Raze Cromwell menjalani hidup yang penuh penderitaan. Pola asuh yang kejam memaksanya berubah menjadi pribadi yang dingin dan keras. Demi bertahan hidup, ia rela melakukan apa pun, hingga akhirnya dikenal sebagai Dark Magus, gelar yang hanya dimiliki oleh penyihir terkuat.
“Segala sesuatu di dunia ini telah diambil dariku. Maka aku akan mengambil kembali segalanya dari dunia ini.”
Ketakutan akan kekuatannya membuat Lima Magus Tertinggi bersatu untuk melenyapkannya. Saat berada di ambang kematian, Raze mengaktifkan satu mantra terlarang terakhir. Alih-alih mati, ia terlempar ke dunia lain, sebuah dunia para seniman bela diri, tempat orang dapat menghancurkan gunung dengan satu pukulan.
Namun, di dunia baru ini, sihir masih ada…
dan Raze adalah satu-satunya orang yang mengetahuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Tinju Petir, Klan Merah.
"Baiklah... Tunggu sebentar."
Sonny keluar lagi, menutup pintu dengan hati-hati. Beberapa menit kemudian ia kembali, kali ini tak sendirian. Di belakangnya berjalan seorang gadis remaja, rambut hitam tebalnya kusut dan melewati bahu. Ia memakai kemeja abu-abu polos dan celana panjang sederhana, sama seperti pakaian yang dikenakan Raze sekarang.
Begitu pandangan Raze jatuh padanya, sesuatu meledak di dalam dadanya. Gelombang emosi kuat datang tiba-tiba, hangat dan menyakitkan sekaligus. Tanpa sadar, senyum lebar menyebar di wajahnya, meski ia tak tahu alasannya.
"Syukurlah," Sonny menghela napas lega, melihat reaksi itu. "Sepertinya kau masih ingat adikmu, Safa."
_Adikku?_
Kata itu menggema di kepala Raze. 'Dia Adikku??'
Tiba-tiba potongan-potongan mulai jatuh ke tempatnya. Sensasi samar yang tadi mengambang kini menjadi lebih jelas. Wajah gadis ini di meja makan malam. Tawa kecilnya saat menggodanya. Pelukan hangat saat ia pulang dari latihan.
Gadis itu, Safa, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang keluar. Ia melangkah pelan mendekat, lalu tiba-tiba berlari dan memeluk Raze erat, wajahnya terkubur di bahunya.
Raze membeku sesaat, tubuhnya kaku. Tapi kemudian, secara naluriah, lengannya melingkar di punggung gadis itu, membalas pelukan. Hangat. Familiar. Meski jiwa di dalam tubuh ini bukan anak asli lagi, tubuh itu sendiri masih ingat.
Sonny tersenyum kecil dari ambang pintu, lalu mundur pelan dan menutup pintu, memberi mereka ruang.
Di dalam kegelapan ruangan yang hanya diterangi sisa lampu minyak, Raze memeluk Safa lebih erat. Bukan karena ia benar-benar merasakan kasih sayang itu, tapi karena ia tahu ini akan jadi senjata terbaiknya di dunia baru ini.
Itu akan membuat Klan Brigade Merah melindunginya lebih keras. Memberinya waktu untuk tumbuh kuat tanpa curiga.
Sonny menjelaskan dengan suara tenang dari ambang pintu yang baru dibuka kembali.
"Dia bersembunyi di lemari saat keributan terjadi. Saat kami menggeledah rumah, kami menemukannya gemetar di dalam sana. Fakta bahwa kalian berdua berhasil keluar hidup-hidup.... itu bukan keajaiban kecil."
Ia tersenyum tipis, tapi matanya masih serius. "Aku akan biarkan kalian berdua punya waktu sendiri dulu."
Pintu ditutup pelan, meninggalkan Raze dan Safa sendirian lagi di ruangan redup.
Safa menatap kakaknya dari kejauhan, malu-malu. Ia seumuran remaja seperti tubuh Raze sekarang, tapi kenangan yang mulai muncul memberi tahu bahwa ia beberapa tahun lebih muda. Rambut hitam tebalnya masih kusut, matanya merah karena tangis yang tertahan.
Tiba-tiba ia melangkah cepat, meraih lengan Raze dan menempel erat, tubuhnya bersandar seperti mencari perlindungan.
Jantung Raze langsung berdegup kencang, tak terkendali dengan satu teriakan keras.
"JANGAN SENTUH AKU!"
Tangannya secara naluriah menyentak lengan Safa hingga gadis itu terhuyung mundur. Ia melangkah mundur dengan gemetar.
Safa membeku. Matanya terkunci ke mata Raze beberapa saat, lalu air mata langsung mengalir. Ia buru-buru mundur ke belakang kursi kayu di sudut ruangan, tubuhnya hampir ambruk ke lantai, tangannya menutup wajah.
Melihat reaksi gadis itu, rasa bersalah tiba-tiba menusuk dadanya, tajam dan tak terduga.
'Tubuh sialan ini.... masih bereaksi pada kenangan lama. Dan emosiku sendiri kacau karena jiwa asing di dalamnya.'
Ia menarik napas dalam beberapa kali, memaksa diri tenang. Perlahan ia mendekati Safa yang masih meringkuk ketakutan di balik kursi.
"Aku.... Aku masih kaget atas insiden itu," katanya pelan, suaranya dibuat lembut meski terasa kaku. "Jadi bisa tidak menyentuhku tiba-tiba??"
