Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nana dan duck syndromnya
Nana dan Ayzel menikmati siang itu di balkon kamar, mereka duduk di sofa bertemankan kue lapis talas dan juga es teh manis. Ke duanya mengobrol sambil memandangi langit cerah dan juga angin yang sesekali menerpa.
Ayzel memang sengaja melakukan hal tersebut, mengajak Nana ngobrol hanya berdua. Hari itu dia bukan hanya menjadi seorang kakak ipar, namun Ayzel punya peran ganda sebagai psikolog sang adik ipar.
Nana, adik sepupu suaminya tersebut terlihat ceria. Gadis itu juga cerdas, Nana selalu bersikap manja pada Alvaro dan Kim Roan. Namun itu dulu, berbeda dengan saat ini. Nana yang sekarang terlihat lebih matang dari sebelumnya, dia bukan hanya bekerja di Jaziero Tech milik Alvaro. Nana bahkan menjadi asisten Ayzel secara part time, dan dia mempunyai kemampuan itu. Karir Nana bersama dengan kakak dan kakak iparnya juga diakui rekan sejawat yang bekerja sama dengan Nana.
Di kantor, Nana selalu dapat diandalkan. Meskipun dia adalah sepupu pemilik Jaziero Tech, namun Nana tetap profesional. Tidak ada satupun yang membedakannya, justru hasil kerjanya selalu memuaskan rekan satu timnya. Namun di balik itu semua tidak ada yang tahu jika seorang Nana yang datang ke kantor tepat waktu dan selalu menyapa ramah dengan senyuman manis pada penjaga keamanan dan resepsionis itu menyimpan sesuatu di baliknya.
Orang-orang akan melihatnya sebagai Nana yang bahagia dan di penuhi dengan keberuntungan, dia tenang dan juga rapih dan baik-baik saja tanpa cela juga…terlihat sempurna! Namun tidak ada yang tahu kenyataan yang ada di balik kata sempurna dan baik-baik saja itu menyimpan kenyataan pahit yang hanya Ayzel, Naira, Alvaro dan Kim Roan yang tahu. Juga Grace, sahabat Nana yang sudah berpulang karena penyakit jantung.
Di balik kata sempurna dari hidup Nana, di dalam dirinya penuh dengan kecemasan, kelelahan dan juga perjuangan besar…dia seperti bebek yang sedang berenang menyusuri danau, meluncur tenang di permukaan air. Namun di dasar air kakinya bergerak mengayuh kaki dengan perjuangan dan mati-matian.
“Masih doodling?” tanya Ayzel, dia dan Naira berusaha keras untuk mengatasi duck syndrome yang dialami Nana.
Nana mengangguk. “Masih, kak. Tapi tidak sesering dulu,”
“Menepilah sejenak saat lelah, kamu tidak harus memenuhi semua ekspektasi orang-orang terhadapmu. Jangan pernah merasa sendiri karena kami menyayangimu,” ucap Ayzel.
Nana mencondongkan tubuhnya ke samping agar dia dapar melihat Ayzel. “Kak!”
“Eum?” Ayzel menoleh, dia lantas membuat posisi duduknya lebih tegak menghadapa Nana. “Butuh sesuatu?” tanya mama Altezza dan Haziel.
“Apa kak Zeze bakal ngedukung Alvin?” Nana memainkan jari-jarinya karena gugup.
Ayzel tersenyum, dia meraih tangan Nana dan menepuk dengan lembut punggung tangan gadis itu. “Tergantung, Na. Kakak bisa mendukung atau bahkan menentang keras,” jawabnya. “Apakah dia serius atau hanya sekedar mengalihkan isu atas tekanan yang Alvin dapat dari tuan Zekai,” lanjut Ayzel.
“Kalau dia serius?” penasaran Nana dengan jawaban Ayzel.
Ayzel kembali tersenyum. “Kamu yang punya jawabannya, bukan kakak. Karena kamu yang merasakan Alvin tulus atau hanya sekedar mempermainkanmu,” Ayzel lantas berdiri dari sofa. “Tidak terasa ternyata sudah lama aku di sini, sebentar lagi Haziel bangun. Kakak kembali ke kamar dulu!” pamitnya kemudian pada Nana.
“Terimakasih kak Zeze. Nampan biar nanti aku bawa ke bawah, kakak langsung ke kamar duo pangeran saja!” pinta Nana diangguki Ayzel.
