Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Letnan Gubernur
Arjo tercenung, hidupnya sudah menderita, tapi nasib perempuan jelata di luar sana, lebih memprihatinkan.
"Garwo ampil Ndoro Gusti Bupati yang hilang,” lanjut Kang Guru dengan suara lebih pelan, “anak dari hasil membayar hutang itu. Jadi perempuan itu dianggap anak haram. Darah kotor. Tidak layak menjadi ibu dari keturunan bupati. Kasihan sekali. Sudah dilarang tinggal di kadipaten. Dan sekarang, setelah melahirkan, disingkirkan pula entah ke mana. Begitulah intrik dalam kehidupan ningrat, tidak semua begitu, tapi tidak sedikit juga yang demikian."
Kang Guru Harjo menghela napas panjang, tatapan menerawang jauh, mengenang betapa banyak ketidakadilan yang dihadapi para perempuan dari kalangan bawah.
"Guru."
"Hhmm?" Tatapannya kembali pada Arjo yang meletakkan foto-foto di meja.
"Kasihan sekali ya, garwo ampil Ndoro Gusti Bupati.”
“Ya, memang begitulah kehidupan pernikahan para ningrat di kadipaten ini. Kebanyakan adalah pernikahan politik. Orang-orang di luar politik seperti perempuan itu, tidak akan diperhitungkan, karena dianggap tidak bermanfaat. Berbeda dengan garwo ampil Ndoro Gusti Bupati yang putri dari Kiai Hasan. Itu adalah pernikahan politik agar Ndoro Gusti bupati mendapatkan tambahan kekuatan dari pihak para Kiai.”
“Kalau Guru kasihan, alangkah baiknya saya turut membantu mencari ya, Guru? Biar cepat ketemu. Kasihan, kan?”
Kang Guru Harjo menoleh tajam.
"Mencari garwo ampil itu," lanjut Arjo cepat. "Saya akan menghafalkan semua foto ini sambil tidur nanti malam. Besok pagi sudah hafal. Sekarang, izinkan saya ikut misi—"
"Tidak."
"Guru—"
"Tidak." Mata Kang Guru Harjo melotot. "Tadi siang kau sudah menggantikan Ndoro Gusti Bupati, sekarang … sudah kangen lagi dunia luar?"
Arjo membuka mulut hendak membantah, tapi sang guru tidak memberinya kesempatan.
"Kau tidak boleh keluar sembarangan. Kau keluar hanya kalau Ndoro Gusti Bupati sedang perlu digantikan. Titik."
"Saya bisa menyamar jadi salah satu dari mereka. Tidak ada yang akan mengenali saya—"
"Justru itu masalahnya." Kang Guru Harjo memotong tegas. "Tidak ada yang boleh mengenalimu. Tidak ada yang boleh tahu wajahmu. Kau adalah bayangan Ndoro Gusti Bupati, dan bayangan tidak boleh terlihat kecuali saat dibutuhkan."
Arjo menghela napas panjang.
Lima tahun.
Lima tahun ia terkurung di padepokan ini. Latihan setiap hari. Belajar setiap malam. Tidur. Bangun. Latihan lagi. Belajar lagi. Berulang-ulang sampai ia hafal setiap sudut padepokan, setiap celah di pagar, setiap jalur rahasia di hutan sekitar.
Tapi tidak pernah diizinkan keluar jika sang bupati tidak memanggil.
Dia tidak pernah merasakan keramaian kota seperti tadi siang, kecuali sebagai bayangan bupati yang tidak boleh bicara sembarangan. Tidak pernah berjalan-jalan santai di pasar. Tidak pernah mengobrol dengan orang asing. Tidak pernah merasakan kebebasan yang dimiliki orang-orang biasa.
Saudara-saudara seperguruannya bisa keluar kapan saja untuk misi. Jupri, Tikno, Wondo, Dirno—mereka semua sudah menjelajah ke berbagai tempat. Menyusup ke kediaman bangsawan. Mengintai markas perampok. Mencari orang hilang.
Sementara Arjo? Arjo hanya boleh duduk di padepokan untuk belajar dan belajar.
"Bosan, Guru." Kata-kata itu keluar sebelum Arjo bisa menahannya. "Saya bosan. Lima tahun di padepokan ini. Tidak pernah keluar. Setiap hari sama saja. Latihan, belajar, tidur—"
"Bosan?" Kang Guru Harjo mendengkus sinis.
"Kau pikir di luar sana menyenangkan?" Sang guru mencondongkan tubuh, matanya menusuk. "Kau pikir misi-misi itu seperti jalan-jalan santai? Piknik ke pasar malam?"
