Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Ethan sangat terkejut mengetahui Athalia mau menawarkan jasa untuk membantunya. Dia kembali berpikir, apa telah dikenali.
Tapi karena wanita yang menegur berbicara sopan, ramah dan biasa saja, bukan sedang mencari kepastian, Ethan coba menepis prasangka. Dia menjalani niatnya, agar tidak gagal di hari pertama.
"Terima kasih." Ethan berterima kasih dengan nada suara rendah dan dalam, tanpa menengok ke arah Athalia yang sedang melihat ke sekitar mereka.
Ketika melihat tidak ada orang yang mendekati mereka, Athalia bertanya. "Anda mau ke mana?" Pertanyaan Athalia menyadarkan Ethan, bahwa gadis yang memarahinya tidak mengenal dia.
"Saya mau ke seberang. Mau bertemu seseorang." Jawab Ethan cepat, agar tidak dicurigai dan mencoba tenang, walau jantungnya sudah berdegup kuat.
"Kalau begitu, mari saya bantu ke sebrang." Athalia memegang siku Ethan lalu mengangkat tangan untuk memberi isyarat ke arah mobil yang mendekat, bahwa mereka mau menyeberang.
Athalia tidak bisa bersikap basa-basi dan menunggu, karena waktu istirahat hampir berakhir. Oleh sebab itu, dia bergerak cepat agar tidak kepikiran meninggalkan seorang tuna netra di pinggir jalan.
Apa lagi Athalia melihat, orang yang ditolong belum mengetahui cara menggunakan tongkat putih untuk mengamankan dirinya.
Ethan mengikuti cara jalan Athalia dengan pandangan lurus ke depan, agar terlihat alami sebagai penyandang tuna netra. Hal itu hampir membuat dia mengetok kepalanya, mengapa membawa tongkat putih.
Sedangkan Athalia tetap perhatikan mobil dari dua arah. Tanpa sadar, Athalia menarik nafas panjang setelah berada di seberang jalan. "Di sana ada tempat minum. Mungkin lebih baik minum sesuatu sambil menunggu. Di sini sudah sangat panas dan ramai." Athalia memberikan saran, sebelum dia kembali menyeberang.
"Anda bisa pesan minuman buat saya?" Pinta Ethan yang terus menjalankan peran sebagai penyandang tuna netra, karena sudah tidak bisa mundur lagi.
Athalia tidak jadi pamit untuk menyeberang. "Anda mau di mana? Di sana ada cafe, coffee shop dan tempat berbagai juice." Tanya Athalia yang sudah melepaskan tangan dari siku Ethan.
"Ke coffee shop saja." Jawab Ethan cepat, karena sejak awal dia memang mau ke tempat itu untuk menguji para staff dan karyawan.
"Baik." Ucap Athalia, lalu kembali memegang siku, karena Ethan sudah melipat tongkat putih yang dibawa.
Athalia tidak mau bertanya atau persoalkan hal itu, karena Ethan tidak akan menabrak sesuatu atau seseorang selama dia memegang sikunya.
Athalia memperlambat langkah, untuk menuntun Ethan. "Minuman apa yang tersedia?" Tanya Ethan yang mulai belajar memerankan penyamarannya, seakan tidak tahu tempat minuman yang akan dituju. Padahal sebelumnya dia mau ke sana untuk mengamati dan mendengar pembicaraan tentang jabatannya sebagai CEO.
"Ada berbagai jenis coffee dan di sebelah ada juga juice. Anda mau yang mana?" Athalia menyebut ada juice, karena tempatnya lebih terbuka dan tidak seperti coffee shop yang lebih ekslusif dan private.
"Ke coffee shop saja." Ucap Ethan, tetap seperti pemintaan semula.
"Baik." Athalia tidak berkomentar lagi.
Ketika pintu kaca coffee shop dibuka, Athalia terkejut melihat suasana nyaman dan intim di antara orang yang sedang duduk minum kopi. Dia langsung menyadari, tempat itu buat orang bersantai, menghabiskan waktu dan uang.
Dia lebih terkejut mencium wangi tubuh Ethan yang terkena AC. Sehingga dia melihat kiri kanan sambil mempertajam penciuman untuk memastikan, bahwa harum itu berasal dari mana.
Setelah yakin itu berasal dari tubuh pria yang ditolongnya, Athalia menahan nafas. Dia sudah beberapa kali menolong orang tuna netra, tapi baru pernah bertemu dengan orang yang harum tubuhnya sangat unik, tidak bisa diuraikan dengan kata-kata.
