Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interest
Apartemen lantai dua belas itu kini tidak lagi terasa seperti sekadar tempat untuk tidur. Sejak surat pengunduran diri itu diterima oleh Pak Baskoro, setiap sudut ruangan itu seolah berdenyut dengan energi baru. Bagi Tia, mendekorasi ruang produksi untuk Crumbs & Clouds adalah hal yang membuat dirinya merasa lebih hidup setelah bertumpuk dengan meja yang penuh berkas dikantor.
Pagi itu, sinar matahari Jakarta yang terik masuk menembus jendela besar, menerangi tumpukan kotak karton, kaleng cat berwarna pastel, dan rak-rak besi yang baru saja tiba. Tia berdiri di tengah ruangan, mengenakan kaus oblong bekas yang sudah terkena noda cat, sambil memegang sketsa denah dapur impiannya.
Tia memutuskan untuk mengorbankan sebagian besar area ruang tamunya untuk menjadi ruang produksi. Ia memulai dengan memasang wallpaper berbahan vinil yang mudah dibersihkan di area dinding utama. Motifnya sederhana: garis-garis tipis berwarna krem yang memberikan kesan bersih namun hangat.
"Oke, Tia. Satu langkah demi satu langkah," gumamnya pada diri sendiri sambil mulai menempelkan wallpaper.
Saat ia sedang sibuk meratakan gelembung udara di dinding, bel pintu berbunyi. Itu Idris. Ia datang membawa dua kantong besar berisi perlengkapan tukang dan—tentu saja—kopi dingin untuk mereka berdua.
"Wah, sudah mulai ternyata," ujar Idris sambil meletakkan kopi di atas meja yang belum terpakai. Ia melihat sekeliling, matanya tertuju pada rak-rak besi stainless steel yang masih tergeletak di lantai. "Mau aku bantu rakit raknya? Sepertinya itu lebih berat daripada sekadar menempel kertas dinding."
Tia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Boleh banget, Dris! Rak itu harus kuat buat menampung stok cokelat dan tepung. Aku nggak mau pas lagi asyik memanggang, raknya malah miring."
Sambil Idris sibuk dengan kunci inggris dan baut-baut rak, Tia melanjutkan dekorasinya. Ia mulai memasang papan tulis hitam besar (chalkboard) di salah satu sisi dinding. Papan itu bukan untuk hiasan semata, tapi untuk menuliskan pesanan mingguan dan kutipan motivasi agar ia tetap semangat.
"Dris, menurutmu kalau aku pasang lampu gantung dengan cahaya kekuningan di atas meja counter ini, bakalan aneh nggak?" tanya Tia.
Idris menoleh dari tumpukan besi. "Nggak aneh, justru bagus. Kamu butuh pencahayaan yang bagus buat foto produk nanti, kan? Di Jakarta, orang beli kue karena mata mereka lapar duluan di Instagram. Tapi pastikan lampunya nggak bikin dapur jadi makin panas."
Tia mengangguk setuju. "Benar juga. Oh ya, aku mau pasang satu sudut khusus di rak itu nanti. Isinya bukan bahan kue, tapi kenang-kenangan."
"Kenang-kenangan apa?"
Tia berjalan ke arah kopernya yang belum sepenuhnya dibongkar. Ia mengeluarkan sebuah bingkai foto kayu sederhana. Di dalamnya terdapat foto mereka berdua yang sedang tertawa lebar dengan latar belakang parasut warna-warni dan garis pantai Gunung Kidul.
"Ini pengingat," kata Tia sambil meletakkan foto itu di rak yang baru saja dirakit Idris. "Pengingat kalau aku pernah punya keberanian buat lari menuju jurang. Jadi kalau nanti aku stres karena pesanan banyak atau ada kue yang bantat, aku tinggal liat foto ini."
Idris terhenti sejenak, menatap foto itu dengan senyum tipis. "Filosofis banget. Tapi itu ide bagus. Dapur ini harus punya 'nyawa' Jogja-nya."
Idris tak menyangka foto mereka berdua akan berada disama nanti. "Tidak tahu kenapa sepertinya aku mulai tertarik dengannya. Dia yang ceria, cantik, pintar. Membuatku sangat nyaman saat sedang bersamanya." batinnya.
Entah Tia memiliki perasaan yang sama atu tidak yang terpenting rasa ketertarikan ini lebih kuat dari sebelumnya. Apalagi Tia merupakan anak dari pak Gunawan yang merupakan Kadep (Ketua Departemen) yang memimpin dosen dan staff di departemen.
...----------------...
Setelah rak berdiri kokoh, Tia mulai menyusun perlengkapan perangnya. Mixer berdiri berwarna mint green diletakkan di posisi paling strategis. Di sampingnya, timbangan digital dan wadah-wadah kaca kedap udara mulai diisi dengan berbagai macam bahan: cokelat hitam blok, kacang mete Jogja, bubuk kakao premium, dan butiran sea salt.
Tia sangat detail soal estetika. Ia ingin dapurnya terlihat seperti toko roti profesional namun tetap memiliki sentuhan personal. Ia memasang rak kayu kecil untuk koleksi celemeknya yang berwarna-warni.
