Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN DENGAN SHANKS
Enam bulan setelah kelulusan dari Yamamoto, kehidupan berjalan dengan tenang.
Terlalu tenang.
Aku dan Sabo tetap latihan setiap hari—tapi sekarang lebih fokus ke refinement daripada peningkatan drastis. Mengasah teknik yang sudah ada, mencari cara lebih efisien menggunakan Haki, eksperimen dengan kombinasi baru.
Luffy sekarang sudah mulai latihan fisik dasar—lari pagi, push up, sit up. Dia masih terlalu kecil untuk latihan berat tapi pondasinya harus dibangun sejak dini.
"Ace-nii! Lihat! Luffy bisa push up sepuluh kali!" Luffy berteriak bangga sambil menunjukkan hasil latihannya.
"Bagus! Besok coba lima belas kali!" aku memuji sambil mengelus kepalanya.
"YOSH! Luffy akan jadi kuat kayak Ace-nii!"
Dia selalu bilang itu. Dan aku selalu tersenyum mendengarnya—karena aku tahu suatu hari nanti, dia tidak hanya akan sekuat aku. Dia akan jauh melampaui aku.
Siang itu, kami sedang latihan di pantai saat melihat kapal besar berlabuh di dermaga.
Kapal dengan tiga tiang tinggi. Bendera bajak laut dengan tengkorak tersenyum dan topi jerami.
Jantungku berhenti sejenak.
Itu bendera...
Red Hair Pirates.
Shanks sudah datang.
"Sabo, lihat kapal itu," aku menunjuk dengan tangan gemetar sedikit—bukan karena takut, tapi karena excited.
"Bajak laut lagi? Mau kita usir?" Sabo sudah ambil pipa besinya.
"Tunggu. Ini bukan bajak laut sembarangan."
Dari kapal turun beberapa orang. Di depan berjalan seorang pria dengan rambut merah terang, jubah hitam, pedang di pinggang, dan aura yang sangat kuat—bahkan dari jarak jauh bisa kurasakan.
Akagami no Shanks. Red Hair Shanks. Salah satu Yonko masa depan.
"Aura dia... sangat kuat..." Sabo juga merasakannya dengan Observation Haki.
"Dia level yang sangat berbeda dari semua musuh yang pernah kita hadapi. Jangan cari masalah dengannya."
"Memang siapa dia?"
"Akagami no Shanks. Salah satu bajak laut terkuat di dunia. Bounty-nya... aku tidak yakin berapa sekarang tapi pasti ratusan juta atau lebih."
Sabo menelan ludah.
Kami mengamati dari jarak aman. Shanks dan krunya berjalan santai menuju Partai Bar—tempat Makino kerja.
"Mereka menuju bar. Mungkin cuma mau minum," Sabo menyimpulkan.
"Atau mereka akan tinggal beberapa hari di pulau ini. Seperti di timeline asli," aku bergumam pelan.
"Apa?"
"Tidak. Ayo ikut. Aku mau lihat lebih dekat."
"Kau yakin? Kalau mereka agresif—"
"Shanks bukan tipe bajak laut yang serang sembarangan. Selama kita tidak cari masalah, dia tidak akan ganggu."
Kami berjalan ke arah desa. Luffy ikut sambil terus bertanya.
"Ace-nii, siapa orang rambut merah itu?"
"Bajak laut sangat kuat, Luffy. Jangan ganggu dia."
"Bajak laut?! Keren! Luffy mau ketemu!"
"Tidak! Luffy ikut Ace-nii saja. Jangan berisik."
Kami sampai di depan Partai Bar. Suara tawa keras terdengar dari dalam—kru Shanks sedang berpesta.
"Makino! Satu lagi sake!" suara berat Shanks terdengar.
"Baik, Shanks-san!" suara lembut Makino menjawab.
Aku mendorong pintu pelan. Masuk dengan hati-hati.
Di dalam, sepuluh orang kru Red Hair Pirates duduk dengan mug bir dan sake di tangan. Mereka semua terlihat santai—tidak ada aura permusuhan.
Dan di meja tengah, Shanks duduk dengan senyum lebar khasnya.
Mata kami bertemu.
