NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 API YANG TAK TERKENDALI

Tiga hari setelah aku makan Mera Mera no Mi, gubuk Dadan hampir terbakar empat kali.

"ACE! BERHENTI! JANGAN SENTUH APU PUN!" Dadan berteriak sambil memadamkan api kecil di sudut ruangan dengan selimut basah.

"Maaf..." aku duduk di tengah ruangan dengan tangan dikurung dalam ember berisi air. Satu-satunya cara sementara untuk mencegahku tidak sengaja membakar sesuatu.

Masalahnya sederhana tapi fatal: aku tidak bisa mengontrol kekuatan ini sama sekali.

Setiap kali emosiku naik—marah, senang, bahkan cuma terkejut—tubuhku otomatis menyala. Dan sebagai anak satu setengah tahun, kontrol emosi itu hampir tidak ada.

"Dadan-san, mungkin kita harus panggil Garp-san?" salah satu anak buah menyarankan sambil menyingkir dariku.

"JANGAN! Kalau dia tahu aku biarkan Ace makan Devil Fruit, dia pasti akan..." Dadan pucat. "Entahlah apa yang akan dia lakukan tapi pasti mengerikan!"

"Tapi kita tidak tahu cara melatih pengguna Devil Fruit!"

"Aku tahu!" aku tiba-tiba bersuara.

Semua mata tertuju padaku.

"Maksudmu?" Dadan mendekat dengan hati-hati, seolah aku bom waktu—yang memang tidak salah.

"Latihan... kontrol..." aku mengumpulkan kata-kata sederhana yang bisa kuucapkan. "Fokus... pikiran..."

Dadan menatapku bingung. "Bocah umur satu tahun bicara tentang fokus pikiran? Kau benar-benar cucu Garp..."

Aku frustrasi. Kemampuan bicaraku masih terlalu terbatas untuk menjelaskan apa yang ada di kepalaku.

Aku tahu teorinya. Devil Fruit dikendalikan oleh kemauan penggunanya. Semakin kuat kontrol mental, semakin mudah mengendalikan kekuatan. Dan Logia type seperti Mera Mera no Mi membutuhkan kontrol paling tinggi karena tubuh bisa berubah jadi elemen kapan saja.

Tapi teori dan praktik itu dua hal berbeda.

"Baiklah," Dadan menghela napas. "Besok kita mulai latihan. Tapi jauh dari gubuk! Aku tidak mau rumahku jadi abu!"

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Tubuhku terasa aneh. Hangat. Seperti ada tungku pembakaran di dalam dadaku yang terus menyala.

Aku mengangkat tangan kecilku di kegelapan. Fokus. Bayangkan api. Bayangkan panas.

Jari telunjukku mulai bercahaya. Api kecil muncul di ujungnya. Oranye. Indah. Berbahaya.

Lalu—

"GYAAA!"

Kasurku terbakar.

"APA LAGI?!" Dadan berlari masuk dengan ember air dan menyiramku tanpa ampun. "TIDUR PUN KAU BISA BIKIN MASALAH!"

Aku batuk-batuk basah kuyup. "Maaf... maaf..."

Dadan terlihat sangat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya makin jelas. Sejak aku makan Devil Fruit, dia hampir tidak tidur—terlalu khawatir aku bakar gubuk saat semua orang tidur.

"Besok... besok kita HARUS mulai latihan yang benar," dia menggumam lelah. "Atau kita semua mati terbakar..."

Pagi harinya, Dadan membawaku ke area hutan yang jauh dari markas. Area terbuka dengan sedikit pepohonan dan tanah berbatu.

"Disini!" dia menunjuk tanah. "Kalau kau mau latihan api-apian, lakukan disini! Jauh dari gubuk! Jauh dari hutan lebat! Mengerti?!"

Aku mengangguk.

"Bagus. Sekarang... apa yang harus kita lakukan?"

Aku duduk di tanah, mencoba menyusun rencana latihan dengan kemampuan komunikasi terbatasku.

"Pertama... api kecil..." aku mengangkat jari telunjuk.

"Api kecil? Maksudnya nyalakan api kecil?"

Aku mengangguk.

"Oke, coba."

Aku menatap jari telunjukku. Fokus. Bayangkan lilin. Api kecil di ujung lilin. Tenang. Terkontrol.

