Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: WARUNG KOPI DAN KEPUTUSAN TANPA DADU
Disclaimer: Bab ini mengandung deskripsi tentang menunggu yang menyiksa, percakapan yang tidak terfilter, dan satu pilihan yang tidak membutuhkan angka untuk dijatuhkan.**
---
Pukul 16.50. Warung kopi "Kopi Klotok" sudah mulai ramai dengan aroma tembakau dan obrolan para sopir angkutan umum yang baru pulang kerja. Lampu neon berwarna putih dingin menciptakan bayangan-bayangan tajam di wajah-wajah yang lelah.
Ardi sudah duduk di meja yang sama seperti kemarin, sudut paling dalam, dekat kulkas tua yang berdengung keras. Di depannya, segelas kopi hitam sudah dingin, tak tersentuh. Jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu yang lengket karena sirup yang tumpah bertahun-tahun lalu.
Setiap kali bel pintu berdering, dadanya berdegup kencang. Setiap kali yang masuk bukan Kinan, rasanya seperti ditampar pelan oleh kenyataan.
Jam 5.00. Kinan tidak datang.
Jam 5.15.Masih kosong.
Jam 5.30.Ardi mulai mempertimbangkan untuk meminum kopi dinginnya dan pergi dengan sisa harga diri yang tinggal sedikit.
Tapi sesuatu menghentikannya. Kadang keberanian itu bukan datang tepat waktu, pikirnya. Mungkin Kinan butuh lebih banyak waktu. Atau mungkin dia tidak akan datang sama sekali. Tapi Ardi berjanji pada dirinya sendiri: dia akan menunggu sampai warung tutup. Ini satu-satunya hal yang bisa dia kendalikan sekarang.
Pukul 5.42. Bel berdering lagi.
Dan dia masuk.
Kinan.
Dia tidak terlihat seperti biasanya. Rambutnya diikat sembarangan, mata sedikit bengkak (seperti kurang tidur atau mungkin menangis?), dan dia mengenakan hoodie abu-abu yang terlihat nyaman, bukan untuk tampilan. Dia terlihat... biasa. Dan justru itu yang membuat Ardi merasa lega sekaligus lebih gugup.
Mata Kinan menyapu ruangan, menemukan Ardi. Dia berjalan mendekat, tanpa senyum, tapi juga tanpa amarah. Hanya lelah.
"Lo datang," kata Ardi, suaranya serak.
"Gue datang," balas Kinan, meletakkan tasnya di kursi. "Bukan karena dadu, ya."
"Gue tahu."
Kinan memesan teh tarik pilihan yang mengejutkan Ardi. Dia selalu membayangkan Kinan sebagai tipe orang yang hanya minum matcha latte atau infused water.
"Mau jelasin?" tanya Kinan setelah pesanannya datang, menatap Ardi langsung.
Ardi menghela napas. "Gue mulai dari awal. Beneran awal." Dia menceritakan semuanya. Bagaimana dia menemukan akun Kinan, bukan karena sengaja stalk, tapi karena algoritma yang menyarankannya karena dia suka konten studygram. Bagaimana dia terpukau pada aesthetic nya, bukan karena jatuh cinta, tapi karena merasa itu adalah dunia yang asing dan sempurna, seperti iklan di TV. Bagaimana lagu "Aesthetic yang (Mungkin) Palsu" lahir bukan dari obsesi, tapi dari rasa penasaran seorang penulis lagu pada sebuah karakter fiksi yang ternyata adalah orang nyata.
"Dan accidental like itu... beneran kecelakaan," tekad Ardi, matanya memohon untuk dipercaya. "Gue kagok banget sampe salah like. DM lo yang isinya quote-quote itu bikin gue panik setengah mati. Dan waktu gue bales pake bahasa mantan lo... itu karena otak gue lagi blank total. Gue bukan stalker. Gue cuma... orang bodoh yang kepanikan."
Kinan mendengarkan, sesekali menyeruput tehnya. Ekspresinya perlahan melunak.
"Trus folder 'untuk kinan' itu?"
"Itu nama folder yang salah. Harusnya 'karakter inspirasi'. Tapi gue nggak pernah nge post atau nge share. Itu cuma buat gue. Dan... setelah gue kenal lo yang sebenernya, karakter di lagu itu udah mati. Karena lo" Ardi berhenti, mencari kata, "lo lebih baik. Lo lebih nyata. Lo beliin nasi goreng dan ketawa liat gue makan sambal level 10."
Diam beberapa saat. Suara obrolan dan televisi di warung memenuhi keheningan mereka.
"Gue denger lagu yang baru," kata Kinan tiba-tiba. "'Setelah Kamu Nyata'."
Ardi menunduk, pipinya panas. "Itu... lebih jujur."
"Gue tahu." Kinan memainkan sedotan plastiknya. "Gue juga... harus minta maaf."
Sekarang Ardi yang terkejut. "Maaf buat apa?"
