Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 8
"Arkhaaaaaa ..." teriak Bima saat melihat Arkha terjatuh dan kakinya keseleo saat bermain di time zone bersama dengan Aruna.
"Apa yang kau lakukan anak sial-an? Apa kamu mau membunuh anakku?" teriak Bima tanpa melihat tempat.
"Dia terjatuh sendiri karena terus berlarian. Kenapa tidak anda saja yang menjaganya dan malah sibuk dengan ponsel anda sambil tertawa. Sedangkan anak sendiri tidak di perhatikan dan celaka malah menyalahkan orang lain!" jawab Aruna dingin membuat kedua mata Bima membola sempurna.
"Kau!" emosi Bima tertahan saat Arkha kembali menjerit kesakitan di kakinya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Bima menggendong Arkha.
"Kau tunggu hukumanmu di rumah!" ujar Bima mengkode anak buahnya untuk membawa Aruna pulang dan jangan sampai Aruna kabur.
"Maaf Bu, sepertinya kita akan mendapatkan hukuman lagi," ujar Aruna saat dia di masukkan ke dalam kamar ibunya, Aruna mencium tangan kurus ibunya.
"Apa yang terjadi nak?" tanya Mutiara mengusap lembut kepala anaknya.
Mutiara hanya bisa terbaring di atas tempat tidur karena seluruh tubuhnya terus mendapat lu-ka. Bahkan semakin kesini Bima semakin kasar saat berhubungan dengannya. Bukan hanya fisiknya yang sakit, melainkan mentalnya yang selalu di rendahkan oleh Bima. Pria itu terkadang membisikkan kata-kata cinta saat mereka bersama. Tapi setelahnya hanya cacian, makian dan hinaan yang di dapat.
Mutiara sudah lelah, tubuhnya sudah kurus. Kulit putih dan mulusnya sudah tak terlihat lagi. Dia berusaha bertahan disana demi Aruna. Tapi nyatanya, Bima selalu ingkar janji. Saat melewati waktu berdua karena paksaannya, Bima selalu mengatakan akan membebaskan Aruna dan tak akan menyik-sa anaknya itu dengan segala jenis sik-sa-/an. Namun semuanya itu bohong, Aruna masih tetap mendapatkan banyak hukuman berat dari Bima.
"Arkha terjatuh saat bermain di time zone. Dan aku yang di salahkan lagi atas yang terjadi kepada Arkha. Mungkin kali ini dia akan murka, apalagi yang terlu-ka adalah anak kesayangannya," jawab Aruna dingin.
Mutiara bisa melihat perubahan besar dalam diri anaknya. Tatapannya, ekspesi wajahnya. Dia sudah sangat berubah. Anaknya sudah hilang, ma-ti rasa karena cinta pertamanya yang tak lain adalah sangat ayah.
"Ibu sudah terbisa. Nak, jika memang umur ibu tak lama lagi. Ibu mohon tetaplah bertahan, dan keluar dari neraka ini. Carilah orang yang ada dalam liontin Itu. Semua datanya ada disana, tapi jangan gunakan perangkat apapun yang terhubung dengan ayahmu. Karena dia bisa mendeteksinya," jelas Mutiara.
"Aku tak punya ayah Bu. Aku hanya punya ibu, jangan pernah bicara hal itu. Aku berjuang dan bertahan di rumah ini karena ibu!" jawab Aruna dengan mata berkaca-kaca menatap wajah pucat ibunya.
Walau di obati tapi tatap saja tak akan pernah bisa sembuh kalau belum kering lu-ka itu di tambah lagi dan lagi. Sekuat-kuatnya manusia, jika di sik-sa terus menerus maka pada akhirnya dia tak akan tahan juga. Ada batas kekuatan yang dia miliki.
Tengah malam, Bima pulang sendirian dengan membawa amarah di dalam dirinya. Dia menendang pintu kamar Mutiara. Kedua wanita itu bahkan sudah siap di posisinya masing-masing tanpa menunggu perintah dan teriakan dari Bima. melihat hal itu emosi Bima malah semakin tersulut.
Kembali tangannya dengan lihai dan leluasa memberi hukuman kepada dua wanita di depannya. Tak ada tangis, tak ada teriakan, tak ada permohonan. Itulah yang semakin membuat Bima emosi kepada keduanya. Dia ingin baik mutiara atau Aruna merangkak dan memohon belas kasihannya. Tapi nyatanya kedua wanita itu malah teguh dengan pendiriannya. Membuat harga diri Bima rasanya hilang dan terlu-ka.
