NovelToon NovelToon
Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Cerai / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: VISEL

Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Hana langsung ke bengkel mobil itu setelah menerima panggilan telpon dari Peter. Hana sangat ingin menemui Peter untuk mengembalikan hutang mobilnya yang telah Peter bayar. Sesampainya di bengkel mobil itu, Hana keluar dari dalam taksi dan langsung masuk ke dalam bengkel. Hana menyapa salah seorang pegawai bengkel mobil itu dan mengutarakan niatnya untuk mengambil mobilnya.

  Hana: "Saya disuruh oleh Peter ke sini." ucapnya kepada seorang pegawai bengkel itu.

  Pegawai bengkel: "Iya,mbak. Mobilnya ada di sebelah sana." sahutnya sambil menunjuk ke arah mobil berwarna merah milik Hana. Pegawai bengkel itu berjalan pelan ke arah mobil itu, Hana mengikutinya dari belakang. Mobil berwarna merah itu kelihatan bersinar dan mengkilap, membuat Hana terkesima.

  Hana: "Apakah mobilku juga dicuci?" tanyanya dengan rasa kagum.

  Pegawai bengkel: "Iya, Mbak. Pak Peter yang menyuruhnya." ucapnya sambil tersenyum kecil. "Pak Peter juga telah melunasi biayanya." ucapnya lagi dengan rasa puas.

  Hana: "Terima kasih, ya. Sampaikan juga rasa terima kasihku pada Peter." sahutnya dengan ekspresi wajah bahagia. "Apakah aku boleh membawanya sekarang?" tanyanya.

  Pegawai bengkel: "Silahkan, mbak." ucapnya dengan yakin. "Ini kuncinya." ucapnya lagi. Hana tersenyum puas, ia mengambil kunci mobilnya dari tangan pegawai bengkel itu dan masuk ke dalam mobilnya. Hana melaju dengan mobilnya hati yang bahagia, walaupun jauh di lubuk hatinya ia masih sedih karena memikirkan Aldo, namun di sisi lain Peter membuatnya bahagia dengan mobil itu.

  Hana: "Aku masih berhutang pada Peter. Aku akan menghubunginya nanti." ucapnya lirih di dalam mobil. Hana terus melaju dengan mobilnya, di tengah perjalanan tante Laras menelpon Hana, dengan hati-hati Hana memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan menjawab panggilan telpon dari ibunya.

  Hana: "Ada apa, ma?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.

  Tante Laras: "Apakah kamu masih di bengkel, nak?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.

  Hana: "Aku sedang di pinggir jalan, ma." sahutnya dengan lembut.

  Tante Laras: "Mama ingin titip sesuatu, Hana. Mama tidak bisa keluar, karena kaki mama sedang sakit." ucapnya dengan suara pelan.

  Hana: "Mau titip apa, ma?" tanyanya lagi. "Apakah mama mau aku ke apotik?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.

  Tante Laras: "Iya, nak. Tolong belikan obat yang biasa mama beli." pintanya dengan lembut.

  Hana: "Baiklah, ma." ucapnya. "Apakah ada yang lain lagi?" tanyanya lagi.

  Tante Laras: "Tidak ada, Hana. Hanya obat itu saja. Terima kasih, ya, nak." ucapnya.

  Hana: "Iya, ma. Aku akan segera ke apotik." ucapnya. Hana kembali melaju dengan mobilnya ke sebuah apotik terdekat. Beberapa menit kemudian, Hana tiba di depan apotik .

  Hana: "Aku mencari obat untuk kaki dan lutut, mas." ucapnya kepada pegawai apotik itu. Pegawai apotik itu tersenyum ramah, lalu mengambil salah satu obat yang dicari oleh Hana.

  Pegawai apotik: "Ini, mbak." ucapnya sambil memberikan obat yang merupakan kapsul itu kepada Hana. Pegawai apotik itu memberikan penjelasan yang rinci tentang penggunaan obat itu kepada Hana, sambil tersenyum tipis Hana seakan memahami penjelasan pegawai apotik itu. Hana mengambil dompet dari dalam tasnya, ia mengeluarkan uang kertas dan memberikan kepada pegawai itu.

  Pegawai apotik: "Tunggu kembaliannya, ya, mbak." ucapnya sambil melangkah pelan menuju ke kasir, seorang pria masuk ke dalam apotik itu dan berdiri di samping Hana. Pria itu memanggil salah seorang pegawai apotik dan menanyakan tentang obat yang ingin dicarinya. Hana mendengar suara pria itu, suara itu tidak asing di telinganya.

