Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cara hidup
Bagas mengangkat bolu yang telah matang sempurna. Dipotong dengan simetris—tidak terlalu tipis, tidak terlalu tebal. Sementara Renata merapikan hasil potongannya di atas piring.
Piring-piring yang telah terisi penuh dikumpulkan di satu tempat. Potongan bolu yang tersisa, ia masukkan ke dalam mulutnya. Ia ambil sepotong lagi, lalu menyodorkannya pada Renata.
"Ambil ini, Kak."
"Tidak, aku tidak usah."
"Tidak apa-apa, kata kak Fery, kita boleh memakannya juga kok."
"Berikan saja ke anak-anak. Aku betulan tidak apa-apa."
Bagas garuk-garuk kepala. Keinginannya untuk membuat gadis itu takjub pada hasil buatannya harus pupus.
Seseorang datang dari arah pintu depan, memberitahu bahwa waktu penyajian akan seera dimulai. Dengan bantuan orang itu, mereka bertiga mengangkut piring-piring dari dapur menuju teras yang telah dipadati anak-anak.
Kak Fery mengarahkan agar makanan itu ditaruh di meja besar yang disiapkan khusus. Di sana telah tersedia susu dan beberapa makanan lain. Kehadiran bolu itu semakin menambah keberagamannya.
"Baris dulu ya, anak-anak."
Anak-anak berbaris dengan semangat. Mata mereka berbinar menatapi isi meja.
Tak hanya anak-anak kecil—beberapa di antara mereka sudah remaja. Penampilan mereka lusuh dan kumal. Menggambarkan kurangnya mereka dalam merawat diri
Mereka diarahkan untuk mengambil makanan dengan teratur. Satu persatu mendapatkan jatah mereka masing-masing—termasuk bolu dua rasa itu.
Renata yang menatap menatap mereka dari kejauhan, terngiang akan kedua adiknya. Nasib keduanya bisa saja berakhir seperti anak-anak yang ada di hadapannya—kebanyakan telah kehilangan kedua orang tuanya sama seperti dia dan kedua adiknya.
Hidup dengan mengandalkan belas kasihan orang lain adalah cara hidup yang paling Renata benci.
Oleh sebab itu, ia tidak pernah menyesali keputusannya untuk mengambil "jalan pintas". Semua yang ia lakukan saat ini semata demi adiknya.
Ia bertahan dalam kubangan itu hanya demi satu tujuan: kebahagiaan adiknya. Ia selalu berharap agar adiknya bisa hidup lebih baik dan tak berakhir seperti mereka—atau bahkan seperti dirinya.
Itulah mengapa, ia tidak mengharapkan kebahagian untuk dirinya.
Saat melihat anak-anak itu memakan bolu dengan kegirangan, ingatannya terhenti pada janjinya yang belum ditepati—membelikan donat untuk kedua adiknya.
Renata melirik jam. Harusnya sebentar lagi toko itu tutup. Jika ia pergi sekarang, mungkin masih sempat. Sayangnya ia tidak bisa pergi karena keberadaannya di sinj dalam rangka menjalani hukuman.
Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menundanya kembali.
Bagas, di sisi lain, masih ingin memastikan. Lirikannya pada Renata dibuat sesingkat dan senatural mungkin.
Tak hanya Renata, perempuan yang ada di situ pun menjadi ajang percobaannya. Ia merasa seperti lelaki mata keranjang yang melirik perempuan di sana sini.
Hasilnya: tubuhnya masih bereaksi seperti biasanya. Hanya beberapa detik, wajah perempuan yang ia lihat seolah berubah menjadi makhluk yang mengerikan. Jantungnya serasa hampir meledak.
Kesimpulannya jelas: Fobianya masih ada. Renata adalah pengecualian yang masih belum ia pahami hingga kini.
Sebenarnya Bagas masih ingin lanjut memperhatikan lebih banyak perempuan. Namun tubuhnya telah di ambang batas. Ia juga khawatir seseorang sadar dan menghardiknya dengan kata-kata "mesum". Karena itu, ia menahan diri.
Setelah semua anak-anak kebagian, sisanya dipersilakan untuk yang ingin memakannya. Renata ikut ditawari. Ia mengangguk saja, tapi tubuhnya tak bergeser sejengkal pun.