"Dris, coba liat," panggil Tia. Ia baru saja selesai memasang stiker logo Crumbs & Clouds yang besar di kaca jendela yang menghadap ke arah kota. "Logo ini kalau kena lampu kota di malam hari bakal kelihatan kayak melayang di langit Jakarta."
Idris berjalan mendekat, melihat stiker berbentuk sayap yang terbentuk dari lelehan cokelat itu. "Keren. Kamu beneran mikirin sampai ke sana ya?"
"Harus, Dris. Ini bukan cuma soal jualan makanan. Ini soal identitas. Aku mau setiap orang yang dapet paket brownies-ku nanti, mereka ngerasa dapet potongan kecil dari 'awan' yang aku tembus kemarin."
...----------------...
Mereka beristirahat sejenak, duduk di lantai beralaskan kardus bekas sambil meminum kopi. Ruangan yang tadinya kosong kini mulai terlihat seperti bengkel kreativitas.
"Tia, setelah dekorasi ini selesai, apa rencana besarmu untuk minggu pertama?" tanya Idris serius.
"Aku bakal kirim tester ke lima puluh teman kantor lama kita, termasuk Pak Baskoro. Tapi buat Pak Baskoro, aku bakal kasih catatan khusus: 'Terima kasih sudah memberikan saya tekanan yang cukup untuk membuat saya ingin terbang'," jawab Tia sambil tertawa nakal.
Idris ikut tertawa. "Kamu berani banget! Tapi serius, itu strategi promosi yang bagus. Setelah itu, aku bakal bantu sebarkan di kantorku juga. Mereka semua penggila camilan sore."
Tia menatap ruang produksinya yang hampir jadi. "Kadang aku masih nggak percaya, Dris. Seminggu lalu kita masih di Gunung Kidul, bingung gimana caranya mendarat. Sekarang aku lagi dekor dapur buat bisnis sendiri. Hidup bisa berubah secepat itu ya kalau kita berani ambil keputusan."
"Bukan hidup yang berubah, Tia," koreksi Idris. "Tapi cara kamu melihat hidup. Dunianya tetap sama, Jakarta tetap macet, tapi kamunya yang sudah nggak sama lagi."
Tia sangat terharu karena diberkahi dengan orang yang selalu pengertian dan sayang padanya bukan hanya kedua orang tua atau eyangnya bahkan temannya juga.
Sore menjelang, dekorasi hampir rampung. Tia memasang tirai putih tipis yang melambai ditiup angin AC, memberikan kesan ringan selembut awan. Di sudut ruangan, ia meletakkan sebuah kursi rotan kecil dengan bantal empuk—tempat ia akan duduk sambil menunggu kue di dalam oven matang.
Ia juga memasang stop kontak tambahan untuk semua ovennya. Mobil SUV ayahnya tadi siang sangat membantu mengangkut oven gas besar milik Ibunya, yang kini duduk manis di sudut dapur, siap untuk dipanaskan.
"Selesai!" seru Tia sambil mengangkat tangan ke udara.
Ruang tamu apartemennya kini telah bertransformasi sepenuhnya. Itu bukan lagi sekadar tempat menonton TV, melainkan tempat di mana keajaiban cokelat akan terjadi. Ruang produksi itu terlihat bersih, estetis, dan sangat fungsional.
Idris berdiri, menepuk-nepuk celananya yang berdebu. "Selamat, Tia. Kapal ini sudah siap berlayar. Eh, maksudku, pesawat ini sudah siap lepas landas dari lantai dua belas."
Tia menatap Idris dengan tulus. "Makasih ya, Dris. Kamu nggak cuma bantu ngerakit rak, tapi kamu bantu aku ngerakit mimpi ini dari awal."
"Sama-sama. Sekarang, sebelum aku pulang, boleh nggak aku minta satu hal?"
"Apa?"
"Nanti kalau kamu sudah sukses besar, punya cabang di mana-mana, jangan hapus foto kita di Gunung Kidul itu dari rak ini. Biar orang tahu kalau Crumbs & Clouds dimulai dari seorang wanita yang ketakutan di atas tebing."
Tia tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca karena bahagia. "Nggak akan pernah aku hapus, Dris. Itu kenang-kenangan saat aku berhasil menaklukkan phobia ketinggian yang aku miliki."
"Dan itu juga kenangan kita. Kenangan yang menurutku indah karena setelah patah hati aku bisa menyukai pria lagi. Apalagi pria baik seperti kamu Idris." batinnya.
Dia mengantar Idris sampai ke depan pintu apartemen miliknya. Setelah Idris berkata selamat tinggal dan berjalan keluar, dia baru menutup pintunya setelah melihat punggung Idris yang menjauh dari penglihatannya. Tubuh Idris yang tinggi sekitar 187cm dengan otot-otot yang terlihat di tangannya apalagi saat membatunya memasang rak tadi membuatnya terus kepikiran.
Menurutnya Idris rajin berolahraga itulah sebabnya bentuk tubuhnya bagus apalagi wajahnya yang tampan walaupun terlihat dingin.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada