Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08
Di sekolah tersebut, yang akan di andalkan papa Firman untuk mengawasi Erlan adalah papa nya Leo dan juga Leo, ini adalah jalan terakhir yang bisa di andalkan oleh papa Firman untuk mendidik Erlan. Meskipun papa Firman tak yakin itu akan berjalan mulus, namun itu lah satu-satunya sekolah elit yang mau menerima Erlan lagi, itu pun karena kepala sekolah adalah adik nya ya itu Wiliam.
Singkat cerita Leo pun membawa Erlan pergi ke kantor kapsek untuk mengurus sesuatu tentang kepindahan nya ke sekolah tersebut.
"Udah ya om, aku mau pulang," kata Erlan sambil bersandar di depan tembok yang saat ini berhadapan dengan kepada sekolah.
"Erlan sopan dikit," ucap Leo yang ada di dalam ruangan tersebut untuk mengawasi sang sepupu.
"Erlan, kau baru saja mengurus kepindahan mu, sekarang ikut Leo masuk ke kelas mu, pulang apanya jam pelajaran kedua akan segera di mulai," kata om Wiliam sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah keponakan nya itu.
"Tapi Om, aku ada urusan, masuk nya bisa besok aja pagi," jawab Erlan beralasan.
"Gak, Lo harus ikut gue sekarang," kata Leo lagi.
"Leo biarkan," ucap Wiliam lagi.
"Lah pa, katanya tadi mau di bawa masuk ke kelas," ungkap Leo polos.
"Besok saja, Erlan pulang lah, dan jangan lupa besok kau harus datang dengan pakaian rapi kau itu seorang pewaris bukan pengemis tolong jaga nama baik keluarga," ungkap sang Om yang pusing dengan penampilan Erlan.
"Apa salah nya dengan seorang pengemis," kata Erlan yang kemudian tampa basa-basi segera keluar dari ruangan tersebut dan minggat dari sekolah.
"Lah pa, kok di biarin? Bukan nya om Firman bilang gak boleh bolos?" tanya Leo kebingungan.
"Biarkan dia pulang, kau tidak melihat pakaian yang dia gunakan itu? Kotor, tidak pantas di sebut siswa," kata Wiliam sambil memegang pulpen nya.
"Astaga, kalau begitu aku ke kelas dulu pa," ucap Leo.
"Untungnya anak ku tidak seperti Erlan, entah bagaimana jadinya dia jika seperti Erlan yang berprilaku seperti kucing jalanan, aku akan sangat marah dan malu," batin Wiliam bersyukur atas putra nya yang tidak seperti Erlan.
Beberapa jam berlalu, jam pulang pun telah tiba, Aruna berjalan cepat menuju rumah nya, dia hanya bisa jalan kaki di tengah teriknya matahari siang ini.
Mata nya sedikit bengkak karena menangis tadi namun ia masih tetap berusaha kuat dan memahami kekhawatiran Reyhan dan Vani.
"Gue yakin Rey gak bermaksud, kayak nya dia cuma khawatir, tapi kenapa Vani bisa nuduh gue kayak gini ya?" batin Aruna sambil terus mengayunkan langkah nya menuju rumah.
Sementara itu Reyhan sama sekali tidak mempedulikan Aruna karena sekarang dia sudah menjadi sopir pribadi Vani secara tidak langsung.
Sementara itu di sisi lain.
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Suara langkah kaki Erlan menuruni tangga menuju lantai bawah rumah mewah milik sang papa.
"Mau kemana lagi?" tanya papa nya yang baru saja kembali dari dinas di luar kota beberapa hari lalu.
"Keluar," jawab nya hendak melewati sang papa.
"Berhenti di sana," kata papa Firman mengehentikan langkah Erlan.
"Ada apa lagi pa?" tanya nya menghentikan langkahnya dengan terpaksa.
"Kau tidak lihat kalau aku baru saja kembali dari luar kota? Dan kau malah mau pergi keluar lagi, tak bisa kah kau diam di sini dan mengobrol dengan ku?" ucap sang papa merasa kesal dengan Erlan yang jarang berada di rumah.
"Maaf pa, sama kayak papa yang sibuk, Erlan juga sibuk, urus urusan masing-masing aja, kayak biasanya, lagian sejak kapan papa mau ngobrol sama aku" ucap Erlan dengan nada dingin, ia kemudian berjalan pergi meninggalkan rumah tersebut tampa menunggu jawaban dari sang papa.
"Erlan! Erlangga!" panggil Firman namun tak di pedulikan oleh sang putra.
Erlan melangkah masuk ke dalam mobil sport milik nya dan kemudian meninggalkan rumah.
"Anak itu benar-benar keras kepala, padahal aku baru saja ingin bicara sesuatu yang penting untuk nya," kata papa Firman mengumpat.
Namun papa Firman tidak tau kalau sebenernya Erlan tau apa yang ingin dia bicarakan kepada nya.
"Papa udah pasti mau bicara soal pernikahan nya, gue gak mau dan gak bakal setuju kalau papa nikah lagi, bikin ribet aja," kata Erlan sambil mengemudi mobil nya dengan kecepatan tinggi, entah kemana tujuan nya saat ini.
Sementara itu di sisi lain.
Aruna baru saja tiba di rumah nya, dia tak melihat sang mama di dalam rumah tersebut, sudah pasti sang mama masih bekerja di butik kecil mereka.
"Mama kayak nya gak pulang deh siang ini, mama makan apa ya di butik? Kayaknya gue harus masak dan bawain makan buat mama deh," ucap Aruna memikirkan kalau sang mama pasti belum makan siang karena terlalu sibuk menjahit pakaian.
Aruna pun menepis rasa lelahnya, dia yang juga belum makan memutuskan untuk memasak terlebih dahulu setelah mengganti pakaian, ia membuat makanan untuk di makan bersama sang mama di butik usang nanti. Meskipun seadanya, tapi ia tetap merasa bahagia karena masih bisa makan.
Setelah satu jam berlalu, Aruna pun selesai masak dan kemudian berjalan keluar dari dalam rumah tersebut dan segera berangkat menuju butik usang sang mama, meksipun sedikit jauh namun tak sejauh sekolah nya.
"Astaga, panas banget, kok bisa ya cuaca sepanas ini, kayaknya matahari ada di atas kepala gue banget," ucap Aruna terus berjalan sambil menenteng rantang makanan nya.
Keringat mulai keluar dari tubuhnya, namun Aruna tidak memutuskan untuk istirahat sedikit pun, ia terus menyusuri jalan raya karena sebentar lagi ia akan tiba di butik usang sang mama.
Namun tiba-tiba saja, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah depan nya, hal ini membuat Aruna kaget dan terjatuh saat ia mengelak dari mobil tersebut, hal ini membuat makanan yang dia bawa jatuh dan berhamburan ke tanah.
"Astaga!" jerit nya melihat makanan yang tumpah itu, sudah tidak ada harapan untuk di makan.
Telapak tangan nya luka dan berdarah karena tanpa sengaja terkena batu krikil yang ada di pinggir jalan.
"Sorry-sorry, Lo gak apa-apa kan?" tanya seseorang yang bergegas membantunya berdiri sambil mengucapkan kata-kata maaf.
"Makanan gue," ucap Aruna dengan hati sedih melihat makanan yang dia buat untuk sang mama sudah bercampur dengan rumput.
"Gue ganti deh makanan Lo," kata orang yang membantu nya berdiri itu.
Aruna menatap laki-laki yang berdiri di hadapan nya sambil kemudian melihat mobil yang hampir menabrak nya berhenti di depan sana.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah