NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Pelenyap Suami Ku

Terpaksa Menikahi Pelenyap Suami Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Eka Nawa

Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.

Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu

Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara

happy reading 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 8

Prank

Suara pecahan gelas terdengar sangat keras. Dengan sengaja Arumi membanting gelas dengan amarahnya membuat seisi penjaga di rumah mengelilingi wanita itu yang kini berada di tengah kerumunan bodyguard mansion tersebut.

"Nona, kau terluka izinkan aku mengobati lukamu," Nina melangkah pelan berusaha mendekati Arumi yang saat ini memegangi pecahan gelas tersebut.

Tangan yang penuh darah membuat Nina menghentikan langkah pelannya bersamaan dengan itu Arumi mendongak tatapan tajam dengan mata memerah di tunjukkan pada Nina yang saat ini benar-benar takut melihat Arumi.

"Di mana ... Dimana b*j*Ngan itu?!" sergah Arumi berusaha berdiri.

Pecahan gelas itu pun di lempar ke sembarang arah dengan langkah tertatih Arumi berusaha menghampiri Nina tapi Nina malah memundurkan langkahnya karena ia sangat takut.

Bruugh

Kotak obat terjatuh dalam ketakutannya Nina berusaha bicara ia menjelaskan jika dirinya sudah berusaha menghubungi Kenan dan akan segera sampai.

Arumi tidak peduli ia berusaha lari menghindari semua bodyguard sebelum tubuhnya menabrak Nina yang saat ini terjatuh.

"Cepat kalian kejar Nona jangan sampai dia keluar dari mansion," perintah Nina yang dituruti semua bodyguard.

"Ya ampun jantung ku hampir mau copot rasanya, Tuan cepatlah pulang," gerutu Nina seraya menekan nomor Kenan berusaha kembali menghubungi Tuannya.

Arumi berlari sekuat tenaga, dengan telapak tangannya yang terluka ia tidak menyadari jika darah yan menetes dan bercucuran di lantai dapat dengan mudah di lacak dan akhirnya para bodyguard itu menemukan Arumi.

Akan tetapi mereka menghentikan langkahnya saat ada mobil yang baru saja masuk melewati gerbang yang tengah dibuka.

Ckiiiittt

Mobil itu hampir menabrak Arumi yang tengah sampai pintu gerbang, sorot lampu mobil menyilaukan mata langsung saja Arumi menutupi wajahnya.

Sedangkan pria yang berada di dalam mobil itu keluar dengan perasaan panik bukan hanya karena terkejut melihat Arumi di hadapannya yang hampir tertabrak melainkan kedua tangan wanita itu yang terluka cukup parah dipenuhi darah segar yang terus saja menetes.

"Apa yang terjadi, ayo kita masuk aku akan mengobatinya," bujuk Kenan berusaha membawa tubuh Arumi.

Namun, Arumi menolak,"Tidak mau! Lepaskan aku! Aku tidak mau tinggal di sini! Ceraikan aku sekarang juga!" pekik Arumi memberontak.

Arumi terus saja memukuli dada Kenan, seorang wanita yang sedari tadi melihat dari dalam mobil itu pun turun ingin menghentikan Arumi, tetapi Kenan mengehentikan nya dengan memberikan isyarat.

Setelah meluapkan emosinya sekarang malah Arumi tertawa ia menunjuk satu jarinya yang memutari wajah Kenan yang penuh darah.

"Kau lihat, wajahmu penuh darah. Kau tau? Itu adalah darah suamiku! Suami ku yang telah kau lenyapkan Tuan Dirgantara. Kembalikan suami ku sekarang juga! Kembalikan,hiks,"

Air matanya jatuh deras setelah Arumi meluapkan amarah yang dipendamnya, napasnya tersengal dan tubuhnya bergetar dengan matanya yang memerah penuh kebencian.

Kenan tidak melawan ia menatap sendu pada wanita penampilan nya urakan seperti tidak terurus rasa bersalahnya menekan dadanya hingga sulit bernapas.

"Maaf aku menyesal, aku ... Arumi," teriak Kenan.

bruugh

***

"Kakak, seperti nya dia jadi depresi," ucap Riana. Ya, wanita yang keluar dari mobil tadi adalah Riana yang saat Kenan pergi ia berada di kantor dan memutuskan ikut bersamanya.

"Ini semua salahku, tapi apa aku salah menikahinya karena aku tidak ingin kehilangannya,"

Sambil mengusap dan memegangi tangan Arumi yang dipenuhi perban setelah Kenan obati, pria itu menunduk menempelkan keningnya di tangan istrinya menangis sesenggukan.

Andai saja pertemuannya dengan Arumi tidak seperti ini mungkin saja Arumi tidak akan membenci,"Mengapa, mengapa kita dipertemukan lagi seperti ini, Arumi. Apa kau tidak mengingatku sama sekali?" isak Kenan.

Riana berusaha menenangkan Kenan,"Menurutku ini hal yang serius kakak, Arumi jangan kau tinggalkan sendirian di rumah. Walaupun banyak sekali bodyguard dan beberapa pelayan di sini harus ada keluarga yang menemaninya,"

"Siapa?" lirih Kenan.

"Bagaimana jika aku saja," Riana tersenyum manis perkataannya membuat Kenan menoleh ke arah adiknya.

"Jangan, nanti jika kau celaka karna Arumi kakak khawatir," tolak Kenan.

"Tenang saja, kita sama sama wanita. Mungkin saja Arumi butuh teman untuk berbagi," ujar Riana.

Kenan mengulurkan tangannya mengusap lembut rambut indah sang adik membuat Riana ingin menangis karena kali ini ia merasakan kasih sayang kakaknya yang sangat dingin itu.

