Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Di Salon Dadang
Arisa duduk memperhatikan proses pembuatan kerupuk. Sesekali dia bahkan mengobrol dengan para pekerja dan juga ikut membantu.
Sementara Ogi sedang duduk sambil memegangi walkie talkienya. Kebetulan hanya dengan lewat benda itu dia bisa mendapat sinyal lebih mudah. Di seberang sana, Ogi punya orang kepercayaannya yang membantu memasarkan kerupuknya ke penjuru Jawa Barat.
Ogi mencatat semua pesanan ke buku. Namun saat itu dia tidak fokus karena sosok Arisa. Senyuman gadis itu, tutur katanya, dan kecantikannya, membuat Ogi tambah suka.
Tanpa sengaja, senyuman kecil terukit di bibir Ogi. Dia melakukannya sambil menatap ke arah Arisa.
"Senyum-senyum aja, Gi." Sebuah teguran sukses mengagetkan Ogi. Sontak lelaki itu langsung memperbaiki ekspresinya. Menoleh ke arah orang yang sudah menegurnya.
"Kang Abdi!" seru Ogi.
Abdi terkekeh. "Aing ogé lamun boga pamajikan secantik Neng Arisa pasti bakal siga maneh, Gi. Pasti hayang jatah terus. Éta nu keur dipikiran ku maneh ayeuna, nya? (Aku juga kalau punya istri secantik Neng Arisa pasti bakalan kayak kau, Gi. Dan pastinya mau minta jatah terus. Itu kan yang sekarang kau pikirkan?)" pungkasnya.
"Ih, Kang Abdi apaan atuh. Nggak! Aku nggak mikirin itu," bantah Ogi.
"Alah! Jujur wé, Gi. Pasti keur hayang, nya? Mun geus teu tahan, ku Kang Abdi baé digantikeun jaga di dieu. (Alah! Jujur aja kali, Gi. Pasti lagi pengen kan? Kalau udah nggak tahan, biar Kang Abdi aja yang gantiin kau jaga di sini,)" sahut Abdi.
"Astaga, Kang Abdi. Geus dibilang lain kitu atuh! Ah geus, hésé ngobrol jeung Kang Abdi. Abdi rék neruskeun gawe deui, (Astaga, Kang Abdi. Sudah aku bilang nggak begitu atuh! Udah ah! Susah bicara sama Kang Abdi. Aku mau lanjut kerja lagi,)" ujar Ogi sembari beranjak. Dia sengaja menjauh dari Abdi karena tak mau membahas tentang hal tak senonoh.
...***...
Waktu menunjukkan jam sembilan pagi. Dadang baru saja membuka salonnya seperti biasa. Ia mendapatkan sekitar dua pelanggan setelah buka.
Tepat ketika pelanggan keduanya pergi, seorang perempuan yang dikenalnya datang dengan menggunakan motor. Dia tidak lain adalah Mega.
"Kang Dadang! Geus lila atuh urang teu papanggih. Eneng rék cukur rambut tiasa, nya? (Kang Dadang! Udah lama atuh kita nggak ketemu. Eneng mau potong rambut bisa kan?)" sapa Mega sambil tersenyum ramah.
"Ih! Salon abdi geus tutup nya! (Ih! Salonku sudah tutup ya!)" balas Dadang sambil membalik papan bukanya dengan kata tutup.
"Kok kitu sih, Kang... Buuk Eneng geus ka panjang kieu. Eneng teu apal deui kudu motong buuk di mana. Di lembur Eneng mah teu aya tukang salon atuh, (Kok gitu sih, Kang... Rambut Eneng sudah kepanjangan ini. Aku nggak tahu lagi harus potong rambut dimana. Di kampungku kan nggak ada tukang salon atuh,)" ungkap Mega.
Dadang mendelik. "Ti iraha anjeun motong buuk ka kuring? Ti iraha urang jadi deukeut? (Sejak kapan kau potong rambut denganku? Sejak kapan kita dekat?)" timpalnya sinis. Dia menyandarkan diri ke dinding sambil menyilangkan tangan ke depan dada.
"Kunaon sinis kitu atuh, Kang? Hayu atuh... Eneng mayar dua kali lipet. Kumaha? (Kok sinis begitu atuh, Kang? Ayolah... Aku akan bayar dua kali lipat deh. Gimana?)" tawar Mega.
Namun Dadang bergeming. Jujur saja, karena itu hatinya sedikit luluh. Di sisi lain, dirinya juga penasaran dengan kedatangan Mega ke sini. Dadang yakin, pasti ada kaitannya dengan Ogi.
'Apa dia sudah tahu kabar kalau Ogi udah nikah? Kalau iya, dia pasti mau tanya-tanya nih,' tebak Dadang dalam hati. Senyuman licik mengembang di bibirnya.
"Cih! Dua kali lipet? Éta mah masih saeutik teuing, (Cih! Dua kali lipat? Masih terlalu sedikit itu,)" ujar Dadang.
"Baiklah kalau begitu. Aku kasih seratus ribu. Gimana?" tawar Mega lagi. Dia mengeluarkan uang berwarna kemerahan dari dompet.
Dadang melirik uang itu. Matanya langsung berbinar. Dengan cepat, dia sambar uang itu dengan tangan.
"Ya sudah kalau begitu. Masuk!" kata Dadang sembari membalik papan bukanya menjadi buka kembali.
"Nah gitu atuh." Mega tersenyum senang. Dia segera duduk di kursi salon yang ada di depan cermin besar.
"Mau dipotong kayak apa rambutnya?" tukas Dadang.
"Dipotong biasa aja. Jangan kependekan ya, Kang..." pinta Mega.
"Oke." Dadang mengangguk. Dia mulai memainkan rambut Mega dengan sisir dan gunting.
Hening menyelimuti suasana beberapa saat. Sampai Mega mulai bicara. "Aku dengar Kang Ogi udah nikah, benar atuh, Kang?" celetuknya.
"Benar! Kenapa? Nyesal, hah?" tanggap Dadang.
"Teu atuh! Abdi mah malah bungah. Tapi nikahna dadakan pisan nya? Abdi jeung Kang Heru gé teu meunang ondangan, (Nggak atuh! Aku malah senang. Tapi kok nikahnya mendadak ya? Aku sama Kang Heru aja nggak dapat undangannya,)" ujar Mega.
Dadang menarik sudut bibirnya ke atas. Dia sudah menduga pertanyaan itu.
"Teu dadakan kok. Malah nikahna diayakeun di kota. Maneh jeung Heru teu diondang téh lantaran kalakuan bejat maranéh, (Nggak mendadak kok. Malah pernikahannya di adakan di kota. Kau dan Heru nggak di undang ya karena kelakuan bejat kalian,)" timpal Dadang. Sebagai sahabat Ogi, dia tentu marah dengan yang dilakukan Mega dan Heru. Keduanya bahkan ketahuan berselingkuh saat berduaan di kamar oleh Ogi. Jika bukan karena kebaikan Ogi, mereka pasti sudah digrebek warga dan dipermalukan. Namun Ogi memilih menutupinya karena merasa Heru adalah bagian keluarganya.
Dadang mempercepat gerakan tangannya. Dia bahkan tak segan menarik rambut Mega.
"Kang Dadang! Pelan-pelan atuh!" keluh Mega.
'Ku gundul aja kayaknya nih orang!' ucap Dadang dalam hati.