NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:764
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Kartu As di Meja Bundar

Suasana di Garden Cafe semakin malam semakin ramai, tapi di meja bundar kami, rasanya seperti ada kubah kedap suara yang memisahkan kami dari dunia luar.

Fany masih menatapku dengan campuran perasaan antara lega karena ada harapan menang, dan skeptis karena besarnya target yang kucanangkan. Juara Umum. Itu bukan target main-main.

"Oke, Cal," Fany memecah keheningan, mengaduk sedotan di gelasnya yang tinggal separuh. "Aku setuju buat ikut rencanamu. Tapi, kita harus realistis. Lawan kita nanti bukan cuma anak kelas 10 yang masih noob. Kita bakal lawan kelas 11 dan 12."

Fany mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah serius.

"Kamu tau kan reputasi angkatan kelas 12 tahun ini? Mereka disebut 'Angkatan Emas'. Terutama Ketua OSIS-nya, Kak Fazi. Dia itu legenda hidup. Juara umum akademik, atlet catur, dan rumornya dia juga jago memanah. Kalau kita ketemu angkatan mereka di final, strategi apa pun rasanya bakal mentah."

Aku menyesap sisa air mineral di botolku, lalu menatap Fany tenang.

"Justru itu," jawabku. "Karena musuh kita kuat, kita butuh sekutu yang sama kuatnya."

"Sekutu?" Fany mengerutkan kening. "Siapa? Anak kelas 11? Mereka juga musuh kita."

"Bukan," aku menggeleng. "Aku sudah bekerja sama dengan Ketua OSIS."

Hening.

Fany melongo. Matanya membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka. Dia menatapku seolah aku baru saja mengaku sebagai alien dari Mars.

"Hah?" pekiknya tertahan. "Maksudmu... Kak Fazi? Fazi Adnan?"

"Ya."

"Kamu... bercanda kan?" Fany tertawa sumbang, tawa yang dipaksakan karena tidak percaya. "Cal, sadar diri dong. Kita ini baru satu bulan di sini. Kita cuma remah-remah rengginang. Kak Fazi itu... dia itu dewa sekolah! Ketemu dia aja susah setengah mati karena dia sibuk di gedung B, apalagi ngobrol. Dan kamu bilang kamu 'bekerja sama' sama dia?"

Fany menggeleng-gelengkan kepala, menatap Rafan meminta dukungan. "Raf, temen kamu mulai halusinasi nih. Masa dia bilang kenal deket sama Kak Fazi."

Rafan hanya tersenyum simpul, tidak membantahku. Dia justru terlihat menikmati ekspresi pacarnya yang kebingungan.

"Kamu nggak percaya?" tanyaku datar.

"Jelas nggak lah!" sergah Fany. "Mana buktinya? Apa jaminannya kamu nggak cuma asal ngomong biar kami tenang?"

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku merogoh saku celana jeans-ku, mengeluarkan ponsel.

Jari jempolku menggeser layar, membuka galeri foto. Aku mencari foto yang diambil siang tadi di Ruang OSIS—foto yang dipaksa diambil oleh Kak Disa (salah satu pengurus OSIS yang centil) sebagai kenang-kenangan "Kekalahan Fazi".

Aku meletakkan ponsel itu di tengah meja, memutar layarnya menghadap Fany.

"Lihat sendiri."

Fany menunduk, menyipitkan mata melihat layar ponselku.

Di foto itu, terlihat jelas suasana Ruang OSIS yang mewah dengan karpet abu-abunya.

Di tengah foto, duduk dua orang yang sedang berhadapan di depan papan catur. Satu adalah aku, dengan rambut poni lempar yang menutupi mata. Dan satu lagi... adalah Fazi Adnan, sang Ketua OSIS, yang sedang tersenyum lebar sambil merangkul bahuku akrab.

Di belakang kami, berjejer pengurus inti OSIS kelas 12 lainnya sambil mengacungkan jempol dan gaya peace.

Caption foto itu (yang kutulis sebagai catatan): Skakmat dalam 25 langkah.

Wajah Fany memucat. Tangannya gemetar saat menyentuh ponselku untuk memperbesar gambar.

"I-ini beneran?" suaranya tercekat. "Ini bukan editan kan? Ini beneran Kak Fazi? Di ruang OSIS?"

"Menurutmu aku punya waktu buat ngedit foto?" tanyaku retoris.

Fany menatapku, lalu menatap foto itu lagi. Dia melihat keakraban di foto itu. Fazi tidak terlihat terpaksa. Dia terlihat... menghormati Callen.

"Gila..." desis Fany lemas, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kamu... kamu main catur sama Ketua OSIS? Dan dari ekspresi mereka... kamu menang?"

