Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Pesta Kematian dan Tangisan Darah
Kilatan merah itu bukan hanya serangan, melainkan sebuah eksekusi.
Sebelum Feng Gao sempat melepaskan petir hitamnya ke arah Dong Dong, Li Yuan sudah berada di sampingnya. Pedang Hitam Takdir yang kini berdenyut seperti jantung manusia menebas pergelangan tangan kanan Feng Gao dengan presisi yang mengerikan.
SRAAAK!
Tangan sang Jenderal yang masih menggenggam tombak terbang ke udara. Feng Gao membelalak, mulutnya terbuka ingin berteriak, namun Li Yuan sudah mencekik lehernya dengan tangan kiri yang dialiri energi merah pekat.
"Kau suka suara petirmu, Jenderal?" bisik Li Yuan. Suaranya terdengar seperti bisikan ribuan arwah dari neraka. "Sekarang, aku ingin mendengar suara tulangmu yang patah."
Li Yuan menghantamkan tubuh Feng Gao ke tanah dengan kekuatan yang menghancurkan kawah pengepungan. Dong Dong, yang perlahan kembali ke wujud kecilnya karena kehabisan tenaga, terbaring lemas sambil menatap pemandangan itu dengan ngeri. Ia belum pernah melihat Li Yuan se-dingin ini.
"Ini untuk Lao Chen!"
KRAK! Li Yuan menginjak kaki kiri Feng Gao hingga hancur berkeping-keping. Jeritan memilukan pecah dari mulut sang Jenderal, memecah kesunyian medan perang. Pasukan Elang Hitam yang tersisa hanya bisa mematung, kaki mereka gemetar melihat pemimpin mereka diperlakukan seperti binatang buruan.
"Ini untuk Ayi Meiling!"
Li Yuan menusukkan pedangnya pelan-pelan ke bahu Feng Gao, bukan untuk membunuh, melainkan untuk membiarkan pedang itu menghisap setiap tetes sumsum tulangnya sedikit demi sedikit.
"Berhenti... kumohon... bunuh saja aku..." rintih Feng Gao, wajahnya yang angkuh kini bersimbah air mata dan kotoran.
"Membunuhmu terlalu mudah," desis Li Yuan. Matanya yang merah darah berkilat penuh kegilaan. "Kau membakar desa yang memberiku rumah. Kau membantai anak-anak yang menganggapku pahlawan. Kau tidak pantas mendapatkan kematian yang cepat."
Li Yuan kemudian mengangkat pedangnya, memanggil sisa-sisa Manifestasi Roh miliknya. Namun kali ini, roh itu tampak mengerikan, penuh dengan rantai hitam yang melilit tangannya.
"Ini... UNTUK XIAO HUA!"
Li Yuan menebaskan pedangnya berkali-kali ke arah udara di sekitar Feng Gao. Setiap tebasan tidak melukai daging secara langsung, melainkan memotong jalur Qi dan merobek jiwa Feng Gao sedikit demi sedikit. Sang Jenderal meraung kesakitan yang tak terlukiskan—rasa sakit spiritual yang seribu kali lebih hebat dari luka fisik.
Setelah beberapa menit penyiksaan yang sistematis, Li Yuan mengangkat tinggi pedangnya. Seluruh energi merah di medan perang tersedot ke ujung bilahnya.
"Sekarang, pergilah ke neraka dan sampaikan maafmu pada mereka."
BOOOOOOOM!
Satu tebasan terakhir menghancurkan tubuh Feng Gao hingga menjadi abu, sekaligus melepaskan gelombang energi yang meratakan seluruh tenda dan benteng sementara Pasukan Elang Hitam. Tidak ada yang tersisa dari sang Jenderal besar selain debu yang tertiup angin.
Hening.
Li Yuan berdiri di tengah kawah, pedangnya masih berdenyut. Tiba-tiba, ia berlutut dan berteriak ke langit. Suaranya bukan teriakan kemenangan, melainkan raungan kepedihan yang luar biasa. Energi merah di tubuhnya mulai memberontak, mencoba mengambil alih kesadarannya sepenuhnya.
"Li... Yuan..." suara lemah Dong Dong memanggil.
Li Yuan menoleh. Matanya yang merah darah menatap Dong Dong. Pedangnya bergetar, memerintahkannya untuk menyerang apa pun yang bernapas. Li Yuan mengangkat pedangnya ke arah Dong Dong.
"Li Yuan, ingat... roti... sampah..." Dong Dong tersenyum pahit, menutup matanya, siap menerima nasibnya.
Kata-kata bodoh itu memicu memori di kepala Li Yuan. Bayangan tawa di Desa Qingyun kembali muncul. Dengan segenap kekuatan jiwanya, Li Yuan menghantamkan pedang hitamnya ke tanah.
"PERGIII DARI PIKIRANKUUU!"
DUAAAR!
Ledakan energi ungu terakhir keluar dari tubuh Li Yuan, membersihkan pengaruh iblis dari pedangnya. Li Yuan jatuh pingsan di samping Dong Dong. Pedang hitamnya kembali menjadi karatan dan tak bercahaya, seolah-olah hanya sebuah besi tua biasa.
Perang berakhir. Pasukan Elang Hitam lari kocar-kacir tanpa pemimpin. Sekte Awan Tenang selamat, namun mereka semua tahu—dunia tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.