Wanginya tidak tajam, tapi ketika tercium menandakan pria maskulin. Sekali tercium, ingin kembali mencium. Sehingga dia sesekali harus menahan nafas dan tidak berani melihat ke arah sumbernya.
Athalia cepat menguasai pikirannya yang sedang berpikir untuk mendefenisikan harum tubuh Ethan. Dia melepaskan tangan, lalu menarik kursi. "Silahkan duduk di sini, Pak." Athalia mempersilahkan duduk.
Athalia ikut duduk. "Anda mau minum apa?" Lanjutnya membantu.
"Ada minuman apa saja?" Tanya Ethan yang menikmati interaksinya dengan Athalia.
"Ada ...." Athalia membaca dengan suara pelan, nama kopi yang disediakan. Padahal Ethan bisa membaca dengan jelas daftar minuman, walau tulisannya terbalik.
"Saya pesan..." Tanpa sadar, Ethan menyebut nama minuman yang biasa diminum. Hal itu membuat Athalia terkejut dan menatap dia dengan serius. Ethan jadi melihat mata hitam bening Athalia, tanpa mengerti maksud tatapannya.
Walau heran melihat Athalia terkejut dan panik, Ethan tidak berani bertanya. Karena jika bertanya, akan terbongkar kalau dia bisa melihat.
Ethan terus menatap Athalia dari balik kacamata hitam. 'Gadis baik dan cantik.' Dengan jelas dia bisa memperkirakan usia Athalia lebih muda darinya.
"Pak, maaf. Apa anda punya uang? Saya belum gajian." Bisik Athalia sambil memajukan kepalanya.
"Oh, sebentar. Saya periksa." Ethan jadi terkejut mendengar pertanyaan Athalia. Dia tidak memikirkan itu sebelumnya, dan tidak bisa mengeluarkan dompet yang berisi berbagai card.
"Sepertinya saya lupa bawa uang. Apa bisa saya tunggu saja?" Ethan mau menunggu asistennya.
"Tidak enak sama pelayannya, Pak. Saya pesan yang termurah saja, ya. Sepertinya, uang saya masih cukup." Ethan tersentak melihat Athalia melihat harga kopi sepintas, lalu melihat isi dompetnya.
"Terima kasih." Ethan hanya bisa mengucapkan terima kasih. Hatinya seperti dicubit tang, melihat yang dilakukan Athalia. Dia ingin berhenti menyamar, agar tidak menyusahkan.
Athalia berdiri menuju tempat pesan dan bayar kopi, lalu kembali duduk di depan Ethan. Namun Ethan merasa heran melihat perubahan wajah Athalia yang agak memerah.
"Maaf, Pak. Saya pamit, karna waktu istirahat akan berakhir." Bisik Athalia, karena suasana hatinya terasa buruk.
"Ini minumannya." Pelayan wanita mendekat sambil meletakan satu cup kopi. Tidak sopan dan ketus.
Hal itu membuat wajah Athalia makin memerah, karena dia hanya pesan kopi paling murah seharga 18 ribu, sesuai isi dompetnya yang tinggal 50 ribu dan sedikit uang receh.
Ethan jadi mengerti penyebab perubahan wajah Athalia. Dia jadi emosi dan mengepalkan tangan di atas paha.
"Silahkan diminum, Pak. Saya permisi." Ucap Athalia pelan, lalu berdiri dan berjalan cepat keluar dari coffee shop tanpa menengok. Dia menahan malu ingat pelayan bertanya dengan nada merendahkan. 'Hanya pesan ini, satu?'
Sedangkan Ethan yang sudah emosi atas sikap pelayan, ingin segera melepaskan kacamata dan memanggil pelayan yang melayani mejanya.
Namun ingat penyamarannya, dia memasukan tangan ke saku jaket ambil earphone dan telpon. "Iya, Pak." Jawab Rion cepat.
"Segera ke sini ..." Ethan menyebut nama coffee shop.
"Pak Niel ada di sana?"
"Iya. Saya bilang cepat." Ethan tidak bisa kendalikan emosinya.
"Pak, para karyawan di sana mengenal saya."
"Apa maksudmu?"
"Pak, gedung di seberang itu, property boss besar yang sedang disewakan. Kami sering adakan pertemuan di lantai atas, yang bagian bawa di sewakan buat coffee shop...." Rion menjelaskan status gedung milik Opah Ethan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...