NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Madu Hutan Merah

Pagi itu, AL terbangun dengan satu misi besar di kepalanya. Setelah semalam menggendong Esme pulang, dia merasa perannya sebagai kepala rumah tangga harus naik ke level berikutnya. Dia melihat Esme masih tertidur lelap di kamar atas—mungkin karena kelelahan setelah pesta semalam. AL memutuskan untuk memasak sarapan. Di kepalanya, dia memutar kembali ingatan saat melihat Esme mengolah sesuatu di dapur.

"Potong, masukkan, aduk. Mudah," gumam AL pada Ocan yang sedang menguap lebar di atas kulkas.

AL mengambil beberapa butir telur, namun karena genggamannya yang terlalu bertenaga, telur-telur itu hancur berkeping-keping sebelum sampai ke wajan. Kulit telur dan isinya menyatu di atas lantai kayu. Ocan mengeong mengejek.

"Diam kau, Tuan Oranye. Ini hanya kesalahan teknis," AL membersihkan lantai dengan satu tarikan kaos bekas, lalu mencoba lagi dengan lebih lembut.

Dia berhasil memecahkan dua telur kali ini. Dia menyalakan kompor, namun karena ingin api yang "gagah", dia memutar knop gas terlalu maksimal. Api menyambar tinggi hingga menyentuh dasar wajan. AL tidak panik, dia malah merasa tertantang. Dia memasukkan potongan daging asap, sayuran, dan entah kenapa, dia juga memasukkan madu karena menurutnya Moa itu manis, jadi makanannya harus manis.

Hasilnya? Sebuah gumpalan berwarna cokelat gelap yang berasap tebal dan berbau seperti karet terbakar bercampur gula karamel.

Tepat saat AL sedang berusaha menyelamatkan masakannya, Esme turun dengan rambut acak-acakan. Dia mematung di tangga, menatap dapurnya yang penuh asap dan suaminya yang berdiri dengan spatula patah di tangan.

"Aleksander! Kau mencoba membakar rumah kita?!" teriak Esme sambil berlari membuka jendela.

AL menoleh dengan wajah penuh coretan jelaga hitam, tampak seperti prajurit yang kalah perang namun tetap bangga. "Aku membuatkanmu sarapan, Moa. Tapi sepertinya api ini terlalu agresif padaku."

Esme melihat piring berisi gumpalan hitam itu. Dia ingin marah, tapi melihat ekspresi AL yang sangat tulus dan penuh harap, hatinya mencair. "Terima kasih, Aleksander. Tapi besok... cukup bawakan aku segelas air saja, oke? Aku tidak ingin kita pindah ke tenda karena dapur ini meledak."

----

Malam harinya, AL mendapat undangan dari Bang Togar dan Paman Silas untuk berkumpul di pondok penjaga kebun. Ini adalah bentuk inisiasi resmi. AL, sang raksasa lugu, akhirnya dianggap sebagai bagian dari "persaudaraan" pria desa.

Esme sebenarnya ragu. "Jangan pulang terlalu malam, AL. Dan jangan makan apa pun yang diberikan Bang Togar tanpa memeriksanya lebih dulu."

"Tenang saja, Moa. Aku akan menjaga diriku," ucap AL sambil mencium dahi Esme, sebuah kebiasaan yang kini sudah otomatis dia lakukan.

Di pondok kebun, suasana sangat riuh. Ada sekitar sepuluh pria dewasa yang berkumpul mengelilingi api unggun kecil dengan botol-botol minuman tradisional bernama Tuak Bukit yang sangat keras kadar alkoholnya.

"Ayo, Aleks! Buktikan kalau suaminya Esme ini punya nyawa cadangan!" teriak Bang Togar sambil menyodorkan segelas besar cairan bening berbau tajam.

AL meminumnya dalam sekali teguk. Para pria bersorak. Gelas kedua, ketiga, hingga botol kelima habis. Satu per satu pria desa mulai tumbang. Bang Togar sudah mulai bicara melantur tentang cintanya pada kambing piaraannya, sementara Paman Silas sudah tertidur sambil memeluk karpet.

AL? Dia masih duduk tegak. Matanya tetap kuning tajam, tidak ada tanda-tanda pusing. Metabolisme Enigma dalam tubuhnya memproses alkohol itu secepat air putih. Racun itu tidak punya kesempatan untuk menyentuh saraf pusatnya.

"Luar biasa..." gumam Bang Togar yang sudah mabuk berat. "Kau ini... manusia atau mesin, Aleks? Stamina dan vitalitasmu... gila. Ini, ambil ini!"