Ayzel memeluk Nana sebelum dia keluar dari kamar gadis itu. “Ingat satu hal, Nana. Hatimu akan menemukan ke mana dan pada siapa dia berlabuh, kamu bukan tidak diinginkan. Bukan juga tidak berguna, karena justru kamu sangat berharga. Juga istimewa,” bisik Ayzel.
Nana hanya bisa berkaca-kaca, tenggorokannya terasa tercekat hingga tak mampu bicara saat mendengar ucapan dari Ayzel. Dia hanya mengangguk, hanya bersama dengan mereka Nana merasa di terima dan nyaman. Karena itulah Nana lebih betah saat bersama mereka dari pada bersama dengan keluarga aslinya.
Ayzel kembali ke kamarnya karena harus mengASIHI Haziel, sedangkan Nana masih diam di balkon sambil melihat langit yang tadinya cerah mulai berganti warna. Langit seketika berubah jadi kelabu, hawa dingin mulai terasa menembus kulit putih bersih Nana. Bagi Nana yang tinggal di negara dengan empat musim, angin dingin di Bandung belumlah seberapa dengan suhu minus di negara asalnya.
Nana justru senang memandangi langit mendung, dengan awan-awan berwarna abu yang siap memuntahkan isinya tersebut. Yap! Dia, Nana Aksara Kim. Putri pertama dari keluarga Kim Haejun dan Sarah, papa keturunan Korea sedangkan mama keturunan campuran Indo-Korea.
Nana kehilangan sang mama saat masih kecil, Nana bahkan tidak ingat bagaimana mamanya meninggal. Namun semenjak itu kehidupannya berubah drastis, papanya menikah kembali di saat kepergian sang mama belum ada satu tahun.
Papanya berubah, terlebih semenjak menikah dengan istri baru dan memiliki anak darinya. Sang papa lebih sering bersama istri dan putri ke duanya, adik beda ibu dengan selisih usia empat tahun dari Nana. Adik yang selalu di bandingkan dan di kata lebih cerdas dari Nana, adik perempuan yang selalu mendapatkan kasih sayang lebih dari sang papa.
Sementara Nana, hari demi hari dia mengalami hal yang tidak menyenangkan. Hingga gadis itu beranjak dewasa, tetap saja sang papa tidak perduli lagi dengannya. Hijin yang lebih cantik, Hijin yang lebih cerdas, Hiji…Hijin dan Hijin. Nana bahkan sampai hapal dengan kata-kata tersebut, hanya Hijin sang adik beda ibu yang akan mendapatkan sanjungan. Sementara dia? Nana bak figuran saat keluarga berkumpul dalam satu acara. Dari sanalah bibit-bibit duck syndrom muncul, nana merasa tidak berguna. Gadis cantik tersebut merasa diabaikan dan tidak diinginkan, dia harus menjadi hebat dan sempurna jika ingin di perhatikan.
Karena hal itulah yang membuat Nana lebih dekat dengan keluarga Alvaro dan Kim Roan. Bersama mereka Nana merasa lebih nyaman, dia merasa tenang dari pada harus bersama papa dan keluarga tirinya.
Setelah beberapa saat berdiam menikmati cuaca mendung, Nana lantas masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon. Dia turun ke lantai satu membawa nampan berisi gelas dan piring yang sudah kosong, Nana lantas mencuci sendiri piring dan gelas kotor miliknya.
“Biar bibi saja yang cuci, non1 Nanti baju non Nana basah,” ucap salah satu bibi yang bekerja di sana.
“Tidak apa-apa, bi. Cuma gelas sama piring saja,” jawab Nana yang sudah selesai dengan cuci mencucinya. “Nana keatas duluan bi,” pamitnya diangguki bibi.
Nana kembali naik ke lantai dua, dia ingin mengistirahatkan tubuhnta setelah lelah melanda hati juga pikirannya. Sampai saat itu dia masih memikirkan ucapan Alvin, Nana berjalan menuju tangga.
Sret…
“Eh?” Nana terkejut mendapati Alvin yang ada di sana, pria itu mencekal pegelangan tangan Rhea.
“Aku serius dengan ucapanku,” ucap Alvin dingin, Nana hanya bisa menghela napas. Kepalanya yang sudah berisik tersebut jadi makin berisik karena ulah Alvin.
“Apa kamu sedang mempermainkanku? Kita tidak saling cinta, ketemu juga baru berapa kali. Mana bisa tiba-tiba nikah,” kesal Nana.
“Bisa!” jawabnya dingin dan juga datar.
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