"Karena gue langsung judge lo sebagai creep. Karena gue kabur waktu nemu folder itu." Kinan menarik napas. "Gue punya masalah dengan... orang yang mengidealkan gue. Mantan gue, si youtuber podcaster itu, dia jatuh cinta sama persona 'Kinan the Aesthetic Curator', bukan sama gue yang sebenernya. Waktu lo muncul dengan lagu tentang persona gue, semua alarm di kepala gue bunyi. 'Ini dia lagi,' pikir gue."
Ardi mengerti sekarang. Itu bukan sekadar tentang dia. Itu tentang luka lama.
"Tapi bedanya," lanjut Kinan, suaranya lebih kecil, "lo nggak cuma berhenti di persona. Lo mau lihat di baliknya. Lo ngajak gue minum kopi di tempat kumuh ini. Lo nggak peduli pas gue bilang WiFi di rumah gue lemot karena kosan gue yang sempit dan jauh dari BTS tower. Lo... melihat gue."
"Dan lo melihat gue," balas Ardi. "Nggak cuma sebagai orang yang bikin konten dadu, tapi juga sebagai... orang yang nggak tau cara ngatur hidup."
Mereka tertawa kecil. Ketegangan perlahan mencair.
"Jadi," Kinan menatapnya. "Apa sekarang? Konten Dadu Challenge udah viral. Pak Suryo pengen seri kedua. Lo mau lanjut?"
"Gue mau lanjut," jawab Ardi. "Tapi... cuma kalo lo juga mau. Bukan karena kontrak kertas bekas, tapi karena... kita bikin konten yang beneran asik bareng."
Kinan mempertimbangkan. "Gue ada syarat."
"Apa?"
"Kita nggak lagi pakai dadu buat mutusin hal-hal yang penting. Kita putusin sendiri. Dan... kita bikin konten yang nggak cuma lucu. Tapi yang... jujur. Boleh?"
Ardi tersenyum lebar untuk pertama kalinya hari itu. "Itu syarat yang bagus."
Mereka duduk lebih lama, membicarakan ide untuk konten selanjutnya. Tentang bagaimana mereka bisa memasukkan elemen musik Ardi. Tentang bagaimana Pak Suryo harus tetap joget, tapi mungkin dengan koreografi yang sedikit lebih baik. Tentang bagaimana mereka bisa bikin konten yang nggak cuma jualan dadu, tapi juga tentang decision fatigue yang dialami anak muda.
Saat mereka akan pergi, Kinan tiba-tiba berkata, "Ada satu hal lagi."
"Ya?"
"Besok gue ada acara kampus. Seminar kecil. Gue sebagai pembicara. Topiknya... 'Crafting Your Authentic Self Online'." Kinan cengar-cengir. "Ironis banget, kan? Mau dateng? Gue butuh wajah familiar di audiens."
Ardi mengangguk, senang. "Tentu. Gue akan duduk di depan, ngacungin tangan tiap 5 menit kayak waktu shooting."
Kinan memukul lengannya dengan lembut. "Jangan. Gue bakal malu."
Tapi dia tersenyum. Dan Ardi tahu, semuanya akan baik-baik saja.
---
Seminar itu berlangsung di aula fakultas kecil. Kinan, di atas panggung, terlihat berbeda. Dia masih memakai kaus oversized dan celana lebar, tapi dengan blazer di atasnya. Dia berbicara tentang tekanan untuk menjadi sempurna di media sosial, tentang kelelahan menjaga aesthetic, dan tentang pentingnya memiliki ruang yang unfiltered.
Ardi duduk di barisan ketiga, mendengarkan dengan bangga. Kinan tidak menggunakan slideshow yang penuh quote. Dia bercerita. Bahkan, dia menyelipkan sedikit cerita tentang "seorang teman yang menulis lagu tentang persona online, tapi akhirnya lebih tertarik pada orang di balik layar."
Saat sesi tanya jawab, Ardi mengangkat tangan. Kinan memilihnya, matanya berbinar.
"Pertanyaannya," kata Ardi, berpura-pura serius. "Bagaimana caranya supaya nggak panik waktu accidentally like foto lama seseorang yang kita kagumi?"
Beberapa audiens tertawa, tidak mengerti konteksnya. Tapi Kinan tersenyum, memahami.
"Jawabannya," ucap Kinan, memandangnya, "adalah jujur. Bilang itu kesalahan. Dan siapa tau... kesalahan itu membawa kita pada percakapan yang lebih menarik daripada sekadar like yang sempurna."
Setelah seminar, Kinan turun dari panggung. Mereka bertemu di lobi.
"Gue nggak nyangka lo bakal nanya itu," bisik Kinan.
"Authentic kan?" balas Ardi, tersenyum.
"Bersyukur banget," sahutnya.
