jantung yang berdegup tak karuan.
"KAMU NGEBULLY ANAK LAGI?!" bentak nya kuat.
"Enggak ma enggak!" sangkal michele.
Widya langsung membuka ponsel sang anak dan melihat apa isinya, beberapa buah video dimana seoranh gadis di siksa begitu hebat oleh michele dan kedua teman temannya.
Prakk
Widya melempar benda elektronik tersebut ke lantai, ia melotot menatap marah sang anak
"Anak brengsek!" makinya.
Plakk
Michele mendapat sebuah tamparan kuat yang mengenai pipi sebelah kanan nya, gadis itu bahkan jatuh ke kasur empuk milik nya.
"Sialan kamu! anak setan! apa kamu gak mikirin apa yang mama omongin selama ini hah?! kamu tuli?!" Makinya.
"A-ampun ma ampun michele janji gak bakalan ngulangin lagi ma ampun" Isaknya.
"Ada apa ini?" Tanya seorang pria yang baru datang ke kamar.
"Dia melakukan perundungan lagi" Ungkap Widya.
"Apa?!" Kagetnya.
Jaya tampak mengusap surainya kasar dan michele semakin menangis ketakutan.
"Sialan kamu ya? kapan kamu bisa berhenti nyusahin papa dan mama hah!?" Teriak Jaya.
"M-maaf pa maaf" Isaknya.
"Widya kamu pastiin tidak ada yang tahu ini" Kata Jaya.
"Ya jelas lah, bisa habis reputasi ku kalau sampai orang orang tahu anak ini jadi pembully! gimana aku bisa jadi anggota nanti!" Kata Widya.
Michele semakin ketakutan , faktanya Widya dan Jaya belum tahu bahwa seseorang yang di rundungnya melakukan bunuh diri dan meninggal.
"Apa rencana kamu wid?"
"Aku mikir dulu! nih anak dari dulu gak pernah berhenti bikin pusing! uang lagi uang lagi! bangsat!"
"Mama?" Panggil Michele pelan.
"Apa?!" Jawabnya membentak
"Michele ketakutan" Ungkapnya.
"Ngomong yang jelas ada apa?!" Jaya kembali bersuara.
Widya dan Jaya sama sama menatap sengit pada sang anak yang masih menangis tersedu di atas kasurnya.
"Kenapa Michele jawab!" Bentak Widya.
"S-sebenernya anak yang ada di video itu udah meninggal" cicitnya.
"Apa?!" Jaya dan Widya menjawab kaget bersamaan.
"Kamu bunuh dia?!" Bentaknya.
"Bukan ma pa, d-dia bunuh diri, dia lompat dari gedung sekolah" Ungkapnya.
Widya menangkup mulutnya kaget, begitupun dengan Jaya yang menganga tak percaya.
"Ini semua gara gara kamu kan?! apa yang kamu lakuin ke dia?!" Tanyanya berteriak.
"Ampun ma ampun!" Michele memeluk lutut sang ibu ketakutan.
"Apa Michele apa?!"
"Dia di perkosa ma, tolong aku" isaknya.
Michele tak punya pilihan lain selain bercerita dengan ibunya, ia membutuhkan sebuah perlindungan.
"What?! sama siapa?! kamu bagian dari rencananya?!" Widya mencecar.
"Maaf ma maaf pa" isaknya histeris.
"Widya, kita terancam, reputasi kita terancam" Kata Jaya.
"Sialan!"
...****************...
Sita baru saja membuka pintu rumahnya saat menemukan keberadaan zara dan Leon yang tampak berbeda dari biasanya.
"Zara? kamu kenapa?" Tanyanya panik.
"Zara gak apa apa kok bu" Jawab Leon.
"Tapi ini kenapa matanya bengkak gini, ayo masuk masuk!" Ajak sita.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah sederhana itu.
"Kenapa nangis? ada apa?" Tanyanya.
Zara terdiam tak menjawab pertanyaan sang ibu, gadis itu enggan bersuara sedikit pun.
"Ibu bikinin teh dulu ya Leon kamu jaga Zara" Pamit sita.
"Iya bu"
Sita pun meninggalkan keduanya di ruang tamu.
"Zara? jangan nangis lagi aku tau kamu sedih" Kata Leon.
"Hidup emang se-nggak adil itu buat orang miskin" Katanya
"Gue paham"
"Lo gak paham! kalian tuh orang kaya! lo pikir kenapa mimi bisa ngelakuin hal senekat ini, kalian semua orang kaya gak akan pernah tau rasanya, sesakit apa jadi dia" Marah Zara.
"Gue tau lo marah, dan gue juga gak bisa ngelarang itu, mungkin posisi kalian pernah sama, tapi ini saatnya lo tunjukkin ke semua orang kalo lo gak bisa di injek injek lagi, lo harus berdiri ngasih keadilan buat mimi, lo zar, lo yang dulu di remehin semua orang, buktiin ke semua orang" Ujar leon.
"Gue ngerasa bersalah karena gue gak pernah mau tau gimana keadaan dia, gue jahat"
"Gak ini bukan salah lo, gue ngerti, mereka yang jahat zar, lo enggak, sekarang lo harus bangkit dan selesain semuanya demi keadilan, lo harus bisa, gue pasti bakalan selalu dukung lo gue janji"
Zara memeluk Leon secara tiba tiba, ia merasa butuh sandaran untuk mengadu, dan pemuda ini banyak membantunya.
"Makasih"