Aku hanya mengedikkan bahu. "Hanya permainan persahabatan."

Rafan akhirnya tertawa lepas. Dia menepuk tangan sekali.

"Hahaha! Liat muka kamu, Fan! Lucu banget!" Rafan menyeka ujung matanya yang berair karena tawa. "Udah aku bilang kan? Kalau Callen udah turun tangan, dia itu bukan main-main. Dia selalu punya rencana sepuluh langkah ke depan dibanding kita."

Fany terdiam cukup lama. Dia menatapku dengan pandangan yang benar-benar baru. Rasa kesal dan egonya yang tadi sempat naik, kini runtuh digantikan rasa kagum dan sedikit rasa takut.

Dia menyadari satu hal: Callen bukan sekadar siswa pintar. Dia adalah siswa yang punya akses ke top tier kekuasaan di sekolah ini.

"Kamu bener-bener hebat, Cal," ucap Fany tulus, suaranya pelan. "Kita baru sebulan sekolah, aku aja cuma pernah liat Kak Fazi pas pidato MPLS dari jauh. Tapi kamu... kamu udah bisa masuk ke lingkaran dalamnya, bahkan main catur bareng."

Fany menundukkan kepala sedikit.

"Maaf ya, Cal. Aku tadi sempet ngeremehin kamu. Aku pikir kamu cuma cowok ambisius yang mau sok ngatur."

Aku mengambil kembali ponselku. "Tidak masalah. Wajar kalau kamu ragu. Yang penting sekarang kita satu visi."

"Terus..." Rafan memajukan tubuhnya, matanya berbinar penasaran. "Apa hasil dari 'kerjasama' itu? Kak Fazi kasih apa?"

Aku tersenyum tipis. Inilah bagian terbaiknya.

Aku merogoh saku tas selempangku. Mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hitam metalik.

Sebuah flashdisk.

Aku meletakkannya di atas meja, tepat di samping bekas gelas Fany. Suara tak pelan terdengar saat benda itu menyentuh permukaan kayu.

"Ini," ucapku singkat.

"Apa isinya?" tanya Fany, matanya terpaku pada benda kecil itu.

"Data intelijen," jawabku. "Di dalam sini, ada rekap data Festival Olahraga tiga tahun terakhir. Data anak-anak kelas 11 dan 12."

Mata Rafan dan Fany berbinar, membelalak kaget.

"Maksudmu...?" Rafan menahan napas.

"Semuanya," jelasku. "Catatan waktu lari sprint juara tahun lalu. Rata-rata skor basket per kuarter. Siapa yang staminanya lemah di babak kedua. Siapa yang punya riwayat cedera engkel. Siapa atlet panahan yang akurasinya turun kalau angin kencang. Semuanya ada di sini."

Rafan bersiul panjang. "Wow... Itu curang nggak sih?"

"Itu bukan curang. Itu riset," koreksiku. "Fazi memberikannya padaku secara legal. Dia ingin melihat apa yang bisa kita lakukan dengan data ini."

Fany menatap flashdisk itu seperti melihat harta karun.

"Dengan data ini..." gumam Fany, otaknya mulai bekerja cepat. "Kita bisa ngatur strategi penempatan pemain. Kita bisa tau kapan harus nyerang, kapan harus bertahan. Kita bisa hindarin lawan terberat di babak penyisihan kalau kita bisa prediksi bagan."

"Tepat," aku mengangguk.

Aku menatap mereka berdua bergantian.

"Mulai besok, aku akan bedah data ini. Hari Minggu, aku akan kirimkan draft strategi ke kalian. Tugas kalian adalah memastikan anak-anak kelas nurut sama instruksi latihan tanpa banyak tanya. Bisa?"

Rafan dan Fany saling pandang, lalu mengangguk mantap bersamaan.

"Bisa!" seru mereka kompak.

Malam itu, di tengah hiruk pikuk mall, kami bertiga bukan lagi sekadar teman sekelas. Kami adalah jenderal perang yang baru saja mendapatkan peta kelemahan musuh.

"Oke, rapat selesai," aku berdiri, menyandang tasku. "Aku mau pulang. Ada yang... rewel nungguin kabar."

Rafan menyeringai, tahu siapa yang kumaksud. "Siap, Bos. Salam buat Zea ya. Jangan lupa elus kepalanya lagi biar nggak ngambek."

Aku melempar tatapan tajam ke Rafan, lalu berbalik pergi meninggalkan mereka berdua yang kembali tertawa-tawa.

Sambil berjalan menuju parkiran motor, aku mengeluarkan ponsel. Ada lima missed call dan sepuluh chat dari Zea.

Aku tersenyum tipis. Perang strategi sudah siap, sekarang tinggal menghadapi perang perasaan.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!