Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Masih Disembunyikan
Tak lama kemudian, Jack pun tiba dengan mobilnya. Sammy bergegas memasukkan seorang warga yang tadi ditangkapnya ke jok bagian penumpang, kemudian ia pun bergegas masuk ke sisi sebelah sopir.
Jack menatap bingung pada ketuanya itu, namun bersabar menunggu penjelasan.
Sammy membuang napas kasar. "Hah!" serunya seolah sedang menepis rasa lelah.
Jack mengernyit dengan tawa kecil, tetap bersiap dengan kemudinya. "Bisa jelaskan padaku, senior?" pintanya kemudian.
"Dia... Ah, maksudku dia bersama beberapa warga, dengan sadar menganggap mereka sebagai pahlawan."
Jack semakin mengernyit dalam, tak mengerti dengan ucapan seniornya itu. Ia menoleh sesaat menelisik penampilan sederhana pria yang duduk tepat dibelakangnya. "Dia... pelaku pembunuhan? Tapi...."
"Antar aku ke rumah sakit, aku harus tahu kondisi Santaroni," ujar tegas Sammy alih-alih menjawab rasa penasaran Jack. "Dan kau, bawa pria itu ke kantor untuk diinterogasi, tanyakan saja sendiri dari mana mereka memiliki keberanian, dan bagaimana mereka tiba-tiba bisa melukai seorang pembunuh seperti Santaroni!" imbuhnya kemudian.
Jack mengangguk, dengan tawa kecilnya, ia mulai paham apa yang dimaksudkan sang senior.
“Biarkan aku memejamkan mata sebentar, bangunkan jika sampai di depan rumah sakit!” sergah Sammy kemudian membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.
“Siap, Ndan!” sahut Jack berkelakar ringan.
"Dia... warga desa itu, mereka berpikir bahwa mereka melakukan hal yang benar," kata Sammy dengan mata terpejam, suaranya masih terdengar kesal.
Jack masih tertawa kecil, melirik seniornya sejenak, kemudian kembali fokus pada kemudinya.
"Tapi, senior... bagaimana mereka bisa melukai Santaroni?" tanya Jack, penasaran.
Sammy membuang napas kasar lagi. "Aku tidak tahu, kau tanyakan saja langsung padanya nanti!” gerutunya kesal kemudian bersedekap dan tertidur.
………
Jack menghentikan laju mobilnya, tepat di depan lobi rumah sakit, “Senior, apa kau benar-benar tidur? Ini….”
Belum selesai ucapan Jack, Sammy pun terjingkat bangun. “Sudah sampai?” ujarnya setengah bertanya.
Sammy sedikit membenahi penampilannya, kemudian bergegas keluar dari mobil. “Pastikan para warga itu mengerti, bagaimana bahayanya bertindak sok pahlawan dan main hakim sendiri,” ujarnya kemudian seraya melirik tajam ke arah kursi penumpang.
Warga yang duduk di sana pun cengar-cengir seolah menahan malu dan takut secara bersamaan.
Jack mengangguk, kemudian memutar mobilnya menuju kantor polisi.
"Baik, senior. Akan kupastikan mereka mendapat hukuman yang setimpal!” kelakar Jack disertai tawa renyahnya.
Sammy berlari ke UGD, di mana Santaroni dirawat, wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
Dokter yang telah selesai memeriksa Santaroni menoleh ke arah Sammy, ekspresinya tampak serius.
"Kondisinya cukup parah, Petugas," kata dokter itu. "Luka lebam hampir di seluruh tubuh, sepertinya ia babak belur habis dikeroyok."
Sammy mengangguk membenarkan. "Tapi, apakah ada luka berat lainnya yang berarti?" tanya Sammy, suaranya tegas.
Dokter itu menggeleng pelan, "Tidak ada, petugas. Luka-luka itu memang parah, tapi tidak ada yang mengancam nyawanya. Kami sudah memberikan perawatan yang diperlukan, dan dia akan selamat."
Sammy menghela napas lega, "Apakah dia sudah bisa diinterogasi?" tanya Sammy penuh dengan harapan.
Dokter itu berpikir sejenak sebelum menjawab. “Dia sudah siuman, bahkan bisa berkomunikasi dengan baik sejak kami pindahkan ke ruangan sendiri. Silakan saja, kurasa dia tidak benar-benar tidur.”
Sammy mengangguk, kemudian berjalan menuju ke ruangan yang telah ditunjukkan oleh sang dokter.
Sammy duduk di samping brangkar Santaroni, menatap ke arah pria itu dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
Santaroni, yang sudah siuman, menatap kembali ke arah Sammy dengan mata yang penuh dengan emosi. Ada rasa canggung dan malu, khawatir serta bingung begitu kentara di wajah pria paruh baya itu.
Sammy menyunggingkan senyum kecil, "Kamu selamat," ucapnya santai.
Santaroni menundukkan kepala, merasa tak berdaya, wajah keras dan tatapan dingin seorang pembunuh, seolah sirna dihadapan petugas itu. "A...aku… terimakasih," kata Santaroni lemah.
Sammy melepas jaketnya, meletakkannya di ujung brangkar, kemudian beranjak menuju jendela, seolah instingnya menyuruhnya untuk waspada dan memindai lingkungan sekitar dari lantai tiga tempatnya berdiri. "Kamu tidak perlu berterimakasih," kata Sammy. "Aku hanya melakukan tugasku."
Santaroni menatap ke arah Sammy, ia tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. “A-apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana aku bisa...?" Santaroni tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Setelah merasa cukup dengan apa yang perlu ia pastikan, Sammy berbalik menatap ke arah Santaroni, kemudian kembali duduk di tempatnya semula.