Safa mengintip dari balik tangannya. Ia ragu sebentar, lalu mengangguk perlahan, meski tubuhnya belum berani bergerak.
Bagus. Dia trauma berat kehilangan keluarga, dan sekarang kakaknya berteriak hanya karena dipeluk. Ini pasti sama sulitnya baginya.
Lambat-laun, Safa bangkit lagi. Mereka berdiri canggung di tengah ruangan, saling tatap tanpa kata.
"Kau bersembunyi di dalam lemari?" tanya Raze hati-hati.
Safa mengangguk pelan, tapi mulutnya tetap tertutup.
Raze mulai curiga. Gadis ini tak bicara sama sekali sejak tadi. Saat kenangan lain muncul, ia sadar: Safa memang bisu sejak lahir. Tubuh asli ini sudah terbiasa berkomunikasi dengannya lewat isyarat atau tulisan sederhana.
Tapi satu pikiran lain membuatnya waspada.
'Kalau dia bersembunyi di lemari.... Apakah dia melihat apa yang terjadi? Melihat aku pakai sihir Gelap saat ritual? Atau saat melawan pembunuh itu?'
Pintu terbuka lagi. Sonny masuk dengan senyum lebih lebar,
"Baiklah, aku punya berita bagus untuk kalian berdua," katanya riang. "Kapten sudah putuskan. Kalian berdua akan tinggal di sini, di kompleks Klan Brigade Merah, sampai kami pastikan kalian aman. Kami akan cari tahu siapa di balik pembantaian itu, dan kalian akan dilindungi selama itu."
Ia menatap Raze dan Safa bergantian, matanya penuh keyakinan.
"Kalian tak sendirian lagi. Di sini, kalian punya keluarga baru."
Raze mengangguk pelan dari luar, tapi di dalam hati ia tersenyum dingin.
"Saya tahu ini situasi sulit buat kalian berdua," kata Sonny lagi, suaranya tetap tenang meski ada nada serius di dalamnya. "Tapi aku akan jelaskan semuanya nanti pada waktunya. Untuk sekarang, ikuti aku sebentar."
Mereka keluar dari gedung kecil itu, melangkah ke halaman luas yang mulai sepi di bawah langit senja. Lampu obor mulai dinyalakan di tiang-tiang kayu, nyalanya kuning hangat menerangi wajah-wajah prajurit yang masih berlatih di kejauhan.
Raze berjalan di belakang Sonny, langkahnya hati-hati sambil terus mengamati sekeliling. Safa mengikuti beberapa langkah di belakang lagi, kepalanya tertunduk, tangannya memegang ujung baju kakaknya erat.
"Meski aku tak akan selalu bersama kalian," lanjut Sonny sambil terus berjalan, "kalian akan dijaga baik-baik di sini. Kalau butuh apa saja, atau cuma ingin ngobrol, datanglah cari aku. Besok aku juga akan mampir lagi."
Tiba-tiba Sonny berhenti bicara. Kepalanya berputar cepat ke kanan, mata menyipit.
Seorang pria berpakaian merah sama muncul entah dari mana, berlari dengan cepat ke arah mereka. Dalam sekejap saja, jarak puluhan langkah itu terlampaui. Kakinya seperti tak menyentuh tanah, tubuhnya melesat seperti bayangan.
'Sihir peningkatan gerak...!' pikir Raze langsung, tangannya sudah siap memanggil energi gelap.
Pria itu mengacungkan belati pendek, ujungnya mengarah lurus ke dada Raze. Matanya penuh niat membunuh, tanpa harus mengatakannya.
Mana di telapak Raze mulai berputar cepat, hitam pekat dan dingin. 'Aku tak mungkin memakai sihir ini di depan umum.... Terlalu beresiko. Tapi kalau nyawaku terancam....
"Tinju Petir Merah!"
Suara Sonny menggelegar. Tinjunya melesat ke depan, menyambar dada pria itu tepat dada. Bunyi benturan keras terdengar, seperti palu besar menghantam besi. Pria penyerang itu langsung terlempar ke belakang, tubuhnya melayang tinggi di udara sebelum menghantam dinding bangunan kayu di sisi lain halaman.
Raze berdiri membeku, mulutnya terbuka lebar. Matanya tak berkedip menatap Sonny yang kini menurunkan tinjunya dengan santai, seolah baru saja memukul lalat.
"Apa.... sihir macam apa itu?" seru Raze tanpa sadar, suaranya campur antara kaget dan takjub.
"Sihir?" Sonny mengulang, alisnya terangkat bingung. Ia menoleh ke Raze, lalu tertawa kecil. "Bukan sihir. Itu seni bela diri. Tinju Petir Merah, teknik andalan klan kami."
Raze diam saja, tapi pikirannya berputar dengan cepat.
Seni bela diri.... Bukan sihir mana seperti yang ia kenal. Tapi kekuatan itu nyata. Kecepatan luar biasa, pukulan yang menghancurkan.... Di dunia lamanya, itu setara dengan mantra bintang tiga atau empat.
Ia tersandung masuk ke dunia di mana orang bertarung bukan hanya dengan pedang dan panah, tapi juga dengan tinju dan teknik tubuh yang mampu menyaingi sihir??
Dunia tanpa mana di udara.... tapi penuh dengan seni bela diri yang kuat.
Raze menutup mulutnya perlahan, tapi di dalam hati, senyum dingin mulai muncul lagi. Dan kalau seni bela diri bisa setara dengan sihir....
'Bukankah aku bisa menggabungkan ke duanya?'
***