Bang Togar menyerahkan sebuah botol kecil berwarna merah tua yang tersegel rapat. "Ini Madu Hutan Merah. Ini hadiah dariku karena kau sudah mengalahkan kami semua dalam minum. Minumlah bersama Esme saat malam tiba. Ini akan membuat istrimu... sangat, sangat, sangat bahagia. Ini rahasia keperkasaan para raja zaman dulu!"

AL menerima botol itu dengan mata berbinar. "Membuat Moa bahagia? Terima kasih, Bang Togar. Kau memang mentor yang baik."

AL pulang dengan langkah tegap di bawah sinar rembulan. Sesampainya di pondok, dia menemukan Esme sedang duduk di depan perapian sambil membaca buku, wajahnya terlihat sedikit mengantuk dan kedinginan.

"Moa! Aku pulang!" seru AL riang. "Aku membawa hadiah dari Bang Togar. Dia bilang ini minuman ajaib yang akan membuatmu sangat bahagia malam ini."

Esme mendongak, melihat botol merah tua di tangan AL. "Minuman ajaib? Bang Togar memberikanmu alkohol lagi?"

"Dia bilang ini Madu Hutan Merah. Dia bilang ini untuk kita berdua," AL dengan cekatan mengambil dua gelas kecil dan menuangkan cairan kental berwarna merah itu. Baunya sangat harum, seperti buah beri yang difermentasi dengan rempah-rempah eksotis.

Esme yang merasa tenggorokannya kering dan udara malam itu sangat dingin, tidak menaruh curiga. Apalagi dia melihat AL meminumnya dengan sangat santai. "Yah, sedikit minuman penghangat mungkin tidak buruk," pikir Esme.

Esme meminum satu gelas penuh. Rasanya manis, hangat, dan sangat nikmat. Namun, hanya dalam hitungan menit, Esme merasakan sensasi aneh. Rasa hangat itu tidak berhenti di tenggorokan, melainkan merambat ke seluruh pembuluh darahnya. Jantungnya mulai berdegup kencang, dan wajahnya terasa sangat panas.

"Aleksander... kenapa... kenapa lampu di sini jadi ada dua?" gumam Esme sambil melepaskan kancing teratas dasternya karena merasa gerah yang luar biasa.

AL meletakkan gelasnya, menatap Esme dengan bingung. "Lampu tetap satu, Moa. Tapi wajahmu... kau berubah menjadi warna merah lagi. Apakah kau sakit lagi?"

AL mendekat, berlutut di depan Esme dan memegang keningnya. Esme menatap mata kuning AL, dan entah kenapa, saat itu AL terlihat sepuluh kali lebih tampan dan menggoda dari biasanya. Pengaruh ramuan yang dicampur Bang Togar—yang sebenarnya adalah afrodisiak tradisional dosis tinggi—mulai menguasai kesadaran Esme yang memang tidak punya daya tahan terhadap alkohol.

"Aleksander..." Esme menarik kerah kemeja AL, memaksa pria itu mendekat hingga wajah mereka bersentuhan. "Kenapa... kenapa kau besar sekali? Aku ingin... aku ingin sesuatu..."

AL membeku. Dia merasakan tangan Esme mulai merayap ke leher dan rambutnya dengan cara yang sangat tidak biasa. Suara Esme kini terdengar serak dan menggoda, jauh dari nada galak yang biasanya dia dengar.

"Moa? Kau mau apa? Kau mau martabak manis lagi?" tanya AL dengan kepolosan yang kini justru membuat suasana semakin panas.

"Aku tidak mau martabak..." Esme membisikkan sesuatu di telinga AL yang membuat pria raksasa itu seketika merasa seluruh bulu kuduknya meremang. "Aku mau... melakukan ritual yang dikatakan Bang Togar tadi malam."

AL ternganga. "Ritual merangkak di lantai? Tapi Ocan belum setuju, Moa!"

Esme tidak peduli. Dia menarik AL hingga pria itu terjatuh di atas karpet bersama dengannya. Esme duduk di atas perut AL, menatapnya dengan mata sayu yang penuh hasrat. "Persetan dengan Ocan... aku istrimu, kan? Lakukan sesuatu, Aleksander..."

AL kini benar-benar dalam dilema besar. Di satu sisi, dia ingin menuruti "istrinya" yang sedang terlihat sangat cantik dan mendesak. Di sisi lain, dia takut jika ini hanyalah efek dari "kertas ajaib" Bang Togar.

Ocan yang melihat kejadian itu dari atas lemari hanya bisa menutup matanya dengan ekor, seolah berkata, "Dasar manusia, kalau sudah minum cairan merah itu, otak mereka langsung pindah ke dengkul."

Bagaimana AL menangani Esme yang sedang dalam pengaruh ramuan tersebut? Apakah AL akan tetap menjaga "kesucian" rumah tangga bohong-bohongan mereka, atau insting predatornya akan ikut terpancing oleh godaan sang ilmuwan cantik?

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!