  Hana: "Peter." ucapnya dengan pelan. Peter menoleh pada Hana, ia sedikit terkejut sambil tersenyum tipis.

  Hana: "Hai, Hana." sapanya. "Kita bertemu lagi." ucapnya lagi. "Obat apa yang kamu cari, Peter?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.

  Peter: "Obat kandungan untuk istriku, Hana. Resep dari dokter." sahutnya sambil memperlihatkan selembar kertas kepada Hana. Pegawai apotik membawa kembalian kepada Hana dan menyerahkannya.

  Pegawai apotik: "Ini kembaliannya, mbak." ucapnya.

  Hana: "Terima kasih, mas." ucapnya. Hana kembali menoleh pada Peter, lalu berkata: "Sampai ketemu, Peter. Terima kasih atas bantuanmu." ucapnya. "Tolong kirimkan nomor rekeningmu, ya." pintanya dengan penuh harap. Peter tersenyum kecil tanpa menjawab sepatah kata. Hana berlalu dari hadapan Peter, ia masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan mobilnya di jalan raya menuju ke rumahnya. Peter masih menunggu obat di ruang apotik itu dengan sabar. Beberapa menit kemudian, nama Peter dipanggil oleh pegawai apotik itu dan menyerahkan beberapa macam jenis obat kandungan itu pada Peter.

  Peter: "Terima kasih, mas. Ini uangnya." ucapnya. Setelah memberikan uang pas kepada pegawai apotik itu, Peter masuk ke dalam mobilnya dan pulang ke rumah untuk menemui istrinya, yaitu Meta. Setibanya di rumahnya, Meta berada di ruang tengah dan melihat Peter masuk ke dalam rumahnya.

  Meta: "Kamu cepat sekali, sayang. Biasanya agak lama di apotik." ucapnya.

  Peter: "Apotik itu sedang sepi, sayang. Antriannya kurang hari ini." sahutnya.

  Meta: "Sebenarnya aku lelah minum obat ini. Setelah aku menghabiskannya, kamu tidak usah membelinya lagi, ya." ucapnya dengan pasrah.

  Peter: "Jangan putus asa, sayang. Kita harus terus berusaha." ucapnya. Peter selalu menguatkan dan menghibur Meta, mereka telah menikah selama hampir 3 tahun. Meta dan Peter sama-sama merindukan kehadiran seorang bayi dalam kehidupan rumah tangga mereka. Meta telah menjalani proses pengobatan selama pernikahan mereka, namun tanda-tanda kehamilan itu belum juga terjadi. Meta hampir putus asa dan bersikap pasrah, Peter selalu berusaha menguatkan istrinya agar tetap menjalani pengobatan. Meta pernah menjalani operasi kista pada kandungannya saat awal mereka menikah.

Meta: "Aku tidak ingin berharap terlalu tinggi, Peter." ucapnya dengan wajah dingin. "Biarkan saja semuanya seperti ini. Jangan memaksaku minum obat lagi." ucapnya dengan lembut namun tegas.

Peter: "Baiklah, sayang. Terserah padamu saja." ucapnya. "Apakah kamu sudah makan?" tanyanya dengan rasa peduli.

Meta: "Aku sudah makan, Peter. Aku akan menemanimu makan jika kamu mau." ucapnya.

Peter: "Tidak, Meta. Aku ingin ke kantor sebentar." ucapnya. Peter menatap jam tangannya, jarum jam telah menunjukkan pukul 1.40 siang.

Meta: "Apakah ada pekerjaan kantor yang mendesak?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.

Peter: "Aku akan menemui seorang klien pukul 3.00 sore nanti." ucapnya dengan yakin.

Meta: "Baiklah, sayang. Aku ingin meminta ijinmu." ucapnya dengan pelan. "Bolehkah aku ke rumah Santi?" tanyanya sambil menatap wajah suaminya dalam-dalam. Santi adalah sepupu Meta, mereka sangat akrab bagaikan saudara kandung.

Peter: "Tentu saja boleh, sayang." ucapnya. "Jam berapa kamu ke sana?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.

Meta: "Sekitar jam 4 sore nanti." ucapnya.

************************************

1
tia
dunia nyata dunia novel sama istri pertama pasti ada ruang khusus 😁😁
tia
tambah lg updatenya thor
tia
karma di bayar lunas ,, kehilangan bayi kakiny lumpuh ,,, syukurin
tia
kasihan hana 😭😭,,moga kenzo cepat sembuh.
tia
lanjut Thor,,buktikan hana bahwa qmu hebat
tia
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!