Senyuman terukir lalu kedua mata Riana melirik ke arah Arumi yang masih tertidur dengan air mata yang masih menetes.

"Aku harus berterimakasih padamu, setidaknya kau bisa membuat pria dingin dihadapan ku akhirnya bisa juga lembut padaku," batin Riana.

"Baiklah, tapi saat bersama Arumi harus ada bodyguard yang mendampingi," Riana mengangguk kan kepalnya masih dengan senyum bahagianya.

***

Di kediaman Nugraha seorang ibu sedang berdiri di depan pintu ia berusaha mengetuk pintu yang sedari tadi tidak dibuka oleh seseorang bahkan menyahut pun tidak padahal sang ibu sudah beberapa kali memanggil nya.

"Helen, jangan seperti ini mama tau kamu kecewa tapi jangan menyakiti dirimu sendiri mama mohon makan lah," mohon Jeni yang merasa khawatir ada putrinya.

Semenjak penolakan itu sikap Helen berubah menjadi pendiam bahkan biasanya ia selalu bercerita apapun pada Jeni saat hati itu putrinya tidak lagi bercerita maupun bicara padanya.

"Ini kunci cadangannya, mah," Danu datang dengan membawa kunci langsung saja Jeni membuka pintu kamar lalu ia mendapati putrinya yang sedang merasakan sakit serta tubuhnya yang berkeringat.

"Helen,"

Kedua orang tua nya terkejut dan berteriak, berlari menghampiri putrinya. Danu mengecek suhu tubuhnya yang terasa panas saat menempelkan tangannya di kening putrinya itu.

"Pah, cepat bawa Helen ke rumah sakit, hiks," panik Jeni seraya mengelap keringat yang bercucuran di wajah Helen.

Segera saja Danu menggendong tubuh Helen, bersamaan itu pula Helen pingsan membuat Jeni trus saja berteriak.

"Sudah jangan berteriak trus cepat buka pintu mobilnya," kesal Danu.

"Iya ... Iya pah,"

Singkat nya mereka sudah berada di rumah sakit para dokter segera datang untuk membawa Helen ke ruang rawat untuk segera diperiksa.

Dengan harap harap cemas Danu dan Jeni menunggu di depan kamar rawat,"Apa yang sebenarnya terjadi mah? Kenapa Helen bisa menggigil begitu?" tanya Danu.

"Mungkin karena beberapa hari ini dia tidak ingin makan pah. Aku sudah berusaha membujuk tapi Helen selalu menolak dengan alasan tidak nafsu makan," jelas Jeni sembari menangis ia tidak tega melihat kondisi putrinya.

Tidak lama dokter keluar dan menghampiri Jeni dan Danu yang langsung berdiri,"Kondisi pasien sangat lemah dia dehidrasi dan sepertinya kurang vitamin jadi wajahnya pucat," terang dokter.

"Apa ada penyakit serius dokter?" tanya Danu.

"Tidak ada hanya itu saja, jaga pola makan dan jangan sampai stres. Oh iya ... Putri kalian selalu memanggil nama Kenan apa dia berada di sini?" tanya dokter.

Keduanya saling menatap dengan pikiran yang sama, apakah penyebab putrinya sakit karena ia sangat ingin bertemu dengan Kenan?

"Tidak ada dokter," lirih Jeni.

"Sebaiknya panggil dia untuk segera menemui putri anda, biasanya seseorang bisa jadi penyembuh selain obat," saran dokter.

"Baik dokter terimakasih sarannya. Apa kami boleh bertemu Helen," ujar Jeni.

"Tentu, silahkan pak, ibu kalau begitu saya juga permisi dulu," pamit dokter tersebut.

Mereka pun masuk ke dalam di sambut tatapan satu dengan wajah yang sangat pucat Jeni lebih dulu mendekati putrinya.

"Apa masih ada yang sakit?" tanya Jeni dengan nada lembut dan di jawab gelengan kepala Helen.

"Kamu bikin khawatir saja mama bilang kamu harus makan jadi begini kan jadinya, mama panik dan ..."

"Mah, di mana Kenan? Apa dia tau kalau aku di sini?" potong Helen.

Jeni terdiam ia menatap suaminya yang berada di depannya, Helen melihat kedua orang tua nya yang saling menatap ia bertanya kembali pada sang papa, tetapi tidak juga ada jawaban.

"Helen, sayang jangan banyak pikiran. Lebih baik kamu makan dulu ya lihat tubuh kamu agak kurusan," bujuk Jeni.

Air mata mulai menggenang tepat di pelupuk matanya, Helen kembali bersedih dan juga menolak,"Yang aku inginkan hanya Kenan, mah. Tolong panggilkan dia," air mata nya luruh membasahi pipinya Jeni menutup mulutnya terkejut.

Ia sangat tidak tega hatinya sangat sakit melihat keadaan putrinya yang hancur hanya karena cinta. Danu seperti melihat masa lalunya melihat keadaan putrinya sama persis dengan keadaan nya dulu saat bersama istri pertama nya.

Danu sangat tahu betul bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan sakit terasa sangat sakit bahkan walaupun dipaksakan bersama itu tidak akan merubah apapun jika hati seseorang yang kita cintai milik orang lain sekalipun kita sudah berhasil memiliki raganya.

"Tenang lah, papa akan membawa Kenan kesini, ke hadapan mu," cetus Danu.

"Papah," pekik Jeni.

*

*

Bersambung.

1
Shōyō
uwwwww calon
Shōyō
hayolohh
Shōyō
njayyy sapa nichh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!