“Sepertinya warga desa tak lagi takut denganmu. Mereka dengan brutal menyerangmu hingga babak belur.” Sammy kemudian menghela napas dalam diiringi senyum anggun namun tegas. “Sepertinya dunia telah memandangmu dengan cara yang berbeda,” imbuhnya berkelakar.
Santaroni pun balas tersenyum, kemudian menatap jauh keluar jendela, melihat langit yang cerah. "Kurasa masih banyak orang yang marah padaku, tapi aku sudah berhenti...."
"Tapi seseorang sepertinya meniru apa yang kamu lakukan, lima belas tahun lalu," tegas Sammy memotong ucapan Santaroni.
Santaroni terdiam mencerna ucapan Sammy. Ia berpikir keras mencoba memahami situasi yang tak pernah disangkanya itu.
Menyadari kebingungan Santaroni, Sammy merogoh ponselnya, membuka galeri, kemudian menyerahkannya pada pria yang duduk di brangkar, didepannya itu. "Lihatlah sendiri!"
Santaroni menerima ponsel Sammy, matanya melebar ketika melihat video yang diputar. Video pertama dari CCTV pusat perbelanjaan, yang menunjukkan seorang pria yang meniru penampilan khas Santaroni.
“Geser saja, masih ada video lainnya!” seru Sammy datar.
Video kedua adalah tentang jasad Zia di bak sampah belakang pusat perbelanjaan, Dan video ketiga adalah jasad yang baru saja ditemukan di bukit. Keduanya menunjukkan jejak pembunuhan yang sama persis seperti yang dilakukan Santaroni, lima belas tahun lalu.
Santaroni merasa seperti disambar petir, hatinya bergetar hebat, ada ketakutan dan kegetiran yang mulai bergejolak.
"T-tapi…." pekiknya lirih hampir tak terdengar.
Sammy menyandarkan punggungnya, mencari posisi yang nyaman. "Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi seperti itulah yang terjadi," kata Sammy. "Seseorang meniru aksimu, entah apa tujuannya."
"A...apa yang harus aku lakukan?" tanya lemah Santaroni.
Sammy membalas dengan tatapan tegas,enelisik setiap inci ekspresi pria itu. "Kamu harus bekerja sama dengan kami, Santaroni," kata Sammy. "Kamu harus memberitahu kami semua yang kamu tahu tentang kasus ini, dan siapa yang mungkin meniru aksimu."
Santaroni menundukkan kepala, kemudian mengangguk perlahan. "A-ku akan melakukan itu,"
Sammy bersedekap, tak memalingkan tatapan tegasnya. "Tapi, untuk apa kau berkeliaran di bukit itu, entah kenapa secara kebetulan, disana juga ditemukan satu lagi korban?" selidik Sammy.
Sammy masih terus mengawasi gerak-gerik Santaroni. "Kau benar-benar tak tahu?" tuntutnya.
Santaroni menggeleng, namun terlihat sangat ragu. 'Aku harus menemui biarawati itu, tapi bagaimana sekarang, petugas itu telah mencurigaiku, jika aku jujur, mungkin keselamatan anak itu....' pikir Santaroni menyembunyikan kebingungannya.
"Kenapa diam saja?"
Santaroni menggeleng, namun terlihat sangat ragu. Wajahnya pucat, bola matanya bergerak tak tenang, mencari-cari kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
"A...aku...aku tidak tahu apa-apa tentang korban lain itu," kata Santaroni, suaranya lemah.
Sammy tidak percaya, dia bisa melihat keraguan di mata Santaroni.
"Kamu menyembunyikan sesuatu, Santaroni," kata Sammy, suaranya menekan. "Kamu harus jujur, jika tidak, aku tidak bisa membantumu."
Santaroni menatap ke arah Sammy, kemudian menundukkan kepala.
"A...aku...aku harus menemui seseorang," kata Santaroni, suaranya hampir tidak terdengar.
Sammy menatap ke arah Santaroni, ekspresinya semakin tajam. "Siapa orang itu?" tuntut Sammy.
Santaroni ragu sejenak, kemudian menggelakkan kepala. "A...aku tidak bisa memberitahu," kata Santaroni, suaranya lemah.
Sammy menghempaskan napas, merasa bahwa Santaroni masih menyembunyikan sesuatu.
"Kamu tidak punya pilihan, Santaroni," kata Sammy, suaranya tegas. "Kamu harus memberitahu aku siapa orang itu, atau aku akan menganggap kamu sebagai tersangka utama."
Namun gertakan Sammy seolah tak didengarkan oleh Santaroni yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Sammy menarik kursinya lebih mendekat ke arah brangkar, semakin menajamkan tatapannya ke arah Santaroni seolah ingin sekali menguliti pria itu.
"Hmm, aku mengerti sekarang, pelaku itu adalah kaki tanganmu!" kata Sammy tegas. "Aku pasti akan menemukannya, persis seperti yang kulakukan padamu, lima belas tahun lalu!"
Santaroni menatap ke arah Sammy dengan mata yang lebar, wajahnya pucat karena terkejut. “Tidak! Bu-bukan begitu!” kilahnya.
Sammy mengubah tatapannya menjadi lebih dingin. "Kamu tidak bisa menyembunyikan apa-apa lagi, Santaroni," kata Sammy. "Aku akan menemukan pelaku itu, dan aku akan memastikan bahwa kalian mendapatkan hukuman yang setimpal."
Santaroni menatap ke arah Sammy dengan mata yang penuh dengan ketakutan, dia tahu bahwa dia telah membuat kesalahan besar dengan tidak memberitahu kebenaran dari awal.
...****************...
Bersambung....