Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
"Sayangg, kamu yakin tidak akan mengizinkanku ikut ke rumah orang tuamu? Aku ingin bicara dengan keluargamu. Toh kamu dan Alyssa sudah menandatangani surat perceraian, bukankah sekarang aku sudah punya hak?" rengek Maureen pada Junior sambil memasang jam tangan perak di pergelangan tangan kirinya, bersiap untuk makan malam keluarga besar.
Maureen menggigit bibirnya saat menatap sang kekasih. Sekali lagi, Junior berhasil membuatnya terpikat oleh ketampanannya dan aroma parfum mahal yang memabukkan.
Junior menghela napas lalu mengusap kepala Maureen, kebiasaan yang selalu ia lakukan agar Maureen berhenti merengek. Sejak tadi Maureen tak henti mendesaknya, dan Junior tak ingin suasana hatinya rusak atau ia terpancing mengatakan hal yang akan melukai perasaan Maureen.
"Aku ingin membawamu, tentu saja. Kamu ibu dari Kairo. Tapi, Maureen, kamu tahu sendiri bibiku-bibiku. Mereka bisa membuatmu tidak nyaman. Bersabarlah, ya. Aku janji akan menikahimu. Lagipula, orang tua Alyssa juga akan datang."
Maureen mengangguk mengerti lalu memeluk Junior.
"Kenapa mereka tidak menyukaiku? Padahal Alyssa yang selingkuh, tapi aku yang terlihat salah. Kamu punya anak denganku, dengan Alyssa tidak," cemberut Maureen. "Aku juga bisa merasakan mereka tidak menyukai anakmu hanya karena dia anak di luar nikah."
Pernah suatu kali Maureen membawa anaknya ke acara kumpul keluarga, dan ia dipermalukan karena justru Alyssa dan Niko yang menjadi pusat perhatian keluarga Brixton.
Sejak saat itu, kebenciannya pada Alyssa semakin menjadi. Namun sekarang? Iri? Tidak mungkin. Junior ada di pihaknya, dan ia yakin pria itu akan menikahinya.
Lagi pula, namanya akan semakin terangkat ketika ia resmi menjadi Maureen Lyza Brixton.
"Mereka memang tidak bisa menerima perempuan simpanan," ujar Junior. "Aku yakin mereka akan menerimamu setelah kita menikah. Untuk sekarang, aku hanya akan mengumumkan perpisahan resmiku dengan mantan istriku."
Kesal! Rasanya ingin berteriak dan menjambak para kerabat Junior. Mereka tak punya hak mencampuri urusan hubungan keponakan mereka. Junior telah memilihnya, mencintainya, dan mereka punya anak yang sangat dicintai Junior.
Maureen tak kehilangan kepercayaan diri. Ia yakin akan segera merebut hati keluarga Brixton. Junior saja bisa ia dapatkan, apalagi keluarganya. Ia merasa istimewa karena Junior menyukai dirinya apa adanya.
"Selamat jalan, sayang. Hati-hati," ucap Maureen sambil mencium bibir Junior cukup lama. Junior segera memutus ciuman itu, ia merasa canggung.
Seorang anak berlari menghampiri ayahnya di ruang tamu. Junior menyambutnya dengan kedua tangan terbuka lalu mengangkat tubuh kecil itu dan menghujani kepalanya dengan ciuman.
"Manis sekali," komentar Maureen sambil memeluk ayah dan anak itu.
Ia bahagia melihat kasih sayang Junior pada anak mereka. Bagi Maureen, ini adalah hal yang tak akan pernah Alyssa dapatkan, cinta Junior pada seorang anak. Apa kabar sekarang, Alyssa? Junior mencintainya, terutama Kairo.
Kini tak ada lagi yang mengganggu rumah dan perhatian Junior. Mereka bebas. Maureen merasa dulu tertekan saat Alyssa masih tinggal di rumah Junior, ia selalu teringat statusnya sebagai simpanan. Tapi sekarang? Mereka telah berpisah. Ia bahkan tak sempat berpamitan dengan mantan istri pria yang dicintainya.
"Papa, boleh ikut?" tanya Kairo sambil melingkarkan tangan di leher ayahnya. Junior terkekeh dan menepuk pipi anak itu.