---
Malam itu, seri kedua Dadu Challenge dirilis. Judulnya: "KITA PUTUSIN SENDIRI | #DaduChallenge Part 2". Konsepnya berbeda. Kali ini, Ardi dan Kinan duduk bersama, membahas keputusan-keputusan kecil yang mereka buat hari itu dari memilih makan siang hingga memutuskan ide kontenntanpa dadu. Mereka bercanda, berdebat ringan, dan di akhir video, Pak Suryo muncul hanya untuk memberikan dadu sebagai "penghargaan" karena mereka berani memutuskan sendiri.
Video itu mendapatkan komentar yang berbeda. Banyak yang bilang lebih wholesome. Banyak yang bertanya-tanya tentang chemistry antara Ardi dan Kinan. Dan ada satu komentar dari akun @suryo_daduchamp yang disematkan:
"Pelajaran penting: dadu adalah alat. Tapi alat terbaik yang kita punya adalah otak (dan hati) kita sendiri. Tapi tetep beli dadu karet ya! Link di bio! 🎲❤️"
Kinan mengirim screenshot komentar itu ke Ardi, ditambah pesan:
kinanstudies: Jadi gini ya rasanya kolaborasi yang nggak toxic.
ardi.pras: iya. gue juga baru tau.
kinanstudies: Besok kita ketemuan lagi. Buat nulis lagu bareng buat konten selanjutnya. Tapi nggak di kosan lo. Itu terlalu... authentic.
ardi.pras: wkwk oke. di mana?
kinanstudies: Tentukan sendiri. Putusin. Tanpa dadu.
Ardi melihat pesan itu, senyum tidak bisa hilang dari wajahnya. Dia melihat ke luar jendela kosannya. Malam ini langitnya jernih, meski dari bawah masih tercium bau sampah dan gorengan.
Dia mengambil dadu emas dari meja, memegangnya erat. Bukan untuk dilempar. Hanya untuk diingat. Benda ini memulai segalanya kekacauan, malu, kesalahpahaman, tapi juga... pertemanan yang tidak terduga, dan mungkin, awal dari sesuatu yang lebih.
Dia menyimpannya di laci, di bawah kaos-kaosnya. Mungkin besok dia akan memakainya lagi. Atau mungkin tidak.
Karena untuk keputusan-keputusan yang benar-benar penting, ternyata dia sudah tidak membutuhkannya lagi.
---
EPILOG (Dua Bulan Kemudian)
Akun @suryo_daduchamp kini memiliki 500k follower. Usaha dadu karetnya berkembang, dengan Bima dan Farel sebagai manajer operasi yang sebenarnya cukup kompeten. Pak Suryo masih mengajar, tapi sekarang dia dikenal sebagai "Dosen Dadu" yang disegani sekaligus disukai.
Rendra menggunakan pengalaman "Head of Marketing" ini untuk melamar magang di perusahaan buzzer ternama dan diterima.
Kinan mulai menggeser kontennya. Masih aesthetic, tapi kini lebih banyak behind the scene yang jujur: proses edit yang berantakan, hari-hari di mana dia malas membuat konten, dan kolaborasi reguler dengan "Dadu Champ" yang justru meningkatkan engagement nya karena chemistry nya dengan Ardi yang organic.
Dan Ardi? Dia masih kuliah, masih ngerjakan tugas yang membosankan. Tapi sekarang, dia punya saluran YouTube kecil dengan Kinan, di mana mereka sesekali nge cover lagu atau menulis lagu original tentang pengalaman Gen Z yang absurd. Subscriber-nya belum banyak, tapi dia bahagia.
Suatu sore, mereka sedang duduk di atap kosan Kinan (yang lebih rapi dari Ardi, tapi tidak sempurna), menulis lirik untuk lagu baru.
"Judulnya apa?" tanya Kinan, menggigit ujung pulpen.
"Gimana kalo... '#SalahFollow'?" usul Ardi.
Kinan memandangnya, lalu tersenyum. "Boleh juga. Tapi versi kita."
Mereka mulai menulis, kata demi kata, tentang kesalahan yang membawa pada hal yang benar, tentang persona online yang retak, dan tentang menemukan seseorang yang melihatmu bahkan saat kamu sedang tidak aesthetic sama sekali.
Di kejauhan, di sebuah layar monitor, Pak Suryo sedang memantau live dash penjualan dadu yang terus naik. Dia mengangguk puas, lalu berdiri, memutar musik dangdut remix, dan mulai joget sendirian di ruang dosennya.
Hidup, seperti dadu, tidak pernah benar-benar bisa diprediksi. Tapi mungkin, justru itulah yang membuatnya layak untuk dijalani.
#THEEND
(Atau mungkin, baru #TheBeginning?)
---
AUTHOR'S NOTE:
Terima kasih sudah mengikuti kisah Ardi, Kinan, dan Pak Suryo! Cerita ini tentang bagaimana kesalahan kecil di dunia digital bisa menjadi awal petualangan terbesar di kehidupan nyata. Jangan takut untuk accidentally like siapa tahu itu awal ceritamu. Tapi yang lebih penting, jangan lupa untuk log out sesekali, dan temukan keajaiban dalam kekacauan yang unfiltered.