Untuk sejenak, aku merasakan tekanan luar biasa—Conqueror's Haki yang bocor sedikit. Seperti berdiri di hadapan singa raja.
Tapi tekanan itu langsung hilang. Shanks tersenyum lebih lebar.
"Oh? Ada tamu kecil. Hei bocah-bocah, mau ikut pesta?"
Suaranya ramah. Tidak ada ancaman sama sekali.
"Kami cuma lewat," aku menjawab sambil mencoba terlihat tenang—meski jantung berdegup kencang.
"Jangan begitu! Ayo duduk! Makino, tolong bawakan jus untuk anak-anak ini!"
"Baik!" Makino tersenyum dan siapkan tiga gelas jus.
Kami akhirnya duduk—aku, Sabo, dan Luffy—di meja dekat pintu. Jaga jarak aman tapi cukup dekat untuk mendengar percakapan.
"Jadi kalian anak-anak yang terkenal di pulau ini ya?" Shanks tiba-tiba bertanya sambil minum sake. "Aku dengar cerita tentang dua bocah yang kalahkan bajak laut bounty delapan puluh juta. Itu kalian?"
Informasi cepat tersebar. Tidak mengejutkan.
"Ya, itu kami," aku mengakui—tidak ada gunanya bohong.
"Umur berapa sekarang?"
"Tujuh tahun. Dan dia—" aku menunjuk Sabo. "—sepuluh tahun."
Shanks bersiul kagum. "Tujuh dan sepuluh tahun tapi sudah kalahkan bajak laut sekuat itu? Luar biasa! Kalian pasti latihan keras sekali!"
"Kami latihan setiap hari sejak kecil."
"Kelihatan. Aura kalian tidak seperti anak-anak biasa. Terutama kau—" dia menatapku dengan mata tajam. "—kau punya Devil Fruit kan? Aku bisa rasakan."
Observation Haki-nya tajam sekali.
"Ya. Mera Mera no Mi. Logia tipe Api."
"Logia! Wah, beruntung sekali! Itu tipe paling langka dan paling kuat!" Shanks tertawa. "Dengan Devil Fruit itu dan latihan yang benar, kau bisa jadi sangat kuat suatu hari nanti!"
"Itu rencana kami. Jadi cukup kuat untuk berlayar ke Grand Line."
"Grand Line ya..." Shanks menatap ke arah laut dari jendela. "Tempat yang keras. Penuh monster. Tapi juga tempat paling menarik di dunia. Petualangan tanpa batas."
Matanya berbinar saat bicara soal Grand Line—mata orang yang benar-benar mencintai kebebasan dan petualangan.
"Kalian mau jadi bajak laut?" dia bertanya tiba-tiba.
"Ya. Suatu hari nanti. Saat kami cukup siap."
"Bagus! Dunia butuh lebih banyak bajak laut dengan mimpi besar!" Shanks mengangkat mug sake-nya. "Untuk mimpi dan petualangan!"
"UNTUK MIMPI DAN PETUALANGAN!" kru-nya berteriak bersamaan sambil minum.
Luffy menatap Shanks dengan mata berbinar—terpesona total.
"Kau... bajak laut sungguhan?" Luffy bertanya dengan suara pelan tapi penuh rasa ingin tahu.
Shanks menatap Luffy dan tersenyum hangat. "Ya, aku kapten bajak laut. Namaku Shanks. Dan kau?"
"Luffy! Monkey D. Luffy!"
"Monkey D. ya... nama bagus!" Shanks mengelus kepala Luffy. "Kau juga mau jadi bajak laut, Luffy?"
"YA! Luffy mau jadi bajak laut! Dan jadi Raja Bajak Laut!"
Hening sejenak.
Lalu Shanks dan kru-nya tertawa keras—tapi bukan tawa mengejek. Tawa kagum pada mimpi besar bocah kecil.
"Raja Bajak Laut! Mimpi yang luar biasa!" Shanks bertepuk tangan. "Aku suka semangatmu, Luffy! Terus pegang mimpi itu! Jangan pernah lepas!"
Luffy tersenyum lebar—senang dapat dukungan.
