Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Mansion, Satu Kebohongan
Mobil SUV mewah itu meluncur membelah jalanan kota hingga berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang menjulang tinggi. Saat gerbang terbuka, tampak sebuah bangunan megah dengan pilar-pilar besar dan halaman yang sangat luas.
Rea menempelkan wajahnya ke kaca mobil, matanya membulat sempurna. Begitu pintu mobil dibukakan, ia turun dan mendongak menatap bangunan itu tanpa berkedip.
"Haaa... Paman kerja jadi tukang kebun di sini ya?" tanya Rea dengan nada takjub yang luar biasa polos .
Galen terdiam sejenak. Ia melirik mansion mewahnya, lalu melirik Rea. Menjadi bos mafia yang ditakuti sepertinya terlalu berat untuk dijelaskan sekarang. "Iya Rea, saya bekerja sebagai tukang kebun di sini," jawab Galen dengan wajah datar, meski dalam hati ia merasa lucu .
"Wahhh, hebat Pamannn! Kebunnya luas sekali, pasti Paman capek menyapunya setiap hari," seru Rea penuh simpati.
Leon, yang sedari tadi menahan tawa sampai perutnya kaku, segera menghampiri untuk mengambil koper pink usang milik Rea. "Mari, Nona, biar saya yang bawakan kopernya," ucap Leon dengan sopan.
"Aduh, Tuan! Jangan, biar saya bawa sendiri," tolak Rea panik sambil mencoba merebut kembali koper pink-nya. "Tuan ini pasti bosnya Paman Galen ya? Maaf ya Tuan, koper saya berat dan kotor."
Leon melirik Galen yang memberikan tatapan mematikan—kode keras agar Leon tidak membantah Rea. "Tidak apa-apa, Nona. Saya... saya asisten tukang kebun juga. Ini sudah tugas saya," sahut Leon sambil berusaha tetap terlihat serius .
Rea akhirnya tersenyum lebar. "Oh, sesama tukang kebun harus saling bantu ya? Baik sekali!"
Galen hanya bisa menghela napas panjang dan mulai melangkah masuk. "Ayo masuk, Rea. Kamarmu sudah siap."
Rea pun mengikuti Galen dengan langkah riang, sama sekali tidak sadar bahwa puluhan penjaga bersenjata yang bersembunyi di balik semak-semak sedang membungkuk hormat saat mereka lewat .
Rea melompat ke atas kasur empuk di kamar barunya yang sangat luas, jauh lebih besar dari seluruh luas kosannya dulu. "Wahhhh, besar banget kamarnya! Paman, kamarnya lebih bagus dari hotel kemarin!"
Galen bersandar di bingkai pintu, memperhatikan Rea yang tampak sangat bahagia. "Rea, dengar. Karena kau tinggal di sini, kau tidak boleh menganggur."
Rea langsung berdiri tegak dengan wajah serius. "Iya, Paman! Rea mau kerja! Terus Rea kerja di sini sebagai apa dong? Apa bantu Paman cabut rumput?"
"Tidak," jawab Galen cepat. "Kau jadi pelayanku saja."
Rea memiringkan kepalanya, tampak sangat bingung. "Haa? Emang tukang kebun ada pelayannya ya, Paman?"
Galen berdeham, mencoba mencari alasan paling masuk akal untuk menutupi status aslinya sebagai penguasa mansion ini. "Saya... saya tukang kebun senior di sini, Rea. Jadi saya punya hak untuk punya asisten sendiri."
"Wahhh! Hebat banget Paman! Ternyata di kota besar tukang kebun senior itu punya asisten dan kamar mewah begini ya?" Rea mengangguk-angguk kagum, wajah polosnya sama sekali tidak menaruh curiga . "Baik, Paman Senior! Mulai sekarang Rea akan layani Paman. Paman mau kopi? Atau mau Rea pijitin lagi?"
Galen hampir saja tersenyum tipis melihat semangat gadis itu. "Nanti saja. Sekarang kau mandi dan ganti baju. Pelayan rumah ini akan membawakan pakaian baru untukmu."
"Siap, Paman Senior!" Rea memberikan hormat dengan riang .
Begitu Rea masuk ke kamar mandi, Galen segera menoleh ke arah Leon yang berdiri tak jauh dari sana. "Leon, pastikan semua orang di rumah ini tahu: di depan gadis ini, saya adalah tukang kebun senior. Siapa pun yang berani menyebut saya 'Tuan Besar' atau 'Bos', akan saya potong gajinya—atau lidahnya."
Leon hanya bisa mengangguk pasrah. "Siap, Tuan... maksud saya, Paman Senior."
Rea segera bangkit dari kasur empuknya dengan wajah bingung sekaligus takjub. Ia baru saja selesai mandi dan mengenakan piyama tipisnya saat mendengar ketukan pintu. Begitu pintu dibuka, ia melihat seorang pelayan berseragam rapi membawa nampan perak berisi makanan mewah.
"Siapa Anda?" tanya Rea polos, matanya mengerjap-ngerjap.
"Oh, saya diperintahkan oleh Senior Kebun untuk mengantar makanan pada Nona," ucap pelayan itu dengan nada sangat sopan, hampir membungkuk sembilan puluh derajat.
"Hahhh?" Rea melongo. "Maksudnya... Paman Galen?"
"Iya Nona, Tuan—maksud saya, Bapak Senior Kebun berpesan agar Nona menghabiskan makanan ini sampai bersih," lanjut pelayan tersebut, hampir saja salah bicara karena grogi diawasi Leon dari kejauhan.
Rea menerima nampan itu dengan tangan gemetar. "Waaah... hebat sekali ya. Paman Galen baru jadi Senior Kebun saja sudah bisa memerintah orang berseragam begini untuk antar makanan. Keren banget!"
Setelah pelayan itu pergi, Rea segera membawa makanan itu ke meja. Ia mencicipi satu sendok dan matanya langsung berbinar. "Enak banget! Ini lebih enak dari ketoprak dekat kosan!"
Sambil makan, Rea bergumam sendiri, "Ternyata jadi asisten Senior Kebun itu enak ya. Kamarnya besar, makannya enak, dan ada yang antar pula. Rea harus kerja rajin nih biar Paman tidak dipecat!"
Sementara itu, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Galen sedang berdiri memperhatikan Rea yang makan dengan lahap. Ia sedikit tersenyum tipis melihat betapa mudahnya gadis itu bahagia, meskipun dia masih percaya dengan kebohongan konyol tentang "Senior Kebun" itu.