Bagas mendapat pujian karena wajah puas dari anak-anak. Berkat itu, ia mengobrol panjang lebar dengan banyak orang, termasuk kak Fery hingga petang menegur mereka.
Setelah beberes, mereka meninggalkan panti setelah berpamitan dengan pengurus panti dan anak-anak.
Bagas berdiri di pintu gerbang. Matanya berkeliling mencari sosok Renata. Lima menit berlalu, gadis yang ia cari barulah lewat di depannya.
"Eh, Kak." Panggilnya.
Gadis itu menoleh dengan terkejut. Tak hanya karena suara barusan, juga karena mendapati sebuah kantong yang tersodor di hadapannya.
"Apa ini?" Tanyanya terheran.
"Ini buatmu. Aku disuruh kak Fery untuk bawa pulang itu. Tapi, buatmu saja. Kamu belum makan bolu tadi sama sekali 'kan?"
Renata memandang wajah Bagas. Mencari alasan untuk menolaknya lagi. Kali ini, ia tak punya alasan yang kuat. Meski terpaksa, Ia menukar kantong itu dengan seutas senyum tipis.
"Terima kasih." Ucapnya, merasa tak enak.
Senyum Bagas tersungging. Sebelum akhirnya mereka berjalan ke arah yang berbeda. Menuju rumah masing-masing.
...----------------...
Tidak sampai lima belas menit, Renata sudah tiba di rumahnya. Sudah menjadi rutinitas, ia selalu mendapat sambutan hangat dari kedua adiknya.
Kali ini, mereka kompak melompat dalam pelukannya. Membuat kantong yang ia bawa terlepas tanpa sadar.
Gea yang lebih dulu menyadarinya, buru-buru meraih kantong yang tergeletak itu.
"Asik donat!"
Renata baru tersadar saat Gea telah mengeluarkan isinya.
"Loh, donatnya mana?"
Gio yang tak mau ketinggalan, buru-buru mendekat,
"Ada yang keju 'kan?" Tanyanya sambil melongok ke dalam isi kantong.
"Maaf, Ya. Kakak belum sempat beli tadi."
Permintaan maaf Renata tak mereka gubris. Perhatian mereka tersita oleh potongan bolu di tangan mereka masing-masing.
Mata mereka terlanjur berbinar. Mereka menyantap bolu itu hampir bersamaan.
"Hmm... enak, Kak." Ucap Gea setelah menelan gigitan pertamanya.
Mereka menikmati rasa dengan ekspresi bahagia. Menerbitkan senyum Renata saat memandangi mereka.
Gio mengambil sepotong lagi, membuat Gea yang jatahnya masih separuh geram.
"Eh Gio! Kak Renata belum tahu!"
Gio tersadar. Pandangannya naik, menatap kakaknya, tersenyum tawar.
"Tidak, tidak apa-apa. Kakak tidak usah."
"Tidak, Kak. Ini jatah kakak."
Gea mengambil paksa sepotong, menyerahkannya ke tangan Renata. Meski Gea adalah adik, sikapnya terkadang lebih dewasa dibandingkan Gio.
"Ayo, Kak. Aaaa...."
Padahal Renata betulan tidak memusingkannya, tapi apa boleh buat. Ia santap bolu yang sudah tersodor di depan bibirnya itu. Sontak rasa coklat melumuri lidahnya.
Di luar dugaan—bolu itu sangat enak. Melebihi perkiraannya.
"Enak ya." gumamnya.
"Yang keju juga enak, Kak." Sahut Gea dengan suara tak jelas karena sedang mengunyah.
"Kalian tahu tidak? Kalau kakak ikut membantu membuat bolu ini."
"Yang benar, Kak?" Gio terkejut.
"Kalau begitu, nanti kita buat kue sendiri saja, Kak!" Seru Gea.
"Boleh, nanti kita beli bahan-bahannya dulu ya."
Renata tidak bisa berkata tidak saat melihat bola mata yang berbinar itu. Ia juga merasa optimis karena seorang lelaki seperti Bagas saja bisa membuatnya seenak ini, apalagi seorang gadis yang lumayan sering berkecimpung di dapur.
Terlebih saat ia mendapati Bagas tadi, menurutnya tidak sesulit yang ia dua
Lain kali, Renata ingin mencoba membuat kuenya sendiri.