"Maaf, Nak. Tidak kali ini. Papa dan Mama perlu membicarakan hal penting. Nanti kamu bisa berkunjung ke rumah kakek-nenek. Sekarang ini pembicaraan orang dewasa," jelas Junior. Ia sering memanjakan anaknya, tapi kali ini ia harus menolak.
Kairo manyun. "Papa, ke mana Kak Niko pergi?"
Junior terdiam sejenak. Maureen berdehem memberi isyarat. Junior kembali menatap anaknya.
"Dia bukan kakakmu," potong Maureen, membuat dahi anak itu berkerut. "Mama sudah bilang, kan?"
"Tapi Tante Alyssa--" ucapan Kairo dipotong Junior.
"Kak Niko sedang liburan dengan pamannya dan Tante Alyssa," jawab Junior dengan nada berbeda.
Liburan? Maureen melirik Junior. Seharusnya ia mengatakan yang sebenarnya, bahwa mereka telah berpisah! Tapi tentu saja Maureen tak akan membiarkan Kairo tahu bahwa Niko adalah saudara kandungnya.
"Kalau begitu, kapan aku bisa main lagi dengan Kak Niko?" tanya Kairo.
Maureen hampir kehabisan kesabaran. Jika saja Junior tak ada, mungkin anak itu sudah dicubitnya.
"Nak, kenapa tidak bermain saja?" saran Junior.
"Tapi membosankan, Papa. Kak Niko teman mainku."
Junior menghela napas dan menurunkan anak itu.
"Kairo, jangan rewel. Papa harus pergi," ujar Maureen sambil menarik lengan anaknya.
"Tapi Papa, aku ingin ikut ke rumah Kakek dan Nenek," pinta Kairo.
"Jangan membentak anak," tegur Junior dengan dahi berkerut.
"Dia nakal, sayang. Aku jadi cepat keriput," Maureen cemberut. Ia bahkan tak sempat ke salon karena mengurus anak, sementara Junior tak mengizinkan pengasuh.
"Kamu sudah jadi ibu, Tak perlu khawatir soal itu," ujar Junior lembut. "Di mataku, kamu cantik."
Maureen menggigit bibir menahan senyum.
"Papa, boleh ikut? Mama memukulku kemarin," lapor Kairo polos.
Wajah Junior mengeras. Ia menatap Maureen tajam.
"Dia memukulmu?" tanyanya dingin.
"Dia nakal!" bantah Maureen.
"Anak kecil tidak berbohong," tegas Junior. "Lihat lengannya."
"Baik," putus Junior. "Kairo ikut. Siapkan dia. Jangan menyakitinya."
"Kalau aku?" tanya Maureen.
"Hanya Kairo."
Maureen mengangguk. Ia berlutut dan membujuk anaknya agar meyakinkan Junior.
Beberapa menit kemudian, Kairo berlari keluar. "Papa, Mama ikut juga, ya?"
Junior menatap Maureen. "Kamu mengajarinya?"
"Tidak!" bantah Maureen lalu menutup pintu kamar dan berbaring, yakin Junior akan mengalah.
Dan benar saja.
"Baik. Ikut," kata Junior.
Maureen tersenyum lebar.
***
Meja makan panjang keluarga Brixton dipenuhi hidangan dan anggur mahal. Lampu gantung berkilau menciptakan suasana mewah. Para kerabat sudah berkumpul, biasanya Alyssa dan Niko ada di sana, namun kali ini tidak.
"Senang bertemu lagi," sapa Meisya, Adik pertama Lazar.
"Silakan duduk," ujar Lazar, ayah Junior, mengambil alih suasana.
Ketegangan terasa antara ibu Junior dan saudara-saudara Lazar. Mereka tak menyukai ibu Junior sejak dulu.
Tepat saat itu, orang tua Alyssa tiba, disusul Junior bersama Maureen dan Kairo.
"Besan," sapa Lazar. "Di mana menantuku?" tanyanya.
"Kenapa perempuan itu ikut?" ketus Meisya. "Di mana Alyssa?"
"Kita bicarakan nanti," jawab Junior singkat.
"Cucuku!" seru ibu Junior pada Kairo. "Ke sini, Nak."