Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8 - Menyambut Oma
"Ini biji kopinya?" tanya Mila menatap Valen.
"Iya, ini biji kopinya. Coba kamu cium aromanya," ucap Valen sembari menyodorkan wadah kecil berisi biji kopi Flores yang baru saja ia ambil.
Mila mendekatkan wajahnya, menghirup dalam-dalam aroma kopi tersebut. Matanya terpejam sesaat. "Wow... ada aroma kacang, sedikit cokelat, dan... buah? Ini unik banget, Valen. Kalau ini dijadikan infuse ke dalam mousse cokelatnya, rasanya pasti bakal punya layer yang cantik banget, bener 'kan?"
Valen tersenyum dan mengangguk membenarkan ucapan Mila.
Sementara di dalam ruang VVIP Wangsa Cafe yang tenang, Bunda Selfi kini tampak menoleh ke arah April yang duduk di samping Robi. Kehangatan terpancar dari wajah Selfi saat ia menggenggam tangan calon menantunya itu.
"April sayang, persiapan pernikahan kalian bulan depan sudah sampai mana? Bunda dengar dari Robi tadi kamu lagi bahas rundown ya sama Tasya?" tanya Bunda Selfi lembut.
April tersenyum manis, sedikit melirik ke arah Tasya yang langsung sigap membuka tabletnya. "Iya, Bunda. Sejauh ini udah aman kok, vendor bunga dan katering sudah terkunci. Hari ini April dan Tasya memang lagi mematangkan jadwal acara supaya pas hari-H kak Obi nggak bingung," jawab April sembari melirik Robi yang hanya cengengesan.
"Pokoknya beres, Tan! Aku pastikan pernikahan Robi dan April bakal jadi wedding of the year," timpal Tasya dengan penuh percaya diri.
Ayah Faul dan Papa Fildan yang mendengar itu hanya tertawa kecil. Namun, fokus mereka kembali tertuju pada pemandangan di bawah sana—Mila dan Valen yang masih sibuk dengan biji kopi Flores mereka.
"Baguslah kalau urusan pernikahan lancar. Tapi besok siang, fokus kita adalah menyambut 'Panglima' kita yang sebenarnya," ujar Ayah Faul yang langsung membuat suasana sedikit mencekam.
Keesokan Harinya. Terminal 3 Kedatangan Internasional
Suasana bandara siang itu terasa lebih dingin bagi Mila. Meski pendingin ruangan bekerja maksimal, telapak tangannya tetap berkeringat. Di sampingnya, Mutia setia mendampingi, sesekali merapikan rambut Mila yang sebenarnya sudah rapi. Sementara di sisi lain, Tasya berdiri sigap di samping April, memastikan penampilan calon pengantin itu tetap sempurna di depan Oma.
"Kamu tenang, percayalah cake yang kamu bawa akan menjadi tameng besar untuk mengahadapi Oma kamu, Mila," ujar Valen menenangkan.
Mendengar itu, April menyenggol lengan Mila sembari mengangkat kedua alisnya, menggoda calon adik iparnya itu.
Mila pun tersipu malu dan tetap mengikuti langkah dari orang tuanya yang sudah duluan di depan.
Rombongan besar itu menarik perhatian banyak pasang mata. Ayah Faul, Bunda Selfi, Papa Fildan, Robi, April, dan tentu saja Valen yang terlihat sangat berwibawa dengan kemeja slim-fit berwarna gelap.
Mila memeluk kotak kue berwarna gold eksklusif itu dengan sangat hati-hati. Di dalamnya, Dark Chocolate Mousse Cake dengan infuse Espresso Flores hasil diskusinya dengan Valen kemarin sudah siap diuji coba langsung dengan Oma.
"Tenang, Mil. Ada gue, ada Kak April, ada semua orang. Lo nggak sendiri," bisik Mutia menguatkan.
"Tapi Mut... itu Oma," balas Mila lirih.
Tiba-tiba, pintu kaca besar itu terbuka. Suasana mendadak hening bagi keluarga Hardianto. Dari kejauhan, tampak seorang wanita paruh baya berjalan dengan langkah yang sangat anggun namun penuh penekanan. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, dan sebuah selendang sutra melilit lehernya dengan elegan. Di sampingnya, Tante Dewi tampak tersenyum sembari membimbing jalannya Oma.
Oma Soimah. Begitu sampai di hadapan mereka, semua orang menunduk hormat. Ayah Faul segera maju untuk menyalami ibunya, diikuti oleh Selfi dan juga Fildan selaku sahabat Faul.
"Ibu... selamat datang kembali di tanah air," ucap Ayah Faul lembut.
"Oh Ibunda Soimah, selamat datang dan berkumpul kembali bersama anak cucu," imbuh papa Fildan yang juga menyalami Oma Soimah.
"Kamu itu, Fildan." Oma Soimah melepas kacamata hitamnya, menatap satu per satu anggota keluarganya dengan tatapan tajam yang legendaris. "Sepertinya kalian makin ramai saja," lanjut Oma terdengar berat dan berwibawa.
Pandangan Oma berhenti tepat di depan Mila yang sedikit gemetar. Matanya melirik kotak kue di tangan cucunya. "Mila... Oma dengar dari Dewi, kamu membawa sesuatu. Dan siapa pemuda yang berdiri di sebelahmu ini? Sepertinya Oma belum pernah melihat wajahnya di laporan keluarga."
Valen melangkah maju satu langkah, membungkuk sangat sopan—sebuah gestur yang sangat diperhatikan oleh Oma.
"Oma... ini Valen. Dia yang membantu Mila menyiapkan kue ini untuk Oma," sahut Bunda Selfi cepat, mencoba membuka jalan bagi Valen.
Oma Soimah menaikkan sebelah alisnya, menatap Valen dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan. "Membantu Mila? Memang sejak kapan cucuku Mila butuh bantuan orang lain untuk urusan kue?"
Atmosfer di terminal kedatangan itu seketika menjadi sangat tegang. Mutia dan Tasya bahkan sampai menahan napas di belakang.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya!
Love you, All❤️