"Ace-nii dan Sabo-nii akan jadi kru Luffy! Kami bertiga akan berlayar bersama!"
Shanks menatapku dan Sabo. "Oh? Jadi kalian akan jadi kru adik kalian?"
"Bukan kru. Partner. Kami berlayar sebagai equals," aku mengoreksi. "Tapi ya, kami akan berlayar bersama suatu hari nanti."
Shanks mengangguk puas. "Ikatan keluarga yang kuat. Itu bagus. Di laut, kru yang saling percaya adalah harta paling berharga."
Dia berdiri dan berjalan mendekat—jongkok di depan kami bertiga.
"Dengar baik-baik, kalian bertiga. Jalan menjadi bajak laut itu keras. Sangat keras. Kalian akan hadapi musuh kuat, badai mengerikan, pengkhianatan, kehilangan. Banyak yang menyerah di tengah jalan."
Suaranya serius tapi tidak menakut-nakuti.
"Tapi kalau kalian punya mimpi yang kuat dan kru yang bisa dipercaya—kalian bisa melewati apapun. Ingat itu."
Dia menatap Luffy khusus. "Dan Luffy, kalau kau benar-benar mau jadi Raja Bajak Laut, kau harus lebih kuat dari siapapun di laut ini. Termasuk Yonko. Termasuk Admiral. Termasuk aku."
"Luffy akan lebih kuat! Luffy akan jadi yang terkuat!" Luffy berseru dengan mata berapi-api.
Shanks tersenyum dan menepuk kepala Luffy pelan.
"Aku percaya kau bisa. Ada sesuatu dalam dirimu—sesuatu yang sama dengan kapten kami dulu."
Kapten mereka. Gol D. Roger.
"Makanya..." Shanks melepas topi jerami ikoniknya—topi yang diberikan Roger padanya dulu.
"TUNGGU!" aku langsung berteriak tanpa sadar.
Semua mata tertuju padaku.
"Maaf... maksudku..." aku mencari alasan cepat. "Topi itu... sangat berharga kan? Kenapa mau kasih ke Luffy yang baru pertama kali ketemu?"
Shanks menatapku dengan tatapan aneh—seolah bisa lihat lebih dalam dari yang kukatakan.
"Kau benar. Topi ini sangat berharga. Warisan dari orang yang kurespek paling tinggi. Tapi justru karena itu, aku tahu siapa yang layak memegangnya."
Dia menatap Luffy lagi.
"Bocah ini punya kualitas yang sama dengan kapten kami dulu. Aku bisa rasakan. Suatu hari, dia akan jadi seseorang yang luar biasa."
Tidak. Ini terlalu cepat. Di timeline asli, Shanks baru kasih topi setelah kejadian dengan bandit gunung dan Luffy hampir mati dimakan King of the Shore.
Kalau sekarang dia sudah kasih topi—timeline akan berubah drastis.
"Tapi Luffy masih kecil. Dia belum buktikan apa-apa. Bagaimana kalau dia ternyata tidak sekuat yang kau pikir?" aku mencoba argumen lain.
Shanks tertawa. "Kekuatan bukan segalanya. Yang penting adalah hati dan tekad. Dan aku lihat keduanya di bocah ini."
Dia menaruh topi di kepala Luffy—pas sempurna meski kebesaran sedikit.
"Luffy. Topi ini sekarang titipan. Suatu hari, saat kau sudah jadi bajak laut hebat, kembalikan padaku. Di Grand Line. Deal?"
Luffy menatap topi di kepalanya dengan mata berkaca-kaca—terharu.
"Luffy janji! Luffy akan jadi bajak laut hebat dan kembalikan topi ini!"
"Bagus! Itu janji!"
Mereka berdua tersenyum—awal dari ikatan yang akan mengubah dunia di masa depan.
Aku menghela napas pasrah. Timeline sudah berubah. Tapi mungkin tidak masalah. Selama Luffy tetap tumbuh kuat dan punya tekad yang sama—detail kecil seperti kapan dia dapat topi tidak terlalu penting.
Yang penting—Luffy sekarang punya simbol mimpinya.
Topi jerami yang akan jadi legenda.
BERSAMBUNG