Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa judul (5)
Nara memuntahkan isi perutnya untuk kesekian kali. Lambungnya terasa kosong, tetapi perutnya terus bergejolak, memaksa tubuhnya mengeluarkan apa pun yang tersisa. Cairan bening, keringat dingin, napas yang terengah—semuanya bercampur jadi satu. Tubuhnya bergetar, lututnya melemah, dan kepalanya berdenyut berat saat ia berpegangan pada tepi wastafel agar tidak jatuh.
Beberapa detik kemudian, pintu toilet wanita terbuka keras.
Raviel masuk tanpa memedulikan teriakan panik para tamu. Tatapannya langsung menemukan Nara.
“Nara.” suaranya rendah dan tegas, penuh cemas yang ditahan.
Tanpa banyak bicara, Raviel langsung mengangkat tubuh Nara ke dalam gendongannya. Orang-orang hanya bisa menatap, beberapa bahkan terpaku kaget—termasuk Vanessa dan mama tiri Raviel yang kebetulan melihatnya.
“Tante… dia itu siapa, sih?! Kenapa Raviel segitunya sama dia?” desis Vanessa dengan kesal.
Mama tiri Raviel mengepalkan tangan. “Entah siapa dia… tapi Tante yakin dia masalah besar untuk rencana kita.”
Raviel tidak mempedulikan tatapan siapa pun. Ia melangkah cepat, masuk ke lift menuju lantai paling atas. Suasana hening. Hanya napas cepat Nara dan dada Raviel yang naik turun menahan khawatir.
Nara memejamkan mata. Kepalanya pening, tubuhnya terasa ringan, dan tanpa sadar wajahnya bersandar di dada Raviel. Aroma yang familiar membuat rasa takutnya sedikit mereda.
Raviel menunduk sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis melihat gadis itu bersandar padanya.
Ding.
Lift terbuka. Raviel berjalan cepat ke ruangannya—ruangan tersembunyi yang hanya diketahui segelintir orang. Ia membuka pintu rahasia dan membawa Nara ke ranjang di dalamnya.
Perlahan, Nara membuka mata.
“Masih mual?” suara Raviel terdengar lembut, kontras dengan auranya yang dingin.
“Udah… agak mendingan,” jawabnya pelan.
Alih-alih menjawab, Raviel berjongkok di samping ranjang. Tangannya terulur, menyentuh perut Nara dengan hati-hati.
“Sayang…” gumamnya lirih. “Jangan bikin Mommy kamu sakit lagi, hmm?”
Ia mengecup lembut perut Nara. Nara terdiam. Hangat. Entah kenapa, dadanya ikut menghangat melihatnya.
Raviel melepas jasnya, menaruhnya sembarangan, lalu naik ke ranjang dan duduk di samping Nara.
“Mau apa kamu?” tanya Nara, waspada.
“Aku cuma mau di sini. Sama kamu.” jawab Raviel santai, namun nadanya mengandung kepemilikan.
Ia menarik tangan Nara hingga tubuh gadis itu sedikit mendekat ke arahnya. Nara terkesiap.
“Raviel—”
“Diem. Istirahat aja. Aku temenin.” bisiknya, suaranya rendah dan menenangkan.
“Aku harus balik. Tasya pasti nyariin…” Nara mencoba bangun, tapi Raviel menahan pergelangan tangannya.
“Ethan yang urus temanmu. Kamu gak perlu mikirin siapa pun sekarang.” tatapannya tajam tapi protektif.
Nara akhirnya mengangguk. Dia percaya Ethan… dan entah kenapa, juga percaya Raviel.
Raviel menarik Nara ke dalam pelukannya. Ia mendekat, menghirup aroma leher Nara, membuat gadis itu merinding.
“Raviel…” panggil Nara pelan.
“Hm?”
“Jangan… di leher. Geli.” ujarnya lemah.
Raviel tertawa kecil. “Baiklah.”
Tangannya turun kembali ke perut Nara, mengusap lembut.
“Kenapa pakai baju kayak gini?” gumamnya pelan namun terdengar kesal.
“Kenapa? Jelek ya?”
“Cantik. Terlalu cantik… sampai bikin aku gak rela orang lain lihat kamu.” balasnya jujur, tatapannya mengeras.
Nara hanya menghela napas. Ternyata Raviel begitu keras kepala, posesif, entah bagaimana nanti jika mereka sudah hidup berdua, Nara pasti merasa terkurung.
Sentuhan lembut itu, suara rendahnya, dan rasa aman dalam pelukannya perlahan membuat Nara terlelap. Raviel menatapnya lama… lalu mencium pipinya pelan.
“Tidurlah, sayang.”
★★★
Tasya menggerutu pelan di lorong panjang perusahaan Althaire. Ia memilih pergi sebelum acara itu benar-benar selesai—alasannya sederhana, Nara tidak ada di sisinya.
“Nara, lo jahat banget sih,” gumamnya sambil menghentakkan kaki. “Gue jadi pulang sendirian.”
Ia meraih ponselnya, menatap layar kosong tanpa satu pun pesan masuk. Alisnya berkerut.
“Mana nggak ngabarin lagi. Jangan-jangan dia kenapa-napa,” ucap Tasya mulai cemas.
Lorong itu terasa semakin sunyi. Lampu-lampu putih memantul dingin di lantai marmer, membuat bulu kuduk Tasya berdiri.
“Ini lorong kok sepi banget, sih…” katanya sambil mengusap lengannya sendiri.
Pukk.
Sepasang tangan tiba-tiba mendarat di bahunya.
Mata Tasya membelalak.
Jantungnya nyaris copot.
“J-jangan bilang… hantu?” suaranya bergetar.
Ia menutup mata rapat-rapat.
“Hantu… plis jangan ganggu gue ya. Gue nggak kaya, nggak cantik juga. Cari tumbal lain aja,” katanya panik.
Di belakangnya, Ethan mengangkat alis, benar-benar bingung.
Apa dia pikir saya hantu? batinnya.
Tasya perlahan berbalik. Saat melihat sosok di hadapannya, ia langsung menghela napas lega panjang.
“Huhh… astaga. Lo bikin jantungan aja,” omelnya. “Gue kira hantu.”
“Belum pulang?” tanya Ethan datar.
“Ya belum lah, Lo liatkan gue masih ada Disini” jawab Tasya ketus. “Emangnya lo pikir gue arwah? Terus Tubuh gue udah pulang duluan gitu?”
Ethan menahan senyum.
“Mari saya antar.”
“Nggak mau,” sahut Tasya cepat. “Nanti lo apa-apain gue lagi.”
“Terserah,” ucap Ethan santai sambil melangkah pergi. “Lagipula jam segini susah cari taksi. Hantu juga biasanya mulai berkeliaran jam segini."
Tasya menelan ludah. Kata hantu sukses membuatnya diam.
“T-tunggu!” serunya.
Ethan berbalik, alisnya terangkat.
“Karena lo maksa, gue terima deh ajakan lo,” kata Tasya sok galak.
“Sejak kapan saya maksa?” balas Ethan heran.
“Udahlah, jadi nggak nganterin?” Tasya mendengus.
“Ayo. Mobil saya di bawah,” ucap Ethan singkat.
“Tapi temen gue nggak apa-apa, kan?” tanya Tasya ragu.
“Tuan Raviel pasti menjaga Nona Nara,” jawab Ethan yakin.
Tasya mengangguk pelan.
“Baiklah.”
Mobil Ethan melaju meninggalkan gedung perusahaan Althaire, sementara di lantai paling atas—Nara masih tertidur dalam pelukan seseorang yang tak berniat melepaskannya.