Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Cinta yang Dibutuhkan vs. Cinta yang Dibenci
Kereta kuda kerajaan Obsidiana bukanlah kendaraan yang dirancang untuk kenyamanan manusia. Dindingnya terbuat dari kayu hitam yang diperkuat dengan lempengan baja obsidian, dan rodanya yang dilapisi sihir penahan getaran tetap tidak mampu meredam ketegangan yang menyesakkan di dalam kabin. Di luar jendela, pemandangan hijau Solaria perlahan memudar, digantikan oleh perbukitan batu yang gersang saat mereka mulai menanjak menuju perbatasan Utara.
Di dalam kabin yang sempit itu, Aethela duduk berseberangan dengan Valerius. Aroma darah dan belerang yang tertinggal dari insiden di Taman Mawar masih tercium samar, bercampur dengan wangi maskulin Valerius yang tajam.
Ia merasa terguncang sekaligus marah. Kejadian tadi pagi terus berputar di benaknya—wajah Julian yang penuh kebencian, dan wujud Valerius yang hampir menjadi monster sepenuhnya. Ia merasa seperti baru saja melompat dari wajan panas langsung ke dalam api. Keheningan di antara mereka terasa seperti tali yang ditarik kencang, siap putus kapan saja.
"Kau seharusnya memberitahuku bahwa ksatria-ksatriamu adalah sekumpulan pengecut yang gemar menikam dari belakang," suara Valerius memecah kesunyian. Ia duduk dengan tangan bersedekap, matanya menatap tajam ke arah jendela, enggan melihat Aethela.
"Jangan berani-berani menghina rakyatku," sahut Aethela, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Mereka ketakutan, Valerius. Mereka melihatmu sebagai monster yang datang untuk mencuri putri mereka. Julian hanya melakukan apa yang dia pikir benar untuk kehormatan Solaria."
"Kehormatan?" Valerius menoleh, wajahnya menunjukkan seringai sinis. "Membunuh seorang wanita tak bersenjata di taman mawar disebut kehormatan di matamu? Jika itu standar Solaria, maka aku bersyukur aku adalah seorang monster."
Ia tahu Valerius benar, namun egonya terluka. Ia merasa harus membela tanah airnya, meskipun tanah airnya baru saja mencoba menghabisinya. "Kau menyelamatkanku hanya karena kau membutuhkanku untuk sihirmu! Jangan berlagak seolah kau adalah pahlawan tanpa pamrih!"
Valerius merasakan denyut di pelipisnya. Kata-kata Aethela menusuk tepat di tempat yang paling sensitif.
Ia merasa terhina sekaligus frustrasi. Ya, secara logika, ia menyelamatkan Aethela karena dia adalah kunci bagi kelangsungan rasnya. Namun, ada bagian dari dirinya—bagian naga yang lebih primitif—yang bereaksi bukan karena logika. Ia mengingat rasa takut yang ia rasakan saat melihat pedang itu mengarah ke leher Aethela. Itu bukan rasa takut kehilangan alat; itu adalah rasa takut kehilangan sesuatu yang berharga.
"Tentu saja aku membutuhkanmu," geram Valerius, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Ruang di dalam kereta terasa semakin sempit. "Aku tidak pernah menyangkal itu. Tapi jangan pernah lupa, Aethela, monster yang kau benci ini adalah satu-satunya alasan kau masih bernapas sekarang. Di mana rajamu? Di mana pelayan-pelayan setiamu saat pedang itu di lehermu?"
"Mereka adalah orang-orangku!" Aethela berteriak, air mata kemarahan mulai menggenang di matanya. "Dan kau... kau hanyalah orang asing yang memaksaku masuk ke dalam duniamu yang dingin!"
"Aku membawamu ke dunia di mana kau akan tetap hidup!" balas Valerius. "Di Solaria, kau hanyalah martir yang menunggu giliran untuk dikorbankan demi ramalan bodoh tentang kutukanmu. Di Obsidiana, kau memiliki nilai. Kau memiliki kekuatan."
Napas mereka saling beradu dalam jarak yang sangat dekat. Valerius bisa melihat pantulan dirinya di mata ungu Aethela yang berkaca-kaca. Ia merasakan dorongan gila untuk merengkuh wanita ini, entah untuk mengguncangnya agar dia mengerti, atau untuk membungkam bibirnya yang terus melontarkan kata-kata tajam itu.
Sihir mereka mulai beresonansi lagi. Pendaran perak dari kulit Aethela mulai beradu dengan bayangan halus yang keluar dari balik jubah Valerius. Udara di dalam kereta terasa bermuatan listrik.
Aethela terengah-engah, emosinya meluap. Ia membenci betapa Valerius bisa melihat menembus pertahanannya. Ia membenci kenyataan bahwa ia merasa lebih 'hidup' saat berdebat dengan pria ini daripada saat ia menjadi putri yang sempurna di istananya.
"Kau pikir aku harus bersyukur?" bisik Aethela, suaranya kini serak. "Harus bersyukur karena menjadi tawanan naga?"
"Aku tidak memintamu bersyukur," jawab Valerius, suaranya mendadak melunak, menjadi rendah dan berbahaya. "Aku hanya memintamu untuk melihat kebenaran. Kau mencintai sebuah kerajaan yang ingin melihatmu mati. Dan kau membenci pria yang akan melakukan apa pun untuk memastikan kau tetap hidup."
"Kenapa?" tanya Aethela, menantang mata emas Valerius. "Kenapa kau peduli jika aku hidup, selain karena sihirku?"
Valerius terdiam. Pertanyaan itu menggantung di udara seperti hukuman gantung. Ia menarik diri kembali ke tempat duduknya, ekspresinya kembali membeku menjadi topeng es yang tak terbaca.
Ia sendiri tidak tahu jawabannya, dan itu membuatnya merasa rentan. Seorang Naga tidak boleh merasa rentan. "Karena jika kau mati," katanya akhirnya dengan suara datar, "aku akan gagal dalam tugasku. Dan aku tidak pernah gagal."
Aethela memalingkan wajah ke arah jendela, menyembunyikan air mata yang akhirnya jatuh. Jawaban itu adalah apa yang ia harapkan, namun entah kenapa, itu membuatnya merasa lebih kesepian daripada sebelumnya.
Perjalanan berlanjut dalam keheningan yang menyiksa. Aethela menyadari bahwa ia terjebak dalam dilema yang mengerikan: ia membutuhkan perlindungan dari pria yang ia benci, dan ia terikat secara sihir pada pria yang tidak melihatnya sebagai manusia, melainkan sebagai tugas.
Di luar, salju pertama mulai jatuh saat mereka melewati gerbang batu besar yang menandai perbatasan Obsidiana. Dunia yang hangat dan penuh bunga mawar telah benar-benar hilang, digantikan oleh musim dingin abadi yang akan menguji seberapa kuat api kebencian—atau benih cinta—yang tumbuh di antara sang Putri Bulan dan sang Pangeran Naga.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️