Arjo tidak menjawab.
"Di luar sana, Lee … penuh dengan manusia-manusia berhati binatang."
Kang Guru Harjo mengetuk meja dengan jari telunjuknya, setiap ketukan menekankan kata-katanya.
"Orang-orang yang akan menjual anak gadisnya sendiri demi segenggam uang. Orang-orang yang akan membunuhmu hanya karena kau tidak menunjukkan hormat sebagai rakyat jelata. Orang-orang yang tersenyum di depan tapi menyiapkan racun di belakang."
Arjo masih cemberut, dunia yang dilihatnya tadi siang tidak semengerikan itu.
"Saudara-saudaramu yang berangkat malam ini," Kang Guru Harjo menunjuk ke arah barisan pemuda berbaju hitam yang kini mulai bergerak meninggalkan halaman, "mereka sudah siap menghadapi semua itu. Mereka sudah dilatih untuk misi lapangan bertahun-tahun. Mereka tahu kapan harus menyerang, kapan harus mundur, kapan harus mengorbankan nyawa demi misi."
"Saya juga sudah dilatih—"
"Kau dilatih untuk menjadi bupati. Bukan untuk misi penyusupan." Kang Guru Harjo menegakkan tubuhnya kembali. "Tugasmu berbeda. Lebih berat. Lebih berbahaya dengan caranya sendiri."
Arjo menunduk, memandang foto-foto di atas meja.
"Kalau sudah waktunya nanti, kau akan keluar." Suara Kang Guru Harjo sedikit melunak. "Dan saat itu tiba, percayalah … kau akan bersyukur pernah menghabiskan waktu di padepokan ini. Kau akan rindu dinding-dinding kayu di sini. Kau akan rindu malam-malam membosankan menghafalkan foto-foto gubernur jenderal."
Arjo mendengkus pelan. "Saya ragu akan merindukan itu, Guru."
Kang Guru Harjo tersenyum tipis, senyum pertama yang Arjo lihat malam ini.
"Tunggu sampai nanti kau berhadapan dengan kenyataan di luar sana."
Hening sejenak.
Di kejauhan, suara langkah kaki saudara-saudara seperguruannya yang berpakaian hitam semakin menjauh, menyatu dengan kegelapan malam. Menuju misi yang bukan untuk Arjo.
Kang Guru Harjo mengetuk meja.
"Sudah. Teruskan belajarmu."
Arjo memungut foto-foto itu kembali. Wajah-wajah membosankan menatapnya balik. Orang-orang asing yang harus ia hafalkan. Sejarah kelam yang harus ia pura-pura kagumi.
Arjo membalik foto berikutnya, dan berhenti.
Wajah di foto ini berbeda. Lebih muda. Sekitar awal tiga puluhan. Rahang tegas tapi tidak sekeras gubernur jenderal lainnya. Mata yang tampak lebih... hidup.
Rambut ikal disisir ke samping dengan gaya yang lebih rapi. Pakaiannya bukan seragam militer Belanda yang kaku, melainkan jas sipil bergaya Inggris yang lebih elegan.
"Nah, yang ini." Arjo mengangkat foto itu, menunjukkannya pada Kang Guru Harjo. "Gubernur Jenderal yang ini lumayan tampan, Guru. Tidak seperti yang lain."
"Yang kau pegang itu," ia menunjuk foto di tangan Arjo, "bukan Gubernur Jenderal."
Arjo mengangkat alis. "Bukan?"
"Baca tulisan di belakangnya."
Arjo membalik foto. Matanya menyisir tulisan tangan rapi dalam aksara Jawa.
Thomas Stamford Raffles. Letnan Gubernur. 1811-1816.
"Letnan Gubernur?" Arjo mengerutkan dahi. "Apa bedanya dengan Gubernur Jenderal? Sama-sama pemimpin tertinggi Hindia Belanda, bukan?"
"Beda jauh." Kang Guru Harjo menggeser posisi duduknya, tanda bahwa penjelasan panjang akan segera dimulai. "Dengarkan baik-baik, karena ini penting."
Arjo menahan erangan. ‘Penjelasan panjang lagi.’
"Gubernur Jenderal adalah penguasa tertinggi di Hindia Belanda. Wakil langsung Raja atau Ratu Belanda. Tidak ada yang lebih tinggi darinya di tanah Jawa ini." Kang Guru Harjo mengangkat satu jari. "Tapi Raffles? Dia hanya Letnan Gubernur. Letnan artinya wakil. Bawahan."
"Bawahan siapa?" Arjo mengerutkan alis. “Saya kira dia gubernur jenderal.”
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo