Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Topeng Kaca dan Kelas Tanpa Nama
Bab 8: Topeng Kaca dan Kelas Tanpa Nama
Aula Utama Perguruan Lembah Kabut adalah bangunan megah berbentuk Joglo¹ raksasa yang disangga oleh enam belas pilar kayu jati utuh berusia ratusan tahun. Di langit-langitnya, tergantung lampu-lampu kristal yang berisi kunang-kunang api (Fireflies) yang telah dimanterai agar menyala abadi.
Hari ini, udara di dalam aula terasa sesak. Bukan karena kurang oksigen, melainkan karena padatnya aura dari ratusan murid yang berkumpul untuk upacara Penempatan Kasta (Sorting Ceremony).
Suara gamelan Kyai Guntur Madu ditabuh pelan di sudut ruangan. Iramanya mistis, lambat, dan menyayat hati, seolah mengingatkan para murid bahwa nasib mereka sedang dipertaruhkan di atas meja para tetua.
Rara Anjani berdiri di barisan paling depan, tempat khusus untuk murid-murid yang mendapatkan nilai sempurna di Ujian Hutan Maya. Dia berdiri tegak, dagunya terangkat, namun matanya menatap kosong ke arah panggung.
Di sebelahnya, berdiri beberapa anak bangsawan lain yang lulus. Mereka tampak bangga, tapi Anjani bisa mencium bau ketakutan di balik parfum mahal mereka. Ketakutan akan ekspektasi keluarga.
"Lihatlah si Putri Es itu," bisik seorang murid perempuan di belakangnya. "Dia membunuh Sanca Kembang Bulan sendirian. Kudengar dia akan langsung dimasukkan ke Kelas Surya dan dicalonkan menjadi Tetua Muda."
"Curang," balas temannya. "Pasti dia pakai artefak rahasia."
Anjani mendengar itu semua. Dulu, dia akan marah. Tapi sekarang, kata-kata itu terdengar kosong. Pikirannya melayang pada sosok pemuda yang berdiri jauh di belakang sana, di pojok ruangan yang gelap.
Bara.
Pemuda itu adalah anomali. Dia memiliki kekuatan untuk meratakan aula ini, tapi dia memilih berdiri membungkuk di samping pilar seperti pelayan yang mengantuk.
"Nimas Rara Anjani dari Wangsa Tirtamaya!"
Suara lantang pembawa acara membuyarkan lamunannya.
"Atas prestasi luar biasa membunuh Raja Siluman Hutan Maya, Anda ditempatkan di Kelas Surya (Matahari). Di bawah bimbingan langsung Ketua Perguruan!"
Tepuk tangan membahana. Anjani maju, menerima lencana emas berbentuk matahari. Dia membungkuk sopan, ekspresinya datar. Tidak ada senyum kemenangan.
Saat dia kembali ke barisan, matanya bersirobok dengan Bara di kejauhan. Bara menguap lebar, lalu mengacungkan jempolnya diam-diam di balik lipatan bajunya.
Anjani hampir saja tersenyum geli. Dasar orang gila, batinnya.
Di atas panggung, duduk di kursi kehormatan yang dilapisi kulit macan, Ki Rangga Agnimara mengawasi jalannya upacara dengan mata merah yang menyala-nyala.
Dia tidak peduli pada Anjani. Dia tidak peduli pada murid-murid berbakat lainnya. Fokusnya hanya satu: mencari nama yang disebut Arya dalam igauannya.
"Bara..." desis Ki Rangga pelan, jarinya mengetuk-ngetuk pegangan kursi hingga kayu itu hangus terbakar sedikit demi sedikit.
"Berikutnya!" seru pembawa acara. "Untuk murid-murid dengan nilai ambang batas... Kelompok ini akan ditempatkan di Kelas Awan (Mendung). Kelas khusus pembinaan mental dan fisik dasar."
Kelas Awan. Itu adalah bahasa halus untuk "Kelas Sampah". Tempat pembuangan bagi murid-murid yang tidak punya bakat, tidak punya uang, atau bermasalah. Lulusan Kelas Awan biasanya hanya berakhir menjadi prajurit kroco atau penjaga gerbang.
"Daftar nama Kelas Awan: Jaka, Sutejo, Laras... Kirana... dan Raden Bara Wirasena."
Mata Ki Rangga menyipit tajam. Itu dia.
Seorang pemuda kurus maju dari kerumunan. Pakaiannya paling lusuh di antara yang lain. Rambutnya agak gondrong menutupi mata. Jalannya sedikit diseret, seolah kakinya sakit.
"Hentikan!"
Suara Ki Rangga menggelegar, memotong pembacaan nama. Gamelan berhenti mendadak. Seluruh aula terdiam.
Ki Rangga berdiri. Aura panas menyapu ruangan, membuat lilin-lilin di sekitar panggung padam.
"Aku ingin melihat murid bernama Bara itu," ucap Ki Rangga, suaranya berat dan mengintimidasi. "Maju ke depan sini, Nak."
Ratusan mata tertuju pada Bara.
Bara berhenti berjalan. Dia tampak bingung, menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bodoh. "Sa... saya, Tuan Tetua?"
"Ya, kau. Maju."
Bara berjalan pelan menuju panggung. Kakinya gemetar—atau setidaknya terlihat gemetar. Saat dia sampai di bawah panggung, dia langsung bersujud.
"Hamba menghadap, Tuan Besar Agnimara. Maafkan jika hamba punya salah... hamba hanya murid bodoh..." cicit Bara dengan suara gemetar.
Ki Rangga melompat turun dari panggung. Dia mendarat tepat di depan Bara.
"Berdiri," perintah Rangga.
Bara berdiri perlahan, tetap menunduk, bahunya merosot.
"Angkat wajahmu."
Bara mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Ki Rangga mencari jejak kekuatan, jejak kesombongan, atau jejak kelicikan di mata pemuda itu.
Tapi yang dia temukan hanyalah mata hitam yang keruh, penuh ketakutan dan kepolosan orang desa. Tidak ada Prana yang kuat. Tidak ada aura pembunuh. Hanya seorang bocah lemah yang kekurangan gizi.
Apakah Arya salah lihat? pikir Rangga. Atau anak ini aktor yang sangat hebat?
"Bolehkah aku memeriksa pundakmu, Nak? Aku dengar kau yang menemukan keponakanku Arya saat dia pingsan," kata Rangga, suaranya terdengar ramah tapi matanya kejam.
Tanpa menunggu jawaban, tangan besar Ki Rangga mencengkeram bahu kanan Bara.
Teknik Rahasia: Cengkeraman Lahar Neraka.
Ki Rangga tidak menggunakan api fisik. Dia mengirimkan gelombang panas murni langsung ke dalam jaringan otot dan tulang Bara. Panas ini cukup untuk melelehkan tulang selangka manusia biasa dalam hitungan detik. Jika Bara punya tenaga dalam, dia pasti akan bereaksi menolaknya secara insting. Jika tidak, dia akan menjerit kesakitan dan cacat.
Ini adalah jebakan.
"Argh..." Bara meringis, wajahnya memerah.
Ki Rangga menunggu. Ayo, lawan aku. Tunjukkan kekuatanmu.
Tapi Bara tidak melawan. Dia hanya menggigit bibir, air mata keluar dari sudut matanya. Tubuhnya lemas, seolah akan pingsan.
"P-panas, Tuan... s-sakit..." rintih Bara.
Ki Rangga mengerutkan kening. Panasnya masuk dengan mudah, tidak ada hambatan. Tulang anak ini terasa rapuh.
Bukan dia, simpul Rangga kecewa. Arya pasti berhalusinasi karena racun obat itu. Bocah ini selemah tahu.
Ki Rangga melepaskan cengkeramannya. Bahu baju Bara berasap sedikit, dan kulitnya melepuh merah. Luka yang nyata.
"Maaf, tenagaku agak berlebihan," kata Rangga datar, tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Kau boleh pergi. Masuklah ke Kelas Awan. Itu tempat yang cocok untuk... sampah sepertimu."
Bara mundur dengan terhuyung-huyung, memegangi bahunya yang terluka. "T-terima kasih, Tuan... terima kasih..."
Bara kembali ke barisan, disambut tatapan kasihan dan jijik dari murid lain.
Namun, tidak ada yang melihat, saat Bara berbalik membelakangi panggung, sudut bibirnya terangkat sepersekian milimeter.
Sakit? Tentu saja sakit. Kulitnya benar-benar melepuh.
Tapi di dalam tubuhnya, Inti Rembulan yang ia telan semalam sedang bekerja keras. Energi dingin dari inti ular itu menyergap energi panas Ki Rangga yang masuk, membungkusnya, dan "memakannya".
Bagi Bara, serangan Ki Rangga barusan bukanlah siksaan. Itu adalah makan siang gratis.
Energi api murni dari seorang pendekar tingkat tinggi Wangsa Agnimara adalah nutrisi terbaik untuk Hyang Garuda.
"Enak," komentar Garuda di kepalanya. "Api orang tua itu rasanya seperti daging panggang pedas. Sedikit lagi, Mitra. Seharusnya kau biarkan dia memegangmu lebih lama."
"Jangan serakah," balas Bara sambil memijat bahunya. "Kalau aku tidak pura-pura kesakitan, dia akan mematahkan leherku di tempat."
Bara melirik ke arah Ki Rangga yang kembali duduk di kursinya dengan wajah masam.
Kau baru saja memberiku bahan bakar untuk naik ke tingkat Wira Sukma tahap berikutnya, Pak Tua. Terima kasih.
Sore harinya, murid-murid Kelas Awan dikumpulkan di sebuah bangunan reyot di pinggir tebing belakang perguruan. Angin bertiup kencang di sini, menerbangkan debu dan daun kering.
Ada sekitar sepuluh murid di kelas ini. Semuanya wajah-wajah "buangan". Ada yang gemuk, ada yang kurus kering, ada yang terlihat sakit-sakitan. Kirana juga ada di sana, duduk di samping Bara dengan wajah cemas melihat luka bakar di bahu Bara.
"Mas Bara, lukanya..."
"Sudah tidak apa-apa," potong Bara. Anehnya, luka melepuh itu sudah mulai mengering. Regenerasi sel Bara dipercepat oleh sisa energi Garuda.
Tiba-tiba, pintu bangunan itu ditendang terbuka.
BRAK!
Seorang pria tua dengan rambut putih acak-acakan dan membawa botol arak masuk. Dia berjalan sempoyongan, lalu duduk di atas meja guru, menyilangkan kakinya.
Ki Awan.
"Selamat datang di Kelas Awan," ucapnya dengan suara serak, lalu bersendawa keras. "Nama kelas ini diambil dari namaku, bukan karena kita ada di atas langit. Artinya, kalian semua adalah muridku."
Murid-murid saling berpandangan bingung. Guru pemabuk? Habislah masa depan mereka.
"Dengar baik-baik," Ki Awan menatap mereka satu per satu. Matanya yang biasanya sayu kini tajam, terutama saat berhenti di wajah Bara.
"Dunia luar menyebut kalian sampah. Perguruan menyebut kalian gagal. Tapi aku..." Ki Awan meneguk araknya. "Aku menyebut kalian Kanvas Kosong."
Dia melompat turun dari meja.
"Di Kelas Surya, mereka diajarkan jurus-jurus hapalan. Membosankan. Di sini... aku akan mengajarkan kalian cara Bertahan Hidup. Cara membunuh tanpa senjata. Cara lari dari kejaran macan. Dan cara menipu mata dewa."
Ki Awan menunjuk Bara.
"Kau. Maju."
Bara maju ke depan kelas.
"Tunjukkan luka di bahumu pada teman-temanmu," perintah Ki Awan.
Bara membuka sedikit kerah bajunya. Luka bakar cap tangan Ki Rangga terlihat jelas, berwarna merah kehitaman. Mengerikan. Beberapa murid perempuan memalingkan wajah.
"Ini," kata Ki Awan, menunjuk luka itu. "Adalah tanda bahwa kalian masih hidup. Seorang Tetua Agnimara mencoba membakarnya tadi pagi, tapi dia masih berdiri di sini. Kenapa?"
Hening.
"Karena dia tahu kapan harus menunduk!" bentak Ki Awan. "Pelajaran pertama Kelas Awan: Harga diri tidak akan menyelamatkan nyawamu. Kepintaran yang akan menyelamatkanmu."
Bara menatap Ki Awan. Orang tua ini... dia tahu segalanya. Dia tahu Bara bersandiwara. Dan dia menggunakan momen itu untuk mengajar.
"Mulai besok," lanjut Ki Awan sambil menyeringai, memperlihatkan gigi kuningnya. "Latihan kita dimulai jam 3 pagi. Kita akan mendaki tebing ini dengan satu tangan. Yang jatuh... yah, semoga kalian bisa terbang."
Malam itu, Nimas Sekar melapor ke markas rahasia Wangsa Bayu Aji yang terletak di bawah tanah sebuah kedai teh di desa terdekat.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi satu lilin. Di balik tirai bambu, duduk sosok bayangan yang mengenakan topeng Noh² putih polos.
Ketua Cabang Bayu Aji.
"Laporanmu menarik, Sekar," suara Ketua Cabang terdengar datar, disamarkan oleh teknik suara perut. "Seorang murid buangan yang selamat dari cengkeraman Rangga Agnimara. Dan kau bilang dia yang membunuh Ular Sanca, bukan Putri Anjani?"
"Hamba melihatnya dengan mata kepala sendiri, Tuan," jawab Sekar sambil berlutut. "Putri Anjani hanya mengambil kreditnya untuk melindungi identitas Bara."
"Hmm..." Ketua Cabang mengetuk-ngetuk meja. "Wangsa Agnimara sedang murka karena Arya cacat. Wangsa Tirtamaya sedang sombong karena prestasi palsu Anjani. Keseimbangan Catur Wangsa sedang goyah."
"Apa perintah Tuan?"
"Dekati anak itu. Bara Wirasena."
Sekar mengangkat kepalanya sedikit. "Membunuhnya?"
"Tidak. Rekrut dia," jawab Ketua Cabang. "Jika dia benar-benar monster seperti yang kau tulis, kita butuh dia di pihak kita. Tawarkan dia perlindungan dari Agnimara. Tawarkan dia wanita, uang, atau teknik rahasia. Buat dia berhutang budi pada Bayu Aji."
Sekar tersenyum di balik cadarnya. Ini menjadi semakin menarik.
"Hamba mengerti, Tuan."
"Tapi..." suara Ketua Cabang menjadi dingin. "Jika dia menolak... dan jika dia menunjukkan tanda-tanda akan bergabung dengan Tirtamaya... Habisi dia. Kita tidak boleh membiarkan Naga Air memiliki Cakar Api."
Sekar terdiam sejenak, merasakan sedikit keraguan di hatinya, lalu menunduk. "Siap laksanakan."
Asrama Kelas Awan adalah barak kayu panjang yang bocor di sana-sini. Bara mendapat tempat tidur di pojok, dekat jendela yang tidak ada daun pintunya.
Malam itu, saat teman-teman sekelasnya sudah tidur kelelahan karena syok mental, Bara duduk bersila di tempat tidurnya.
Di tangannya, ada secarik kertas yang tadi diselipkan seseorang ke dalam sakunya saat kerumunan bubar. Kertas itu wangi melati. Wangi yang sangat ia kenal.
Rara Anjani.
Isi suratnya singkat:
"Besok malam. Festival Lampion di Kota Raja. Temui aku di Kedai Teh Teratai Putih. Jangan pakai baju pelayan. Aku membawakanmu sesuatu."
Bara meremas kertas itu hingga hancur menjadi debu.
"Undangan kencan?" goda Garuda.
"Undangan masalah," koreksi Bara. "Pergi ke Kota Raja berarti keluar dari zona aman perguruan. Ki Rangga pasti sudah menyebar mata-mata di sepanjang jalan."
"Jadi kita tidak pergi?"
Bara menatap bulan yang bersinar terang di luar jendela. Tatapannya tajam.
"Tentu saja kita pergi. Aku butuh membeli besi baru untuk memperbaiki Si Bungsu yang retak. Dan... aku penasaran apa 'sesuatu' yang dibawa gadis es itu."
Bara membaringkan tubuhnya, melipat tangan di belakang kepala.
Besok, dia akan masuk ke sarang singa. Kota Raja adalah wilayah netral, tapi juga tempat paling berdarah di Benua Arcapada. Di sana, politik bukan dimainkan dengan kata-kata, tapi dengan racun dan belati di lorong gelap.
Dan Bara... dia sudah lama merindukan kegelapan.
Glosarium & Catatan Kaki Bab 8
Joglo: Rumah adat tradisional Jawa dengan atap berbentuk tajug (gunung) yang melambangkan keagungan. Biasanya hanya dimiliki oleh kaum bangsawan.
Topeng Noh: Referensi pada topeng teater klasik (meski aslinya Jepang, dalam konteks fantasi ini mengacu pada topeng putih polos tanpa ekspresi yang sering dipakai pembunuh untuk menyembunyikan emosi).
Kasta Kelas Perguruan:
· Surya (Matahari): Kelas Elite. Fasilitas terbaik, guru terbaik.
· Candra (Bulan): Kelas Menengah. Fokus pada administrasi dan strategi.
· Kartika (Bintang): Kelas Rendah/Umum. Prajurit biasa.
· Awan (Mendung): Kelas Buangan. Sering dianggap tidak ada harapan.
Cengkeraman Lahar Neraka: Teknik tingkat tinggi Wangsa Agnimara yang memadatkan Prana api menjadi jarum-jarum mikro yang merusak saraf dan tulang tanpa membakar kulit luar secara berlebihan (internal damage).