Perlahan, api muncul. Kecil. Stabil. Tidak membesar.

"Oh! Bagus! Kau bisa—"

WHOOSH!

Api tiba-tiba membesar jadi bola api sebesar kepalaku.

"GYAAA!" Dadan melompat mundah. "PADAMKAN! PADAMKAN!"

Panik membuatku kehilangan kontrol sepenuhnya. Api malah menyebar ke lenganku. Ke tubuhku.

"AIR! AKU BUTUH AIR!" Dadan berlari mencari sumber air terdekat.

Tapi aku menyadari sesuatu—apinya tidak panas. Tidak membakar kulitku. Hanya hangat. Nyaman bahkan.

"Tunggu..." aku menatap api yang menyelimuti tubuhku. "Tidak sakit..."

Ini karakteristik Logia. Tubuh berubah jadi elemen. Aku bukan "terbakar"—aku ADALAH api.

Dadan kembali dengan ember air tapi berhenti melihatku duduk tenang diselimuti api.

"A-Ace...? Kau baik-baik saja?"

"Tidak sakit," aku menjawab sambil tersenyum. "Hangat... nyaman..."

Api perlahan memudar. Tubuhku kembali normal—tidak ada luka bakar sama sekali.

Dadan terduduk lemas. "Jantungku tidak kuat begini terus..."

Tapi aku merasakan sesuatu. Sedikit pemahaman tentang kekuatanku. Api ini bukan musuh. Api ini bagian dariku.

"Lagi," aku berdiri. Mata bersinar penuh tekad—tekad yang terlalu tua untuk anak seusiaku.

Dadan menatapku aneh. "Kau... kenapa kau terlihat seperti orang dewasa yang terjebak di tubuh anak-anak?"

Aku mengabaikan pertanyaan itu. "Lagi. Latihan."

Dia menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi pelan-pelan. Jangan terburu-buru. Kau masih punya banyak waktu."

Tapi aku tidak punya banyak waktu. Setiap hari yang terbuang adalah hari yang tidak digunakan untuk menjadi lebih kuat. Dan aku perlu kuat sebelum badai besar datang.

Kami latihan sampai sore. Berkali-kali aku mencoba menyalakan api kecil. Berkali-kali gagal. Api terlalu besar, atau tidak muncul sama sekali, atau malah membakar tanah di sekitarku.

Tapi perlahan, sangat perlahan, aku mulai merasakan polanya.

Devil Fruit bereaksi terhadap kemauan. Kemauan yang kuat dan jelas. Semakin spesifik aku membayangkan apa yang kuinginkan, semakin baik hasilnya.

"Ace, sudah sore. Kita pulang," Dadan mendekat dengan hati-hati—seolah aku bisa meledak kapan saja.

"Sebentar... satu kali lagi..."

Aku menutup mata. Bernapas dalam. Bayangkan api kecil di telapak tangan. Seukuran kelereng. Stabil. Terkontrol.

Buka mata.

Lihat telapak tangan.

Disana, mengapung di atas telapak tanganku, adalah bola api kecil sempurna. Seukuran kelereng. Tidak membesar. Tidak mengecil. Hanya... ada.

"Aku... berhasil..." bisikku tidak percaya.

"ACE! KAU BERHASIL!" Dadan bersorak seperti ibu yang melihat anaknya melangkah pertama kali. "LIHAT! BOLA API KECIL! SEMPURNA!"

Aku tersenyum lebar. Ini baru langkah pertama. Langkah kecil. Tapi sangat berarti.

Bola api memudar. Aku jatuh duduk, tiba-tiba sangat lelah. Ternyata menggunakan Devil Fruit menguras stamina—terutama untuk tubuh anak kecil.

"Kau pasti capek. Ayo pulang. Dadan masak makanan enak malam ini!" dia mengangkatku dengan hati-hati.

Aku bersandar di bahunya, mata mulai terpejam. Tubuh kecil ini punya limitasi. Tapi pikiran di dalamnya tidak.

Hari ini aku kontrol api sebesar kelereng. Besok mungkin seukuran bola tenis. Lusa seukuran bola basket.

Dan suatu hari... aku akan kontrol matahari.

Dua bulan berlalu sejak aku makan Mera Mera no Mi.

Progresnya... lambat tapi pasti.