"Sudah lebih dari sepuluh kali! Apa masih belum cukup?" tanya Aruna menatap ke arah Bima dengan mata memerah menahan amarah.
Praaang
Bima melemparkan benda yang ada di tangannya dengan penuh amarah dan mencoba mengatur perasaannya. Sedangkan Aruna berdiri tanpa terlihat kesakitan membantu ibunya untuk kembali ke atas tempat tidur. Tapi saat berdiri dan akan berjalan. Di antara kedua kakinya mengeluarkan cairan merah kental.
"Apa ibu sedang hamil? Sepertinya ibu keguguran!" tanya Aruna.
"Tidak apa-apa, dia tumbuh dan hidup pun akan tersik-sa seperti kita. Lebih baik dia tidak lahir sama sekali daripada merasakan neraka dunia. Bisa bantu ibu ke kamar mandi, Nak?" jawab Mutiara yang memang menyadari dirinya hamil.
Hamil anak Bima, karena selama ini tak pernah absen meminta hak nya. Tak peduli dengan keadaan Mutiara seperti apa. Mendengar percakapan mereka membuat Bima menatap ke arah lantai. Banyak carian merah di sana. Mengikuti langkah Mutiara sampai di kamar mandi.
"Kenapa dia tidak mengatakan padaku kalau sedang hamil anakku? Wanita kurang ajar!" Bima malah emosi.
"Kenapa kau tak mengatakan padaku kalau kau sedang hamil, ja-lang?" tanya Bima saat mereka keluar dari dalam kamar mandi.
"Memangnya kalau aku mengatakannya kamu akan percaya jika itu adalah anakmu? Bagaimana kalau yang lahir adalah anak perempuan. Apa aku akan rela melihat anakku kembali di sik-sa seperti kamu menyik-sa Aruna? Lebih baik dia tak lahir dan tak pernah melihat ayah bia-dab-/nya!" jawab Mutiara dengan tatapan nyalang.
sreeeeettttt
"Berani sekali kau merahasiakan kehamilanmu dariku!" emosi Bima menarik rambut Mutiara.
"Lepaskan Tuan! Bukan kah kau sudah ji-jik kepada ibuku? Bukankah ibuku ini seorang ja-lang? Kenapa anda masih sering memaksa dan meminta melayani anda? Itu artinya anda memang penyuka ja-lang! Seperti wanita yang sedang dekat dengan anda! Bahkan dia adalah suhunya! Mata anda ternyata memang sudah katarak!" Aruna menarik tangan Bima agar melepaskan cengkramannya dari rambut sang ibu.
Bima menatap dengan sorot mata tajam ke arah Aruna. Apa Aruna tahu? Apa dia tahu yang dia lakukan di belakang mereka? Bagaiman mungkin? Dia menutupinya selama ini.
"Pergi dan minta kepada ja-/langmu anak laki-laki! Lepaskan aku dan ibuku! Bukankah kau ingin hidup dengannya?" geram Aruna.
"Aku akan menikahinya setelah ibumu ma-ti!" jawab Bima.
"Bahkan ibuku sudah ma-ti saat kau berkhianat tapi selalu menutupinya! Kau egois Bima! Jika sampai ibuku kenapa-kenapa aku tak akan pernah memaafkan kamu seumur hidupku!" tatapan Aruna nyalang.
"Kau berani sekali mengancamku! Sedangkan hidupmu ada di tanganku!" Bima tak mau kalah.
"Kita lihat saja nanti Tuan Bima!" jawab Aruna menghempaskan tangan kekar Bima dan membawa ibunya untuk berbaring. Cairan merah terus keluar dan tak mau berhenti. sepertinya ibunya mengalami penda-/ra-han.
"Mas, tolong bawa aku ke dokter! Sepertinya aku penda-/ra-han karena pu-ku-lan keras tadi," Mutiara memohon kepada Bima yang masih berada di sana. Wajahnya sudah sangat pucat bahkan keringat terus bercucuran di seluruh wajah dan tubuhnya.
"Jika anda tak mau membawa ibu ke rumah sakit. Biar aku saja yang membawanya!" Aruna berdiri dan akan membawa ibunya.
"Berani kau membawanya ke rumah sakit maka aku pastikan akan ku patahkan kedua kakimu!" ancam Bima.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/