Sekarang aku bisa menyalakan api tanpa tidak sengaja membakar sesuatu. Bisa mengontrol ukuran api dari sekecil lilin hingga sebesar bantal. Bahkan bisa mengubah sebagian tubuh jadi api—meskipun cuma tangan untuk saat ini.

"Bagus Ace! Makin hari makin bagus!" Dadan bertepuk tangan melihatku membuat bola api di kedua tangan sekaligus.

Aku melempar kedua bola api ke atas. Mereka bertabrakan dan meledak jadi hujan percikan api kecil yang indah.

"Wah! Seperti kembang api!" salah satu anak buah bandit kagum.

Aku tersenyum puas. Kontrol semakin baik. Tapi masih jauh dari cukup.

Dalam ingatan dari manga dan anime, Ace bisa menciptakan pilar api raksasa, terbang dengan api, bahkan membuat matahari kecil. Itu level yang harus kucapai. Dan lebih.

"Ace, istirahat dulu. Kau belum makan siang," Dadan menyodorkan kotak bekal.

Aku duduk di batu besar, membuka kotak bekal. Nasi kepal dengan daging. Sederhana tapi enak.

Sambil makan, aku merenung.

Usia aku sekarang satu tahun delapan bulan. Luffy akan lahir sekitar satu tahun lagi. Sabo sudah ada tapi aku belum bertemu dia. Dan timeline cerita masih panjang—sekitar lima belas tahun sebelum Luffy mulai berlayar.

Lima belas tahun. Cukup waktu untuk menjadi sangat kuat.

Tapi aku tidak boleh terlalu menonjol terlalu cepat. Tidak boleh menarik perhatian Pemerintah Dunia atau Marine. Mereka masih mencari darah Roger. Dan kalau mereka tahu ada anak dengan nama D. yang punya kekuatan Devil Fruit langka...

Aku harus hati-hati.

"Dadan," aku memanggil setelah selesai makan.

"Hm?"

"Jangan bilang... siapa-siapa... tentang api."

Dia menatapku serius. "Maksudmu soal Devil Fruit-mu?"

Aku mengangguk.

"Kenapa? Kau malu punya kekuatan keren?"

"Bahaya," aku menjawab dengan nada setua yang bisa kukeluarkan dari pita suara anak-anak. "Kalau orang tahu... bahaya untuk Dadan juga."

Dia terdiam. Lalu mengerti.

"Kau benar. Devil Fruit itu langka dan mahal. Kalau bajak laut atau pemburu bounty tahu bocah kecil punya kekuatan begitu..." dia bergidik. "Oke. Ini rahasia kita. Aku akan bilang ke anak buah juga untuk tutup mulut."

"Terima kasih."

Dia mengelus kepalaku. "Kau terlalu pintar untuk anak seusiamu. Kadang aku lupa kau baru hampir dua tahun."

Kalau dia tahu aku sebenarnya pria dua puluh tujuh tahun dari dunia lain...

Tapi itu rahasia yang akan kubawa sampai mati.

Sore harinya, saat kami berjalan pulang ke gubuk, aku mendengar suara aneh dari semak-semak.

"Tunggu," aku berhenti.

"Ada apa?"

"Suara... ada orang..."

Dadan dan anak buahnya langsung waspada. Tangan mereka bergerak ke senjata.

Dari semak-semak keluar seorang bocah. Rambut pirang. Mata biru. Wajah pucat dan ketakutan. Baju robek-robek. Luka-luka di sekujur tubuh.

Anak itu limbung, lalu jatuh di depan kami.

"Tolong... tolong aku..." dia berbisik lemah sebelum pingsan.

Dadan berlari mendekat. "Dia masih hidup! Cepat bawa ke gubuk!"

Aku menatap bocah itu. Ada sesuatu yang familiar...

Rambut pirang. Mata biru. Usia sekitar lima atau enam tahun.

Jangan bilang ini...

Sabo?

Outlook Sabo. Saudara angkat Ace dan Luffy di masa depan. Tapi kenapa dia disini? Di timeline asli, Ace bertemu Sabo di hutan, bukan seperti ini...

Tapi timeline sudah berubah sejak aku makan Mera Mera no Mi lebih awal.

Dan ini baru permulaan perubahan.

Api takdir tidak hanya mengubah diriku.

Tapi juga mengubah takdir orang-orang di sekitarku.

BERSAMBUNG

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!